Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.
Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 RTJ
Malam di pinggiran Ibu Kota Kekaisaran terasa lebih mencekam daripada biasanya. Di sebuah halaman belakang rumah tua yang tersembunyi oleh pepohonan rimbun, sepuluh pria berdiri tegak seperti patung. Cahaya obor yang temaram memantul di mata mereka yang kini tak lagi kosong, melainkan berkilat dengan harapan dan haus akan pembalasan.
Lin Xi berdiri di hadapan mereka. Ia telah menanggalkan jubah luarnya, menyisakan pakaian ringkas berwarna hitam yang memudahkan geraknya. Di tangannya, sebatang ranting pohon terlihat rapuh, namun di tangan seorang ahli medis yang memahami titik lemah manusia, ranting itu bisa lebih mematikan daripada pedang baja.
"Kalian merasa sudah kuat karena luka kalian sembuh?" suara Lin Xi memecah keheningan, dingin dan menusuk.
Satu, sang pemimpin, maju selangkah dan bersujud. "Nyonya, energi yang mengalir di tubuh kami... kami belum pernah merasakan kekuatan sebesar ini sebelumnya. Kami siap menghancurkan siapapun untukmu."
Lin Xi terkekeh, sebuah suara yang terdengar meremehkan. "Menghancurkan siapa? Dengan teknik kasar militer yang kalian banggakan itu? Jika kalian menyerang kediaman Jenderal Lin sekarang, kalian bahkan tidak akan bisa menyentuh gerbang dalamnya sebelum kepala kalian dipenggal oleh pengawal bayangan."
Sembilan orang lainnya saling pandang, sedikit tersinggung namun tidak berani membantah.
"Satu, serang aku," perintah Lin Xi tiba-tiba.
Satu ragu sejenak. "Nyonya, hamba tidak berani. Tubuh Nyonya terlihat begitu—"
"Lemah? Ringkih?" potong Lin Xi cepat. "Serang aku dengan niat membunuh, atau aku akan mematahkan kakimu sekarang juga!"
Satu menarik napas dalam. Ia menghentakkan kakinya ke tanah, melesat maju dengan tinju yang membawa angin menderu. Sebagai mantan perwira, kekuatannya tidak bisa diremehkan. Namun, saat tinjunya hampir mengenai wajah Lin Xi, gadis itu seolah melarut ke dalam udara.
Wusss!
Lin Xi muncul di samping Satu, ranting di tangannya menekan titik di bawah ketiak pemuda itu.
"Ah!" Satu mengerang. Seluruh lengan kanannya mendadak mati rasa dan terkulai lemas.
"Dua, Tiga, Empat! Maju bersamaan!" teriak Lin Xi.
Ketiganya bergerak dari tiga arah berbeda. Lin Xi melakukan putaran ringan, langkah kakinya tidak mengeluarkan suara sedikit pun—Langkah Bayangan Medis. Ia menyelinap di sela-sela serangan mereka, memberikan ketukan ringan dengan rantingnya ke leher, siku, dan lutut mereka.
Dalam hitungan detik, keempat pria itu tersungkur di tanah, lumpuh sementara namun tidak terluka parah.
"Apa yang terjadi? Tubuhku... aku tidak bisa menggerakkan kakiku!" seru Empat dengan wajah pucat.
Lin Xi kembali ke posisinya semula, memutar ranting di jarinya. "Itulah perbedaan antara otot dan pengetahuan. Prajurit Jenderal Lin dilatih untuk bertarung di medan perang terbuka. Tapi kalian... kalian adalah bayangan. Kalian tidak bertarung untuk kehormatan. Kalian bertarung untuk membunuh secara efisien. Mengerti?"
"Kami mengerti, Nyonya!" jawab mereka serempak, kali ini dengan nada penuh kekaguman.
"Kakek Bai, bagaimana menurutmu? Apa mereka punya potensi?" tanya Lin Xi dalam hati.
Di dalam ruang dimensinya, Kakek Bai sedang berbaring santai di atas tumpukan tanaman obat. "Hmm, lumayan. Si Satu itu punya akar tulang yang keras. Tapi yang lainnya? Masih seperti balok kayu. Kau harus memberi mereka 'Sari Pembersih Tulang' jika ingin mereka mencapai tingkat kultivasi yang layak dalam sebulan."
