Xu Qinqin adalah fotografer abad ke-21 yang terkenal dengan foto-fotonya yang fantastis. Ia dikenal karena citranya yang nakal namun terampil, terkadang membuat modelnya merasa kesal sekaligus terkesan dengan tingkah lakunya.
Tak disangka, setelah tanpa sengaja memotret pria aneh yang mengenakan jubah kuno, Ia justru terlempar ke tubuh istri dari Jenderal Perang tertinggi di Kekaisaran.
Istri yang tidak disentuh suami nya , disakiti oleh ibu sang jenderal , dan dinggap sampah.
"Ck , gini doang ga becus banget! Pelayan macam apa kau!" Sungut Xu Qinqin dengan berkacak pinggang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 : Pembunuh Bayaran
Angin pagi berhembus semakin kencang, menerbangkan beberapa helai daun kering di halaman dapur. Suasana kemenangan Qinqin atas Bibi Liu baru saja mereda, namun hawa membunuh yang pekat mendadak muncul dari balik tembok.
Wu Lian yang berdiri di balkon lantai dua menyipitkan mata. Ia melihat kilatan logam dari arah pukul dua. Refleks tubuhnya yang terlatih di medan perang bereaksi lebih cepat daripada pikirannya.
"Huo Lu, tahan posisi!" perintah Wu Lian singkat.
Tubuh sang Jenderal melesat, melompat dari balkon setinggi lima meter itu dengan gerakan ringan---ilmu meringankan tubuh (Qinggong) yang sempurna. Jubah hitamnya berkibar seperti sayap gagak raksasa yang menukik mangsa.
Di bawah sana, Qinqin sedang memutar-mutar kunci gudang di jarinya dengan senyum puas. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa pria berpakaian hitam yang tadi bersembunyi kini telah melesat keluar dari bayangan, menghunuskan belati tajam tepat ke arah leher jenjangnya.
"Mati kau!" desis pembunuh itu.
"Nona, awas!!!" Xue berteriak histeris, namun kakinya lemas tak bisa digerakkan.
Qinqin menoleh karena mendengar teriakan itu. Matanya menangkap sosok hitam yang melayang ke arahnya. Otak modern-nya berpikir cepat. Waduh, ini adegan slow motion kah?
TRANGG!
Suara benturan logam yang nyaring memekakkan telinga.
Bukan leher Qinqin yang robek, melainkan belati si pembunuh yang terpental jauh. Wu Lian mendarat tepat di depan Qinqin, satu tangannya memegang sarung pedang yang baru saja ia gunakan untuk menangkis serangan fatal itu.
Wu Lian berdiri tegak, membelakangi Qinqin. Punggung lebarnya seolah menjadi tembok pemisah antara Qinqin dan kematian.
"Siapa yang mengirimmu ke kediamanku?" suara Wu Lian rendah, namun getarannya membuat si pembunuh gemetar.
Pembunuh itu sadar ia telah gagal. Targetnya dilindungi oleh 'Dewa Perang' Gozuang. Tanpa membuang waktu, pembunuh itu melempar bom asap ke tanah.
BOOM!
Asap putih mengepul tebal. Qinqin terbatuk-batuk sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Uhuk! Woy, polusi udara! Gak ramah lingkungan banget sih jadi penjahat!"
Saat asap menipis, pembunuh itu sudah menghilang, melompati tembok tinggi kediaman dengan sisa tenaganya. Huo Lu baru saja mendarat di samping Wu Lian dengan wajah penuh penyesalan.
"Maafkan hamba, Jenderal. Hamba terlambat. Haruskah hamba mengejarnya?" tanya Huo Lu.
Wu Lian mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti. "Tidak perlu. Dia menggunakan teknik langkah bayangan dari Timur. Kau tidak akan bisa mengejarnya di hutan."
Wu Lian kemudian memutar tubuhnya, menghadap Qinqin yang masih sibuk merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin dari ledakan tadi. Pria itu menatap istrinya dengan tatapan menyelidik yang tajam.
"Kau..." Wu Lian melangkah maju, membuat Qinqin mundur selangkah hingga punggungnya menabrak meja dapur. "Siapa sebenarnya yang menginginkan nyawamu? Seorang istri yang 'bodoh' dan terkurung di gudang tidak mungkin memiliki musuh sekelas pembunuh bayaran elit."
Qinqin menatap mata suaminya. Jantungnya berdebar, bukan karena takut, tapi karena ia baru saja melihat aksi laga live action yang sangat keren.
Gila, Jenderal Es ini kalau jadi aktor laga pasti laris manis. Gerakannya tadi rapi banget, tanpa edit CGI! batin Qinqin kagum.
Namun, ia segera sadar situasi. Qinqin mengangkat bahu dengan gaya acuh tak acuh. "Mana kutahu? Mungkin fans fanatikmu yang cemburu karena aku terlalu cantik? Atau mungkin" Qinqin teringat ingatan samar pemilik tubuh asli tentang ayah dan ibu tirinya di Timur. "Mungkin ada orang di kampung halamanku yang tidak suka aku hidup enak di sini."
Wu Lian terdiam. Ia melihat kunci gudang yang masih digenggam erat oleh Qinqin. Wanita ini baru saja hampir mati, tapi tidak ada setetes pun air mata di pipinya. Keberanian---atau kegilaan--'macam apa ini?
"Mulai hari ini, kau tidak boleh keluar dari Paviliun Anggrek tanpa pengawalan Huo Lu," perintah Wu Lian mutlak.
"Apa?! Hei, aku butuh privasi! Huo Lu itu laki-laki, masa dia mau ikut aku ke kamar mandi?" protes Qinqin.
"Kalau begitu biarkan lehermu digorok saat kau sedang tidur," balas Wu Lian dingin, lalu berbalik pergi. "Huo Lu, bersihkan kekacauan ini. Dan periksa asal-usul belati yang jatuh tadi."
"Siap, Jenderal!"
Sepeninggal Wu Lian, Qinqin memungut belati yang tergeletak di tanah. Belati itu memiliki ukiran kecil berbentuk bunga seruni di gagangnya.
Ingatan pemilik tubuh asli berdenyut sakit di kepala Qinqin. Bunga Seruni...lambang keluarga Nyonya Bai.
Qinqin menyeringai dingin. "Oh, jadi Ibu Tiri main kasar ya? Oke, kalau mau perang, ayo kita perang. Tapi jangan harap aku akan diam saja seperti Xu Qinqin yang dulu."
Aku akan mulai mempelajari teknik bela diri.
Di kejauhan, seekor merpati putih tampak berputar-putar di langit, bingung mencari tempat mendarat karena kekacauan di halaman bawah. Di kaki nya, terikat sebuah pesan berdarah yang belum sampai ke tangan tuannya.
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
semoga tuh rencana mertua gagal total.....
😡
aku menunggu kelanjutan nya thor😍😍
semangat up trus thor😍
bar bar gak ya ne MC nya.. suka kali klo dia bisa war😂😂😂😂