NovelToon NovelToon
Dua Pergi Satu Bertahan

Dua Pergi Satu Bertahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tatie Hartati

Ada tiga remaja putri bersahabat mereka adalah Tari, Tiara , dan Karin mereka mempunyai pasangan masing-masing. dan pasangan mereka adalah sahabatan juga termasuk geng brotherhood pasangan Tari adalah Ramdan, pasangan Tiara adalah Bara dan pasangan ketiga ada Karin sama Boby.. karena ada sesuatu hal ketiga cowok itu membuat pasangan mereka kecewa dengan kejadian yang berbeda - beda namun dia antara 3 pasangan itu hanya Tari dan Ramdan yang bertahan karena Tari memberikan kesempatan kembali kepada Ramdan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25 Variabel Yang Nyaris Hilang

Aula dan ruang OSIS sudah benar-benar sepi, hanya menyisakan aroma parfum wood and sea salt yang perlahan memudar. Arga menghampiri kerumunan Tari dan yang lainnya dengan langkah santai, namun tangannya menggenggam sebuah kunci mobil dengan gantungan berbentuk logo kalkulator kecil ciri khas Ramdan banget.

"Nih,Nis," Arga menyerahkan kunci itu ke Kak Anisa. "Amanat dari 'Kulkas Berjalan'. Katanya, Tari nggak boleh pulang naik angkot atau ojek sore ini. Mobilnya harus dipake buat anter Tari pulang, dan Kak Anisa yang pegang kendali setirnya."

Kak Anisa tersenyum simpul sambil menerima kunci itu. "Ramdan bener-bener ya, detail banget proteksinya. Padahal dia udah di atas awan sekarang mungkin."

Tari hanya bisa terdiam, menatap kunci mobil itu dengan perasaan campur aduk. Jadi, Ramdan beneran ninggalin mobil kesayangannya demi kenyamanan Tari?

"Yuk, Ri! Nggak usah bengong. Kita seru-seruan di rumah kamu ya!" ajak Karin sambil merangkul pundak Tari, mencoba mengalihkan suasana sedih. Tiara dan Kak Zahra pun ikut mengangguk semangat.

Mereka berlima berjalan menuju parkiran. Di sana, mobil hitam milik Ramdan terparkir gagah, seolah sedang menunggu tuannya kembali. Saat pintu terbuka, aroma khas Ramdan langsung menyeruak memenuhi kabin mobil. Kak Anisa duduk di kursi kemudi, sementara Tari diminta duduk di depan kursi yang biasanya hanya diisi oleh tumpukan buku atau tas milik Ramdan.

"Rasanya aneh ya, duduk di sini tapi orangnya nggak ada," bisik Tari pelan saat mobil mulai bergerak meninggalkan gerbang SMA Kusuma Bangsa.

"Justru karena dia nggak ada, dia pengen mobil ini yang nemenin kamu, Ri," sahut Kak Zahra dari kursi tengah, mencoba menghibur.

Mobil pun melaju membelah jalanan kota. Di dalam sana, tawa Karin dan Tiara mulai mencairkan suasana. Meskipun sesekali mata Tari tetap melirik ke arah dasbor, tempat di mana biasanya ia melihat tangan kokoh Ramdan memutar kemudi dengan tenang.

Mobil hitam itu melaju tenang di bawah kendali Kak Anisa. Suasana di dalam mobil yang tadinya penuh tawa Karin dan Tiara, mendadak sedikit senyap saat Tari kembali meringkuk, memegangi perutnya yang terasa seperti diremas-remas. Efek haidh hari ketiga emang nggak pernah main-main.

Tiba-tiba, lampu sein kiri berkedip. Kak Anisa memutar kemudi dan memarkirkan mobil tepat di depan sebuah apotek besar.

"Loh Kak, Kok berhenti?" tanya Tari lemas, sedikit mengangkat kepalanya.

Kak Anisa mematikan mesin, lalu menoleh ke arah Tari dengan senyum penuh arti. "Sebentar ya, Ri. Ada 'amanat' terakhir dari bos besar yang harus segera dieksekusi sebelum kita sampai rumah kamu."

Tanpa menunggu jawaban Tari, Kak Anisa turun dan masuk ke dalam apotek. Dari balik kaca mobil, Tari, Karin, dan Tiara hanya bisa melongo.

