✨Rilis episode setiap hari Senin, Rabu, dan Jum'at, pukul 19.00 wib ✨
Di dunia lamanya Ren Akasa adalah pria kantor yang di perlakukan buruk oleh atasan dan juga rekan kerjanya.
Tekanan kerjaan yang gila, gaji yang sering di tunda juga rekan kerja yang manipulatif. Suatu ketika ia di tarik ke dunia lain, BUKAN untuk menjadi PAHLAWAN melainkan untuk menjadi RAJA IBLIS.
Antara menjadi penyelamat yang bijak, atau menjadi penguasa tirani yang dingin, mengingat selama hidupnya di dunia nyata ia diperlakukan bagai pecundang.
dengan kekuatan yang Ren miliki, apakah dunia lain akan menjadi pelampiasannya akibat perlakuan dari dunia lamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorenzo Leonhart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar di Ujung Pedang dan Tatapan dari Langit
Di sebuah dimensi yang terletak jauh di luar jangkauan indra manusia maupun iblis, terdapat sebuah tempat yang sangat luas. Tempat ini tidak memiliki siklus siang dan malam. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan awan putih yang terasa padat seperti lantai pualam, dengan pilar-pilar kristal raksasa yang berdiri tegak menyangga langit yang selalu berwarna putih bersih. Tidak ada angin, tidak ada suara, hanya keheningan yang mutlak.
Di tengah hamparan itu, seorang wanita duduk di sebuah kursi besar yang terbuat dari material bening menyerupai berlian. Ia mengenakan gaun putih polos yang panjang tanpa hiasan emas atau permata yang mencolok.
Rambut peraknya yang panjang terurai rapi hingga menyentuh lantai cahaya di bawahnya. Wajahnya terlihat sangat tenang dan lembut, mencerminkan sosok yang tidak memiliki niat buruk terhadap apa pun yang ia saksikan.
Di hadapan wanita itu, melayang sebuah bola kaca raksasa dengan diameter sekitar dua meter. Permukaan bola itu tidak memantulkan cahaya pilar, melainkan menampilkan visualisasi wilayah Vargos secara sangat mendetail.
Wanita itu sedang memperhatikan setiap inci pergerakan di dalam layar tersebut dengan saksama. Fokus utamanya saat ini adalah sosok Ren Akasa Raja Iblis Leon yang sedang berdiri diam di balkon tertinggi kastilnya.
Wanita itu tidak merapalkan sihir, tidak berbicara, dan tidak membuat gerakan yang mencurigakan. Ia hanya duduk diam, menatap Ren melalui bola kaca tersebut dengan pandangan yang damai dan penuh perhatian, seolah-olah ia sedang menjaga sesuatu yang sangat berharga baginya dari kejauhan.
Sesekali, ia menyentuh permukaan bola kaca dengan ujung jarinya yang halus, mengamati bagaimana Ren mengatur wilayah yang awalnya hanya berupa rawa beracun menjadi sebuah pemukiman yang mulai tertata.
Di dunia nyata, Ren Akasa sedang menarik napas panjang, membiarkan udara dingin Vargos memenuhi paru-parunya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di dimensi lain, seorang entitas sedang memerhatikannya dengan penuh kelembutan. Fokus Ren saat ini sepenuhnya tercurah pada strategi bertahan hidup. Di sudut penglihatannya, jendela sistem terus berkedip, menampilkan hitungan mundur yang kini tersisa kurang dari tiga jam sebelum pasukan Arthemis tiba.
"Tuan Leon," suara Mika terdengar dari balik pintu balkon yang terbuka. Ia melangkah mendekat dengan gerakan yang sangat halus, hampir tidak menimbulkan suara di atas lantai batu. "Semua pemimpin unit sudah berkumpul di aula bawah. Mereka menunggu instruksi operasional terakhir dari Anda sebelum mereka menempati posisi tempur masing-masing."
Ren berbalik, jubah hitamnya berkibar pelan mengikuti arah gerakannya. "Bagaimana kondisi di pemukiman bawah? Apakah ada kendala dalam evakuasi?"
