NovelToon NovelToon
DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Pelakor jahat / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 5 Antara Keteguhan Hati dan Ujian Harga Diri

​Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kaca besar di kantor, menciptakan pola-pola geometris di atas karpet abu-abu. Alya duduk di meja kerjanya, tangannya menggenggam pulpen emas pemberian Sultan Rahman. Dinginnya logam pulpen itu seolah menyalurkan kekuatan ke dalam jemarinya saat ia menandatangani laporan inventaris bulanan. Di balik laci mejanya, kain sutra merah muda milik mendiang ibu Sultan tersimpan rapi dalam kotak beludru kecil yang ia beli sendiri. Kain itu bukan sekadar aksesori; baginya, itu adalah jimat keberanian.

Namun, ketenangan Alya terusik ketika ia mendengar bisik-bisik di pantry saat hendak mengambil air minum.

​"Paling-paling juga pakai 'cara lain' untuk mendekati Pak Sultan," suara itu milik Maya, salah satu staf administrasi yang selama ini memang kurang menyukai Alya. "Lihat saja, baru sebentar di sini sudah bisa masuk keluar ruang pribadi bos sesuka hati. Ruang arsip pula. Siapa yang tahu apa yang mereka lakukan di sana?"

​Langkah Alya terhenti di balik pintu geser. Jantungnya berdegup kencang. Rasanya seperti kembali ke rumah Arga, di mana setiap gerak-geriknya dinilai rendah oleh Bu Ratna. Bedanya, kali ini Alya tidak ingin hanya menunduk dan menangis. Ia menarik napas panjang, merapikan blusnya, dan melangkah masuk ke pantry dengan dagu tegak.

Keheningan seketika menyelimuti ruangan itu. Maya dan dua orang lainnya pura-pura sibuk dengan cangkir kopi mereka.

​"Selamat pagi, rekan-rekan," sapa Alya dengan suara yang tenang namun tegas. "Saya dengar ada yang bingung dengan intensitas saya di ruang arsip. Jika ada yang ingin ditanyakan mengenai laporan inventaris atau prosedur pengarsipan yang sedang saya rapikan atas perintah langsung Pak Sultan, saya dengan senang hati menjelaskannya di meja kerja saya. Tidak perlu menebak-nebak di sini."

Maya mendengus, namun tidak berani menatap mata Alya. "Kami cuma bercanda, Al. Jangan terlalu serius."

​"Fitnah bukan bahan bercandaan yang baik, Maya. Itu merusak integritas profesional kita semua," balas Alya sebelum berbalik pergi.

Di dalam hatinya, Alya gemetar. Namun, ada kepuasan aneh yang menjalar. Ia telah membela dirinya sendiri. Ia bukan lagi Alya yang membiarkan dirinya diinjak-injak demi menjaga perasaan orang lain yang bahkan tidak menghargainya.

Undangan yang Tak Terduga

​Siang harinya, Sultan Rahman memanggil Alya. Pria itu tampak lebih rapi dari biasanya, mengenakan setelan jas berwarna biru tua yang membuatnya terlihat sangat berwibawa. Di atas mejanya, terdapat sebuah undangan fisik dengan tinta emas.

"Alya, malam ini ada jamuan makan malam formal untuk perayaan hari jadi asosiasi pengusaha," ujar Sultan tanpa basa-basi. "Saya ingin kamu mendampingi saya. Bukan hanya sebagai asisten, tapi sebagai perwakilan tim administrasi yang paling memahami perkembangan proyek arsip sejarah perusahaan kita."

Alya tertegun. "Tapi Pak, saya... saya tidak memiliki pakaian yang pantas. Dan saya rasa Bu Siti atau manajer lain lebih tepat."

Sultan bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Alya hingga aroma parfum kayu cendananya tercium jelas. "Saya tidak meminta manajer lain. Saya meminta kamu. Mengenai pakaian, anggap saja itu bagian dari fasilitas pekerjaan. Saya sudah mengatur semuanya. Sopir saya akan menjemputmu pukul tujuh malam."

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih rendah, "Pakailah kain sutra itu. Saya ingin ibu saya 'hadir' di sana melalui seseorang yang memiliki jiwa yang sama dengannya."

​Kata-kata itu mengunci semua bantahan Alya. Ia mengangguk pelan. Ada rasa haru sekaligus kecemasan yang membuncah. Ini adalah dunia yang sangat asing baginya.

Pertemuan di Ambang Pintu

​Malam itu, Alya tampil memukau tanpa ia sadari. Ia mengenakan gaun panjang berwarna nude yang sederhana namun elegan, dengan kain sutra merah muda pemberian Sultan yang disampirkan dengan anggun di bahunya sebagai selendang. Rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai yang dibiarkan jatuh membingkai wajahnya.

​Ketika ia tiba di hotel bintang lima tempat acara berlangsung, Sultan Rahman sudah menunggunya di lobi. Pria itu sempat terdiam selama beberapa detik saat melihat Alya. Matanya memancarkan kekaguman yang jujur.

"Kamu terlihat... luar biasa, Alya," bisik Sultan sambil menawarkan lengannya.

​Alya ragu sejenak, lalu menyambut lengan itu. Mereka berjalan memasuki aula besar. Namun, baru saja mereka melewati pintu masuk, langkah Alya mendadak kaku. Di kejauhan, di antara kerumunan tamu, ia melihat sosok yang sangat dikenalnya.

​Arga.

