Raze Cromwell menjalani hidup yang penuh penderitaan. Pola asuh yang kejam memaksanya berubah menjadi pribadi yang dingin dan keras. Demi bertahan hidup, ia rela melakukan apa pun, hingga akhirnya dikenal sebagai Dark Magus, gelar yang hanya dimiliki oleh penyihir terkuat.
“Segala sesuatu di dunia ini telah diambil dariku. Maka aku akan mengambil kembali segalanya dari dunia ini.”
Ketakutan akan kekuatannya membuat Lima Magus Tertinggi bersatu untuk melenyapkannya. Saat berada di ambang kematian, Raze mengaktifkan satu mantra terlarang terakhir. Alih-alih mati, ia terlempar ke dunia lain, sebuah dunia para seniman bela diri, tempat orang dapat menghancurkan gunung dengan satu pukulan.
Namun, di dunia baru ini, sihir masih ada…
dan Raze adalah satu-satunya orang yang mengetahuinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Pagna Warior!
Dari apa yang sudah Raze pelajari selama beberapa hari ini, rakyat biasa di dunia ini cenderung menjaga jarak dari urusan besar. Mereka tahu batas diri sendiri. Hanya orang-orang berkuasa, anggota klan besar, atau yang benar-benar nekat yang berani ikut campur. Karena itu, serangan terhadap keluarga kecil seperti milik tubuh ini terasa aneh. Mengapa repot-repot menyerang orang tak punya nama? Itu membuat Raze gelisah, meski ia tak benar-benar peduli pada keluarga yang tak ia rasakan itu.
"Jujur saja, aku juga tak tahu pasti," jawab Sonny sambil menghela napas panjang, bahunya sedikit merosot seperti membawa beban berat. "Terlalu banyak hal aneh belakangan ini, bahkan kami sendiri tak paham sepenuhnya. Brigade Merah memang kuasai wilayah itu, tapi mengawasi setiap sudut tetap sulit."
Ia menatap Raze dengan ekspresi serius, mata tajam tapi penuh peringatan.
"Dengar baik-baik. Aku yakin kamu ingin cari jawaban sendiri. Tapi jangan pernah pikir untuk balas dendam. Orang biasa seperti kalian tak akan punya kesempatan melawan Pagna Warrior tingkat tinggi. Ingat, kamu masih punya adik yang harus dilindungi."
Raze diam saja, tapi dalam hati ia nyaris tertawa dingin.
Balas dendam? Aku tak peduli pada keluarga yang tak kuingat ini. Yang aku inginkan hanya satu: kembali ke dunia lama dan habisi Grand Magus satu per satu.
Sonny sudah setengah jalan ke pintu, langkahnya cepat. Raze tahu pemuda itu terburu-buru, jadi ia tak memaksa tanya lebih lanjut. Masih ada waktu lain, atau ia bisa cari tahu sendiri lewat pengamatan dan buku-buku jika ada.
Kembali ke aula utama, Tuan Kron memperkenalkan Raze dan Safa pada anak-anak lain. Empat di antaranya seusia Raze: tiga laki-laki dan satu perempuan.
Yang pertama langsung menarik perhatian adalah Simyon, pria berambut hitam keriting dengan seringai lebar yang tak pernah hilang. Matanya berbinar saat bertemu orang baru, seperti anjing kecil yang kegirangan.
Lalu ada Gren, wajah tampan dengan tubuh proporsional, tak lebih tinggi dari bahu Raze. Ia datang saat dipanggil, tapi ekspresinya kesal tanpa alasan jelas, seperti terganggu dari sesuatu.
Si kembar, Biyo dan Giyo, berdiri berdampingan. Mereka hampir identik, hanya rambut Giyo yang lebih panjang. Mereka memberi salam sopan, tapi wajah mereka datar seperti batu, tak tertarik.
Anak-anak lain lebih kecil, usia sepuluh tahun ke bawah. Mereka menyapa Raze dan Safa dengan senyum lebar, lambaian tangan, dan sedikit membungkuk hormat, seolah sudah terbiasa sambut pendatang baru.
Setelah perkenalan usai, semua kembali ke tugas masing-masing. Safa membantu membersihkan dekorasi aula dan menyapu halaman luar, bekerja sama dengan si kembar yang diam saja.
Raze ditugaskan ke dapur, bersama Simyon. Ruangan itu besar seperti kantin, meja-meja panjang dari kayu tua, perapian besar di sudut, dan rak-rak penuh panci menggantung.
Simyon langsung angkat keranjang kentang besar ke meja dengan bunyi gedebuk keras.
"Oke," katanya sambil nyengir lebar. "Ikuti saja instruksiku, nanti kamu cepat mahir."
Mereka mulai cuci kentang satu per satu, potong akar kecil yang tak diinginkan, kupas kulitnya dengan pisau tajam, lalu lempar ke keranjang lain. Simyon sesekali melirik kerja Raze, lalu matanya melebar kaget.
