Jennie Revelton (25) seorang penulis novel dewasa yang terkenal dengan fantasi sensualnya tiba-tiba mengalami writer’s block saat mengerjakan proyek terbesarnya. Semua ide terasa mati hingga seorang pria baru pindah ke unit sebelah apartemennya.
Pria itu adalah tipikal karakter novel impiannya: tampan, mapan, dewasa, dan terlalu sempurna untuk menjadi tetangga. Tanpa sadar Jennie menjadikannya bahan fantasi untuk menghidupkan kembali gairah menulisnya.
Namun semakin sering ia mengamati dan membayangkan pria itu, perasaan Jennie mulai berubah. Dia tak lagi ingin pria itu hanya hidup di atas kertas, tapi juga menginginkannya di dunia nyata.
Keadaan menjadi rumit ketika pria itu mengetahui bahwa dirinya adalah objek fantasi erotis dalam novelnya. Alih-alih marah atau menjauh, pria itu justru mengajukan sebuah penawaran tak terduga.
"Daripada hanya mengandalkan imajinasi, bukankah lebih nikmat jika kau bisa merasakannya langsung?" ~~Johan Alexander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Apa Kau Masih Membutuhkannya?
Suasana meja makan yang tadinya hangat mendadak menjadi tegang saat Ajeng sudah sampai di depan mereka berempat. Aroma parfum yang bergitu kuat dan tajam menusuk indra penciuman mereka
"Oh, jadi ini alasanmu menolak ajakan Papaku? Demi wanita antar berantah ini?" ucap Ajeng menunjuk Jennie dengan telunjuknya yang berkutek merah darah.
Bu Ratna dan Pak Hardi tampak terkejut. "Ajeng, jaga bicaramu. Kami sedang makan malam keluarga," tegur Pak Hardi dengan suara berat.
"Makan malam keluarga? Bagaimana bisa Om menerima wanita yang bahkan tidak jelas aal usulnya ini masuk ke dalam lingkaran kita?" balas Ajeng dengan tawa sinis.
"Jennie itu seorang penulis sejarah, dia bukan wanita antah berantah, dia memiliki pekerjaan," balas Bu Ratna dengan cepat, dia tidak suka cara Ajeng merendahkan kekasih anaknya.
Mata Ajeng meneliti Jennie dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan, kedua tangannya bersidekap di dada. "Penulis sejarah? Halah, dari tampang dan juga penampilannya sama sekali tidak mencerminkan seorang penulis, apalagi sejarah. Tampang seperti ini, lebih cocok disebut sebagai penggoda pria sukses seperti Johan ini."
Jennie merasakan darahnya berdesir hebat, bukan karena marah tapi malu yang mendalam. Kemarin saat Ajeng menghinanya sebagai LC, dia masih bisa menahannya, tapi sekarang hinaan itu kembali datang dan dengarkan banyak orang.
Dia memang bukan dari keluarga kaya, tapi juga tidak bisa dikatakan miskin. Kedua orang tuanya sudah meninggal, dan meninggalkan cukup uang warisan untuk dia hidup. Dan menulis adalah hobinya dari dulu, dan sekarang menjadi pekerjaan untuknya.
Jika Jennie hanya bisa menahannya karena menjaga image, lain halnya dengan Johan. Pria itu berdiri tanpa melepaskan genggaman tangannya. "Cukup, Ajeng!"
"Kenapa Johan? Dia memang tidak selevel dengan kita!" teriak Ajeng mulai kehilangan kendali karena cemburu.
"Level apa yang kamu maksud?" tanya Johan dengan tatapan yang sanggup membekukan api. "Jika yang kamu masuk level kemandirian dan kecerdasan, maka kamu benar, dia sangat jauh di atasmu. Dia tidak butuh pengakuan dari orang-orang sepertimu untuk merasa beharga."
Setelah mengatakan itu Johan menoleh ke arah kedua orang tuanya. "Pa, Ma. Jennie memang bukan dari dunia yang sama dengan kita, tapi dia adalah wanita pekerja keras yang menciptakan dunianya sendiri lewat tulisan. Tidak seperti wanita lain yang hanya tau menghabiskan uang dan menjelek-jelekkan orang lain," ucapnya sungguh-sungguh.
