NovelToon NovelToon
Obsession Sang Mafia

Obsession Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kriminal dan Bidadari / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Queen__halu

Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.

Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jebakan untuk Luciano

Sebuah apartemen kecil di pinggir kota dipenuhi asap rokok dan aroma kopi dingin.

Jenny mondar-mandir di ruang tamu sempit itu, kukunya menekan layar ponsel dengan kasar. Wajahnya masih menyimpan bekas trauma, bukan luka fisik, melainkan luka harga diri.

“Kandang kobra,” desisnya. “Aku masih bisa mencium bau besinya.”

Maria duduk di sofa dengan punggung tegak, ekspresinya jauh lebih tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dipermalukan sedemikian rupa. Jemarinya memutar cangkir kopi pelan, matanya menyipit penuh perhitungan.

“Dia mempermalukan kita,” ujar Maria dingin.

 “Bukan hanya Luciano. Tapi Alana.”

Jenny berhenti berjalan. “Gadis sok suci itu berani menamparku, Ma. Di depan orang-orangnya.”

Maria tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tak mengandung kehangatan.

“Dan itu tidak akan kita balas dengan tangan,” katanya. “Tapi dengan cara yang lebih elegan.”

Jenny menoleh cepat. “Maksud Mama?”

Maria mengeluarkan ponselnya, menampilkan beberapa foto perempuan-perempuan cantik, glamor, dengan tubuh sempurna dan senyum berbahaya.

“Luciano bukan pria biasa,” lanjut Maria. “Ia terbiasa dikelilingi perempuan seperti ini. Yang tahu cara merayu. Yang tahu kapan harus diam dan kapan harus menjerat.”

Jenny mendekat, matanya berbinar penuh kebencian. “Kita buat dia berpaling.”

“Kita buat Alana melihat,” koreksi Maria. “Perbedaan antara dirinya dan dunia Luciano.”

Jenny tertawa kecil. “Aku suka cara berpikir Mama.”

Maria menggeser ponselnya. “Ini Valeria. Model internasional. Pernah jadi simpanan politisi. Ini Camila, cerdas, manipulatif. Dan ini—” jarinya berhenti di satu foto, “Nadia. Cantik, lembut, dan sangat pandai berpura-pura jatuh cinta.”

“Yang mana?” tanya Jenny.

“Semua,” jawab Maria tanpa ragu. “Kita bayar mereka. Bukan untuk tidur dengannya, Luciano terlalu berhati-hati untuk itu.”

“Lalu?”

“Kita minta mereka mendekat. Menggoda. Membuat situasi terlihat ambigu.” Maria menatap Jenny tajam. “Yang kita butuhkan hanya satu momen yang cukup untuk menghancurkan kepercayaan Alana.”

Jenny menggertakkan gigi. “Alana itu lemah soal perasaan.”

“Dan Luciano,” lanjut Maria pelan, “lemah soal Alana.”

Jenny tersenyum puas. “Kalau Alana melihat suaminya tergoda perempuan lain… dia akan hancur.”

“Dan saat itu,” Maria menyandarkan tubuhnya, “kita tinggal muncul sebagai ‘keluarga’ yang memperingatkan dia. Bahwa dunia Luciano tidak pernah cocok untuk gadis polos sepertinya.”

Jenny tertawa lirih, puas. “Balas dendam yang manis.”

Maria menyesap kopi terakhirnya. “Ingat satu hal, Jenny. Kita tidak menjatuhkan Luciano.”

“Lalu?”

“Kita biarkan dia menghancurkan segalanya sendiri.”

***

Di tempat lain, jauh dari rencana kotor itu, Luciano berdiri di balkon rumahnya, menatap Alana yang tertidur lemah di ranjang. Tangannya mengepal pelan, nalurinya gelisah tanpa sebab.

Ia tidak tahu bahwa di luar tembok tinggi yang ia bangun, dua orang sedang menyiapkan racun, bukan untuk tubuhnya, melainkan untuk hatinya.

Sinar matahari pagi menembus jendela kamar, jatuh tepat di wajah Alana yang masih pucat. Demamnya sudah turun, tapi kepalanya masih berat. Ia menggeliat pelan, lalu membuka mata dan kembali mendesah kesal saat menyadari satu hal.

Luciano masih di sana.

Duduk di kursi dekat ranjang, jasnya tergantung rapi di sandaran, kemeja hitamnya tergulung di lengan. Di tangannya ada tablet, tapi pandangannya jelas tidak fokus pada layar. Ia menatap Alana seolah itu satu-satunya hal penting di ruangan itu.

“Kamu menatapku seperti aku akan kabur lewat jendela,” gumam Alana serak.

Luciano menutup tabletnya. “Aku menatapmu seperti orang yang hampir kehilangan sesuatu.”

Alana mendengus. “Drama sekali.”

“Nyatanya aku memang dramatis soal dirimu,” jawab Luciano tanpa ragu.

Ia berdiri dan mendekat, lalu meletakkan nampan sarapan di meja kecil samping ranjang, sup bening, roti panggang, dan segelas jus hangat.

“Aku nggak lapar,” kata Alana cepat.

