Gavin adalah seorang playboy yang tak bisa hidup tanpa wanita, entah sudah berapa banyak wanita yang berakhir di ranjangnya, hingga akhirnya ia bertemu dengan Kanaya, seorang gadis suci yang menggetarkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Swan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersama Raihan
"Nay, lo punya pacar gak sekarang?"tanya Raihan, yang membuat Kanaya, langsung melihat ka arah Raihan.
Sejenak, Kanaya hanya diam menatap Raihan, kemudian menggeleng.
"Gak ada, gue gak punya pacar, dan gak niat juga untuk memiliki hubungan seperti itu."jawab Kanaya.
"Kenapa...?"tanya Raihan cepat.
"Hmmm... gue, gue cuma gak mau hati gue terluka untuk yang kesekian kalinya."jawab Kanaya.
"Lo dulu tau kan seperti apa hidup gue, karena kita dulu deket?"kini Kanaya lah yang bertanya, yang hanya di jawab anggukan oleh Raihan, Raihan memang tau sedikit tentang kehidupan Kanaya, Kanaya yang katanya pernah depresi karena sikap buruk ayahnya kepada sang ibu.
"Dulu, gue sempet gak mau kenal malah sama cowok, karna takut bakal sakit hati, sampai pada saat gue masuk kuliah, ada cowok yang menarik perhatian gue, karna sikap baiknya, dan segala perhatiannya buat gue, gue sempet beberapa kali nolak dia, tapi dia gak nyerah, sampai akhirnya gue luluh, dan nerima dia."Kanaya mengakhiri cerita nya,dengan mata yang berkaca-kaca, menceritakan masalalunya sampai hari ini masih menyakitkan untuknya.
"Terus lo sama dia...?"tanya Raihan, melanjutkan pertanyaannya.
"Belum lama ini, gue mergoki dia sama orang yang dia bilang adalah sahabat nya."jawab Kanaya cepat.
"Maksudnya, lo lihat dia... Mmm maksud gue, lo ngerti kan?"tanya Raihan. Kanaya menganggukan kepalanya.
"Mereka lagi tidur bareng... Mereka lagi sama sama naked saat gue kesana, dan gua lihat semua kejadian itu."ucapan Kanaya dengan suara bergetar, membuat Raihan terkejut.
Raihan akhirnya mengusap pelan bahu Kanaya yang bergetar, isakan kecil terdengar dari bibir Kanaya, membuat Raihan merasa bersalah.
"Nay... gue minta maaf ya, gue gak tau apa yang terjadi sama lo selama ini, gue malah membuat lo mengingat lagi kejadian yang menyakitkan buat lo."ucap Raihan pelan.
"Gak apa-apa kok Rai,"ucap Kanaya lalu menarik napas dalam, dan menghapus air matanya.
"Ya udah yah, lo jangan sedih lagi, oya gimana kalo... kita makan yang pedes pedes Nay, kayaknya enak?"tanya Raihan berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
Kanaya seketika tersenyum senang, mendengar ucapan Raihan, dan mengangguk.
"Gimana kalo makan seblak Rai, gue belum pernah nyoba makan seblak yang ada Jakarta soalnya. "ajak Kanaya antusias. Raihan meringis mendengar perkataan Kanaya, sepertinya pancingannya berhasil membuat mood Kanaya kembali baik, tapi kenapa harus seblak sih yang Kanaya pikirkan?
Raihan bahkan belum pernah mencoba makanan yang viral itu. Dan Raihan tak ingin mencobanya, entah kenapa Raihan hanya tidak tertarik dengan makanan seperti itu.
"Rai... Gimana, mau kan?"tanya Kanaya lagi, menatap Raihan dengan antusias. Raihan tak ada pilihan lain selain mengangguk, dia tak mungkin membuat Kanaya bad mood lagi kan.
"Boleh, tapi cari tempat yang banyak menunya ya, Nay. Biar bisa milih, gue soalnya belum pernah makan seblak."jawab Raihan sedikit tidak enak pada Kanaya.
"Apa... Lo belum pernah makan seblak? Eh, tapi emang cowok jarang yang suka sama seblak sih".
"Coba cari tempatnya Nay...."Ucap Raihan, lalu menyerahkan ponselnya pada Kanaya. Kanaya yang mengerti maksud Raihan menerima ponsel Raihan dan langsung mencari lokasi terdekat tempat kedai seblak di sekitar mereka,setelah menemukan nya,Kanaya memberikan kembali ponsel itu pada Raihan.
