Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Deklarasi
Fajar di Desa Sunyi tidak membawa hangat, melainkan kabut abu-abu yang berbau tanah basah dan sisa pembakaran bensin dari teror sebelumnya. Arkananta berdiri di teras rumah tua itu, jemarinya perlahan mengusap jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum detik jam itu berdetak konstan, namun Arkan merasakan ulu hatinya berdenyut nyeri—sebuah resonansi yang memberi tahu bahwa napas Nayara di dalam kamar sedang tidak beraturan.
"Tuan, satelit darurat menangkap pergerakan dari arah perbatasan," Bayu mendekat, langkahnya memecah kesunyian tanah merah yang becek. Wajah asistennya itu kaku, memegang sebuah telepon satelit yang terus bergetar. "Telepon ini dari panti asuhan. Ibu Fatimah."
Arkan menyambar telepon itu. Rahangnya mengeras. "Bicara, Ibu."
"Arkan... mereka ada di sini," suara Ibu Fatimah gemetar, diiringi deru mesin berat yang memekakkan telinga di latar belakang. "Tiga buldoser terparkir tepat di depan gerbang Panti Cahaya Sauh. Mereka bilang lahan ini sudah dibeli oleh konsorsium High Council untuk proyek pembuangan limbah. Mereka akan meratakannya pagi ini jika Nayara tidak menandatangani dokumen yang mereka bawa ke sana."
Arkan memejamkan mata sesaat. "Jangan biarkan siapa pun masuk, Ibu. Saya akan mengurusnya."
"Tapi Arkan, anak-anak ketakutan. Mereka menangis..."
Klik. Sambungan terputus. Arkan meremas telepon itu hingga buku-bujarinya memutih sekeras tulang besi yang menjadi tumpuannya. Ia berbalik dan menemukan Nayara sudah berdiri di ambang pintu, bersandar pada kusen kayu yang lapuk. Wajahnya pucat, namun matanya yang abu-abu berkilat tajam—sebuah pantulan dari kekuatan batin yang mulai bangkit.
"Mereka menyerang panti, Arkan?" tanya Nayara, suaranya tenang namun ada getaran baja di dalamnya.
"Mereka pengecut, Nayara. Mereka tidak bisa mematahkan tulangku, jadi mereka mencoba membakar akarmu," jawab Arkan, suaranya rendah dan penuh ancaman.
Belum sempat Nayara membalas, sebuah mobil sedan hitam mewah yang tampak asing di jalanan desa yang rusak itu berhenti tepat di depan halaman. Seorang pria dengan setelan jas mahal yang mengilat turun, memegang koper hitam dan sebuah amplop putih panjang. Bau parfum amber yang menyengat langsung merusak aroma alami tanah basah di tempat itu.
"Selamat pagi, Tuan Arkananta. Nyonya Nayara," ucap pria itu dengan senyum yang dipaksakan, sebuah senyum yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang merasa bisa membeli dunia.
"Siapa yang mengirimmu? Anjing Erlangga atau pion Ibu saya?" tanya Arkan tanpa basa-basi, melangkah maju untuk melindungi posisi Nayara.
Pria itu terkekeh pelan, membuka kopernya di atas kap mobil. "Saya membawa solusi, bukan permusuhan. Di dalam amplop ini ada cek bernilai tiga puluh miliar rupiah. Cukup untuk membangun kembali Panti Cahaya Sauh menjadi istana di lokasi mana pun yang Anda inginkan. Bahkan cukup untuk memastikan Nyonya Nayara hidup sebagai putri di luar negeri selamanya."
Nayara melangkah maju, melewati Arkan. Langkahnya pelan namun setiap pijakannya terasa mantap di atas tanah merah. "Syaratnya?"
"Sederhana, Nyonya. Cukup tanda tangani surat pengakuan bahwa Anda menderita gangguan mental akibat trauma panti asuhan, dan setuju untuk membatalkan pernikahan ini secara sukarela demi pengobatan di luar negeri. High Council akan membersihkan nama Tuan Arkan, panti asuhan selamat, dan semua orang menang."
