Slamet, seorang pengangguran yang hobi main game dan punya utang pinjol (pinjaman online) di 12 aplikasi berbeda, saking frustasinya, dia mencoba melakukan ritual pesugihan yang dia temukan di grup Facebook "Cepat Kaya Tanpa Kerja".
Bukannya dapat emas setumpuk, Slamet malah salah kirim sesajen. Dia malah melakukan kontrak kerja dengan Koperasi Makhluk Halus Nasional. Ternyata, dunia ghaib sedang mengalami krisis eksistensi karena manusia zaman sekarang sudah tidak takut setan (lebih takut tagihan cicilan).Slamet tidak jadi tumbal, tapi dipekerjakan sebagai "Manager Citra & Viralitas" untuk hantu-hantu lokal supaya mereka bisa eksis lagi di TikTok dan menakuti manusia modern. Komedinya muncul dari Slamet yang harus mengajari Kuntilanak cara skincare-an biar nggak kusam saat live streaming, atau Pocong yang minta dicarikan jasa lari maraton karena bosan lompat terus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Urusan Jodoh Dan Revisi takdir
Keluar dari pengadilan ghaib dengan status bebas murni ternyata tidak langsung membuat hidup Slamet tenang. Masalahnya, aplikasi 'Malaikat-Care' yang tiba-tiba muncul di HP-nya itu terus-terusan berbunyi dengan nada dering yang terdengar seperti suara harpa digabung dengan kicauan burung pipit. Sangat kontras dengan notifikasi 'Dana Kilat' yang suaranya mirip geledek pecah.
[Notifikasi: "Peringatan! Tingkat kesepian Anda mencapai 85%. Segera lakukan sosialisasi dengan makhluk hidup berjenis kelamin perempuan dalam radius 500 meter, atau takdir jodoh Anda akan dialihkan ke kucing tetangga."]
Slamet mengusap wajahnya kasar. "Gila ya, urusan hati aja sekarang pake sistem kuota. Ini malaikat bagian IT-nya pasti lulusan startup juga," gumamnya sambil berjalan menuju warung kopi langganannya, Warkop Pak Kumis.
Slamet butuh asupan kafein yang nyata, bukan uap kopi ghaib ala Bang Omen. Dia rindu bau mie instan yang beneran, bukan yang cuma visual hologram. Namun, baru saja dia duduk di bangku kayu panjang warkop, getaran di pergelangan tangan kirinya logo Verified biru itu mulai berdenyut kencang. Itu tandanya ada aktivitas ghaib yang tidak biasa di sekitarnya.
Slamet menoleh ke kiri dan ke kanan. Warkop itu sepi, cuma ada Pak Kumis yang sedang mengelap gelas dengan serbet yang warnanya sudah tidak jelas. Tapi, di pojok ruangan, di bawah kipas angin yang putarannya sudah tersengal-sengal, duduk seorang gadis. Dia memakai kacamata frame bulat, sibuk dengan laptopnya, dan tampak frustasi sambil memijat keningnya.
[Malaikat-Care: "Target Terdeteksi! Nama: Arini (24). Pekerjaan: Copywriter Freelance. Status: Sama-sama belum bayar kosan dua bulan. Tingkat Kecocokan: 92%. Gaspol, Met!"]
Slamet tersedak ludahnya sendiri. "Gaspol, gaspol... dikira gue supir angkot apa," bisiknya.
Tapi ada yang aneh. Di belakang kursi Arini, Slamet melihat sesosok hantu kecil—sejenis tuyul, tapi penampilannya lebih rapi, pake dasi kupu-kupu merah. Tuyul itu sedang asyik menarik-narik ujung rambut Arini setiap kali gadis itu mencoba mengetik. Inilah alasan kenapa Arini terlihat sangat stres; dia sedang diganggu secara teknis oleh makhluk ghaib.
Slamet tahu, ini saatnya dia beraksi menggunakan wibawa barunya sebagai 'Manager Citra K.MN'. Dia mendekati meja Arini, tapi matanya melotot ke arah si tuyul kecil itu.
"Ehem," Slamet berdehem keras.
Arini mendongak, wajahnya terlihat lelah tapi ada sisa-sisa kecantikan yang bikin jantung Slamet melakukan salto tanpa izin. "Iya? Mau duduk di sini? Silakan, Mas."
Slamet duduk di depan Arini. Matanya tetap tertuju pada si tuyul yang sekarang malah menjulurkan lidah ke arahnya. Slamet memberikan kode tangan 'potong leher' yang sangat halus ke arah si tuyul. Si tuyul langsung ciut, dia tahu Slamet punya tanda 'Verified' dari Nyi Blorong. Dengan sekali lompatan, tuyul itu hilang menembus tembok warkop.
"Masnya kenapa? Kok kayak lagi ngancem tembok?" tanya Arini heran.