​Pria itu berdiri di sana bersama rekan bisnisnya. Wajah Arga tampak kuyu, namun ia masih terlihat tampan dalam balutan tuksedo hitam. Di sampingnya, Bu Ratna berdiri dengan gaya angkuhnya, sesekali membetulkan kalung berliannya yang mencolok.

​Dunia seolah berhenti berputar bagi Alya. Rasa takut yang lama terkubur tiba-tiba muncul ke permukaan. Ia merasa seperti tikus kecil yang tertangkap basah. Tangannya yang memegang lengan Sultan tanpa sadar mencengkeram lebih kuat.

Sultan merasakan perubahan itu. Ia mengikuti arah pandang Alya dan segera menyadari situasi yang terjadi. Ia tahu sedikit tentang masa lalu Alya dari riset latar belakang saat merekrutnya, meski tidak secara mendalam.

​"Jangan menunduk," bisik Sultan tepat di telinga Alya. "Kamu tidak berutang apa pun pada masa lalu. Kamu adalah wanita yang berdiri di atas kakimu sendiri sekarang. Tunjukkan pada mereka siapa Alya yang sebenarnya."

Kata-kata Sultan adalah bensin bagi api keberanian Alya. Ia menegakkan punggungnya. Saat mereka berjalan mendekat ke arah kelompok Arga—karena memang Sultan adalah tamu utama yang harus menyapa semua pengusaha di sana—Arga akhirnya menoleh.

Gelas di tangan Arga hampir terjatuh. Matanya membelalak tidak percaya. "Alya?" bisiknya nyaris tak terdengar.

​Bu Ratna yang mendengar suara anaknya ikut menoleh. Wajahnya yang penuh bedak itu berubah pucat, lalu memerah karena geram. "Kamu... apa yang kamu lakukan di sini? Dari mana kamu mencuri baju itu?" suara Bu Ratna ketus, meski ia berusaha mengecilkan volumenya agar tidak didengar tamu lain.

​Sultan Rahman melangkah maju selangkah, menempatkan dirinya sedikit di depan Alya dengan sikap protektif yang sangat kental.

​"Selamat malam, Pak Arga, Bu Ratna," sapa Sultan dengan nada sedingin es. "Saya tidak yakin kita pernah diperkenalkan secara formal, tapi saya Sultan Rahman. Dan wanita di samping saya ini adalah Alya, asisten kepercayaan saya sekaligus orang yang memegang peran kunci dalam manajemen internal perusahaan saya."

​Arga tampak seolah baru saja dipukul di wajahnya. Ia melihat betapa anggunnya Alya, betapa bersih dan bercahayanya wajah wanita yang dulu selalu ia biarkan kelelahan di dapur. Alya yang sekarang memancarkan aura intelegensi dan harga diri yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

"Alya, aku... aku sudah mencarimu," kata Arga terbata-bata.

​Alya menatap Arga, bukan dengan kemarahan, tapi dengan kedewasaan yang menyakitkan. "Terima kasih, Mas Arga. Tapi aku tidak sedang tersesat. Aku sudah menemukan jalanku pulang.

​Bu Ratna mencibir, "Jangan sombong kamu, Alya. Kamu hanya seorang pembantu yang kebetulan sedang beruntung dipungut oleh orang kaya. Jangan lupa asal-usulmu!"

​Sultan Rahman tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat lawan bicaranya merasa kecil. "Ibu Ratna, di perusahaan saya, kami menilai orang dari karakter dan kapabilitasnya. Dan jika Ibu menyebut Alya sebagai 'pembantu', maka Ibu telah menyia-nyiakan permata yang paling berharga. Saya justru berterima kasih karena Ibu telah membiarkannya pergi, sehingga saya bisa memberikan tempat yang layak untuknya."

​Sultan kemudian menatap Alya dengan lembut. "Ayo, Alya. Kita punya banyak tamu penting yang ingin bertemu denganmu."

Pilihan Hati

​Setelah pertemuan yang menegangkan itu, Arga hanya bisa terpaku melihat punggung Alya yang menjauh bersama Sultan. Ia merasa separuh jiwanya hilang. Segala kemewahan yang ia miliki sekarang terasa hampa karena ia tahu, ia telah membuang satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat.

​Di sudut balkon aula yang sepi, Alya dan Sultan berdiri menghirup udara malam. Alya merasa lega, seolah beban berat yang selama

ini menghimpit dadanya baru saja terangkat.

"Terima kasih, Pak Sultan. Untuk semuanya," ujar Alya tulus.

Sultan menatap langit malam. "Jangan berterima kasih pada saya. Kamu yang melakukan semuanya sendiri. Saya hanya menyediakan panggungnya."

​Pria itu kemudian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kunci kecil. "Ini kunci loker di ruang arsip yang baru saja saya renovasi. Saya ingin kamu yang mengelolanya secara penuh. Itu adalah bentuk kepercayaan saya."

​Saat jemari mereka bersentuhan ketika menyerahkan kunci itu, ada aliran listrik yang berbeda. Bukan sekadar bos dan karyawan. Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang belum berani mereka beri nama, namun sudah mulai berakar di dalam hati masing-masing.

Alya tahu perjalanannya masih panjang. Fitnah di kantor mungkin belum usai, dan Arga mungkin akan mencoba kembali. Namun malam itu, di bawah taburan bintang, Alya sadar bahwa ia bukan lagi sekadar bayangan. Ia adalah cahaya bagi dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!