Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Hari itu, Song An lebih banyak diam.
Ia masih tertawa.
Masih bercanda.
Namun pikirannya bekerja.
Ia tidak pernah merasa curiga tanpa alasan.
Dan hari ini, ada terlalu banyak kebetulan.
—
Sore hari, Song An berjalan sendirian menuju perpustakaan kecil istana. Tempat itu jarang dikunjungi selir.
Ia duduk, membuka buku acak.
Tak lama, suara langkah kaki terdengar.
Seseorang masuk.
Song An melirik sekilas.
Selir Chen.
Wajahnya lembut. Sikapnya tenang.
“Selir Song,” katanya ramah. “Kau juga di sini?”
“Kadang aku ke sini,” jawab Song An santai. “Tempatnya sepi.”
Selir Chen tersenyum. “Aku juga suka sepi.”
Song An mengangguk. “Sepi itu jujur.”
Selir Chen tertawa kecil. “Kau selalu bicara menarik.”
“Bukan niat,” jawab Song An. “Kebiasaan.”
Mereka duduk berhadapan, membaca masing-masing.
Namun Song An memperhatikan satu hal.
Selir Chen tidak benar-benar membaca.
Matanya sering melirik pintu.
—
“Selir Chen,” kata Song An tiba-tiba, “kau sering keluar istana?”
Selir Chen menegang sesaat, lalu tersenyum. “Tidak juga.”
“Oh,” jawab Song An ringan. “Kupikir begitu.”
“Kenapa?” tanya selir Chen
“Karena kau terlihat tahu banyak hal tentang luar.” jawab Song An Santai
Selir Chen tertawa kecil. “Kudengar dari pelayan.”
“Pelayan mana?”
“Banyak.”
Song An mengangguk. “Masuk akal.”
Namun cara Selir Chen menggenggam buku terlalu kuat.
—
Malam itu, Song An kembali ke paviliun dengan langkah pelan.
Ia duduk bersama Mei.
“Mei,” katanya, “kau kenal Selir Chen?”
Mei berpikir. “Dia jarang terlihat, tapi sering mendapat izin keluar.”
“Izin keluar?” Song An menoleh cepat.
“Iya. Katanya untuk berdoa.”
Song An mengangguk. “Terima kasih.”
Mei ragu. “Selir curiga?”
Song An tersenyum tipis. “Aku tidak suka menuduh.”
“Tapi?”
“Aku suka mengamati.”
—
Beberapa hari berikutnya, Song An sengaja memperhatikan.
Selir Chen sering menghilang di jam tertentu.
Pelayan tertentu sering berpindah tugas.
Pesan kecil lewat.
Tidak mencolok.
Namun terlalu teratur.
—
Di taman, Selir Zhang berbisik, “Kau kenapa belakangan sering melamun?”
Song An menjawab pelan, “Aku melihat sesuatu yang tidak pas.”
Selir Li menegang. “Berbahaya?”
“Belum,” jawab Song An. “Dan semoga tidak.”
“Kau mau melapor?”
Song An menggeleng. “Belum ada bukti.”
“Kalau itu mata-mata?”
“Aku tidak ingin salah.”
—
Di tempat lain, Kaisar Shen menerima laporan singkat.
“Yang Mulia, ada aktivitas aneh di bagian selir.”
“Kau yakin?”
“Belum pasti.”
Kaisar Shen mengangguk. “Teruskan pengamatan.”
Ia terdiam sejenak.
“Selir Song?”
“Tidak terlibat.”
Kaisar Shen tersenyum kecil. “Aku tahu.”
—
Suatu sore, Song An berjalan di lorong belakang dan tanpa sengaja melihat Selir Chen berbicara dengan seorang pria berpakaian pelayan… tapi sepatunya bukan sepatu pelayan.
Mereka berbicara cepat.
Lalu berpisah.
Song An berdiri di balik pilar.
Tidak bergerak.
Tidak panik.
“Jadi benar,” gumamnya.
—
Malam itu, Song An duduk sendirian.