"Semua berjalan sesuai rencana, Tuan," lapor Mika dengan nada yang sangat efisien. "Gorn telah membawa seluruh kaum Lizardman yang tidak bertempur terutama anak-anak, wanita, dan lansia ke dalam sistem gua yang terletak di bawah fondasi kastil. Kami sudah menyimpan cadangan makanan, air, dan kristal pemurni udara untuk bertahan selama satu minggu di sana. Jika permukaan jatuh, mereka akan tetap memiliki peluang untuk bertahan di dalam tanah."
Ren mengangguk puas. Ia kemudian berjalan melewati Mika, menuju aula utama kastil. Langkah kaki Ren yang menggunakan sepatu bot militer sistem mengeluarkan suara tak-tak yang tegas, memberikan kesan otoritas yang kuat. Sepanjang jalan menuju aula, ia melihat beberapa prajurit Lizardman yang sedang mengasah tombak mereka dengan wajah tegang. Ada ketakutan di mata mereka, namun saat melihat Ren lewat, mereka langsung berdiri tegak dan membungkuk hormat.
Sesampainya di aula utama, Ren disambut oleh suasana yang sangat berat. Obor-obor di dinding menyala terang, mengeluarkan bau minyak dan asap yang khas. Para jenderalnya sudah berdiri tegak di posisi masing-masing, menciptakan aura tekanan mana yang luar biasa kuat di dalam ruangan tertutup itu.
Zosma berdiri di dekat pintu masuk utama seperti sebuah pilar raksasa. Perisai emasnya yang sangat besar diletakkan dengan suara dentuman pelan di samping kakinya. Ia sedang memeriksa kekencangan sabuk pelindung lengannya dengan ekspresi wajah yang sangat serius.
Shallan berdiri di dekat singgasana, mengenakan pakaian kulit merah yang dirancang untuk kecepatan tinggi. Sementara itu, Valeria sedang duduk di sebuah meja panjang yang dipenuhi dengan ribuan gulungan sihir yang baru saja ia selesaikan semalaman.
Namun, perhatian Ren juga teralihkan pada empat sosok yang berdiri dalam diam di area gelap di belakang aula dalam. Mereka adalah pelindung lini kedua yang jarang menampakkan diri:
* Behemoth: Sosok raksasa dengan tinggi kisaran tiga meter, dengan kepala naga dan tubuh badak berkulit besi, yang di beberapa bagian tubuhnya terdapat urat lava tipis menyala. Ia tidak menggunakan senjata apa pun, karena tinjunya sendiri sudah cukup untuk menghancurkan baju zirah ksatria berat. Behemoth bertugas sebagai benteng terakhir jika musuh berhasil menjebol aula utama.
* Alice: Seorang wanita vampir berumur ribuan tahun yang tingginya seperti anak kecil, dengan gaun rok pendek berwarna hitam dengan lambang kalajengking emas pada roknya, rambutnya berwarna Lilac dan telinganya runcing dan matanya tajam. Alice adalah seorang spesialis manipulasi ruang dan darah. Ia bisa mengubah koridor-koridor kastil menjadi labirin yang membingungkan, membuat musuh yang masuk akan terjebak dalam putaran ruang tanpa pernah sampai ke ruang singgasana, ia juga dapat memanipulasi darahnya sendiri bahkan darah lawannya.
* Kagehisa: Zirah samurai hidup tanpa raga, bagian dalam zirahnya gelap tidak terlihat, yang terlihat hanyalah mata tajamnya yang menyala. Ia memegang sebuah katana legendaris yang mengeluarkan aura kematian yang dingin. Kagehisa adalah eksekutor jarak dekat yang akan menghabisi siapa pun yang tersesat di dalam kastil.
* Silas: Sang Nekromancer. Tanpa tongkat, hanya dengan perintah tangannya ia mampu membangkitkan musuh-musuh yang tewas di dalam area kastil untuk berbalik menyerang rekan-rekan mereka sendiri, memastikan jumlah musuh terus berkurang sementara pasukan pertahanan tetap terjaga.