Nayara menatap cek yang terselip di amplop itu. Bau tinta kimia yang tajam tercium oleh indra penciumannya yang kini lebih sensitif. Di bawah meja kecil di teras, jemarinya yang tersembunyi meremas butiran tasbih kayunya dengan sangat kuat.
Krek.
Bunyi kayu yang retak terdengar nyata di telinga Nayara. Di saat yang bersamaan, Arkan tersentak. Ia merasakan telinganya berdenging dengan frekuensi tinggi, sebuah pantulan dari rasa sakit batin yang sedang ditekan oleh Nayara.
"Tiga puluh miliar," bisik Nayara, suaranya nyaris tak terdengar. "Itu angka yang besar untuk membeli sebuah kebohongan."
"Sangat besar, Nyonya. Pikirkan anak-anak di panti. Apakah Anda tega melihat mereka kehilangan tempat tinggal hanya karena ego Anda untuk tetap berada di samping pria yang sudah kehilangan kekuasaannya ini?" utusan itu memprovokasi, matanya berkilat licik.
Arkan menatap Nayara dari samping. Ia tidak bicara. Ia membiarkan Nayara menghadapi ujian martabat ini sendiri, meski jantungnya berpacu liar. Resonansi di antara mereka membuat Arkan merasakan napasnya sendiri menjadi berat, seolah-olah ia sedang memikul beban ribuan ton beton.
"Anda salah menilai saya, Tuan," Nayara mengangkat wajahnya, menatap lurus ke mata pria itu. "Anda pikir saya mencintai panti asuhan itu karena bangunannya? Karena tembok bata merahnya yang berlumut?"
"Bukankah itu rumah Anda?"
"Rumah saya adalah martabat yang diajarkan di sana. Ibu Fatimah mengajar saya untuk tidak pernah sudi memakan nasi yang dibeli dari hasil menjual harga diri," Nayara menarik napas manual yang berat. "Kalian bisa mengirim buldoser untuk menghancurkan setiap bata di Panti Cahaya Sauh. Kalian bisa meratakannya dengan tanah. Tapi selama saya masih bernapas, kalian tidak akan pernah bisa membeli seujung kuku harga diri saya dengan angka-angka sampah ini."
Pria itu tertegun, senyumnya menghilang. "Anda gila? Panti itu akan hancur dalam satu jam jika Anda menolak!"
"Maka biarlah ia hancur sebagai syahid!" suara Nayara meninggi, menggetarkan udara Desa Sunyi. "Karena jika saya menerima uang ini, panti itu sudah hancur saat saya menyentuh ceknya. Jiwanya akan mati, dan saya tidak akan sudi membiarkan anak-anak panti melihat kakaknya menjadi pengkhianat demi kenyamanan palsu!"
Arkananta melangkah maju, berdiri tepat di belakang Nayara. Ia bisa merasakan tubuh istrinya gemetar hebat, namun punggungnya tegak lurus seperti tiang besi. Arkan meletakkan tangannya di bahu Nayara, menyerap sisa-sisa sesak napas yang kini mulai berpindah ke dadanya sendiri.
"Kamu dengar itu, utusan?" Arkan menatap pria itu dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Istriku sudah memberikan deklarasinya. Sekarang, ambil koper busukmu dan pergi dari tanah ini sebelum aku menggunakan cara-cara yang tidak akan disukai oleh majikanmu."
"Tuan Arkan, Anda akan menyesal. Nyonya Besar tidak akan memberikan kesempatan kedua!" pria itu berteriak sambil terburu-buru menutup kopernya.
"Katakan pada Ibu saya," Arkan mendekat, suaranya kini sehalus silet. "Setiap buldoser yang menyentuh gerbang panti asuhan itu, akan saya balas dengan satu gedung Empire Group yang akan saya runtuhkan secara legal maupun ilegal. Sampaikan itu padanya."
