Alya Maheswari, seorang gadis dewasa yang harus menelan pahitnya percintaan. bagaimana tidak, kedua orang yang ia percaya, Randa sang pacar dan Relia adik kesayangannya. Keduanya tega bermain api di belakang dirinya.
Hingga suatu malam datang, di saat kedua orang tua Randa datang ke rumahnya, gadis itu sudah merasa berbunga-bunga, karena pasti kedatangan mereka ingin memintanya baik-baik.
Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kedua orang tua Randa membawa kabar tentang gadis yang di maksud yaitu Ralia, sang adik yang saat ini tengah mengandung benih kekasihnya itu.
Hati Alya hancur, lebih parahnya lagi keluarganya sendiri menyuruhnya untuk mengalah dan menerima takdir ini, tanpa memikirkan perasaannya.
Karena sakit hati yang mendalam Alya pun memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke suatu desa terpencil tanpa memberi tahu ke siapapun.
Di desa yang sejuk dan asri itu, Alya belajar bercocok tanam, untuk mengubah takdirnya, dari wanita yang tersakiti menjadi wanita tangguh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Pagi datang, sinar mentari menyambut hangat di sela-sela ibu kota, di dapur yang cukup luas, Sinta sedang merapikan meja makan, masakan yang ia masak dengan sendirinya sudah matang.
Di rumah ini tidak ada pembantu, semuanya ia kerjakan sendiri, meskipun di rumah ini ada anak perempuannya, tapi tak sedikitpun Relia membantu sang ibu yang sedang kesusahan sendiri.
Tangan Sinta langsung mengusap keringat yang mengalir di pelipisnya, napasnya berhembus pelan, tanda tubuhnya sudah lelah, mengerjakan semua pekerjaan ini dari subuh tadi.
"Ayah, tolong bantu Ibu?" pinta Sinta.
Sementara Arman, masih fokus dengan handphone-nya. "Bentar Bu, ada klien Ayah telepon," sahutnya.
Sinta mendengus pelan, setiap hari ia harus dihadapkan dengan mengurus pekerjaan rumah sendiri, dan setelah menu masakan sudah terhidang semuanya, semua orang berkumpul tanpa diminta.
Arman duduk di meja paling ujung, di samping kiri istrinya, sementara di sisi kanan Relia dan Randa. Mereka menikmati sarapan dengan begitu lahap tanpa berpikir bagaimana satu orang ibu yang mengerjakan semuanya tanpa bantuan siapapun.
"Bu, sup ayamnya kurang asin dikit," celetuk Relia.
"Iya Bu, telur sadarnya juga kebanyakan penyedap, sementara istriku sedang hamil," sambung Randa.
"Sambel terasinya terlalu pedas Ayah gak kuat," imbuh suaminya.
Semua pernyataan-pernyataan itu membuat hati Sinta teriris, bagaimana mungkin semua keluarga bisa komplain, sementara ia sedari padi melakukan tugasnya tanpa dihargai sama sekali, bahkan seorang suami yang seharusnya menjadi tameng, malah ikut terjun menyudutkannya.
"Kalau kurang garam tambah lagi saja, Ibu ini dari pagi subuh, kerja sendiri gak ada yang bantuin, sementara kalian tinggal makan saja, ribet," ungkap Sinta dengan kekesalannya.
Sinta berdiri dari kursinya. Tangannya sedikit gemetar ketika meraih panci.
Tidak ada yang menahannya.
Relia masih menunduk, menyendok sup lagi. Randa mengaduk nasi di piringnya, lalu menoleh ke istrinya sambil berbisik pelan. Arman menarik sendoknya, menyesap sambal, lalu berkata datar, seolah tak ada apa-apa.
“Sudahlah, Bu. Jangan dibawa perasaan. Kita kan cuma bilang apa adanya.”
Kalimat itu jatuh pelan, tapi menghantam.
Sinta tidak menjawab. Ia kembali ke dapur, menambahkan garam ke panci dengan gerakan kasar. Sendok logam berdenting, bunyinya nyaring di dapur yang mendadak terasa sempit.
Ia menutup mata sejenak.
Dulu, setiap kali dapur seperti ini—berisik, penuh uap, dan keluhan—selalu ada Alya.
Alya yang diam-diam mengambil alih kompor tanpa diminta.
Alya yang berkata, “Bu, duduk dulu. Aku lanjutin.”
Alya yang tidak pernah bilang masakannya kurang asin, meski kadang terlalu asin.
Sinta membuka mata.
Tangannya berhenti di udara.
“Alya…” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Ia menoleh ke meja makan.
Kursi itu kosong.
Bukan kursi baru. Bukan kursi tamu. Kursi yang selalu ditempati Alya sejak dulu sedikit di ujung, dekat dapur. Kursi yang tidak pernah diprotes siapa pun.
