Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.
Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.
Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Kepanikan Raja Arion
"Greta! Dimana kau?" Arion memanggil putrinya dengan panik disekitar castle.
"Greta!" Teriak Arion lagi.
Beberapa pengawal masuk ke dalam castle bersama Thaddeus dan Greta. Gerbang castle lalu ditutup rapat.
Begitu mereka memasuki aula utama, Arion sudah berdiri di sana. Wajah raja itu pucat, matanya tajam, dan napasnya tidak teratur. Kepanikan yang sejak tadi ditahannya akhirnya meledak menjadi amarah.
"Kau membawa Greta keluar tanpa izinku?" suara Arion menggema.
Thaddeus berhenti. Ia tidak menunduk, tapi bahunya menegang.
"Greta hanya–"
"Cukup." Arion memotong, suaranya meninggi.
"Apa kau tidak berpikir bahaya membawa adikmu keluar?"
Greta berdiri di samping Thaddeus, diam, matanya tidak memandang raja, juga tidak pada lantai.
Pikirannya masih penuh dengan capung yang beterbangan rendah dan kumbang kecil yang bersembunyi di balik rerumputan.
Greta tidak merasa bersalah. Ia hanya ingin kumbangnya kembali.
Di saat itulah Chelyne muncul di ujung lorong. Ia tidak seharusnya bangun dari tempat tidurnya, tapi batuk yang tak kunjung reda memaksanya mencari Greta.
Batuknya terdengar kering dan dalam, membuat beberapa pelayan yang melihatnya terdiam cemas.
"Greta..." suaranya nyaris tak terdengar.
Langkah Chelyne goyah. Ia mencoba melangkah lebih cepat, tapi tubuhnya menyerah. Kakinya gemetar dan ia terjatuh di dekat pintu belakang. Ia tidak pingsan, tapi rasa sakit dan lemah membuatnya tak mampu bangkit.
"Ibu!" Thaddeus langsung berlari, amarahnya pada ayahnya seketika tergeser oleh kepanikan. Ia berlutut, menopang tubuh Chelyne dengan hati-hati.
Batuk Chelyne kembali pecah, membuat dadanya naik turun tak beraturan. Thaddeus memanggil pelayan, tapi Grace tidak muncul. Entah di mana wanita itu berada, ia tidak datang membantu.
Hal itu membuat hati Thaddeus semakin murung. Tanpa menunggu, ia sendiri yang membantu ibunya berdiri, memapahnya perlahan menuju kamar orang tuanya.
Greta mengikuti dari belakang. Ia berjalan bersama ayahnya. Arion heran kenapa Greta tidak menangis justru wajahnya begitu kelihatan tenang.
Di kepalanya, ia memikirkan capung biru yang tadi hinggap di ujung jarinya. Ia khawatir, jika terlalu lama pergi, kumbang kecil yang bersembunyi di bawah batu akan hilang, terinjak, atau mati. Ia peduli pada ibunya, tapi pikirannya masih berpaling pada serangga kesayangannya.
Para pengawal dan pelayan saling bertukar pandang. Mereka melihat anak kecil yang tidak menunjukkan kepanikan, tidak meratap, bahkan tidak berlari ke arah ibunya yang terjatuh.
Dari luar, itu tampak seperti ketidakpedulian. Tidak ada yang tahu bahwa Greta hanya menyimpan perasaannya di tempat yang sunyi dan tidak terlihat.
Arion memperhatikan semua itu dengan wajah mengernyit. Pandangan pengawalnya membuatnya semakin tidak nyaman. Ia bisa membaca pikiran mereka tanpa harus mendengar kata-kata. Kecurigaan mulai tumbuh, perlahan tapi tajam.
"Anak itu..." salah satu pengawal berpikir dalam hati, "jangan-jangan memang pembawa sial."
...****************...
Di kamar Chelyne, tirai ditutup rapat, cahaya hanya masuk sedikit. Chelyne dibaringkan di tempat tidurnya, napasnya masih tersengal. Thaddeus duduk di sisi ranjang, tangannya menggenggam tangan ibunya dengan cemas.
"Ayah, sakit ibu semakin parah."
"Ibu, kenapa ayah tidak mau memanggil tabib? Atau ibu juga tidak mau?" Tanya Thaddeus dengan kepanikannya.
"Ayah sudah menjawab pertanyaanmu sebelumnya." jawab Arion
Greta mendekat dan duduk di samping ibunya memandang wajah ibunya yang pucat, lalu memindahkan pandangannya ke jendela.
Ia membayangkan capung yang mungkin sedang terbang rendah di halaman. Ia berharap mereka baik-baik saja.