Ren berdiri di tengah-tengah mereka, menatap satu per satu mata jenderalnya. "Dengar. Ini bukan sekadar pertempuran untuk mempertahankan tanah ini. Ini adalah pernyataan kepada seluruh dunia bahwa Vargos bukan lagi tempat yang bisa kalian injak-injak dengan seenaknya. Arthemis mengirimkan Pahlawan Suci mereka bukan karena mereka ingin menegakkan keadilan, tapi karena mereka takut. Mereka takut pada perubahan yang kita bawa ke dunia ini."
Ren menatap Zosma dengan tajam. "Zosma, kau adalah garis terdepan kita. Setelah gerbang utama rawa dibuka, kau akan berdiri di sana sendirian menghadapi ribuan ksatria mereka. Tugasmu bukan untuk membunuh mereka semua, tapi untuk menjadi dinding yang tidak tergoyahkan. Biarkan mereka kelelahan karena mencoba menghancurkanmu."
Zosma menghantamkan tinjunya ke permukaan perisainya, menciptakan suara logam yang memekakkan telinga. "Tuan Leon! Hamba bersumpah, selama nyawa hamba masih ada, tidak akan ada satu kaki pun dari manusia-manusia itu yang melangkahi garis pertahanan hamba! Perisai ini adalah milik Anda!"
"Valeria, aktifkan sihir kabut ilusi di sepanjang jalan setapak rawa. Buat pandangan mereka menjadi terbatas dan jalan itu terasa sangat sempit. Shallan, bawa pasukan kerangkamu bersembunyi di bawah air rawa yang keruh. Jangan melakukan serangan apa pun sampai Zosma memberikan sinyal bahwa kavaleri mereka sudah terjebak dan mulai panik," lanjut Ren dengan nada bicara yang tenang namun penuh otoritas.
Semua jenderal membungkuk serempak, menandakan kepatuhan mutlak mereka kepada Raja Leon. Ren kemudian memberikan isyarat agar mereka segera menempati pos masing-masing. Aula yang tadinya penuh dengan jenderal kini perlahan kosong, menyisakan gema langkah kaki mereka yang terburu-buru.
Fajar Arthemis dan Tantangan Sang Pahlawan
Tepat saat jarum jam pada antarmuka sistem milik Ren menunjukkan waktu fajar, langit di ufuk timur mulai memutih secara perlahan. Namun, kabut tebal yang biasanya menyelimuti wilayah Vargos tiba-tiba dipaksa mundur oleh sebuah gelombang cahaya emas yang sangat terang dan panas. Di dataran kosong yang terletak tepat di depan pintu masuk wilayah rawa, sebuah fenomena sihir skala besar mulai terjadi.
Sebuah lingkaran sihir raksasa dengan pola matahari yang rumit muncul di udara, berputar dengan kecepatan tinggi dan mengeluarkan suara dengung yang menusuk telinga. Sesaat kemudian, lingkaran itu memuntahkan ribuan prajurit manusia yang mengenakan baju zirah perak mengkilap yang telah diberkati dengan doa-doa suci. Mereka membawa tombak, pedang, dan panah, membentuk barisan tempur yang sangat disiplin dan rapi.
Di barisan paling depan, menunggangi seekor kuda perang putih yang sangat besar dengan perlengkapan tempur yang lengkap, berdiri seorang pria yang tampak sangat mencolok dan berwibawa. Ia adalah Arthur von Phoenix, sang Pahlawan Suci yang telah lama dikenal di seluruh benua.
Rambut pirangnya yang panjang terurai rapi di bahunya, dan di tangannya ia menggenggam sebuah pedang besar yang disebut Exaltation. Pedang itu memancarkan aura panas yang sangat kuat, bahkan mampu membuat tanah lumpur di bawah kaki kudanya mengering dan retak seketika.
"Makhluk-makhluk kegelapan yang bersembunyi di lubang lumpur ini!" suara Arthur menggelegar, diperkuat oleh sihir pengeras suara yang membuat suaranya terdengar jernih hingga ke puncak kastil.
