NovelToon NovelToon
Dendam 172

Dendam 172

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying di Tempat Kerja
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SOPYAN KAMALGrab

andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10

Dengan hati yang sesak aku melangkah keluar. Niatku hanya ingin mengungkap kasus agar terang benderang, tapi yang kudapat justru sanksi. Diskor. Negara ini terkadang terasa terlalu aneh untuk dipahami. Ketika seseorang berusaha mencari kebenaran, justru dia yang disingkirkan.

Langkah kakiku kuseret menuju musala. Aku mencari Andika. Di sudut ruangan, dia duduk bersila sambil mengutak-atik ponselnya. Wajahnya tenang, seolah tidak terjadi apa-apa hari ini.

“Dika, ayo kita pulang,” ucapku.

Dia mendongak. Dahinya mengerut, raut kecewa jelas terlihat.

“Kenapa, Yah?” tanyanya.

“Kita pulang saja. Nanti Ayah jelaskan,” jawabku singkat.

Aku tidak mungkin menjelaskan semuanya di tempat kerja. Terlalu banyak telinga, terlalu banyak risiko. Andika berdiri, menghampiriku, lalu kami berjalan menuju mobil tanpa banyak bicara.

Mesin mobil kunyalahkan. Suaranya meraung pelan. Aku menginjak pedal gas perlahan, meninggalkan Polsek Pasar Selasa yang sejak pagi menjadi saksi kegelisahanku.

“Kita susul ibumu ke kampung,” kataku.

Andika menoleh. Tatapannya penuh tanya dan kecewa.

“Kenapa, Yah? Situasinya makin sulit. Apa Ayah mau lari dari masalah?”

Pertanyaan itu menusuk. Aku menarik napas panjang.

“Ayah sudah jelaskan semua analisismu, Dik,” kataku, lalu berhenti sejenak.

“Tapi apa, Yah?” desaknya.

“Atasan Ayah malah menskor Ayah selama sebulan. Selama itu Ayah juga tidak mendapat dana operasional.”

“Alasannya apa?” tanyanya lagi.

Aneh rasanya. Aku ayahnya, tapi percakapan kami terdengar seperti dua orang dewasa yang sedang berbagi beban hidup.

“Korban berasal dari keluarga kaya dan terpandang,” jawabku akhirnya. “Mereka tidak mau kasus ini diperpanjang. Bagi mereka, bunuh diri itu aib. Lebih aib lagi kalau ditemukan zat adiktif di tubuh anak mereka.”

Andika terdiam sejenak, lalu bersuara, “Sayang sekali. Padahal kejahatan sekarang sudah sangat maju. Bahkan orang bisa dihipnotis lewat ponsel. Beberapa bulan lalu banyak kasus orang tiba-tiba mentransfer uang ke rekening asing.”

Aku menggenggam setir lebih erat.

“Jadi kamu menduga korban terpengaruh hipnosis?”

“Hanya dugaan, Yah,” jawabnya tenang.

Jari-jariku mengetuk-ngetuk setir tanpa sadar. Kepalaku penuh.

“Yah, seharusnya kita mengintai SMP Nusantara Global,” katanya tiba-tiba.

Aku tertawa hambar.

“Buat apa? Negara saja sudah tidak percaya pada Ayah.”

Wajah Andika makin murung.

“Kenapa orang-orang lebih mementingkan harga diri daripada kebenaran?” katanya. “Seperti dulu waktu awal COVID. Yang bilang itu berbahaya dianggap penyebar teror. Saat virus menyebar luas, baru semua sadar. Sayangnya sudah terlambat. Seandainya waspada sejak awal.”

Aku terdiam. Anak ini berbicara seperti orang dewasa.

“Kamu tidak mengerti, Dika,” kataku pelan. “Negara ini rumit. Banyak orang lebih memilih menjaga gengsi daripada menyelamatkan nyawa.”

Aku sadar, aku tidak bisa lagi memperlakukannya seperti anak kecil. Menghindar pun tidak mungkin.

“Yah, ayo ke SMP Nusantara Global,” ajaknya lagi.

“Kita pulang ke kampung saja,” jawabku. “Ayah diskor sebulan. Kita habiskan waktu liburan ini dengan baik.”

Mulut Andika terbuka, hendak menjawab. Namun ponselku berdering. Aku merogoh saku. Ratna menelepon. Istriku. Sepertinya dia sudah sampai di kampung.

“Ya, Sayang, ada apa?” tanyaku.

“Ibuku ternyata tidak sakit,” katanya, mengabaikan pertanyaanku.

Aku sudah menduga.

“Mungkin ibu rindu kamu,” kataku mencoba tenang.

Tidak ada jawaban. Hanya terdengar helaan napas panjang di seberang.

“Ayah dan ibu mau kita cerai,” ucap Ratna lirih.

Aku refleks menginjak rem. Mobil berhenti mendadak. Untung Andika memakai sabuk pengaman.

“Maaf, Dik. Ayah tidak sengaja,” kataku panik.

Andika hanya mengangguk, memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja.

“Mas, kamu tidak apa-apa? Kenapa Dika bersamamu?” suara Ratna terdengar cemas.

“Aku baik-baik saja,” jawabku.

“Ibu mengancam akan bunuh diri kalau aku masih ingin bersama kamu,” katanya pelan.

“Ratna, aku akan ke kampung. Tunggu aku,” ucapku.

