Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 Panjang Perjalanan, Dekatnya Hati
Setelah kejadian yang mengejutkan di lift, Rania dan Saka akhirnya memasuki Ruang Pertemuan Sakura. Mr. Hiroshi Tanaka berdiri dengan senyum ramah, menyambut mereka dengan erat tangan. Meskipun sedikit terlambat dan kedua mereka masih sedikit terpengaruh oleh kejadian tadi, pertemuan berjalan dengan sangat lancar.
“Selamat pagi, Mr. Saka, Bu Rania. Saya sudah menunggu dengan sabar. Semoga tidak ada kendala yang berarti ya?” ujar Mr. Hiroshi dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar. Saka hanya mengangguk dengan senyum tipis, sementara Rania segera mengambil alih percakapan dengan menjelaskan detail proyek kolaborasi yang telah dirancang oleh PT Wijaya Group.
Dalam waktu kurang dari dua jam, mereka berhasil menyepakati semua poin penting. Mr. Hiroshi sepakat untuk menanamkan saham senilai lebih dari 50 miliar rupiah ke dalam proyek pengembangan pabrik makanan organik yang akan dibangun di kawasan industri baru di Kabupaten Bandung Barat. Selain itu, Mitsui Foods juga akan menyediakan teknologi terkini dan jaringan pemasaran internasional untuk produk hasil kolaborasi tersebut.
“Proyek ini memiliki potensi besar untuk mengubah wajah industri makanan di Indonesia. Saya yakin dengan kerja sama antara PT Saka Perkasa dan PT Wijaya Group, kita bisa mencapai target yang telah kita tetapkan,” ucap Mr. Hiroshi sambil menandatangani kontrak kerja sama. Saka dan Rania juga menandatangani dokumen tersebut, dengan tangan yang saling bersilangan di atas meja pertemuan. Saat itu, Rania merasakan sedikit getaran di dalam hatinya – bukan hanya karena kesuksesan bisnis, tetapi juga karena sentuhan mata singkat yang ia tukarkan dengan Saka.
Beberapa minggu telah berlalu sejak hari pertemuan dengan Mr. Hiroshi. Setiap hari, Rania harus datang ke kantor pusat PT Saka Perkasa untuk membahas perkembangan proyek. Sikap Saka yang kembali menjadi cuek, dingin, dan sangat tegas membuatnya semakin kesal. Tak ada lagi kesan lembut yang muncul saat mereka terjebak di lift – yang ada hanya pria yang selalu menuntut kesempurnaan dan tidak pernah mau melirik kantornya yang ia katakan “kecil dan tidak mewah seperti perusahaan saya”.
“Hari ini kita harus menyelesaikan rancangan tata letak pabrik sebelum jam empat sore. Tidak ada alasan untuk menunda-nunda lagi, Bu Rania,” ujar Saka tanpa melihat wajah Rania, fokus hanya pada layar komputer di mejanya. Rania mengerutkan kening, merasa kepalanya mulai berputar dan tubuhnya sedikit menggigil. Udara di ruang kerja Saka yang terlalu dingin membuatnya merasa tidak nyaman.
“Pak Saka, sebenarnya saya merasa kurang enak badan sejak pagi. Bolehkah saya pulang lebih awal dan melanjutkan pekerjaan besok pagi saja?” tanya Rania dengan suara yang sedikit lemah. Namun, jawaban yang diterimanya hanya membuatnya semakin frustrasi.
“Tidak bisa. Proyek ini tidak bisa ditunda karena Anda merasa tidak enak badan. Jika Anda tidak bisa bekerja dengan baik, mungkin saya harus mempertimbangkan untuk mengganti perwakilan dari PT Wijaya Group,” ucap Saka dengan nada yang sangat tegas. Rania merasa darahnya mendidih, namun dia tidak punya pilihan selain menekan emosinya dan kembali duduk di kursinya.
Setelah sekitar satu jam bekerja, kepala Rania semakin pusing. Dia merasa dunia di sekitarnya mulai berputar dan telinganya berdenging. Tak mampu menahannya lagi, tubuhnya mulai goyah sebelum akhirnya jatuh ke depan meja dengan suara yang cukup keras.
“Rania! Bu Rania!” teriak salah satu karyawan yang lewat di depan ruangan. Saka yang sedang membaca dokumen langsung mendekatinya. Dia menyentuh dahi Rania dan terkejut karena suhunya yang sangat tinggi.
“Dasar cewek keras kepala! Sakit saja masih mau kerja, merepotkan!” gumam Saka sambil menggerutu, namun tangannya dengan cepat menggendong tubuh Rania yang tidak sadarkan diri. Dia berjalan cepat melewati koridor, mengabaikan pandangan heran dari para karyawan yang melihatnya membawa seorang wanita dengan hati-hati.
Anton, orang kepercayaan Saka yang sudah bekerja bersamanya selama lima tahun, langsung menyusul dari belakang. “Pak Saka, mau saya bantu membawa Bu Rania ke rumah saja?” tanyanya. Namun, Saka hanya menggeleng tanpa melihatnya.