"Sumpah ya, Ramdan itu manusia apa malaikat pelindung sih? Detail banget sampai urusan obat pun dia titipin," celetuk Karin sambil geleng-geleng kepala.

Nggak lama kemudian, Kak Anisa kembali dengan kantong plastik kecil dan sebotol air mineral suhu ruang bukan dingin, persis seperti yang sering Ramdan ingatkan.

"Nih, minum dulu," Kak Anisa menyerahkan obat pereda nyeri dan airnya. "Tadi Ramdan chat aku pas masih di ruang OSIS tadi,dia bilang: 'Kak, tolong mampir apotek. Tari biasanya nggak tahan sakit perutnya kalau lagi haidh. Belikan yang menurut kakak baik karena aku kurang paham jadi tadi ga berhenti dulu di apotek,maaf ya kak, ngerepotin '"

Tari menerima obat itu dengan tangan gemetar. Di dalam dadanya, ada rasa hangat yang lebih kuat dari rasa sakit di perutnya.

"Udah, buruan diminum, Ri. Biar pas sampai rumah kamu bisa langsung istirahat," tambah Kak Zahra dari belakang, sambil mengusap pundak Tari lembut.

Tari meminum obatnya dalam diam. Saat ia menyandarkan kepalanya di jok mobil, ia merasa seolah-olah Ramdan sedang duduk di sampingnya, memintanya untuk tetap kuat.

Tari menatap kantong plastik obat itu dengan perasaan tidak enak. Tangannya merogoh saku rok sekolah, mencoba mencari dompet kecilnya.

"Kak Anisa, ini... ganti uang obatnya ya, soalnya aku nggak enak ngerepotin Kakak sampai harus mampir segala," ucap Tari sambil menyodorkan selembar uang.

Kak Anisa tertawa kecil, tangannya justru mendorong pelan tangan Tari agar menyimpan kembali uangnya. "Simpen aja uang kamu, Ri. Uang aku nggak berkurang sepeser pun buat beli obat ini, dan apapun yang aku beli "

Tari mengernyit bingung,"maksudnya bagaimana,Kak?"

"Tadi sebelum berangkat ke bandara, Ramdan udah nitipin uang cash ke aku. Katanya: 'Kak, ini buat jaga-jaga kalau di jalan Tari butuh sesuatu, atau kalau mau beli obat. Pakai uang saya saja, jangan pakai uang Kakak, apalagi uang Tari.'" Kak Anisa menggelengkan kepala, tak habis pikir. "Dia bener-bener nggak mau kamu keluar uang sepeser pun buat urusan kesehatan kamu sendiri, Ri."

"Tuh, kan! Apa gue bilang," sahut Karin dari belakang dengan nada heboh. "Ramdan itu prinsipnya: 'Dompetku adalah dompetmu, tapi dompetmu tetap punyamu.' Sumpah, Ri, lo dapet spek Dewa Yunani versi syariah!"

Tari tertegun. Ia kembali menunduk, menatap obat itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca lagi. Ramdan bahkan sudah memikirkan sampai ke variabel biaya terkecil sebelum dia benar-benar lepas landas. Cowok itu seolah ingin memastikan bahwa meskipun raganya tidak ada, perlindungannya tetap hadir secara nyata.

"Udah, diminum aja. Jangan banyak pikir. Nanti kalau orangnya denger kamu nolak pemberiannya, bisa-bisa dia ceramah logika dua jam lewat telepon," goda Kak Zahra yang sukses bikin Tari tersenyum tipis di tengah rasa sakitnya.

*********************************************

Tari, kak Anisa, kak Zahra, Karin dan Tiara sampai di rumah Tari. Mereka semua berkumpul di ruang tamu

" Ri ,udah lama gue ma Karin gak pernah nginep di sini karena kesibukan kita di ekskul " kata Tiara

" Wah ternyata Karin dan Tiara itu suka nginep di sini " kata kak Zahra

"Iya kak, kan kita dulunya itu geng trio kwek-kwek tapi sekarang kita bukan trio kwek-kwek lagi , tapi kita lebih ke geng receh aja, akhirnya kak Anisa dan kak Zahra juga kan masuk ya " kata Karin

"Iya tuh dasar deh Ramdan " kata kak Zahra

"Eh Ri, jadi selama ini kamu sendirian di rumah?" Tanya kak Anisa

"Iya kak. Sebenernya dulu papa masih suka bolak balik Jakarta - Singapura tapi sekarang semenjak perusahaan yang di Jakarta di pindah alihkan ke Singapura ,papa gak akan bolak balik lagi, makanya aku sedih karena aku di sini tidak punya siapa-siapa, tapi untungnya aku punya kalian, punya geng receh, punya geng brotherhood " kata Tari

"Dan juga pastinya punya Waketos yang cool" goda kak Anisa

Hening sesaat......... tiba-tiba boom ... tertawa dengan renyah dan teriakan cieee eeee...... akhirnya ruang tamu menjadi rame .

