"Hanya anak yang lahir dari Tulang wangi yang akan selamat! Istrimu, adalah keturunan penganut iblis. Dia tidak akan memberimu anak, setiap kali dia hamil, maka anaknya akan di berikan kepada sesembahannya. Sebagai pengganti nyawanya, keturunan ke tujuh yang seharusnya mati."
Pria bernama Sagara itu terdiam kecewa, istri yang telah ia nikahi sepuluh tahun ternyata sudah menipunya.
"Pantas saja, dia selalu keguguran. Ternyata bukan musuhnya yang membuat anak ku mati, tapi dia sendiri!"
Sagara pulang dengan kecewa, diketahui sang istri adalah seorang paranormal dengan bayaran selangit, kekuatannya tak di ragukan lagi. Ternyata....
"Lang, kamu tahu tidak, ciri-ciri perempuan yang memiliki tulang wangi?" tanya Sagara, putus asa.
"Tahu Tuan, kebetulan kekasihku di kampung merupakan tulang wangi." jawab Alang, membuat Sagara tertarik.
"Dia cantik, tapi lemah. Hari-hari tertentu dia akan merasa seluruh tulangnya nyeri, kadang tiduran berhari-hari."
Sagara tertarik, menatap Alang penuh arti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sampai
"Aku akan membawamu ke tempat yang aman." ucap Alang, meraih lengan Niken untuk ikut bersamanya.
"Nggak Mas." Niken menghempas tangan Alang. "Ini bukan waktunya bermain-main."
"Niken! Kamu tidak boleh pergi!" bentak Alang, meraih lagi tangan Niken, memaksanya.
"Lepas! Aku mau bertemu ayahku!" teriak Niken.
"Dia bukan ayahmu? Ayah kita sudah mati, kamu tidak punya siapa-siapa di dunia ini!"
"Nggak!" pekik Niken.
Perdebatan itu membuat Didit emosi, ia menendang Alang hingga terjengkang, kemudian membantu Niken segera masuk ke dalam mobil.
"Didit! Kau tak punya hak ikut campur!" Alang berdiri lalu memukulnya. Didit tersungkur, dadanya membentur pintu mobil.
"Mas Didit!" pekik Niken, tapi pintu telah di tutup rapat, Didit pun melawan, tinjunya yang besar beberapa kali memukul wajah Alang.
"Kau bukan kakaknya, tapi bajingan yang munafik!" Didit meninggalkan Alang yang masih penasaran, ingin kembali berkelahi. Tentu Didit tak akan meladeni.
"Cepat Mas, perutku sakit." Niken meringis, saking gugupnya Didit, kunci mobil sampai jatuh beberapa kali.
"Iya Ken." jawabnya.
Mobil melaju cepat, menembus jalanan yang tak terlalu ramai malam ini. Hujan rintik membuat Didit mematikan AC, suasana di dalam mobil itu seolah beku, ada aura tak biasa menyelimuti keberadaan mereka.
"Alang mengejar." kata Didit, melihat kaca spion.
"Jangan pedulikan Mas, kita harus cepat." jawab Niken.
Sementara di belakang sana, rumah besar itu kini sunyi senyap. Saga terkapar, Arimbi tak sadarkan diri. Gendis berdiri dengan senyum miring, mengamati wajah Arimbi yang tirus dan berdarah-darah.
"Yusuf, anakmu datang menyerahkan diri." gumamnya, menyibak tangan Arimbi dengan kakinya, hingga terlentang sempurna gadis itu. Gendis mengangkat tangannya, kuku-kuku yang runcing itu siap mengoyak Arimbi.
"Gendis, jangan!" mohon Saga, dia benar-benar sekarat, bahkan untuk mengangkat kepala sudah tak bisa.
Gendis mendengus, ia menatap pintu rumah yang terbuka. Di sana Nina keluar dengan langkah santai. Sepertinya, hanya dia yang selamat di rumah itu.
"Bawa mereka ke dalam." titahnya.