"Oh, eh, bukan... itu tadi ada... cicak gede banget di belakang Mbak. Takutnya jatuh ke kopi," kilah Slamet. Dia segera mengalihkan pembicaraan. "Lagi ngerjain apa, Mbak? Serius banget kelihatannya."
Arini menghela napas, menutup laptopnya setengah. "Lagi bikin konten buat klien, Mas. Tapi dari tadi ide macet terus. Berasa ada yang narik-narik pikiran saya. Kayaknya saya butuh liburan, atau mungkin butuh dukun."
Slamet terkekeh. "Jangan dukun, Mbak. Dukun sekarang tarifnya mahal, belum lagi pajaknya. Mending konsultasi sama... konsultan citra digital."
"Masnya konsultan?" Arini menatap Slamet dengan ragu. Penampilan Slamet memang jauh dari kata konsultan; kemeja flanel yang belum disetrika dan mata yang merah karena habis sidang di alam bar zah.
"Yah, semacam itulah. Saya biasa bantuin... pihak-pihak yang nggak kelihatan buat dapet spotlight," jawab Slamet diplomatis.
Baru saja Arini mau membalas, HP Slamet di atas meja bergetar hebat. Kali ini panggilannya dari 'Sugeng (Pocong)'. Slamet lupa mematikan speaker.
"MET! SLAMET! INI GUE SUGENG! GUE LAGI DI TENGAH JALAN RAYA, KAIN KAFAN GUE KESERIMPET RANTAI MOTOR ORANG! TOLONGIN, MET! GUE MALU DILIATIN KURIR PAKET!" suara Sugeng melengking lewat speaker HP.
Wajah Slamet memucat. Arini melongo. "Itu... suara siapa, Mas? Kok kayak suara... kain kegesek?"
Slamet buru-buru menyambar HP-nya. "Oh, ini... ini suara ringtone baru! Namanya 'Ambience Pemakaman Jakarta'. Lagi ngetren banget di kalangan pecinta indie-horror. Keren kan?"
Slamet segera mematikan HP-nya. Dia berkeringat dingin. Ternyata mengurus jodoh sambil jadi manajer hantu itu seperti mencoba makan bubur panas pakai sumpit; ribet dan berisiko melukai diri sendiri.
"Mbak Arini," kata Slamet mencoba mengembalikan suasana. "Gini deh, kalau Mbak mau, saya bisa kasih ide buat konten Mbak. Mbak lagi bahas apa?"
"Tentang... bahaya pinjaman online, Mas. Tapi saya mau bikin yang beda, yang nggak cuma nakut-nakutin soal bunga," jawab Arini.
Slamet tersenyum. Ini adalah bidang keahliannya. "Coba Mbak bikin sudut pandang dari 'sisi gelapnya'. Misal, gimana kalau pinjol itu sebenernya kerjasama sama setan buat nyedot energi orang? Jadi orang bukan cuma habis duitnya, tapi habis semangat hidupnya. Dan cara ngelawannya bukan cuma bayar utang, tapi dengan 'reclaim' atau mengambil kembali keceriaan hidup."
Arini terdiam. Matanya berbinar. "Wah... itu sudut pandang yang unik banget! Kok saya nggak kepikiran ya? Mas pinter juga."
[Malaikat-Care: "Poin Daya Tarik +20! Arini mulai terpesona. Lanjutkan dengan traktir dia kopi, meskipun saldo Anda tinggal tujuh ribu rupiah. Keajaiban akan terjadi!"]
Slamet menelan ludah. Traktir kopi dengan tujuh ribu? Pak Kumis pasti bakal nendang dia keluar. Tapi, tiba-tiba dia teringat 'Ghaib-Pay' miliknya. Dia mencoba melakukan sesuatu yang belum pernah dia coba: transfer dari saldo ghaib ke rekening dunia nyata.
Dia memejamkan mata, menekan tombol 'Cash.out' di aplikasi K.MN dengan niat yang sangat tulus. Tiba-tiba, mesin EDC di meja Pak Kumis berbunyi klin.ing! dan keluar struk bertuliskan: "Saldo Masuk: Rp 50.000 (Pengirim: Koperasi Makhluk Halus - Divisi Dana Hibah)".
Pak Kumis bingung, tapi dia tetap tersenyum. "Eh, Slamet, kopi Mbak ini sama punya kamu udah lunas ya. Ada yang bayarin lewat QRIS misterius tadi."
Arini kaget. "Lho, kok bisa?"
"Yah, itulah Mbak. Kalau kita niatnya baik, alam semesta termasuk yang nggak kelihatan bakal bantu," kata Slamet dengan gaya sok bijak.
Sore itu mereka mengobrol panjang. Slamet merasa untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, dia bisa tertawa tanpa ada bayang-bayang debt collector. Arini ternyata orang yang sangat asyik. Dia juga punya ketertarikan pada hal-hal mistis, meskipun dia sendiri tidak bisa melihat hantu.
