Jodoh dicari ✖️
Jodoh dijebak ✔️
Demi membatalkan perjodohan yang diatur Ayahnya, Ivy menjebak laki-laki di sebuah club malam untuk tidur dengannya. Apapun caranya, meski bagi orang lain di luar nalar, tetap ia lakukan karena tak ingin seperti kakaknya, yang menjadi korban perjodohan dan sekarang mengalami KDRT.
Saat acara penentuan tanggal pernikahan, dia letakkan testpack garis dua di atas meja yang langsung membuat semua orang syok. ivy berhasil membatalkan pernikahan tersebut sekaligus membuat Ayahnya malu. Namun rencana yang ia fikir berhasil tersebut, ternyata tak seratus persen berhasil, ia dipaksa menikah dengan ayah janin dalam kandungan yang ternyata anak konglomerat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Tatapan Nuh tak bisa lepas dari Inara meski wanita itu sudah berlalu dari hadapannya dan sekarang duduk di samping seorang wanita yang mirip Ivy. Otaknya terus berfikir, bagaimana bisa Inara ada dalam rombongan pengantin. Ada hubungan apa dia dengan Ivy? Sekali lagi, karena terlalu fokus pada Inara, ia sampai disikut Om Yuka gara-gara tamu yang mau salaman dengannya dicuekin.
Jika Nuh pusing mikirin kenapa ada Inara, Yasa justru dibuat terpesona pada Ivy yang terlihat lebih cantik daripada biasanya. Calon istrinya itu terlihat feminin sekali dengan kebaya putih sederhananya dan rambut disanggul dengan hiasan bunga melati. Jantungnya berdebar saat Ivy didudukkan tepat di sebelahnya. Penghulu belum tiba, jadi mereka masih harus menunggu untuk ijab kabul.
Mama Sani yang baru menjatuhkan bobot tubuhnya disamping Yumi, melongo melihat salah satu tamunya. Meski tak pernah bertemu secara langsung, ia sering diperlihatkan foto Inara oleh Alice, pernah juga melihat saat Nuh live. Dan wanita itu, wanita berkebaya merah muda, mirip sekali dengan Inara. Melihat Yasmin keluar, buru-buru ia melambaikan tangan, meminta menantunya itu untuk duduk di sebelahnya.
"Yas, perempuan kebaya pink itu, mirip Inara, iya gak sih?" bisiknya pada Yasmin.
Yasmin langsung memfokuskan pandangannya pada wanita yang dimaksud Mama Sani. Seketika, matanya membulat sempurna, mulutnya menganga di balik cadar. Kenapa ada Inara disini? Reflek, matanya menatap Nuh. Dadanya bergemuruh melihat suaminya sedang memperhatikan Inara. "Awas kamu, Bang!" gumamnya pelan sambil meremat gamis.
Inara, wanita itu terlihat beberapa kali melemparkan pandangan pada Nuh sambil tersenyum. Rasanya tak sabar, ingin segera diperkenalkan pada semua orang perihal statusnya sebagai istri Agung. Sayangnya, suaminya yang sudah ada di tempat wali nikah itu, sama sekali tak menoleh padanya, tak tahu saja dia kalau Agung sedang kecewa berat saat ini melihat acara pernikahan yang terlalu biasa saja, tak ada kesan mewah sama sekali.
"Yas, Yas," panggil Ivy pelan, sedikit mencondongkan badan ke arah Yasa. "Yas," panggilnya lagi karena Yasa tak kunjung menoleh padanya. Lelah tak jua di denger, ia menepuk pelan pada Yasa.
"Astaghfirullah!" ujar Yasa yang kaget, membuat semua orang melihat padanya.
"Ada apa?" tanya Mama Sani, menggeser duduknya ke dekat Yasa.
"Eng, enggak Mah," Yasa menunduk malu. Ia melirik Ivy, geram sekali pada wanita itu.
"Lo sih, dipanggil dari tadi gak nyahut. Ngelamun?" tanya Ivy pelan.
Yasa tak menyahut, malas sekali. Orang lagi tegang, Ivy malah ngagetin.
Beberapa saat kemudian, Penghulu datang, beliau mengucapkan permintaan maaf karena terlambat karena beberapa saat yang lalu, masih harus menikahkan pasangan lain. Beliau langsung mengambil tempat, mengeluarkan berkas, bicara sedikit pada calon pengantin, wali serta saksi, langsung memulai acara.
Agung, pria itu menatap Ivy kesal saat mengetahui jumlah mahar yang akan diterima putrinya tersebut. Tapi mau protes, mau marah-marah, sudah terlambat. Tapi sudahlah, yang penting punya besan kaya raya dan banyak disegani orang, jadi ia bisa nebeng nama saat melakukan kesepakatan bisnis nantinya.