Tawa renyah pecah di ruang tamu. Karin sampai melompat dari sofa sambil berteriak histeris, Tiara nggak tahan lagi dan melempar bantal sofa ke arah Karin, sementara Kak Anisa dan Kak Zahra tertawa sambil memukul-mukul bantalan sofa karena gemas maksimal.

"Ih Kak Anisa, bisa aja!" seru Tari dengan wajah memerah, mencoba meredakan kehebohan teman-temannya.

"Tapi memang benar sih, Kak," suara Tari perlahan melembut, membuat yang lain mulai tenang dan menyimak. "Aku merasa aman kalau sama dia. Mungkin kalau sama cowok lain aku bakal ngerasa takut atau risih, tapi kalau sama Ramdan... aku ngerasa terlindungi. Karena dia tipe yang nggak pernah mau ada kontak fisik langsung, dia bener-bener jaga jarak tapi perhatiannya tetep berasa. Dan juga..."

Tari menggantung kalimatnya, membuat Tiara gemas sendiri. "Dan juga apa, Ri? Ih, jangan dipotong dong!"

"Dan juga karena... Papa udah nitipin aku ke Ramdan," lanjut Tari pelan namun pasti. "Papa percaya kalau Ramdan bisa bimbing aku jadi lebih baik lagi. Dan itu terbukti sekarang, kan? Aku ngerasa sedikit berubah jadi lebih baik dibanding aku yang dulu."

Hening sesaat. Karin dan Tiara saling lirik, lalu tersenyum tulus. Mereka tahu persis gimana Tari dulu, dan gimana tenangnya Tari sekarang semenjak ada sang "Kulkas Matematika" di sampingnya.

"Tuh kan, bener dugaan gue," bisik Karin pelan. "Ramdan itu bukan cuma Waketos, dia itu tutor life sekaligus calon imam yang divalidasi langsung oleh jalur Papa!"

Ting!

Layar ponsel Tari yang tergeletak di atas meja kaca mendadak menyala, menampilkan sebuah notifikasi WhatsApp yang cukup panjang. Karena posisi duduk mereka yang melingkar, mata-mata "elang" geng cewek itu langsung tertuju ke arah yang sama secepat kilat.

Ramdan Alvaro: “Ri, pesawatku baru saja mau lepas landas. Handphone akan aku matikan. Ingat pesan aku tadi, jangan lupa makan dan minum obatnya. Kabari aku lewat chat saja kalau ada apa-apa, nanti aku baca setelah mendarat di Kalimantan. Jaga diri baik-baik di rumah.”

Hening tiga detik. Tari terpaku, tangannya baru mau meraih ponsel tapi kalah cepat dengan sorak sorai yang langsung pecah di ruangan itu.

"OMAYGAT! OMAYGAT! LIAT DEH!" teriak Karin sambil menunjuk-nunjuk layar HP Tari. "Baru aja diomongin, orangnya langsung laporan! Ini mah bukan Waketos ke Sekretaris, ini mah udah kayak suami laporan mau dinas luar kota!"

"Laporannya detail banget ya, Ri? Sampe disuruh makan sama minum obat," goda Kak Anisa sambil menyenggol bahu Tari. "Duh, kenapa ya dulu aku nggak dititipin ke cowok kayak Ramdan?"

"Ciee... 'Jaga diri baik-baik di rumah' katanya!" Tiara ikut memanaskan suasana sambil memperagakan gaya bicara Ramdan yang datar tapi penuh perhatian. "Aduh, perut aku mendadak kenyang padahal belum makan, gara-gara dapet asupan gizi baper dari Ramdan!"