Ia tidak memberi tahu Selir Li atau Selir Zhang detailnya.
Ia tidak melapor.
Ia memilih satu hal:
Diam.
“Kalau aku salah, aku tidak menghancurkan hidup orang,” katanya pelan.
“Kalau aku benar… aku perlu tahu sejauh apa.”
Ia menatap ke luar jendela.
Dunia luar masih berisik.
Istana masih diam.
Dan di antara keduanya,
Song An berdiri sebagai seseorang
yang tidak mencari masalah,
namun tidak lagi bisa menghindar dari kenyataan.
...****************...
Song An bangun pagi itu dengan satu keputusan sederhana.
Ia tidak akan bertanya lebih banyak.
Ia akan melihat.
Keputusan itu membuat langkahnya ringan, tapi pikirannya waspada.
“Mei,” katanya sambil duduk di depan cermin, “hari ini aku mungkin sering keluar masuk.”
Mei mengangguk. “Seperti biasa?”
“Sedikit lebih sering.”
Mei tersenyum. “Kalau Selir tidak ingin sarapan, saya siapkan camilan.”
“Penyelamat hidupku,” jawab Song An.
—
Di taman kecil dekat tembok luar, Selir Li dan Selir Zhang sudah menunggu.
“Kau datang lebih pagi,” kata Selir Zhang.
“Tidak bisa tidur,” jawab Song An.
Selir Li menatapnya. “Kau terlihat… sibuk.”
“Bukan sibuk,” kata Song An. “Lebih tepatnya, memperhatikan.”
Selir Zhang mendekat. “Tentang kemarin?”
Song An mengangguk. “Aku melihat sesuatu.”
“Selir Chen?” tebak Selir Li.
Song An menatapnya. “Kau juga merasa aneh?”
“Dia terlalu sering keluar,” jawab Selir Li. “Dan selalu dengan alasan yang rapi.”
Selir Zhang menghela napas. “Istana ini penuh alasan rapi.”
“Karena itu kita butuh yang berantakan,” jawab Song An ringan.
“Kau mau menyelidiki?” tanya Selir Zhang.
“Pelan-pelan,” jawab Song An. “Dan kita tidak akan melakukan apa pun yang membuat kita menonjol.”
“Kita sudah menonjol,” kata Selir Zhang.
“Tidak cukup untuk dicurigai,” jawab Song An.
—
Hari itu, Song An melakukan hal-hal biasa.
Ia berjalan ke perpustakaan.
Duduk di paviliun.
Berbicara dengan pelayan.
Namun ia mencatat waktu.
Jam berapa Selir Chen lewat.
Siapa yang bersamanya.
Dari arah mana ia datang dan pergi.
Tidak mencolok.
Tidak terburu-buru.
—
Sore hari, Song An duduk di bangku batu, berpura-pura membaca.
Langkah kaki terdengar.
Selir Chen.
“Selir Song,” sapa Selir Chen ramah. “Kau selalu di tempat tenang.”
“Aku cocok dengan tempat seperti ini,” jawab Song An.
Selir Chen duduk. “Aku juga.”
Song An tersenyum. “Tapi kau jarang benar-benar diam.”
Selir Chen terkekeh. “Aku banyak pikiran.”
“Kita sama.”
Selir Chen menatapnya. “Kadang aku merasa kau tahu terlalu banyak.”
Song An mengangkat alis. “Aku bahkan tidak tahu jadwal makan malam.”
“Justru itu,” kata Selir Chen ringan. “Orang yang tidak ingin tahu apa-apa biasanya melihat lebih jelas.”
Song An tertawa kecil. “Kalau begitu aku berbahaya?”
“Tidak,” jawab Selir Chen cepat. “Kau terlihat… tidak tertarik pada kekuasaan.”
“Karena aku lelah,” jawab Song An jujur.
Selir Chen mengangguk. “Aku mengerti.”
Namun matanya bergerak cepat, memeriksa sekitar.
Song An melihat itu.
Dan semakin yakin.
—
Malamnya, Song An duduk bersama Selir Li dan Selir Zhang.