"Serius? Kamu mengupas lebih rapi dariku!" katanya setengah takjub. "Gimana kamu bisa begitu jago pakai pisau?"
"Aku.... sudah lama tinggal sendiri, belajar masak sendiri," jawab Raze cepat, tanpa banyak pikir. "Sudah biasa sejak dulu."
"Sejak dulu?" Simyon terkekeh, pisau di tangannya bergerak lincah. "Kita kan seusia. Apa kamu mulai kupas kentang dari umur tiga tahun?"
Raze langsung sadar jawabannya kelewat refleks. Anak-anak di sini tak tahu latar belakangnya yang sebenarnya. Kalau ceroboh, mereka bisa bombardir pertanyaan aneh. Ia seharusnya bilang hidup biasa dengan keluarga, bukan sendirian.
"Kamu juga punya cerita sulit, ya," kata Simyon lembut, suaranya tak lagi bercanda. "Jangan terlalu dipikirin. Semua di sini pernah susah. Setidaknya sekarang kita di tempat baik."
Raze mengangguk pelan, tapi pikirannya kembali ke kata-kata Sonny: aman berkat Tuan Kron.
"Apa karena Tuan Kron?" tanya Raze sambil terus kupas kentang. "Dia juga Pagna Warrior?"
Simyon nyaris tertawa keras. "Hah! Wajar kamu tak tahu, kamu kan baru datang."
Ia melirik sekeliling, pastikan tak ada yang dengar, lalu mendekat sedikit. "Kabarnya, Tuan Kron dulu guru di Pagna Academy."
"Akademi?" Raze angkat alis. "Ada Akademi Pagna?"
Sonny tak pernah sebut itu kemarin. Tapi terdengar menarik.
Simyon hampir jatuhkan kentang yang sedang dikupas, tapi tangkap cepat sebelum menyentuh lantai.
"Kamu hidup di bawah batu apa?" katanya setengah bercanda. "Gimana bisa tak tahu akademi?"
Raze sentuh pelipisnya pelan. "Aku.... banyak ingatan yang hilang. Sesuatu terjadi sebelum ke sini."
Tatapannya dibuat sedih, harap Simyon tak lanjut tanya.
Simyon langsung mengangguk paham, tak desak lebih jauh.
"Pagna Academy itu tempat terbaik buat yang ingin sukses di dunia ini," cerita Simyon penuh semangat, tangannya ikut bergerak seperti sedang gambar di udara. "Ada satu di setiap faksi, termasuk Fraksi Kegelapan kita. Dibiayai bersama oleh semua klan besar."
"Awalnya untuk cari bakat baru untuk klan. Ternyata berhasil dengan sempurna. jadi terus berjalan sampai sekarang. Anak-anak klan memang dikirim ke sana, tapi akademi terbuka untuk siapa saja, punya klan ataupun tidak."
"Itu tangga naik ke dunia Pagna sejati. Lulus dari sana, banyak kelompok rebutan untuk merekrutmu."
"Tak wajib masuk akademi buat jadi Pagna Warrior, tapi untuk orang seperti kita.... tanpa klan, tanpa teknik turun-temurun.... Di sanalah satu-satunya jalan yang bisa kita raih."
Suara Simyon bergetar kegirangan, mata berbinar.
Raze langsung ingat Akademi Penyihir di dunia lamanya. Ia dulu ditolak karena tak punya bakat, tapi kemudian buktikan jika perkiraan mereka semua salah!
Ia berhasil Naik ke puncak meski tak resmi terdaftar.
Kenangan itu pahit, tapi juga membakar semangat.
"Tapi tak sembarang orang bisa masuk," lanjut Simyon. "Harus minimal bisa olah Qi, dan tunjukkan teknik dasar peringkat satu sampai standar tertentu."
Banyak istilah baru: Qi, teknik dasar. Raze tak yakin Simyon bisa jelaskan mendalam. Ia lebih suka baca buku sendiri nanti.
"Itulah kenapa kita beruntung punya Tuan Kron," tambah Simyon sambil nyengir. "Beliau sering mengajari kita satu jam setiap hari. Berkat dia, kita semua punya kesempatan jadi Pagna Warrior sejati."
Raze menatap tangannya sendiri, jari-jari ramping yang kini memegang pisau kecil. Ia pernah hancurkan orang dengan mantra, tapi pernahkah ia lakukan hanya dengan otot dan tinju?
Sekarang, dengan inti gelap yang baru lahir, ia penasaran. Bisakah ia pelajari seni bela diri ini? Gabungkan dengan kegelapan murni yang mengalir di nadinya?
Hari ini, pelajaran pertama dari Tuan Kron akan dimulai.
Raze tersenyum tipis di balik rambut putihnya yang jatuh menutupi mata.
Ia akan cari tahu secepatnya.