Namun, tak sengaja Kanaya sempat melihat foto seorang wanita dari samping, yang menjadi lockscreen ponsel Raihan, sepertinya Kanaya merasa familiar dengan wajah wanita di foto itu, tapi siapa?
*******
15 menit berlalu, dua sejoli ini telah sampai di sebuah kedai seblak yang cukup besar, terlihat kedai itu juga cukup ramai, melihat dari banyaknya meja yang telah terisi. Kanaya memilih mendudukan dirinya di salah satu meja yang ada di sebelah pojok, agar tak terlalu bising dengan suara banyaknya orang yang ada di sana.
Kanaya memilih menu seblak dengan isian berbagai macam toping favorit pilihannya, sementara Raihan akhirnya memilih makan bakso, yang tentu saja makanan yang pernah ia makan, berbeda dengan seblak, yang di pesan Kanaya.
Sepuluh menit menunggu makanan keduanya datang, Kanaya begitu antusias melihat makanan yang tampilannya sangat menggoda seleranya, warna kuah seblak itu terlihat di dominasi oleh warna merah, karena Kanaya memang memesan level pedas untuk pesanannya, Raihan hanya meringis melihat nya, membayangkan memakannya saja sudah membuat perutnya sakit duluan.
Kanaya memakan makanan dalam diam, Raihan yang takut melihat Kanaya tersedak membuatnya urung untuk bertanya apapun pada Kanaya, Raihan hanya mampu menatap Kanaya diam-diam sambil tersenyum, melihat cara makan gadis itu yang sangat jauh dari kata anggun.
Sementara Kanaya terlihat begitu menikmati makanannya, wajahnya terlihat sudah berkeringat, bibirnya juga sudah terlihat semakin merah.
"Mau coba gak Rai, enak banget tau, pantesan tempatnya rame?!"Tanya Kanaya sambil menggeser mangkok seblaknya sedikit ke arah Raihan, yang di jawab oleh gelengan oleh Raihan.
"Gak ah Nay, lo aja! Takut sakit perut gue."jawab Raihan. Kanaya mengangguk, tak ingin memaksakan kehendaknya pada Raihan.
Beberapa menit berlalu Kanaya maupun Raihan sudah sama-sama menghabiskan makanannya masing-masing, Raihan terlihat sedang mengetikan sesuatu di ponselnya, sementara Kanaya terlihat tengah merapihkan penampilannya, dari sebuah cermin kecil yang ia bawa di tasnya.
"Nay...mau ke tempat lain dulu gak?"tanya Raihan membuka pembicaraan. Kanaya menggeleng kemudian mengangkat bahunya.
"Gue sih gak pengen ke mana-mana, tapi kalo lo ajak ayo aja... gue pengen tau juga, banyak tempat yang ada disini."jawab Kanaya,
"Lo emang belum punya temen disini?"tanya Raihan lagi. Kanaya menggeleng, karna memang Kanaya merasa dia tak memiliki teman, selama beberapa hari disini.
"Gak tau kenapa, entah perasaan gue aja apa gimana gitu, temen-temen kampus gue kaya... yang gak mau gitu temenan sama gue."jawab Kanaya dengan bibir sedikit mengerucut lucu.
Raihan langsung tertawa melihatnya dan mengacak rambut Kanaya, namun begitu tangannya menyentuh rambut Kanaya, Kanaya langsung menarik kepalanya menjauhi tangan Raihan.
"Ish...Rai, nanti berantakan baru juga di rapihin,."ujar Kanaya kesal, wajahnya cemberut sambil menatap Raihan, membuat Raihan semakin gemas dan akhirnya tertawa.
"Lo lucu... Lagian masa sih temen-temen lo jauhin cewek secantik ini?"tanya Raihan sambil mencubit pipi chubby Kanaya.
"Ih,,, jangan pegang pegang deh Rai, tangan lo kotor ,"gerutu Kanaya membuat Raihan kembali tertawa.
"Kalo temen cowok nggak Rai,,, yang cewek doang, kalo yang cowok mah banyak yang deketin, apalagi si Brian Brian itu."lanjut Kanaya, sambil mempertahankan wajah cemberutnya yang menurut Raihan lucu.
Raihan sedikit terkejut mendengar ucapan Kanaya, apalagi mendengar nama Brian.