"Namaku adalah Arthur von Phoenix! Aku datang ke sini untuk menjalankan mandat suci dari Kerajaan Arthemis! Tempat ini telah menjadi noda bagi dunia, dan hari ini, aku akan menghapusnya secara permanen! Menyerahlah sekarang dan hadapi pengadilan cahaya, atau kami akan meratakan kastil ini sampai tidak ada satu batu pun yang tersisa di atas tanah!"
Ren, yang sedang menyaksikan adegan itu dari puncak menara kastil, hanya tersenyum tipis. Di matanya, Arthur hanyalah seorang pemuda sombong yang terlalu percaya pada doktrin yang ia pelajari.
Ren melihat ke arah barisan kavaleri Arthemis yang mulai membentuk formasi baji, sebuah formasi serangan yang dirancang untuk menghancurkan pertahanan musuh dengan satu kali serbuan cepat.
"Mika, berikan sinyal terakhir pada Zosma. Sekarang adalah waktunya," perintah Ren dengan suara yang sangat tenang.
Di bawah sana, gerbang kayu raksasa yang diperkuat dengan lempengan besi hitam mulai terbuka secara perlahan dengan suara derit yang berat.
Dari balik kegelapan gerbang yang menganga, Zosma melangkah keluar dengan langkah kaki yang mantap. Ia tidak membawa pasukan tambahan di belakangnya. Ia berjalan sendirian menyusuri jalan setapak rawa yang sempit sampai ia mencapai titik tengah yang telah ditentukan.
DUM!
Zosma menancapkan perisai emas raksasanya ke tanah lumpur dengan kekuatan penuh. Getaran dari hantaman itu sangat kuat hingga menimbulkan gelombang air kecil di permukaan rawa ke segala arah. Zosma berdiri tegak di belakang perisainya, menatap ribuan ksatria di hadapannya dengan mata yang penuh determinasi dan keberanian. Ia berdiri sendirian menghadapi satu pasukan besar yang dipimpin oleh seorang Pahlawan Suci.
Arthur, yang melihat bahwa hanya satu orang yang berani keluar untuk menghadapi seluruh pasukannya, merasa sangat terhina. Wajahnya memerah karena amarah yang tertahan. Ia mengangkat pedang Exaltation tinggi-tinggi ke langit, membuat cahaya pedang itu semakin terang benderang.
"Sangat sombong! Kalian benar-benar makhluk yang tidak tahu diri!" teriak Arthur. "Kavaleri depan, serang! Hancurkan raksasa bodoh itu dan jangan sisakan apa pun untuk dikuburkan!"
Ratusan kavaleri berat Arthemis mulai memacu kuda mereka dengan kecepatan penuh. Suara derap kaki kuda yang menghantam jalan batu di tengah rawa terdengar seperti suara guntur yang mendekat dengan sangat cepat. Tanah rawa yang lunak bergetar hebat di bawah beban ribuan ton logam dan daging.
Zosma sama sekali tidak bergerak dari posisinya. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan sedikit pun. Ia hanya memegang pegangan perisainya lebih erat, menarik napas panjang, dan membiarkan energi emas dari bintang Delta Leonis mulai menyelimuti seluruh tubuhnya, menciptakan sebuah aura pelindung yang sangat padat.
Di atas menara, Ren mengepalkan tangannya dengan kuat. Mahkota Vargos yang melingkar di kepalanya mulai bersinar emas redup, selaras dengan aliran energi yang sedang dikeluarkan oleh Zosma di bawah sana. Ren tahu bahwa ini adalah ujian pertama bagi kerajaannya.
"Mari kita buktikan," bisik Ren pada dirinya sendiri saat ia melihat kavaleri pertama Arthemis hanya berjarak beberapa puluh meter dari perisai Zosma. "Seberapa kuat cahaya buatan kalian saat berhadapan dengan dinding kerajaanku yang sesungguhnya."
Tepat saat kavaleri pertama menabrak perisai Zosma, sebuah ledakan energi fisik yang luar biasa terjadi, menandai dimulainya perang besar yang akan mengubah nasib Vargos selamanya.
"Bersambung ke part 2"