Tari bener-bener pengen menghilang saat itu juga. Pipinya sudah bukan lagi warna tomat, tapi sudah hampir menyamai warna merah darah. Ia buru-buru menyambar ponselnya dan mendekapnya di dada, seolah takut kalimat manis (tapi logis) dari Ramdan itu bakal dicuri orang.

"Ih, kalian apaan sih! Dia kan emang gitu orangnya, semua-semua harus sesuai jadwal dan laporan," bela Tari dengan suara kecil, padahal dalam hatinya ada ribuan kembang api yang sedang meledak.

Dengan perasaan yang masih campur aduk, antara malu dan baper Tari mengirimkan satu chat balasan pada Ramdan

Tari : " Iya Ndan kamu hati - hati aku akan selalu doain kamu kok. Makasih ya semuanya maaf aku ngerepotin kamu terus.

Tari pun langsung menyimpan kembali ponselnya, dan teman - temannya masih menggodanya.

Tari yang sudah tidak kuat menahan rasa panas di pipinya langsung memutar otak. Ia nggak boleh jadi satu-satunya orang yang "digoreng" sore ini. Tari langsung menatap Kak Zahra serta Kak Anisa dengan senyum penuh arti.

"Alah... Kak Zahra juga sama aja, kan?" Tari menaikkan sebelah alisnya, mulai meluncurkan serangan balik. "Siapa ya yang kemarin pas rapat koordinasi dijagain ketat sama Kak Arka? Padahal Kak Zahra cuma mau ke kantin, tapi Kak Arka udah kayak bodyguard pribadi."

Kak Zahra tiba-tiba berdehem kecil. Ia langsung sibuk merapikan bantal sofa di pangkuannya, mencoba menghindari tatapan Tari. "Uhuk! Itu... itu kan karena Arka emang tanggung jawab sama keamanan anggota, Ri. Jangan ngaco deh."

"Masa sih, Kak?" goda Tari makin berani.

"Yeay kalau Zahra sama Arka emang udah go publik, kelas XII udah pada tahu semua kok, bahkan guru juga udah tahu , sama aja kayak Tiara dan bara, Karin dan Boby kan itu satu sekolah pada tahu itu semua pasangan yang romantis " kata kak Anisa

Tari merasa belum puas, ia melirik Kak Anisa yang tadi paling semangat ngeledekin dia "Terus nih ya, aku denger ada gosip baru yang lebih panas. Katanya Ketua OSIS kita, Kak Arga, lagi deket banget sama temen sekelasnya. Siapa ya kira-kira?"

Kak Anisa yang tadi tertawa lebar langsung terdiam sesaat. "Ih, nggak tahu tuh! Emang kamu dapet gosip dari mana? Aku aja yang sekelas sama Arga nggak tahu apa-apa," jawab Kak Anisa dengan nada sedikit mungkin pura-pura gak tau padahal di dalam hati ' aku lho'

Kak Zahra melirik Kak Anisa sambil menahan senyum, memberikan kode lewat tatapan mata yang seolah bilang, 'Yakin nggak tahu, Nis?'.

"Tapi aku tahu kok orangnya,dia berhijab, waktu lomba puisi kemarin dia juara 2" kata kak Zahra sambil cengengesan

"Tuh, kan! Kak Zahra bilang begitu," seru Karin sambil tertawa puas. "Wah, ternyata ruang tamu ini isinya bukan cuma markas baper Tari sama Ramdan doang, tapi pusat intelijen cinta SMA Kusuma Bangsa!"

" ternyata pengurus OSIS pada cinta lokasi semua " kata Karin

Baru saja Kak Anisa mau mengelak lebih jauh soal gosip Arga, tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan pagar, disusul suara salam yang sangat familiar.

"Assalamualaikum! Paket... eh, misi paket cemilan datang!" seru Alvin dari balik pintu.

Tari segera membukakan pintu dan melihat Alvin berdiri dengan dua kantong besar berisi buah-buahan segar, yogurt, dan beberapa camilan gandum. Wajah Alvin kelihatan sedikit berkeringat dan napasnya agak terengah.

"Loh, Vin? Kok kamu ke sini?" tanya Tari bingung.

Alvin nyengir sambil menyerahkan kantong-kantong itu. "Amanat negara, Ri. Tadi pas di parkiran sekolah mau berangkat ke bandara, Ramdan narik gue. Dia ngasih duit dan daftar belanjaan ini. Katanya: 'Vin, gue gak sempet mampir supermarket. Tolong beliin ini, anterin ke rumah Tari. Pastiin isinya cemilan sehat, jangan kasih mereka gorengan atau ciki, kasian perut Tari lagi sensitif.'"