Nina mengangguk, menyeret tubuh keduanya satu persatu, bahkan tubuh Saga yang gagah pun di seretnya seperti karung kosong.
Saga meraih kaki Gendis, dia tahu Gendis akan mengejar Niken.
Gendis berlalu, ia tak peduli dengan suami tercintanya. Malam ini Saga benar-benar telah membuat ia kecewa, melawannya habis-habisan hanya demi gadis seperti Niken.
Niken sendiri, kini sudah lemas tak tertahankan, mobil yang mereka tumpangi terasa berat seperti di bebani berton-ton muatan. Didit sendiri bingung dengan apa yang terjadi, berkali-kali Didit tancap gas, tapi mobil tak juga melaju kencang.
"Ya Allah, jangan sekarang." gumam Didit, ia menoleh kanan kiri yang kosong, kemudian menatap wajah Niken yang terus meringis di sampingnya. Dia lebih panik lagi ketika melihat ke arah bawah, darah mengalir di betis Niken yang putih. "Ken!" pekiknya.
"Cepat Mas." ringisnya.
"Minum Ken, kamu harus tenang." Didit menyerahkan botol plastik yang terletak di sampingnya.
Niken segera meneguknya, matanya yang mengabur sedikit kembali terang. Jalanan yang mereka lewati kini telah benar-benar sepi. Sementara mobil Alang hilang entah kemana, mungkin tertinggal jauh di belakang.
Brak!
"Aaaaaaakhhhhh!"
Baik Didit maupun Niken, menjerit serentak ketika sosok seram tiba-tiba muncul di kaca depan, menutupi pandangan mereka.
"Astaghfirullah. Astaghfirullah! Setan!" teriak Didit, suara rem di tekan mendadak berdecit panjang, mobilpun berhenti.
Niken sendiri menahan nafasnya yang naik turun, ia merapatkan diri di tempat duduknya. Sosok di depan mereka semakin menjadi-jadi, memperlihatkan wajah seram tak terkira.
Niken melirik ke semua arah, mencari apa yang bisa di gunakan untuk mengusirnya.
"Air! Air!" Niken ingat, Saga selalu membawa air doa dari Mak Puah. Ia meraba jok belakang, mencari botol plastik yang pastinya tak kan kemana.
Brak! Brak!
Setan itu mengamuk, memukul-mukul kaca sehingga tampak seperti akan pecah. Didit bergumam membaca doa apa saja yang terlintas di ingatannya. Tak terkecuali doa ayah ibu, dan doa makan pun ia lafazkan.
Ketemu, Niken meraih botol plastik yang telah gepeng di belakangnya. Airnya masih ada tapi hanya sedikit. Niken membuka kaca di sampingnya.
"Ken! Jangan gila!" teriak Didit, mencegah Niken membuka kaca.
"Nggak Mas, teruslah berdoa." Niken membuka kaca hingga setengah, bersiap akan setan tersebut, pastilah segera pindah posisi dan ingin masuk.
"Grrrahhhh!" hantu tersebut menjulurkan lidahnya yang panjang hingga hampir menjangkau Niken.
Byur!
Siraman air yang sedikit itu tepat ke dalam mulutnya yang menganga.
"Aaarrrrrghhhh!!!!" Setan tersebut memekik panjang, melayang hilang entah kemana.
Buru-buru Didit mengunci semua kaca, mobil mereka kembali melaju kencang tanpa hambatan.
"Huh! Huh! Huh!" Nafas keduanya terdengar bersahutan.
Gapura besar melintang menyambut lajunya mobil mereka, nama desa terpampang jelas ketika lampu mobil menyorot lalu melewatinya. Mereka dapat menarik nafas lega, karena area itu sudah masuk ke pondok pesantren milik Kiyai Yusuf.
"Syukurlah! Kita sampai Ken!" ucap Didit senang. Tapi tak ada sahutan dari Niken, sehingga Didit menolehnya beberapa kali.