“Kok sepi ya,” ucapnya tanpa sadar.
Relia mengangkat kepala. “Sepi apanya, Bu? Kan rame.”
Sinta tidak menjawab.
Ia duduk kembali, tapi kali ini sendoknya tak bergerak. Ia hanya menatap piringnya sendiri. Sup ayam yang katanya kurang asin. Telur yang kebanyakan penyedap. Sambal yang terlalu pedas.
Masakan yang ia masak sendiri. Sejak subuh. Tanpa bantuan, tanpa Alya, seketika senyum itu hambar, karena kesalahannya sendiri yang begitu pilih kasih terhadap anaknya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara itu pagi di desa kecil itu Alya sedang belajar melupakan semuanya, ia tahu tempat ini tidak seramai dan selengkap fasilitas yang ada di kota, namun di desa ini ia menemukan kedamaian yang tidak didapat di kota.
Pagi ini Alya sudah siap dengan pakainya ke sawah, kaos dan celana panjang serta hijab instan yang membalut kepalanya, kali ini ia ada rencana untuk menyewa lahan yang akan ia tamani macam-macam percabaian, dan hal ini sudah ia bicarakan sebelumnya dengan Halimah melalui telepon dan ia diskusikan kembali dengan Bayu.
Alya begitu antusias, dan kali ini ia sedang menunggu Bayu, mendatangi rumahnya
Bayu datang tanpa suara berlebihan. Motornya berhenti pelan, seolah tak ingin merusak pagi.
“Kok wis siap?” tanyanya, menurunkan standar.
Alya tersenyum kecil. “Takut keburu siang.”
Bayu mengangguk, matanya menyapu pakaian Alya yang sederhana tapi rapi. Ada sesuatu di sana bukan soal penampilan, tapi tekad. Ia bisa melihatnya jelas.
Mereka berjalan menyusuri galengan. Alya beberapa kali hampir terpeleset, dan tanpa banyak bicara Bayu memegang lengannya sebentar, memastikan langkahnya aman. Tidak lama. Tidak berlebihan. Tapi cukup.
Lahan yang akan disewa tidak luas. Tapi Alya menatapnya seperti orang yang sedang melihat masa depan, di sini Alya sudah mulai bertransaksi sama yang punya lahan, dan sudah sepakat untuk kontrak lahannya selama 12 bulan mendatang.
Setelah transaksi selesai, Alya berdiri dihadapan lahan tersebut, senyumnya terukir indah, seolah ada masa depan yang menunggu di sana.
“Kenapa cabe?” tanya Bayu akhirnya.
Alya menghela napas, lalu menjawab jujur.
“Karena aku capek nunggu panen dari orang lain.”
Bayu berhenti melangkah. Menoleh. Lalu tersenyum tipis, tapi hangat.
“Iyo. Cabe kuwat. Dirawat, dipupuk, ditunggu. Lan kadung wis metu, sing setengah-setengah.” (Iya. Cabai itu kuat. Dirawat, dipupuk, ditunggu. Dan kalau sudah panen, hasilnya tidak setengah-setengah.)
Alya mengangguk. "Ya aku setuju, jadi bisa dipanen beberapa kali, tidak seperti padi yang hanya sekali panen," ujar Alya.
"Tapi riko kudu ngerti, nandur lobok, kadang pas rego anjlok milu rugi, pas rego larang yo sukses," jelas Bayu. (Tapi kamu harus tahu nanam cabe, pas harga turun penghasilan akan menurun, dan kalau harga melonjak kamu pun akan untung banyak)
Alya tersenyum, semua proses untung dan ruginya sudah ia pikirkan matang-matang bersama Halima meskipun hanya dengan via telepon.
"Ok, aku sudah siap dengan semua konsekuensi yang aku ambil hari ini," ucap Alya dengan lantang.
"Baik, kalau begitu aku siap membantumu," ujar Bayu akhirnya.
Bukan janji besar. Bukan pula kalimat heroik. Tapi cukup membuat dada Alya menghangat.
Bayu tidak berdiri di depan, tidak menarik tangannya. Ia memilih berdiri di samping, menatap lahan yang sama, tanah yang sama, masa depan yang sama. Angin pagi menggerakkan daun-daun liar di pematang, membawa bau tanah basah yang jujur.
Alya menancapkan pandangannya ke lahan itu lebih lama. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa kecil. Tidak merasa tertinggal. Tidak merasa menunggu diselamatkan.
Di desa kecil ini seorang anak mulai kembali menatap hidupnya dengan usaha kecil yang akan ia bangun. Sementara di kota sana seorang ibu mulai menyesali kepergiannya, bukan karena merasa kehilangan tapi merasa kesepian setelah keluarga lainnya tidak berpihak dengannya.
Bersambung .....
bikin alya lupa sama kisah pedih hidupnya
thor novelnya jgn trllu kaku dong