Alvin mengusap tengkuknya. "Sori ya baru nyampe, tadi antrean di kasirnya panjang banget, terus gue harus mastiin tanggal kadaluarsa yogurt-nya sesuai pesanan Ramdan yang katanya harus paling lama."

Ruang tamu yang tadinya rame langsung mendadak senyap... lalu DUAR! > "RAMDAN ALVARO! LO BENER-BENER YA!" teriak Karin sambil menutup muka pake bantal. "Bahkan cemilan buat kita yang numpang aja dipikirin biar sehat?gue berasa lagi dijagain sama asisten pribadi!"

"Cemilan sehat buat para cewek... tapi poin utamanya 'kasian perut Tari'," goda Kak Zahra sambil mengambil satu buah apel. "Ri, fiks sih, ini mah bukan proteksi lagi, ini mah simulasi jadi kepala keluarga yang bertanggung jawab."

Tari cuma bisa mematung memegang kantong cemilan itu. Di dalam hatinya, dia ngebatin: Ndan, kamu itu lagi mau lomba matematika di Kalimantan atau lagi mau buka cabang minimarket khusus buat aku sih?

Begitu Alvin pamit pulang dengan motornya yang menjauh dari pagar, suasana rumah Tari perlahan berubah. Langit di luar jendela mulai berganti warna menjadi jingga kemerahan, pertanda sang surya mulai pamit ke peraduan.

"Guys, udah mau Magrib. Yuk, kita bersih-bersih dulu terus jamaah," ajak Kak Anisa yang paling dewasa di antara mereka.

Suasana yang tadinya penuh tawa dan ghibah receh, mendadak jadi khidmat. Tari meminjamkan mukena-mukena cadangannya yang wangi lavender untuk Karin dan Tiara, sementara Kak Zahra dan Kak Anisa sudah siap di ruang tengah yang sudah dihampari sajadah panjang.

Saat adzan Magrib berkumandang dari masjid dekat rumah Tari, perasaan aneh kembali menyelinap di hati Tari. Biasanya, jam segini dia bakal dapet chat singkat dari Ramdan: 'Ri, sudah adzan. Berhenti dulu aktivitasnya, kerjakan variabel yang paling utama dulu (Shalat).'

Tapi sore ini, ponselnya mati sunyi. Ramdan masih berada di atas awan, melintasi samudera menuju Balikpapan.

Kak Anisa, kak Zahra Karin dan Tiara pada shalat berjamaah di ruang tengah sedangkan Tari, yang lagi haidh duduk di sofa sambil berdzikir dan bersalawat di dalam hati.

Selesai shalat, Kak Anisa memanggil Tari supaya ikutan duduk melingkar di atas sajadah, kak Anisa,kak Zahra, Karin dan Tiara masih memakai mukena lengkap. Cahaya lampu ruang tamu yang temaram bikin suasana jadi deep talk banget.

"Ri," panggil Kak Zahra pelan sambil memain-mainkan ujung mukenanya. "Gue baru sadar. Rumah lo ini gede banget, tapi kalau nggak ada siapa-siapa, pasti kerasa dingin ya?"

Tari tersenyum tipis, matanya menatap langit-langit. "Dulu emang gitu, Kak. Tapi semenjak ada kalian, dan semenjak ada... dia, aku ngerasa rumah ini mulai punya 'nyawa' lagi. Walaupun sekarang dia lagi nggak ada di sini."

"Sabar ya, cuma dua hari," hibur Tiara sambil merangkul Tari. "Lagian, mobilnya ada di garasi kamu, pesenan obatnya ada di tangan kamu, dan cemilan sehatnya ada di perut kita. Dia tuh nggak bener-bener pergi, Ri. Dia cuma lagi 'pindah tugas' jagain kamu lewat orang lain."

Di luar, angin malam mulai bertiup. Tari melirik jam dinding. Sudah pukul 18.30. Dalam logikanya, dia menghitung: Harusnya sekarang dia sudah hampir mendarat.

"Gimana perutnya, Ri? Udah mendingan setelah minum obat tadi?" tanya Kak Zahra setelah selesai berdoa, sambil mengusap lutut Tari.