“Aku tidak ingin kalian terlibat,” katanya.
Selir Zhang menyilangkan tangan. “Terlambat.”
“Kita berteman,” tambah Selir Li. “Itu sudah cukup terlibat.”
Song An tersenyum kecil. “Baik. Tapi kita sepakat satu hal.”
“Apa?” tanya Selir Zhang.
“Kita tidak bertindak.”
“Tidak melapor?” Selir Li ragu.
“Belum,” jawab Song An. “Kita belum tahu seberapa jauh.”
“Dan kalau terlambat?” tanya Selir Zhang.
“Kalau tergesa-gesa,” jawab Song An, “kita bisa salah orang.”
Hening.
“Aku percaya padamu,” kata Selir Li akhirnya.
Selir Zhang mengangguk. “Aku juga.”
—
Di sisi lain istana, Kaisar Shen menerima laporan tambahan.
“Yang Mulia,” kata pengawal kepercayaannya, “Selir Chen sering bertemu orang yang tidak tercatat.”
“Siapa yang memperhatikan?” tanya Kaisar.
“Selir Song.”
Kaisar Shen terdiam.
“Dia melapor?”
“Tidak.”
Kaisar Shen tersenyum tipis. “Itu cirinya.”
“Apakah kita perlu menegurnya?”
“Tidak,” jawab Kaisar Shen. “Kalau dia diam, berarti dia sedang menilai.”
“Dan kalau dia bergerak?”
“Berarti dia sudah yakin.”
—
Hari berikutnya, Song An berada di lorong belakang ketika mendengar suara tergesa.
“Pesan itu harus sampai besok.”
“Aman?”
“Selir Chen yang mengurus.”
Song An berhenti.
Ia tidak terlihat.
Ia hanya mendengar.
Ia mencatat.
—
Sore itu, ia duduk sendirian di paviliun.
“Aku tidak ingin menjadi pahlawan,” gumamnya.
“Aku hanya tidak ingin menjadi penonton bodoh.”
Ia mengangkat kepala saat seseorang mendekat.
Shen.
“Tempat ini ramai hari ini,” kata Shen santai.
“Karena semua orang sibuk,” jawab Song An.
“Kau juga?” tanya Shen.
“Sedikit.”
Shen duduk di seberangnya. “Aku dengar kau sering berjalan belakangan.”
Song An menatapnya. “Kau banyak dengar.”
“Aku lewat,” jawab Shen ringan.
“Kau lewat di tempat yang tepat.”
Shen tersenyum kecil. “Kau menemukan sesuatu?”
Song An menatap kolam. “Kadang sesuatu menemukan kita.”
Shen mengangguk. “Dan kau?”
“Aku memilih tidak lari.”
Shen menatapnya lama. “Itu berani.”
“Atau bodoh,” jawab Song An.
“Atau jujur.”
Song An tersenyum tipis. “Itu yang paling merepotkan.”
—
Hening sejenak.
“Kau tidak takut?” tanya Shen.
“Takut,” jawab Song An. “Tapi aku lebih takut salah menuduh.”
Shen menunduk. “Kalau kau yakin suatu hari nanti?”
“Aku akan bicara.”
“Kepada siapa?”
Song An menatapnya. “Kepada orang yang mau mendengar tanpa menghakimi.”
Shen tersenyum kecil. “Aku ingin menjadi orang itu.”
Song An mengangguk. “Kalau begitu… bersiaplah.”
—
Malam turun.
Song An kembali ke paviliun.
Ia menulis beberapa catatan kecil waktu, nama, tempat.
Ia menyimpannya di tempat aman.
“Pelan,” katanya pada dirinya sendiri.
“Tidak semua kebenaran perlu dikejar dengan lari.”
Di kejauhan, dunia luar bergerak.
Di dalam istana, rahasia bernafas.
Dan Song An, yang tidak pernah ingin terlibat,
kini berdiri tepat di tengah—
bukan sebagai selir,
bukan sebagai pahlawan,
melainkan sebagai orang biasa yang memilih tidak memalingkan mata
Bersambung