"Niken!" panggilnya lagi, ia menggoyang tangan Niken yang terkulai. Niken pingsan.
Didit melajukan mobilnya menanjak, hingga tiba di depan gapura pesantren yang di jaga beberapa orang. Didit segera turun.
Ke empat orang yang berjaga langsung berdiri siaga.
"Tolong, dia adalah orang yang ingin bertemu kiyai Yusuf, namanya Niken Ayu." kata Didit. Kemudian membuka pintu mobil, meraih tubuh Niken yang lunglai.
"Tunggu! Kami tidak bisa sembarangan memasukkan orang." ucap salah seorang.
"Tapi nyawanya dalam bahaya! Yang ku dengar dia adalah anaknya kiyai Yusuf."
Seketika mereka tercengang, dan sosok laki-laki yang berdiri jauh pun mendekat. Didit kenal dia, laki-laki yang malam itu mereka temui.
"Niken!" dia bergumam. Meraih tubuh Niken dari tangan Didit, lalu membawanya masuk ke dalam area pondok yang luas.
Di luar gerbang pondok, sosok wanita bergaun merah berdiri mengamati Niken yang kini telah pergi di bawa masuk.
"Yusuf!" Dia bergumam.
Tangannya berayun kesana kemari melampiaskan kemarahan. Seketika angin dan kabut berputar-putar menyelimuti pondok kiyai yusuf. Pohon-pohon besar berayun, pohon pisang pun tumbang tanpa arah. Seluruh penghuni keluar dari kamar masing-masing. Riuh suara mereka panik luar biasa, pondok yang bisanya tenang kini kacau balau diamuk angin tiba-tiba.
Dan kemudian suara adzan berkumandang kencang di toa mesjid, melawan angin kiriman Nyai Gendis.
"Paman! Paman!" teriakan pemuda yang membawa Niken itu menggema mengusik tidurnya Yusuf, ia bangun dengan wajah terkejut. Merasa di sekelilingnya di selimuti aura hitam, pekat dan penuh kemarahan.
"Waalaikum Salam, Imam!" jawab kiyai Yusuf.
"Assalamualaikum Kiyai." jawab Imam. Dia terlalu panik hingga lupa mengucapkan salam. Dia berdiri diambang pintu, menunggu sang Kiyai keluar.
Seketika Kiyai Yusuf terdiam, mengamati gadis yang dipangku Imam, tangannya terhenti mendorong daun pintu yang lebar.
"Niken pulang, Paman." gumam Imam dengan suara pelan bergetar.
jangan jangan Sagara mau sama Niken karena dia wanita tulang wangi
tinggal Alang nih ....
apakah dia mau menyerahkan Niken ke Sagara 🤔
emang kalau paranormal ga bisa punya anak ??
Niken sendirian di rumah kayu itu
ditinggalkan tanpa ikatan yang jelas
hanya memegang janji manusia
bukan suami istri
tapi ......
apa yg sebenarnya terjadi hayoo
smg di di sini kya yusuf bisa menyadari nya krn 2 anak di besarkan bukan dr tngan sndri melainkan di titipkan
nahh kek mana oraan ne
setelah tau anak2 nya menemukan jalan masing2
selamat menjalankan ibadah puasa thor
niken ngidam nya hiiii aq bayangin aja udh ngerasa gigi ngilu
dulu aq ngidam buah tp semua buah harus manis
klo g manis aq ogah
🙈🙈🙈🙈
kyo lagune kae lho lho
tresno iku esek3
okeh isine lancar traksine
trsno iku esek3
kosong isi ne ora ono regone
urip butuh duit
tresno iku g keno di kresit
akan menikah secara resmi
di pesantren ,bareng Arimbi & imam
semoga lancar sampai hari kemenangan
aamiin
merencanakan kejahatan mereka
jgn2 kebakaran rumah haji Ibrahim juga perbuatan mereka
layaknya saudara angkat donk
Krn di asuh kiyai Hasan