NovelToon NovelToon
Satu Di Hati

Satu Di Hati

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: mom fien

Satu di Hati.
Kamu seperti matahari,
Hangat di pagi hari,
Menyengat di siang hari,
Meredup saat senja hari.
Namun kamu tetap satu di hati.
# Red_Dexter (pinterest)

Kisah cinta ringan antara Erick dan Jeny. Bagi Erick, Jeny adalah mataharinya, ia tidak bisa hidup tanpanya.
Keraguan, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Jeny.
Senja, waktu favorit Jeny, dan Erick memastikan bahwa Jeny harus melihat kearahnya saat senja.

Kisah nyata seorang kenalan, dengan bumbu dramatisasi, untuk menemani kamu melepas penat menjelang tidur agar bermimpi indah tentang cinta.

Full of love,
Author ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom fien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertengkaran pertama

Kenapa aku merasa kesal dengan kak Kairi? Aku ga menceritakan hal itu pada kak Erick, wajarkah sikapku ini? Setidaknya aku sudah berkata jujur pada kak Kairi, jadi ga apa-apa kan aku ga cerita sama kak Erick?

Setelah malam itu, aku belum bertemu lagi dengan kak Kairi, ia juga tidak menghubungiku sama sekali, dan aku tidak keberatan sama sekali soal itu.

Jumat siang aku menghadap salah satu dosenku, ingin bertanya apa beliau bisa menjadi pembimbing skripsiku semester depan. Kebetulan saat aku masuk ruangan beliau, ada kak Kairi disitu. Aku hanya menatapnya sekilas, namun tidak menyapanya, aku hanya fokus pada tujuan awalku. Pembicaraan kami cukup singkat, beliau berkata akan mempertimbangkan skripsiku, dan memintaku mengirimkan rangka secara garis besar topik skripsiku. Kemudian aku pamit dari ruangannya, terdengar beliau melanjutkan pembicaraan dengan kak Kairi lagi.

Malam ini kak Erick pulang ke rumah, tadi saat makan malam ia sudah memberikan pesan singkat bahwa jadwalnya delay 2 jam, jadi ia baru akan tiba di rumah sekitar tengah malam. Aku menunggu kak Erick dikamarku, kebetulan kamar tamu menghadap langsung kearah gerbang rumah, jadi aku bisa memantau kapan ia sampai di rumah. Keadaan rumah sudah mulai sepi, semua orang sudah masuk ke dalam kamarnya masing-masing.

Sesuai perkiraan, sekitar tengah malam aku mendengar suara gerbang terbuka, kulihat mobil keluarga masuk ke halaman rumah.

Kamar tamu juga berada paling dekat dengan tangga, jadi kak Erick akan melewati kamarku sebelum ia menuju kamarnya. Aku berdiri menunggunya di depan pintu kamarku.

"Loh kamu belum tidur?", tanyanya pelan saat melihatku.

"Aku nungguin kakak.", kemudian ia langsung menarikku untuk mengikutinya ke kamar.

"Kak...", protesku.

"Sssttt... ", ia memberi tanda agar aku tidak bersuara.

Ia membawaku ke kamarnya, menutup pintunya dan menguncinya.

"Aku kangen kamu.", ucapnya sambil memelukku.

"Iya aku juga kangen kakak."

"Makasih udah nungguin aku pulang."

"Hmmm..."

"Aku belum mandi badan rasanya lengket banget, tapi aku masih belum mau lepasin kamu. Tidur dikamarku ya, biar aku bisa peluk kamu semalaman"

"Kakak ini bercandanya ya..."

"Aku kangen berat babe"

"Udah ah kak", aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya.

"Ya udah, aku selalu kalah sama kamu, tapi gantinya panggil aku babe dulu."

"Kak... ", ucapku memelas.

"Udah 2 minggu jadian loh babe."

"Hmmm...", protesku

"Ok, aku ga mau lepasin.", ia menarikku kearah tempat tidur, lalu memaksaku duduk diatas pangkuannya.

"Nah ini lebih nyaman, aku bisa berjam-jam kalau begini."

"Ok aku panggil babe tapi kalau cuma lagi berdua saja ya."

"Ok baiklah", ucapnya lesu.

"Jadi aku balik ke kamar ya... babe."

Ia tersenyum dengan pengucapanku yang canggung.

"Ih kamu gemesin bangetttt pengen aku peluk semalaman deh, I love you babe."