"Udah lumayan, Kak. Efek obat dari 'kurir' Ramdan emang nggak main-main," jawab Tari sambil bercanda tipis, yang langsung disambut tawa kecil dari mereka.

"Emang ya, biarpun nggak shalat, aura 'dijagain' kamu tetep kuat banget sore ini," goda Tiara. "Eh, liat deh jam. Udah hampir jam tujuh malam. Secara jadwal, pesawat Ramdan harusnya udah mendarat di Balikpapan, kan?"

Detik itu juga, dada Tari berdegup kencang. Ia menatap layar ponselnya dengan penuh harap. Menunggu satu notifikasi yang akan mengubah centang satu itu menjadi centang dua biru.

Mereka akhirnya pindah keruangan santai dilantai atas, mereka memutuskan untuk tidur di situ aja tidak akan di kamar, terlebih dahulu kak Anisa mengunci pintu gerbang dan juga pintu rumah Tari.

Suasana di ruang santai lantai atas awalnya begitu nyaman. Karin dan Tiara asik memperebutkan remote, sementara Kak Anisa dan Kak Zahra mulai membuka bungkusan buah dari Alvin. Tari duduk di karpet bulu, bersandar pada kaki sofa dengan ponsel yang tak lepas dari genggamannya.

"Coba cek berita dong, siapa tahu ada info cuaca di Kalimantan," usul Kak Zahra.

Tiara memindahkan channel ke stasiun berita nasional. Namun, detik itu juga, seluruh ruangan seolah membeku. Sebuah breaking news muncul dengan latar merah menyala dan suara latar yang mencekam.

"BERITA TERKINI: PESAWAT MASKAPAI SKY-JET JURUSAN JAKARTA - BALIKPAPAN DIKABARKAN HILANG KONTAK DAN DIDUGA JATUH DI PERAIRAN SEKITAR SELAT MAKASSAR..."

Bruk!

Apel di tangan Kak Anisa jatuh begitu saja ke lantai. Tari merasa jantungnya seolah berhenti berdetak saat itu juga. Oksigen di paru-parunya mendadak hilang. Matanya terpaku pada layar televisi yang menampilkan grafis rute penerbangan yang sangat ia kenali.

"Nggak... nggak mungkin," bisik Tari dengan suara bergetar. Tangannya gemetar hebat saat ia membuka kembali ruang obrolannya dengan Ramdan.

Masih centang satu.

"Ri, tenang dulu... belum tentu itu pesawat Ramdan," kata Kak Anisa, tapi suaranya sendiri terdengar pecah dan tidak yakin.

"Tapi jamnya pas, Kak! Jurusannya juga pas!" teriak Karin yang mulai menangis.

" Iya memang jamnya sama tapi apakah itu pesawat yang di tumpangi Ramdan?, kita harus cari dulu kebenarannya " kata Kak Anisa

"Tiara, coba cek jadwal keberangkatan di web bandara, cepet!"kata Kak Zahra

Tiara mencoba mengetik dengan tangan yang gemetar parah. Sementara itu, Tari mulai menekan tombol telepon berulang kali.

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."

Suara operator itu terdengar seperti vonis mati bagi Tari. Ia teringat pesan terakhir Ramdan: "Jaga diri baik-baik di rumah." Apakah itu benar-benar pesan terakhir? Air mata yang sedari tadi ditahannya kini tumpah tanpa bisa dibendung. Dunianya yang baru saja terasa berwarna, mendadak runtuh menjadi abu.

"Ndan, kamu janji mau pulang bawa medali..." isak Tari sambil memeluk ponselnya erat di dada. "Kamu bilang kamu variabel tetapku... jangan jadi variabel yang hilang, Ndan. Tolong..."

Ruangan itu penuh dengan isak tangis yang tertahan. Tiara masih sibuk me-refresh laman berita, sementara Kak Anisa sudah memegang ponsel, berniat menelepon pihak bandara. Tari sendiri sudah terduduk lemas di lantai, air matanya membasahi layar ponsel yang masih menampilkan profil foto Ramdan.

"Ndan, tolong jangan bercanda sama logika aku kali ini..." bisik Tari parau.

Ting!

Sebuah bunyi notifikasi yang sangat pendek, tapi terdengar lebih keras dari ledakan bom di telinga mereka semua. Tari tersentak. Ia melihat layar ponselnya.