"Itu akan menyakitkan bagi mereka, bukan?"
"Sakit? Hohoho, mereka akan merasa seperti direbus hidup-hidup dan tulang mereka dihancurkan dengan palu satu per satu. Tapi bukankah itu harga dari sebuah kekuatan?"
Lin Xi menatap sepuluh orang di depannya. "Dengarkan baik-baik. Aku punya cara untuk meningkatkan kekuatan kalian sepuluh kali lipat dalam waktu singkat. Tapi rasanya akan lebih menyakitkan daripada cambukan yang kalian terima di Pasar Lumpur. Siapa yang ingin mundur, lakukan sekarang."
Satu berdiri dengan susah payah setelah kelumpuhannya mereda. "Nyonya, kami sudah mati di hari kami dituduh berkhianat. Hidup yang kami jalani sekarang adalah pemberianmu. Jika rasa sakit bisa memberi kami kekuatan untuk membalas dendam, maka kami menyambutnya dengan senang hati!"
"Kami tidak takut sakit, Nyonya!" seru yang lain.
"Bagus," Lin Xi mengeluarkan sepuluh botol cairan berwarna hijau pekat. "Minum ini, lalu masuklah ke dalam bak air panas yang sudah kusiapkan di dalam. Jangan keluar sampai airnya berubah menjadi jernih kembali."
Begitu mereka meminum cairan itu dan masuk ke bak air, suara erangan tertahan mulai memenuhi halaman. Keringat dingin bercampur cairan hitam berbau busuk keluar dari pori-pori mereka. Lin Xi memperhatikan mereka tanpa ekspresi, meskipun di dalam hati ia merasa iba. Ia tahu betul rasa sakit itu, karena ia pun harus melaluinya untuk mencapai posisinya sekarang.
"Nyonya..." Satu berbisik dari dalam bak, giginya bergeletuk menahan perih. "Kenapa... kenapa Nyonya melakukan ini untuk kami? Nyonya bisa saja membeli budak lain yang lebih patuh."
Lin Xi berjalan mendekat, menatap langit malam. "Karena aku dan kalian adalah jenis yang sama. Kita adalah orang-orang yang dibuang oleh keadilan palsu kekaisaran ini. Jenderal Lin Tian mencuri segalanya dariku—posisiku, keluargaku, bahkan nyawaku. Aku tidak butuh pelayan. Aku butuh rekan yang bisa kupastikan tidak akan berkhianat karena mereka tahu betapa berharganya kesempatan kedua."
Satu menatap punggung Lin Xi dengan penuh rasa hormat yang mendalam. "Demi langit, hamba bersumpah... jika suatu hari hamba berkhianat, biarlah roh hamba hancur di neraka terdalam."
"Simpan sumpahmu untuk musuh kita," balas Lin Xi dingin. "Setelah ini, aku akan mengajarkan kalian teknik Jarum Bayangan Penembus Jiwa. Dengan teknik ini, kalian bisa membunuh lawan yang tingkat kultivasinya lebih tinggi dengan satu serangan di titik buta."
Dua jam kemudian, proses pembersihan selesai. Sepuluh orang itu keluar dari bak air dengan aura yang sama sekali berbeda. Kulit mereka lebih bersih, otot mereka lebih padat, dan yang terpenting, aliran Qi mereka kini stabil dan kuat.
"Luar biasa..." Dua mengepalkan tangannya, merasakan energi yang berdenyut. "Aku merasa bisa menghancurkan batu hanya dengan satu pukulan."
"Jangan sombong," tegur Lin Xi. "Kekuatan tanpa kendali adalah bunuh diri. Sekarang, perhatikan gerakanku."
Lin Xi mulai memperagakan rangkaian gerakan Langkah Bayangan Medis. Ia bergerak begitu cepat sehingga seolah-olah ada tiga Lin Xi yang berdiri di halaman itu.
"Gerakan ini tidak menggunakan kekuatan kasar. Ini tentang memanipulasi udara dan niat lawan. Satu, coba tangkap aku!"
Satu mencoba maju, namun setiap kali ia mengulurkan tangan, Lin Xi menghilang seperti asap.
"Kanan," bisik Lin Xi di telinga Satu. "Kiri," bisiknya lagi dari arah berlawanan.