Mobil sedan mewah itu meluncur pergi dengan terburu-buru, meninggalkan debu yang mengepul. Begitu mobil itu hilang dari pandangan, pertahanan Nayara sedikit goyah. Ia nyaris tumbang jika Arkan tidak segera menangkap pinggangnya.
"Nayara, lihat aku. Napas. Tarik napas pelan-pelan," perintah Arkan, wajahnya menunjukkan kecemasan yang mendalam.
Nayara mencengkeram lengan kemeja Arkan. Matanya berkaca-kaca, namun tidak ada satu tetes pun air mata yang jatuh. Rahangnya masih terkunci rapat. "Panti itu, Arkan... mereka benar-benar akan menghancurkannya?"
"Tidak akan ada yang hancur hari ini, Nayara. Aku sudah memerintahkan Bayu untuk menggerakkan aliansi preman desa dan warga setempat untuk memblokade jalan menuju panti. Tapi deklarasimu tadi... itu adalah kemenangan yang lebih besar dari apa pun."
Nayara membuka telapak tangannya. Butiran tasbih kayunya kini memiliki retakan yang melintang di tengah salah satu bijinya. "Saya merasa... seperti ada yang patah di dalam sini, Arkan. Tapi rasanya lega."
Arkan menunduk, menempelkan keningnya pada kening Nayara. Di tengah keheningan pagi yang dingin, mereka berbagi beban yang sama. Arkan merasakan ulu hatinya yang tadinya nyeri, kini menghangat. Ia menyadari bahwa wanita di pelukannya ini bukan lagi sekadar gadis yang ia selamatkan dari panti asuhan. Nayara adalah jangkar spiritual yang membuat "tulang besi" miliknya memiliki alasan untuk terus tegak.
"Arkan, baunya..." Nayara berbisik pelan.
"Bau apa?"
"Bau melati panti... saya merasakannya di sini, di tengah debu desa ini."
Arkan menghirup udara dalam-dalam. Ia hanya mencium bau tanah dan keringatnya sendiri, namun ia tahu bagi Nayara, memori hangat itu adalah perisai terakhirnya. Tiba-tiba, ponsel satelit milik Bayu berdering lagi.
"Tuan! Buldosernya mundur! Warga panti dan orang-orang kita berhasil memukul mundur mereka melalui tekanan media sosial yang diluncurkan tim bawah tanah. Deklarasi Nyonya Nayara yang tadi sempat terekam secara audio oleh alat kita sudah disebarkan. Publik sekarang membela panti!"
Arkan tersenyum tipis. Sebuah senyum komandan yang baru saja memenangkan pertempuran pertama tanpa menumpahkan darah. Namun, ia tahu kemenangan ini memiliki harga.
"Nayara, mereka tidak akan berhenti di sini. Penolakanmu adalah penghinaan besar bagi High Council. Mereka akan membuat tempat ini menjadi neraka yang lebih dingin."
"Saya sudah terbiasa dengan dinginnya dunia, Arkan. Selama Anda tidak melepaskan tangan saya, saya tidak akan kedinginan."
Arkan mengeratkan pelukannya. Ia bisa merasakan detak jantung Nayara yang mulai melambat, seirama dengan jarum jam peraknya. Namun, di kejauhan, langit Astinapura tampak menggelap. Ia tahu, Nyonya Besar dan Kyai Hitam sedang menyiapkan serangan balasan yang tidak akan lagi menggunakan uang sebagai senjata, melainkan penderitaan fisik yang sesungguhnya.
"Bayu, siapkan rumah. Pastikan semua cadangan kayu bakar tersedia," perintah Arkan tanpa melepaskan Nayara.
"Kayu bakar? Untuk apa, Tuan? Ini masih pagi."
"Karena aku merasakan suhu ruangan ini akan segera turun secara tidak alami. Nyonya Besar akan mematikan 'kehangatan' kita malam ini."
Nayara mendongak, menatap mata abu-abu Arkan yang kini memancarkan aura Void Energy yang tenang namun mematikan. Ia tahu, malam yang akan datang akan menjadi ujian bagi Shared Scar mereka. Kamar mereka akan menjadi medan perang melawan kedinginan yang dikirimkan oleh kebencian yang membeku.