Tapi aku belum siap mebalasnya, dan segera pergi keluar dari kamarnya.

Hari ini kencan pertamaku dengan kak Erick, kebetulan sore ini tidak ada orang di rumah, jadi aku tidak perlu membuat alasan untuk pergi makan malam dengan kak Erick.

Saat makan malam ponselku bergetar beberapa kali, ddrrtt... ddrrtt... ddrrtt... ddrrtt... ddrrtt...

Aku melihat layar ponselku, terpampang nama kak Kairi disana, dan aku mengacuhkannya.

"Siapa babe?"

"Kak Kairi", ucapku jujur.

"Kamu ga mau buka isinya?"

"Harus sekarang kak?"

"Kak lagi... babe... dan iya sekarang aku mau tau isinya."

Aku menurutinya dan melihat email masuk berisi link-link jurnal, kutebak ini berhubungan dengan skripsiku.

Kemudian ada pesan masuk lagi dari kak Kairi, "Jen aku mengirimkan beberapa jurnal yang mungkin menarik untuk diajukan kepada pak Wahyu, jangan sungkan untuk bertanya, aku cukup dekat dan mengerti tentang beliau."

"Terima kasih.", balasku singkat, lalu memberikan ponselku untuk dibaca oleh kak Erick.

"Kamu mau pakai bahan dari dia untuk skripsi kamu?"

"Ga babe, aku bisa sendiri kok."

Aku mengambil kembali ponselku, menghapus email dari kak Kairi lalu memperlihatkannya pada kak Erick.

"Ini, sudah aku hapus emailnya."

"Kenapa kamu jawab terima kasih, kenapa ga kamu bilang kalau kamu ga perlu bantuannya?"

"Karena aku cuma mau jawab singkat, dan ga mau memulai pembicaraan, karena saat ini aku lagi pacaran."

Kulihat kak Erick masih kesal dan belum puas dengan jawabanku.

"Kemarin siang aku ga sengaja ketemu dia di ruangan dosen yang aku minta untuk jadi pembimbingku", ucapku berusaha memperjelas lagi keteranganku.

"Dia masih ngejar kamu ya? Senang ya Jen kamu diperhatikan sama cowok lain."

"Kak Erick!", protesku.

Mungkin kami sama-sama menenangkan emosi kami, jadi kami menyelesaikan makan malam tanpa ada pembicaraan. Aku tau aku harus menyelesaikan salah paham ini di mobil.

Sesaat setelah kami masuk mobil, aku langsung memulai pembicaraan.

"Babe, aku sudah bilang ke kak Kairi kalau aku jadian sama kakak.", aku sungguh masih canggung menggunakan kata babe.

"Kapan kamu bilang itu?"

"Waktu perpisahan himpunan minggu lalu."

"Minggu lalu? Diacara makan malam itu? Kok kamu ga cerita?"

"Aku pikir aku ga perlu cerita.", ucapku pelan.

"Babe jangan marah. Baiklah aku cerita sekarang."

"Malam itu, waktu aku teleponan sama kakak, kak Kairi juga ternyata ada situ. Aku ga tau apa dia mendengarkan atau ga, aku ga tanya. Terus dia tanya apa kakak menyukaiku, aku jawab aku udah pacaran sama kakak. Seingatku, aku juga memberi batasan jelas padanya, aku bilang ke depannya jangan bersikap yang ga jelas lagi, karena aku cuma menganggapnya teman."

Kami masih sama-sama terdiam.

"Babe aku harus bagaimana supaya kamu ga marah."

"Cium aku supaya marahku hilang."

"Kak!"

"Iya iya... aku cemburu Jen, melihat orang lain memberi perhatian ke kamu. Aku tau kamu belum sepenuhnya nerima aku, aku juga frustasi karena aku ga bisa bilang ke semua orang kamu pacar aku, aku juga takut kamu menganggap ini benar-benar masa percobaan pacaran, dan bukan pacaran sungguhan."

Kak Erick mengatakannya sambil menatapku, entah karena perkataannya, atau karena perasaan bersalah, tapi beberapa detik kemudian aku memegang wajahnya dengan kedua tanganku dan mengecupnya di bibir. Hanya kecupan, karena hanya sejauh itu keberanianku.

Kami bertatapan mata, aku tau ia terkejut dengan perlakuanku. Lalu ia menciumku, untuk sesaat aku hanya membiarkannya menciumku, kemudian aku membalasnya. Ini pertama kalinya kami berciuman dengan penuh kesadaran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!