Sekarang Johan menatap Jennie dengan lembut, tatapan yang mampu membuat jantung wanita itu berhenti.
"Dia adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatku merasa menjadi pria biasa, bukan alat bisnis. Ini bukan tentang siapa dia, tapi siapa dia bagiku, dan dia adalah tunanganku. Jika ada yang menghinanya, itu artinya menghinaku juga."
Mata Jennie mulai berkaca-kaca, ingatkan dia jika ini adalah bagian dari sandiwara.
Pak Hardi berdehem lalu menatap Ajeng dengan tegas. "Ajeng, Om rasa sudah cukup. Jangan mempermalukan dirimu sendiri lebih jauh di tempat umum, dan silahkan pergi dari sini."
Wajah Ajeng memerah padam, campur aduk antara rasa malu, marah dan tidak percaya. Dia menatap Jennie dengan tatapan tajam lalu melangkah pergi dengan langkah yang hampir tersandung.
Makan malam itu akhirnya berakhir dengan rasa canggung. Perjalanan pulang di dalam mobil SUV Johan terasa sangat sunyi.
Jennie menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu Jakarta yang berpendar, dia masih bisa merasakan panas tangan Johan di kulitnya.
Otaknya berusaha mencatat kejadian tadi untuk keperluan novelnya, tapi untuk pertama kalinya dia merasa naskahnya tidak sanggup menggambarkan apa yang dia rasakan sekarang.
Mobil berhenti di parkiran apartemen, mereka berajalan menuju lift dalam diam. Begitu lift mencapai lantai lima dan pintu terbuka, koridor panjang itu tampak sunyi, hanya diterangi lampu-lampu kuning temaram yang menciptakan bayangan panjang.
Jennie berhenti di depan pintu unit 501, dan dia memutar tubuhnya menghadap Johan, bermaksud untuk mengucapkan terima kasih dan segera masuk untuk menenangkan diri.
"Mas Johan, terima kasih untuk pembelaanmu tadi. Meskipun aku tahu itu hanya sebatas sandiwara, tapi aku tetap mengucapkan terima kasih," ucapnya dengan tulus.
Johan tidak menjawab, pria itu justru melangkah maju memangkas jarak di antara mereka. Jennie harus mundur dan punggungnya menyentuh pintu yang keras.
Johan meletakkan satu tangannya di pintu, tepat di samping telinga Jennie, mengunci pergerakan wanita itu. Dia menundukkan kepalanya hingga Jennie bisa merasakan hembusan napas Johan yang hangat dan beraroma kopi.
"Aku tidak bicara sejauh itu hanya untuk sandiwara, Jennie," bisiknya. "Aku hanya tidak suka ada orang lain yang merendahkan apa yang menjadi milikku."
Jennie menahan napas, "Milikmu?"
Johan tidak menjawab dengan kata-kata, tapi matanya jatuh ke bibir Jennie yang masih dipulas lipstik tipis. Tatapannya begitu dalam, seolah dia sedang menelusuri setiap inci wajah Jennie.
"Untuk bab selanjutnya di novelmu...." gumam Johan, jemari tangannya yang bebas kini menyelinap di antara rambut Jennie di belakang tengkuknya, menariknya sedikit agar wanita itu mendongak.
Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Jennie, membuat wanita itu merinding seketika.
"Apakah kamu masih butuh penelitian dari potongan majalah atau imajinasimu yang liar itu? Atau...."
"Kau butuh riset tentang bagaimana rasanya dicium dengan sungguh-sungguh oleh pria yang sudah lelah berpura-pura dan hanya ingin mengambil apa yang dia mau?"
Dunia Jennie seolah berhenti berputar, debar jantungnya bukan lagi sebuah kiasan dalam novel, melainkan dentuman nyata yang bisa dirasakan oleh mereka berdua.
"Mas...."
"Jawab Jennie, apa kau membutuhkannya?" desak Johan, bibirnya kini hanya berjarak satu inci dari bibir Jennie, siap untuk menghapus jarak di antara mereka.
Jennie tidak menjawab dengan kata-kata, dia hanya menarik napas panjang dan membiarkan matanya terpejam, memberikan persetujuan bisu yang paling diinginkan oleh Johan Alexander.
Bersambung