Dengan tangan sedikit gemetar dan berkeringat dingin, Yasa menjabat tangan Agung. Hari ini, yang menjadi saksi nikah, adalah Om Yuka dan Ustad Rozak, tetangga Yusuf.
Suasana seketika hening, semua yang ada disana, fokus pada ijab kabul. Ivy terlihat tak jauh beda dari Yasa, tegang, pun dengan kedua orang tua Yasa.
"Saudara Ilyasa Khaisan Nugraha, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Ivy candraningtryas dengan mas kawin logam mulia 10 gram dan liontin emas seberat 1,5 gram, tunai," Agung sedikit menghentak jabatan tangannya dengan Yasa.
Ivy meremat kebayanya, jantungnya berdebar sangat kencang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Ivy Candraningtryas binti Agung Suseno dengan mas kawin tersebut, tunai."
"Bagaimana para saksi?"
"Sah!"
Seketika, Yasa bernafas lega. Kegelisahan yang sejak semalam memenuhi hatinya, seketika lega.
Ivy, perempuan itu terlihat menyeka sudut matanya. Rasanya masih seperti mimpi, ia telah sah menjadi istri Yasa. Menikah tak pernah ada dalam rencana hidupnya, namun takdir berkata lain, rencana Tuhanlah yang berlaku, karena Dia yang maha menentukan segalanya.
Ivana, wanita itu juga tak kuasa menahan air mata, tisu di tangannya sampai basah saking banyaknya air mata yang harus diserap. Dalam hati terus berdoa semoga Ivy mendapatkan kebahagiaan setelah ini, cukup dia saja yang tidak bahagia dalam pernikahan.
Setelah doa bersama, Ivy mencium tangan Yasa, yang lalu dibalas dengan Yasa menyentuh kepala Ivy seraya membacakan doa.
Satu demi satu acara inti telah selesai, dan masuklah mereka pada sesi foto keluarga, sementara tamu dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang telah disediakan.
Yasmin, sambil menggendong Vanila, wanita itu dengan cepat menyambar lengan Nuh. Saat suaminya itu menoleh, ia langsung mendelik tajam. "Kangen sama mantan?" bisiknya, mencubit kecil pinggang Nuh, melampiaskan kekesalan yang ditahan dari tadi.
"Apasih, Yank."
"Aku tahu Bang, kemana arah mata kamu dari tadi."
"A, aku ngeliatin Yasa dari tadi."
Yasmin mendengus kesal. Ia lalu menyerahkan Vanila pada Nuh. "Kalau mau reuni, ajak anak kamu."
Agung, laki-laki itu langsung menggandeng Inara untuk diperkenalkan pada keluarga Yasa. "Perkenalkan, ini istri saya, Inara."
Seketika, mulut Nuh menganga lebar, mata membulat sempurna, syok. Di sebelahnya, Yasmin juga sama. Demikian pun dengan yang lainnya, termasuk Papa Yusuf dan Mama Sani.
Inara menebarkan senyuman manisnya pada seluruh anggota keluarga Yasa, terutama pada Nuh yang masih terlihat syok. Namun saat matanya beradu dengan Yasmin, senyuman itu seketika hilang, berganti dengan tatapan sengit. Ia masih menyimpan dendam pada wanita yang telah merebut kekasihnya itu.
"Wah...ternyata masih muda sekali istri Pak Agung," ujar Nenek Farah, tersenyum kecut. Entah kenapa, melihat muka Inara, ia langsung muak. Dari ekspresi wajahnya, ia sedikit banyak bisa menebak wanita seperti apa Inara itu. Pengalaman mengajarinya banyak hal.
"Iya, Bu." Agung menoleh pada Inara sambil tersenyum, merasa bangga karena bisa menikahi wanita yang jauh lebih muda darinya dan sangat cantik."Oh iya, kalau ini Kakaknya Ivy, namanya Ivana. Yang disebelahnya itu suaminya, Wahyu."
Ivana dan Wahyu tersenyum ramah pada keluarga Yusuf.
Mama Sani masih bengong, tak bisa berkata-kata. Takdir sungguh tak bisa ditebak. Wanita yang dulu tak ia restui menjalin hubungan dengan Nuh, sekarang malah masuk ke dalam lingkaran keluarga lewat jalur besan.
hasilnya buat wewek gombel ,,, jangan mau Vi jadi rampok di tempat mertua mending usaha sendiri besarin tu skincare mu ya,,
berapa bulan sih?? aku 2 bulan aja udah sesak pake rok span kerja...terpaksa pake celana panjang aja
krn wkt ngidam mama makan nya pecel🤭