Ramdan Alvaro: “Ri, maaf baru bisa kasih kabar. Sinyal di bandara tadi sangat buruk (low signal strength). Aku baru sampai di hotel sekarang. Kamu sudah tidur? Jangan lupa kunci pintu dan jendela.”

Detik itu juga, suasana ruang santai itu mendadak hening seketika. Tangis Karin berhenti di tengah jalan. Kak Anisa melongo. Tari mengerjapkan matanya berulang kali, memastikan bahwa penglihatannya tidak salah karena air mata.

"DIA... DIA HIDUP?!" teriak Karin tiba-tiba sambil berdiri tegak.

"RAMDAN!!! LO BENER-BENER YA!!" Tiara ikut berteriak, kali ini antara lega dan emosi jiwa. "Kita udah mau bikin tahlilan di sini, dia malah baru laporan sampe hotel dengan gaya sedingin itu!"

Tari menutup mulutnya dengan tangan, tangisnya pecah lagi, tapi kali ini bukan karena takut, melainkan karena lega yang luar biasa. Bahunya terguncang hebat. Ia segera mengetik balasan dengan tangan gemetar, tidak peduli lagi dengan gengsinya.

Tari: "NDAN! KAMU TAU NGGAK ADA BERITA PESAWAT JATUH JURUSAN BALIKPAPAN?! AKU TAKUT BANGET!"

Tak butuh waktu lama, balasan masuk lagi.

Ramdan Alvaro: “Pesawat jatuh? Ah, aku lihat beritanya di TV lobi hotel tadi. Itu maskapai Sky-Jet, Ri. Aku kan pakai maskapai Garuda karena variabel keselamatannya lebih tinggi. Kenapa menangis? Secara logika, probabilitas aku berada di pesawat itu adalah nol karena nomor penerbanganku berbeda. Sudah, tenanglah. Tarik napas, hembuskan. Aku aman.”

Kak Zahra yang ikut membaca balasan itu cuma bisa geleng-geleng kepala sambil mengusap air matanya sendiri. "Cuma Ramdan yang bisa jelasin variabel keselamatan pas orang-orang lagi nangisin dia. Bener-bener kulkas dua pintu!"

Grup WA: Geng Receh 💅✨

Karin: "GUYS!!! CEK BERITA!!! ITU PESAWAT RAMDAN BUKAN?!"

Tiara: "Gue udah nangis di bawah meja, sumpah! Ndan, jawab dong!!!"

Kak Zahra: "Tari, gimana? Ramdan bisa dihubungin nggak?!"

Tiba-tiba, sebuah pesan masuk di tengah kepanikan itu.

Ramdan Alvaro: "Grup ini terlalu bising. Saya aman. Itu maskapai yang berbeda. Logika kalian jangan ikut jatuh bersama berita itu."

Langsung saja grup itu meledak dengan stiker nangis dan hujatan sayang buat sang Waketos.

Tapi ternyata, di "markas" para cowok, Geng Brotherhood, suasananya jauh lebih liar. Tari sempat melirik sekilas saat Alvin menunjukkan layar HP-nya lewat screenshot.

Grup WA: Brotherhood 👊🔥

Bara: "NDAN! WOI! JANGAN MATI DULU, UTANG CATETAN FISIKA GUE BELUM LUNAS!"

Boby: "Pajar, Kevin, Sagara! Cek manifes! Cepet!"

Revan: "Gue udah siap-siap mau ke bandara sekarang!"

Elang: "Ramdan... jangan becanda lo, Ndan!"

Dan dengan gaya paling santai se-Indonesia, Ramdan membalas:

Ramdan Alvaro: "Revan, simpan bensin motormu. Elang, jangan emosional. Saya baru saja selesai minum air mineral di hotel. Pesawatku mendarat dengan selamat sesuai perhitungan waktu."

Bara: "KULKAS SIALAN! GUE UDAH MAU BIKIN BENDERA KUNING!"

Alvin: "Alhamdulillah... Ndan, sumpah ya, gue baru aja anter cemilan buat Tari, jangan bikin dia jantungan napa!"

Tari hanya bisa menggelengkan kepala melihat chat-chat itu. Rasa sakit perutnya tadi seolah hilang total, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Ramdan memang jauh di Kalimantan, tapi efek kehadirannya sanggup mengguncang seluruh Jakarta malam ini.