“Bawa dia ke kamar istirahat di lantai bawah. Dan hubungi dokter segera!” perintah Saka dengan suara yang sedikit tergesa-gesa.
Di dalam kamar istirahat yang dihiasi dengan sederhana namun nyaman, Saka dengan lembut meletakkan Rania di atas ranjang. Dia mengambil handuk basah untuk menyeka dahinya yang berkeringat, kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut tipis. Anton datang membawa obat penurun panas dan air mineral, namun Saka menyuruhnya keluar sebentar agar Rania bisa istirahat dengan tenang.
Tanpa sadar, mata Saka tertuju pada wajah Rania yang sedang tertutup rapat. Bibirnya yang sedikit terbuka, alis yang terkadang bergerak seolah dalam mimpi, dan rambut hitamnya yang menyebar di atas bantal membuatnya terpana. “Cantik juga ternyata… Sayang sekali sedikit keras kepala nih cewek,” gumamnya dengan suara pelan, sambil mengusap lembut pipi Rania yang hangat.
Waktu terus berlalu, dan sudah memasuki jam makan siang. Saka tidak merasa lapar sedikit pun. Dia hanya duduk di kursi di samping ranjang, menunggu Rania sadar. Anton beberapa kali masuk untuk memberitahu bahwa dokter sudah tiba dan siap memeriksanya, namun Saka menyuruh dokter menunggu sebentar dulu.
Setelah hampir dua jam, kelopak mata Rania mulai bergerak perlahan. Dia merasa kepalanya masih sedikit pusing dan tubuhnya terasa lemas. Ketika matanya terbuka, dia terkejut melihat dirinya berada di kamar yang tidak dikenalnya. Langsung saja dia duduk dengan cepat, membuat kepalanya berputar lagi.
“Tenang saja Bu Rania, jangan bergerak terlalu cepat,” ujar Anton yang baru saja masuk ke kamar. Rania melihatnya dengan tatapan bingung.
“Anton? Mengapa saya ada di sini? Dimana saya sebenarnya?” tanyanya dengan suara lemah.
“Bu Rania ada di kamar istirahat kantor PT Saka Perkasa. Tadi Bu Rania pingsan saat sedang bekerja dengan Pak Saka. Pak Saka yang menggendong Bu Rania ke kamar ini, merawat Bu Rania, dan bahkan tidak makan siang hanya untuk menunggui Bu Rania sadar,” jelas Anton dengan senyum ramah. Rania terkejut mendengarnya. Pikiran tentang pria yang selalu cuek dan dingin ternyata bisa melakukan hal seperti itu membuat hatinya sedikit bergetar.
“Lalu sekarang Pak Saka dimana?” tanya Rania.
“Pak Saka baru saja keluar sebentar, Bu. Mungkin untuk mengambil sesuatu,” jawab Anton. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan Saka masuk membawa sebuah mangkuk besar berisi bubur ayam hangat. Anton melihatnya dengan ekspresi heran – biasanya Saka selalu menyuruh anak buahnya untuk menyiapkan makanannya, bahkan hanya sekedar makanan ringan.
“Sini, makan!” ucap Saka dengan nada yang masih terkesan ketus, sambil memberikan mangkuk bubur ke arah Rania. “Makanya kalau sakit jangan kerja, merepotkan saja!” tambahnya dengan tatapan yang menunjukkan kesal.
Rania merasa ingin membalasnya, namun ingatan tentang apa yang dikatakan Anton membuatnya menahan diri. “Lah, gimana sih… Tadi saya kan sudah mau ijin lho, ingin pulang beristirahat dulu di rumah, tapi bapak tidak memberi ijin,” protesnya dengan suara kecil.
“Gak usah membantah! Sudah jelas kamu terlalu memaksakan diri,” ucap Saka dengan nada yang semakin tinggi, namun kemudian dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. “Sudah, cepat makan sebelum buburnya dingin.”
Rania mengangguk dan mulai menyendok bubur ke dalam mulutnya. Rasanya sangat lezat dan hangat, membuat tubuhnya yang sebelumnya dingin mulai terasa lebih nyaman. Setelah beberapa suapan, dia melihat ke arah Saka yang sedang berdiri di dekat jendela dengan tangan yang menyilang di dadanya.
“Oya… makasih ya Pak, sudah mau merawat saya tadi waktu pingsan,” ujarnya dengan senyum tipis. Saka sedikit menoleh, matanya bergerak dari wajah Rania ke lantai lalu kembali lagi.
“Jangan geer dulu! Saya melakukannya agar tidak dituduh menyebabkan kamu sakit. Lagi pula kalau kamu sakit, aku juga repot, siapa yang membantu saya mengerjakan proyek ini. Kalau tidak diselesaikan, kerugiannya kan besar – lebih dari 1000 kali lipat dari nilai bubur yang saya beli sendiri!” katanya dengan nada yang masih mencoba menunjukkan kesal, namun di dalam matanya tampak sedikit kehangatan yang belum pernah Rania lihat sebelumnya.
Rania hanya tersenyum lembut sambil terus menyantap buburnya, merasa bahwa mungkin saja ada sesuatu yang berubah dalam hubungan mereka – sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, namun terasa begitu nyata di antara mereka berdua.
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