Lampu neon di teras rumah tua itu berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang menari di atas tanah merah yang masih basah. Arkananta berdiri kaku, matanya tertuju pada jalanan setapak yang kini kosong, namun telinganya masih menangkap sisa-sisa deru mesin sedan mewah yang baru saja pergi. Di sampingnya, Nayara menarik napas dengan suara yang terdengar seperti gesekan amplas di atas kayu jati—berat dan penuh beban.
"Duduklah, Nayara. Kakimu gemetar," ucap Arkan, suaranya melembut namun tetap memiliki otoritas yang tak terbantahkan.
Nayara menggeleng perlahan, jemarinya masih mencengkeram erat butiran tasbih yang retak di sakunya. "Jika saya duduk sekarang, saya takut tidak akan bisa berdiri lagi untuk panti itu, Arkan. Suara Ibu Fatimah di telepon tadi... itu adalah suara ketakutan yang paling nyata yang pernah saya dengar."
"Aku tidak akan membiarkan buldoser itu menyentuh pagar panti, meski aku harus berdiri di depannya dengan tubuhku sendiri," Arkan melangkah mendekat, aroma keringat dan bau besi dari luka di bahunya akibat menahan katrol sumur di hari sebelumnya masih tercium kuat. "Kau sudah melakukan bagianmu. Kau sudah menolak tiga puluh miliar rupiah itu di depan wajah mereka. Kau tahu apa artinya itu?"
Nayara menatap mata abu-abu suaminya. "Artinya saya telah menyatakan perang terbuka pada Nyonya Besar."
"Lebih dari itu. Kau telah menghancurkan satu-satunya alat yang mereka miliki untuk mengendalikan kita: harga diri yang bisa dibeli," Arkan mengulurkan tangannya, menyentuh sapu tangan kasar yang digunakan Nayara untuk menyeka peluh di dahinya. "Mereka akan menganggap ini sebagai pembangkangan tingkat tinggi. Dan biasanya, High Council tidak menghukum pembangkangan dengan kata-kata."
Tiba-tiba, suhu di sekitar mereka merosot drastis. Kabut yang biasanya hanya menggantung di pucuk-pucuk pohon jati kini mulai merayap turun ke lantai teras, membawa hawa dingin yang tidak alami. Bau melati yang tadi dirasakan Nayara mendadak lenyap, digantikan oleh bau kemenyan yang samar namun memuakkan—jejak energi gelap yang dikirimkan Kyai Hitam dari kejauhan.
"Arkan... dingin sekali," bisik Nayara, tubuhnya mulai menggigil hebat.
Arkan merasakan resonansi itu seketika. Nyeri tajam menusuk ulu hatinya, seolah-olah ada bongkahan es yang dipaksa masuk ke dalam aliran darahnya. Ia tahu ini adalah serangan balik. Penolakan terhadap suap tadi telah memicu "Protokol Pembersihan" dari Nyonya Besar.
"Masuk ke dalam. Sekarang!" Arkan merangkul bahu Nayara, menuntunnya masuk ke dalam rumah yang suhunya kini terasa seperti lemari pendingin.
Di dalam, Bayu sedang sibuk memeriksa panel listrik kecil di sudut ruangan. "Tuan, generator operasional, namun infiltrasi termal ekstrem sedang menyerap kehangatan perapian. Api tidak bisa membesar secara normal."
"Ini bukan masalah teknis, Bayu. Ini sabotase metafisika," Arkan menatap perapian yang hanya menyisakan bara merah redup tanpa kehangatan. "Nayara, duduk di dekat perapian. Jangan lepaskan tasbihmu."
Nayara bersimpuh, mencoba meniup bara api, namun napasnya mengeluarkan uap putih yang sangat tebal. "Mereka ingin membekukan kita di sini... seperti mereka membekukan panti asuhan."