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Di ruang santai atas, Karin, Tiara, Kak Anisa, dan Kak Zahra sudah tumbang. Mereka tidur berpencar dengan posisi "reog" masing-masing, kelelahan setelah drama serangan jantung massal tadi.

Tapi tidak dengan Tari. Matanya masih terjaga, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang masih melayang ke Kalimantan. Tiba-tiba, ponsel di samping bantalnya bergetar.

Ramdan Alvaro calling via Video Call...

Tari tersentak, buru-buru ia memakai headset dan juga memakai jilbab instan kemudian menerima panggilan itu. Layar menampilkan wajah Ramdan yang masih memakai kemeja, duduk di meja kerja hotel dengan kacamata yang masih bertengger di hidungnya.

"Belum tidur, Ri? Secara tubuhmu sudah melewati batas waktu istirahat yang optimal," suara berat Ramdan terdengar sangat jernih di telinga Tari.

"Nggak bisa tidur, Ndan. Masih kepikiran berita tadi," bisik Tari pelan.

Ramdan menghela napas, ia memperbaiki posisi kacamatanya. "Itu hanya berita pesawat lain kan Ri. Ku di sini baik - baik aja kok. Dengar, Tari... kamu harus tidur. Jika kurang tidur kamu akan sakit dan nyeri perutmu akan makin parah. Sekarang, pejamkan matamu. Biar aku bicara sampai kamu tenang."

Tari menurut. Ia memejamkan mata sambil mendengarkan Ramdan yang mulai "ngoceh" soal teori-teori ketenangan, jadwal kegiatannya besok, sampai analisis kenapa pesawat Garuda lebih aman. Suara Ramdan yang datar, tenang, dan berwibawa itu perlahan menyapu semua kecemasan Tari.

Lima menit berlalu...

"Jadi, Ri, kesimpulannya adalah... Ri? Tari?"

Ramdan terdiam saat melihat di layar ponselnya, napas Tari sudah mulai teratur. Gadis itu sudah terlelap dengan ponsel yang masih menyala di samping wajahnya. Ramdan menghentikan "ceramahnya", sebuah senyum tipis yang sangat jarang terlihat muncul di bibirnya.

"Dasar cewek katanya tidak bisa tidur, tapi baru dijelaskan satu bab logika sudah masuk ke alam bawah sadar," gumam Ramdan pelan. Ia tidak langsung mematikan panggilannya, ia menatap wajah tenang Tari lewat layar selama beberapa detik.

"Selamat malam, variabel tetapku. Istirahatlah."

Klik. Sambungan terputus, menyisakan keheningan yang paling indah di malam itu.

AUTHOR NOTE

Sebelum kalian lanjut ngerasain dinginnya sikap Ramdan di bab ini, izinkan aku teriak sebentar... KITA DAPET MEDALI RISING STAR I! 🏅😭

Jujur, awalnya aku nulis ini cuma sekadar hobi dan iseng buat numpahin ide di kepala. Tapi ternyata, dukungan kalian luar biasa banget sampai popularitas cerita ini tembus di angka 1105 dan bisa sejajar di deretan Terpopuler bareng para suhu dan Author pro lainnya. It’s literally a dream come true! ✨

Kata Ramdan, "Popularitas hanyalah angka, tapi dukungan kalian adalah variabel tetap yang bikin algoritma cerita ini jadi sempurna." (Cieee, si Kulkas bisa aja! 🤣)

1
yanzzzdck
semangat yaa
Tati Hartati: makasih kak
total 1 replies
yanzzzdck
semangat
yanzzzdck: iya aman aja
total 2 replies
kalea rizuky
lanjut
Tati Hartati: siap kak...
total 1 replies
kalea rizuky
q ksih bunga deh biar makin bagus ceritanya
Tati Hartati: makasih banget ya kakak
total 2 replies
kalea rizuky
moga bagus ampe end dan gk bertele tele ya thor
Tati Hartati: makasih kak dukungannya
total 1 replies
yanzzzdck
semangat💪
Tati Hartati: Terimakasih banyak atas supportnya... semangat juga ya kakak..
total 1 replies
yanzzzdck
semangat aku bantu like semua, kalo bisa like balik ya, kalo gbisa gpp🙏
Tati Hartati: sama sama... insyaallah nanti aku kalau udah santai pasti mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!