"Tau nggak Mas, saya tuh sering ngerasa kayak ada yang ngawasin kalau lagi kerja malam. Tapi saya nggak takut, saya malah sering ajak ngobrol. 'Hai Setan, kalau kamu emang ada, tolong cariin typo di tulisan saya dong'," Arini tertawa kecil.
Slamet ikut tertawa, padahal di belakang Arini, si tuyul tadi sudah balik lagi dan sekarang sedang sibuk membetulkan tanda baca di layar laptop Arini karena takut sama Slamet.
Namun, kedamaian itu pecah saat tiba-tiba langit Jakarta yang tadinya cerah berubah menjadi gelap gulita hanya dalam hitungan detik. Angin kencang bertiup, menerbangkan kalender di tembok warkop Pak Kumis.
Slamet melihat ke arah jalan raya. Di sana, berdiri sesosok pria tinggi besar dengan setelan jas hitam yang sangat kaku. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, dan di tangannya dia memegang sebuah koper besi besar. Itu adalah 'The Auditor' yang diperingatkan oleh Bang Omen.
Pria itu berjalan menembus mobil-mobil yang terjebak macet, menuju langsung ke arah warkop.
"Met... kok mendadak mendung ya?" Arini merapatkan jaketnya, merasa kedinginan yang tidak wajar.
Slamet berdiri. Dia tahu audit besar-besaran sudah dimulai. Dia tidak bisa membiarkan Arini terlibat dalam urusan berdarah-darah antara dia dan birokrasi neraka.
"Mbak Arini, maaf banget. Kayaknya saya ada urusan mendadak yang nggak bisa ditunda," kata Slamet panik. "Ini nomor WA saya. Kalau Mbak butuh ide lagi, atau... kalau ada hal aneh terjadi di rumah, hubungi saya aja."
"Lho, Mas mau ke mana?" tanya Arini bingung.
Slamet tidak menjawab. Dia langsung berlari keluar menuju area parkir yang gelap. Di sana, Sang Auditor sudah menunggu.
"Saudara Slamet," suara Sang Auditor terdengar seperti ribuan kertas yang disobek secara bersamaan. "Kami menemukan ketidakkonsistenan dalam laporan pajak energi Anda. Saldo Ghaib-Pay yang Anda gunakan untuk mentraktir manusia tadi adalah pelanggaran protokol tingkat satu. Ikut saya ke Kantor Penyesuaian Takdir."
Slamet mengepalkan tangannya. "Cuma gara-gara kopi dua gelas, lo mau bawa gue ke sana? Pelit banget jadi setan!"
"Ini bukan soal kopi. Ini soal keseimbangan. Manusia tidak boleh mendapatkan keuntungan material dari dunia ghaib tanpa ada tumbal yang setara. Karena Anda tidak memberikan tumbal, maka takdir jodoh Anda yang baru saja 'mekar' tadi akan kami hapus secara permanen dari sistem."
Slamet tertegun. "Apa? Hapus jodoh? Woi, itu pelanggaran hak asasi jomblo!"
"Hukum adalah hukum, Slamet. Pilih satu: Serahkan pekerjaan Anda di K.MN dan kembali jadi pengangguran yang dikejar pinjol, atau biarkan kami menghapus Arini dari ingatan Anda."
Slamet menatap ke dalam warkop, di mana Arini masih duduk manis sambil melambaikan tangan padanya lewat jendela kaca yang berembun. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya. Menjadi pahlawan ghaib yang kaya tapi kesepian, atau kembali jadi manusia hina yang punya harapan akan cinta.
Di saat genting itu, HP Slamet bergetar lagi. Bukan dari Malaikat-Care, bukan dari K.MN. Tapi sebuah pesan dari nomor yang terenkripsi.
[Pesan dari Bang Omen: "Met! Jangan mau diintimidasi! Gue baru nemu celah hukum ghaib. Ada pasal 'Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Ghaib dan Manusia'. Kalau lo bisa buktiin Arini itu 'Aset Strategis' buat citra hantu, mereka nggak bisa hapus dia. Cepat bikin konten bareng dia sekarang!"]
Slamet tersenyum lebar. Dia punya rencana gila lainnya. Dia berbalik, bukan lari dari Auditor, tapi malah lari kembali ke dalam warkop.
"Mbak Arini! Mau ikut saya jadi host podcast horor nomor satu di Indonesia nggak?! Sekarang juga!" teriak Slamet sambil menerobos pintu.
Arini melongo, tapi entah kenapa, dia mengangguk. "Ayok! Kelihatannya seru!"
Sang Auditor di luar sana hanya bisa terpaku. Dia belum pernah melihat manusia yang seberani dan se-absurd Slamet. Perang antara cinta, takdir, dan admin sosmed ghaib baru saja dimulai ke level yang lebih tinggi.