Kupu-kupu kaca itu masuk lewat celah tirai yang sedikit terbuka hingga membuat Greta terpukau.
"Kakak, lihat!" ujar Greta dengan polosnya
Satu kupu-kupu hinggap di ujung jari Thaddeus seolah-olah ingin memberi tahu sesuatu yang penting. Tapi Thaddeus tidak bisa langsung mengerti apa maksud kupu-kupu kaca itu.
"Wahhh." gumam Greta sambil mencoba menangkap kupu-kupu kaca yang berterbangan dikamar orang tuanya.
Arion segera menemui Chelyne.
"Grace," panggilnya
Tapi tak ada sahutan dari Grace.
"Apa kalian melihat Grace?" tanya Arion pada pelayan perempuan lain
"Maaf, Yang Mulia. Kami tidak tahu Grace ada dimana."
Arion akhirnya kembali ke kamar dan memperhatikan kupu-kupu kaca itu masih berterbangan di kamar mereka.
"Ayah, lihat!" gumam Greta sambil menunjuk kupu-kupu kaca yang hinggap di jarinya
Arion perlahan mendekat kepada Greta
"Greta, untuk sementara ini kau tidak boleh keluar dari castle."
Greta memasang wajah cemberut. Ia kembali mendekati ibunya yang sedang terbaring lemah.
"Ibu, kenapa aku tidak boleh keluar?" tanya Greta dengan polos
Chelyne menghela nafas pelan sambil mengelus rambut halus Greta
"Diluar itu berbahaya, sayang." jawab Chelyne
Greta tidak menangis. Ia membiarkan kupu-kupu kaca itu kembali terbang ke luar kamar lalu memeluk ibunya.
"Ayah, kenapa ibu belum sembuh?" tanya Greta lagi dengan nada polosnya.
"Beberapa hari lagi ibu akan sembuh." jawab Arion
...****************...
Grace muncul beberapa saat kemudian. Ia mengetuk pintu kamar dan membukanya perlahan.
"Maaf, Yang Mulia. Tadi saya mendengar bahwa anda memanggil saya."
Arion segera mendekati Grace
Sebenarnya Grace tahu saat Chelyne terjatuh tadi. Ia melihatnya dari jauh, tapi Grace memang sengaja tidak ingin membantu Chelyne.
Itulah yang ditunggu-tunggu Grace. Semakin Chelyne lemah maka semakin mudah Ia menjalankan rencana busuknya.
"Chelyne tadi keluar dari kamar dan dia hampir pingsan. Aku ingin kau membuatkan obat lebih banyak."
"Kenapa tidak tabib saja, ayah?" potong Thaddeus
"Ayah tidak mau mendengar pertanyaanmu itu lagi." gumam Arion
Grace menunduk perlahan lalu keluar dari kamar sambil menutup pintu.
Diluar, dia mendengarkan pembicaraan Arion dengan Thaddeus.
"Ayah, tolong lah panggil tabib. Kita tidak bisa terus-terusan berharap pada obat yang dibuat Grace."
"Thaddeus kau membuat ayah malu. Apa kau lupa siapa yang merawatmu dari kecil? Itu adalah Grace. Itu sudah dianggap sebagai Bibi dikeluarga kita. Dia juga bagian dari keluarga kita. Kau tidak boleh berkata begitu didepan Bibi Grace."
"Kenapa ayah begitu takut jika kita memanggil tabib? Dia hanya mengobati ibu"
"Kita tidak tahu apa rencana orang luar, Thaddeus. Bisa saja dia merencanakan untuk mencelakakan Greta." jawab Arion
"Tapi tidak begini caranya, ayah. Seolah-olah ayah mengorbankan nyawa ibu." ucapnya sedikit terisak
Arion tidak bisa membalas perkataan putranya.
Thaddeus memasang wajah murung lalu keluar dari kamar orang tuanya.
Saat membuka pintu, Ia terkejut karena Grace masih ada disitu. Seolah-olah Thaddeus tahu kalau Grace menguping pembicaraan mereka.
Thaddeus dengan amarahnya langsung bertanya kasar pada Grace dan itu didengar oleh Arion.
"Kenapa kau masih disini?" tanya Thaddeus murung
"Dimana sopan santunmu, Thaddeus? Itu bibimu!" Potong Arion dengan suara tinggi
Thaddeus dengan amarah menutup pintu kamar orang tuanya dengan kuat lalu pergi.
Grace memperhatikan punggung Thadeeus yang perlahan menjauh. Thaddeus berjalan pergi dari kamar orang tuanya.
"Semakin raja percaya padaku, semakin mudah aku menyingkirkan Chelyne." gumamnya.