“Jangan, Mas. Nanti makin berantakan,” pintanya.

“Apa kamu juga ingin berpisah denganku?” tanyaku dengan nada tertahan.

“Tidak, Mas. Aku hanya khawatir dengan kamu. Situasi di sini tidak baik-baik saja.”

“Tidak. Aku tetap ke sana malam ini,” kataku tegas.

Telepon kututup. Tanganku gemetar.

Hari ini benar-benar terasa seperti runtuhan tanpa jeda. Teror 172 semakin nyata. Saat aku ingin bertindak, aku justru disingkirkan. Aku dihina oleh orang-orang kaya karena ingin mengungkap kematian anak mereka. Dan malam ini, keluargaku sendiri terancam pecah.

Aku kembali menyalakan mobil, namun tanganku masih gemetar saat memutar kunci kontak.

“Jangan berkendara saat marah, Yah,” kata Andika pelan.

Aku tersentak. Hampir saja aku lupa kalau aku tidak sendirian. Wajah kesalku tadi pasti terlihat jelas olehnya.

“Ayah baik-baik saja,” ucapku, berusaha terdengar tenang.

“Ayah tenangkan diri dulu,” lanjutnya. “Apa Ayah mau kita celaka berdua?”

Aku menghembuskan napas panjang. Dia benar. Mengemudi dalam keadaan emosi hanya akan menambah masalah.

“Kamu tunggu di sini dulu,” kataku sambil melirik ke depan. “Ayah mau menenangkan diri sebentar. Di depan ada danau.”

Aku memarkir mobil di tepi jalan. Malam terasa dingin. Aku turun dan berjalan menuju danau kecil yang diterangi cahaya bulan. Di dekat tepian, ada bangku kayu yang sudah agak lapuk. Aku duduk di sana, menatap air danau yang memantulkan cahaya bulan dengan tenang, seolah tidak peduli pada kekacauan hidupku.

Dadaku terasa sesak. Diskor, ancaman teror yang semakin nyata, dan keluargaku yang berada di ambang perpecahan. Hari ini benar-benar terasa terlalu berat.

“Yah.”

Suara Andika memecah lamunanku. Aku menoleh. Dia berdiri di sampingku sambil menyodorkan sebungkus rokok dan korek api.

Aku mendongak. Haruskah aku marah? Aku perokok berat, dan aku tidak pernah ingin Andika meniruku. Namun malam ini, aku tahu diriku sedang sangat membutuhkannya.

“Tenangkan diri, Yah,” ucap Andika. “Tidak usah jaga citra di depanku. Anggap saja aku teman berbagi masalah.”

Aku terdiam, lalu mengambil rokok itu dan menyalakannya. Asap tipis mengepul perlahan. Andika duduk di sampingku. Aku membuka jaketku dan menyodorkannya kepadanya.

“Pakai ini, Nak,” kataku.

Dia menerimanya dan memakainya. Kami duduk berdampingan, menatap danau yang sama dalam diam.

“Keluarga ibu pasti akan meminta Ayah bercerai,” ucap Andika tiba-tiba.

Aku menoleh dengan perasaan campur aduk.

“Yah, aku memang baru dua belas tahun,” lanjutnya. “Mungkin menurut Ayah aku masih kecil. Tapi aku sudah membaca lebih dari seribu buku. Cara berpikirku sudah melampaui umurku.”

Aku kehabisan kata-kata.

“Menurut kamu, Ayah harus bagaimana?” tanyaku akhirnya.

Pertanyaan itu terasa konyol. Seorang pria dewasa meminta nasihat pada anaknya sendiri.

“Ayah itu polisi,” jawab Andika tenang. “Ayah disumpah untuk melindungi masyarakat dan menegakkan keadilan. Lebih baik Ayah fokus pada ancaman 172 ini sebelum semuanya terlambat.”

“Lalu bagaimana dengan Ayah dan mamahmu?” tanyaku lirih.

“Kalau Ayah ke kampung malam ini, apa itu benar-benar menyelesaikan masalah?” katanya. “Ayah sedang diskor, uang tidak ada. Dengan modal apa Ayah meyakinkan kakek dan nenek supaya tidak memaksa perceraian?”

1
Nurr Tika
makin penasaran
Nurr Tika
sebanarnya meraka maunya pa
Nurr Tika
sebenarnya siapa mereka
Nurr Tika
apakah mereka terlibat akan teror itu
Intan Melani
iya kan si anak y di tolong kakek
Nurr Tika
lanjut,,,,,,
Nurr Tika
diantara mereka ada yg jd mata" siapa ya, lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,,
Nurr Tika
lanjut thor semakin seru
Fitur AI
Semangat ya pak , nanti jangan lupa mampir kenovel aku hehehe...🙏😊
Fitur AI
seharus nya bersukur punya cowo begini
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
benarkah nirmala msh hidup
Nurr Tika
lanjut thor
Intan Melani
aqkya pernah baca thor kayanya y si Nirmala di buang ke jurang sama 2orang cwo. di temuin sama kakek2 terus di obati terus di ajarin bela diri bwt balas dendam.
Nurr Tika
lebih banyak dong thor up nya
Nurr Tika
bikin penasaran thor lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,, apakah ini yg bls dendam pcaranya atau ibunya.
Nurr Tika
lanjut,,,,,
Nurr Tika
makin seru lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!