"Brian deketin lo Nay?"tanya Raihan cepat. Kanaya hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Cowok-cowok di kampus kita emang gak pada bisa lihat cewek cantik Nay apalagi kaya lo ini, type mereka banget, cewek nya juga emang kebanyakan gitu, gak suka kalo ada yang lebih dari mereka, makanya kalo lihat yang kayak lo gini pasti di jauhin.Tapi lo jangan deket-deket Brian deh Nay, dia kurang baik, gue tau banget lah dia kayak gimana, sama kaya si Gavin sama Alex."ucap Raihan panjang.
Kanaya mengangguk mengerti ucapan Raihan.
"Gue juga gak mau deket sama mereka, gue juga deket sama lo kebetulan, karna kita pernah kenal aja dulu."jawab Kanaya.
"Ya udah,kita pergi sekarang yuk, keburu malem."Ajak Raihan pada Kanaya.
Kanaya pun mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya. Mereka segera pergi meninggalkan kedai seblak itu, rencananya Raihan akan mengajak Kanaya ke sebuah danau buatan yang tak jauh dari tempat mereka saat ini.
Kini Raihan dan Kanaya telah berada di sebuah Danau buatan yang cukup indah, Kanaya tersenyum senang melihat pemandangan di hadapannya, Kanaya tak menyangka Raihan akan membawanya ke tempat seperti ini, Kanaya awalnya mengira Raihan akan mengajaknya ke sebuah tempat perbelanjaan atau menonton di bioskop, sepertinya Kanaya salah mengira.
Langit senja menyambut Kanaya dan Raihan, tempat ini juga tak terlalu ramai, membuat mereka nyaman, hanya ada beberapa pasangan seperti mereka yang terlihat disini.
"Suka gak Nay?"tanya Raihan, Kanaya mengangguk.
"Suka banget, tanks ya udah bawa gue kesini."Jawab Kanaya.
"Lo kalo mau kemana-mana, bisa ajak gue Nay, gue akan anterin kemanapun lo mau."ucap Raihan.
"Serius nih?"
Mata Kanaya memicing, Raihan tertawa melihat ekspresi Kanaya.
"Iya Kanaya cantik..."jawab Raihan, sambil mencubit lembut pipi Kanaya. Kanaya mendengus mendengar ucapan Raihan, tapi pipinya juga tampak merona.
"Cieee...Kanaya blushing."
Raihan kini malah menggoda Kanaya.
"Apaan sih Rai...?"jawab Kanaya, lalu memukul tangan Raihan spontan, membuat Raihan semakin tertawa.
Sibuk bercanda membuat Kanaya dan Raihan tak menyadari ketika ada seseorang menabrak tubuh Kanaya dari belakang, membuat tubuhnya ikut terdorong ke arah Raihan, Raihan yang cukup terkejut pun otomatis menangkap tubuh Kanaya dan memeluknya.
Cup..
Tanpa sengaja, bibir Raihan mengecup kening Kanaya. Membuat Raihan mematung.
"Aduh kak, maaf ya saya gak sengaja..."ucap seorang anak laki-laki yang sepertinya masih belasan tahun, mungkin anak SMP.
"Makanya hati-hati,"Tegur Raihan sambil menatap anak itu sedikit tajam.
"Iya kak, maaf gak sengaja."Jawab anak itu lalu berlalu pergi dari hadapan Raihan dan Kanaya.
Raihan masih setia memeluk Kanaya, dan Kanaya pun sepertinya masih belum menyadari posisi mereka saat ini, sampai beberapa detik berlalu akhirnya Kanaya sadar akan keadaan mereka saat ini.
"Rai..."ucap Kanaya, lalu melihat ke arah Raihan, Kanaya bahkan harus mendongakan kepalanya untuk bisa melihat wajah Raihan. Raihan menunduk, dan kemudian tersadar bagaimana posisi mereka.
"Eh, sorry, Nay."
Raihan lalu melepaskan pelukannya pada tubuh Kanaya, ada rasa sayang di hati Raihan ketika tubuh mereka berdua kembali menjauh.
Raihan juga mengingat jelas saat tadi bibirnya tak sengaja menyentuh kening Kanaya, membuat jantungnya berdebar mengingatnya.
"Ya udah kesana yuk.."ajak Raihan, untuk menghilangkan kecanggungan mereka. Kanaya mengangguk mengikuti langkah Raihan, mereka menghabiskan senja dengan bercanda bersama.
Raihan sangat bersyukur akhirnya dia bisa kembali bersama dengan cinta pertamanya, walaupun mereka saat ini masih belum memiliki status yang jelas, selain pertemanan, namun Raihan yakin suatu saat Kanaya akan membuka hatinya untuk Raihan.
-Bersambung