"Tidak akan," Arkan melepas jas hitamnya yang sudah robek di bagian bahu, lalu menyampirkannya ke punggung Nayara. Jas itu masih menyimpan sedikit sisa panas tubuh Arkan, memberikan sedikit perlindungan bagi martabat istrinya yang sedang diserang hawa dingin maut. "Bayu, ambil semua cadangan kayu kering dari gudang bawah. Jika mereka ingin mematikan api kita, kita akan membakar lebih banyak lagi."
"Tuan, ada pesan masuk dari intelijen Terra," Bayu menunjukkan layar tabletnya yang berpendar biru pucat di tengah kegelapan. "Nyonya Besar telah memerintahkan isolasi total untuk Desa Sunyi. Tidak ada pasokan makanan atau bahan bakar yang boleh masuk mulai detik ini. Mereka menyebutnya 'Operasi Kamar Dingin'."
Arkan tertawa rendah, sebuah tawa dingin yang membuat Bayu merinding. "Kamar dingin? Mereka lupa bahwa aku dibesarkan di dalam kebekuan High Tower selama tiga puluh tahun. Mereka tidak bisa membekukan orang yang sudah menjadi es sejak lahir."
Nayara menatap Arkan di tengah temaram cahaya bara. Ia melihat rahang suaminya mengeras, otot pipinya berkedut hebat menahan nyeri resonansi yang semakin parah. Nayara tahu, setiap kali ia merasa kedinginan, Arkan merasakan nyeri yang sama di tulang-tulangnya.
"Arkan, jangan paksa diri Anda menyerap semuanya," ucap Nayara lirih, jemarinya menyentuh tangan Arkan yang sedingin marmer.
"Diamlah dan tetaplah hangat, Nayara. Itu adalah tugasmu saat ini," jawab Arkan tegas. Ia berdiri tegak, matanya menembus kegelapan jendela menuju arah Astinapura yang jauh. "Jika mereka pikir ketiadaan uang dan hawa dingin bisa membuat kita merangkak kembali ke High Tower untuk memohon ampun, maka mereka belum melihat bagaimana 'Iron Bone' bekerja di bawah nol derajat."
Nayara menggenggam tasbihnya, butiran kayu yang retak itu kini terasa bergetar pelan di telapak tangannya. Ia mulai membisikkan sholawat, sebuah refleks pertahanan batin yang ia pelajari di panti asuhan saat ia harus bertahan di malam-malam tanpa selimut. Suaranya yang lirih membelah kesunyian rumah yang membeku, menciptakan aura perlindungan yang mulai menolak kabut hitam di sudut-sudut ruangan.
"Dengarkan aku, Nayara," Arkan berlutut di depan istrinya, menatap mata abu-abu itu dengan intensitas murni. "Hari ini kau sudah mendeklarasikan bahwa kau bukan milik mereka. Dan malam ini, aku mendeklarasikan bahwa tidak ada satu inci pun dari tubuhmu yang boleh mereka sakiti lagi. Kita akan melewati malam ini, dan besok, kita akan membuat mereka merasakan apa itu artinya kehilangan."
Nayara mengangguk, sebuah senyum tipis yang sarat dengan kepedihan muncul di bibirnya yang membiru. "Saya percaya pada Anda, Komandan."
Arkan tertegun sejenak mendengar sebutan itu. Ia meraih tangan Nayara, mencium punggung tangan istrinya yang kasar namun suci. Di luar, angin menderu lebih kencang, mengguncang dinding bata merah rumah tua itu, seolah-olah seluruh alam sedang dikerahkan untuk meruntuhkan pertahanan mereka. Namun di dalam, di tengah perapian yang nyaris padam, sebuah janji baru telah terpatri—janji yang lebih kuat dari suap miliaran rupiah, dan lebih panas dari api mana pun di dunia.
Malam itu, deklarasi Nayara menjadi obor pertama di Desa Sunyi, sementara Arkananta berdiri sebagai perisai besi yang menolak untuk patah, meski napasnya mulai manual dan setiap sendinya terasa seperti ditusuk jarum es. Perang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kamar dingin ini hanyalah awal dari pembersihan besar-besaran yang akan mereka lakukan.