Satu jatuh terduduk, kebingungan. "Ini... ini sihir?"
"Bukan sihir. Ini adalah pengetahuan tentang persepsi manusia," jelas Lin Xi. "Manusia melihat dengan mata, tapi otaklah yang memprosesnya. Jika kau bisa menipu waktu respon otak mereka, kau menjadi tidak terlihat."
Sepanjang malam itu, Lin Xi melatih mereka tanpa henti. Ia mengoreksi setiap sudut serangan, setiap tarikan napas, dan setiap posisi kaki. Ia bukan hanya melatih fisik mereka, tapi juga menanamkan taktik perang gerilya yang ia pelajari dari kitab-kitab kuno di ruang dimensi.
"Ingat," kata Lin Xi saat fajar mulai menyingsing. "Tugas kalian bukan untuk menjadi pahlawan. Tugas kalian adalah menjadi belati di kegelapan. Jika musuh melihat kalian, kalian gagal."
"Kami mengerti, Guru!"
Lin Xi sedikit terkejut mendengar mereka memanggilnya 'Guru', bukan lagi 'Nyonya'. Namun ia tidak mengoreksinya. "Satu, bagaimana laporan dari Paviliun Bayangan?"
Satu segera mengeluarkan gulungan kertas kecil yang ia terima tengah malam tadi. "Jenderal Lin Tian akan mengadakan perjamuan besar tiga hari lagi untuk merayakan pengangkatannya sebagai Pengawas Militer Utama. Hampir semua pejabat penting akan hadir. Dan Nyonya... ada satu informasi penting lainnya."
"Katakan."
"Selir favorit Jenderal, Nyonya Wei, dikabarkan sedang mencari tabib hebat. Katanya, ia menderita penyakit kulit aneh yang tidak bisa disembuhkan oleh tabib istana. Jenderal sangat cemas dan menjanjikan hadiah besar bagi siapa saja yang bisa menyembuhkannya."
Mata Lin Xi berkilat cerdik. "Penyakit kulit? Kakek Bai, bukankah itu kebetulan yang sangat indah?"
Kakek Bai tertawa terbahak-bahak di dalam kepala Lin Xi. "Hohoho! Penyakit kulit? Aku bisa bertaruh itu adalah ulah racun 'Bunga Malam' yang kau buat kemarin, bukan? Kau sengaja menyuruh orang Paviliun Bayangan untuk menyebarkannya di pakaian selir itu?"
Lin Xi tidak menjawab Kakek Bai secara langsung, namun senyum di wajahnya sudah cukup menjadi jawaban.
"Satu, siapkan pakaian tabib terbaik untukku. Besok, aku akan berkunjung ke Kediaman Jenderal Lin sebagai 'Tabib Misterius dari Pegunungan Salju'."
"Tapi Guru, itu sangat berbahaya! Anda akan masuk ke kandang singa sendirian!" seru Dua khawatir.
Lin Xi menoleh, tatapannya begitu tajam hingga membuat Dua menunduk. "Kandang singa? Tidak. Aku sedang kembali ke rumah lamaku untuk mengambil apa yang seharusnya milikku. Kalian tetaplah di sini, teruskan latihan. Saat aku memberi tanda dari dalam kediaman, itulah saatnya kalian bergerak."
"Kami siap menjalankan perintah!"
Lin Xi kembali menatap matahari yang terbit. Sinar emasnya menyinari Ibu Kota, namun bagi Lin Xi, itu hanyalah latar belakang untuk kegelapan yang akan ia bawa.
"Lin Tian... kau ingin merayakan kejayaanmu? Aku akan memastikan perjamuanmu berubah menjadi pemakaman. Dan selirmu yang cantik itu... dia akan menjadi pintu masukku untuk merobek jantungmu dari dalam."
Dengan kekuatan yang baru saja ia bangun, Lin Xi merasa jalannya semakin jelas. Ia bukan lagi gadis lemah yang dibuang ke jurang. Ia adalah badai yang sedang tenang, mengumpulkan kekuatan sebelum menghancurkan segalanya.
"Kakek Bai, bersiaplah. Kita akan mulai memanen nyawa," bisik Lin Xi lembut, selembut angin pagi yang membawa bau darah yang akan datang.