“Kau makan,” balas Luciano, nada suaranya lembut tapi tidak memberi pilihan. “Atau aku akan menyuapi mu.”

Alana menatapnya tajam. “Coba saja.”

Luciano mengangkat alis, seolah menantang. “Jangan goda kesabaranku saat kau masih lemah.”

“Aku tidak lemah,” Alana memalingkan wajah.

Luciano duduk di tepi ranjang. Tangannya meraih mangkuk, menyendok sedikit sup, lalu berhenti tepat di depan bibir Alana tapi tidak memaksa, hanya menunggu.

“Kau bisa marah,” katanya pelan. “Tapi kau tidak boleh menyiksa tubuhmu hanya untuk membuktikan itu.”

Alana menatap sendok itu lama, lalu mendengus dan membuka mulut. Sup itu hangat, menenangkan tenggorokannya.

“Puas?” tanyanya ketus setelah menelan.

“Sedikit,” jawab Luciano jujur.

Alana memutar mata. “Kamu tetap nggak berubah.”

“Tidak,” Luciano menatapnya lembut. “Aku hanya belajar cara yang lebih halus untuk menjagamu.”

“Dengan mengatur jam makanku?” sindir Alana.

“Dengan memastikan kau hidup,” sahut Luciano tegas.

Ia mengelap sudut bibir Alana dengan tangan, gerakannya pelan dan penuh perhatian. Alana refleks menepis tangannya.

“Jangan sentuh aku,” katanya dingin.

Luciano menarik tangannya kembali tanpa memaksa. Namun tatapannya mengeras sesaat.

“Baik,” ucapnya. “Aku bisa menahan tanganku. Tapi aku tidak akan menahan pengawasanku.”

“Obsesi,” Alana mendesah.

“Cinta,” Luciano membalas tenang. “Yang tidak tahu cara setengah-setengah.”

Alana menatap langit-langit. “Kalau kamu benar mencintaiku, kamu akan membiarkanku pergi.”

Luciano terdiam sejenak. Lalu berkata, sangat pelan namun penuh keyakinan, “Kalau aku membiarkanmu pergi sekarang, kau tidak akan kembali. Dan dunia di luar sana tidak akan sebaik aku menjagamu.”

“Aku tidak minta dijaga,” Alana menoleh tajam. “Aku minta dipercaya.”

Luciano menatapnya lama. Sangat lama. Seolah menghafal setiap garis wajahnya.

“Aku mempercayaimu,” katanya akhirnya. “Aku tidak mempercayai dunia.”

Ia bangkit berdiri. “Hari ini kau istirahat. Tidak ada tamu. Tidak ada drama keluarga. Hanya kau dan pemulihanmu.”

“Dan kamu?” tanya Alana sinis.

“Aku di luar,” jawab Luciano. “Di balik pintu. Seperti biasa.”

Alana menutup mata, lelah. “Kamu nggak akan pernah menyerah, kah?”

Luciano tersenyum tipis—senyum yang manis tapi menakutkan.

“Tidak untukmu,” katanya. “Tidak akan pernah.”

Di balik ketegangan itu, Alana tahu satu hal,

Luciano tidak sekadar mencintainya, ia sedang membangun dunia di mana Alana adalah pusatnya, dan siapa pun yang mencoba menggeser posisi itu akan dihancurkan tanpa ampun.

***

Siang menjelang perlahan. Rumah itu terlalu sunyi untuk ukuran tempat tinggal seorang pria seperti Luciano, tak ada suara rapat, tak ada telepon berdering, tak ada langkah tergesa. Semua sengaja ia hentikan demi satu orang.

Alana terbangun lagi menjelang sore. Kali ini kepalanya lebih ringan, tapi hatinya masih berat. Ia menggeser tubuh, berniat turun dari ranjang namun langsung berhenti ketika menyadari pintu kamar terbuka setengah.

Luciano berdiri di sana, bukan untuk menghalangi, hanya berjaga.

“Kamu bahkan nggak benar-benar pergi,” gumam Alana.

Luciano melirik jam tangannya. “Aku pergi sejauh yang kau izinkan.”

Alana menghela napas kesal. Ia turun dari ranjang, berdiri dan sedikit goyah. Luciano refleks melangkah maju.

“Jangan sentuh aku,” Alana memperingatkan.

Luciano berhenti tepat di tempatnya. “Baik.”

Namun matanya tidak berhenti mengawasi. Setiap langkah Alana, setiap tarikan napasnya.

“Aku mau mandi,” kata Alana dingin.

“Kamar mandi sudah dipanaskan,” jawab Luciano cepat. “Airnya tidak dingin.”

Alana menatapnya tajam. “Kamu tahu terlalu banyak.”

Luciano tersenyum tipis. “Karena aku memperhatikan.”

Ia menyingkir, memberi jalan tidak menyentuh. Juga bukan menahan. Tapi keberadaannya tetap terasa seperti bayangan yang tak bisa dilepaskan.

Beberapa waktu kemudian, Alana keluar dengan rambut masih basah. Ia mengenakan sweater tipis. Luciano sudah duduk di sofa kecil, membaca berkas, pura-pura sibuk.

“Kau boleh turun ke taman,” katanya tanpa menoleh. “Udara sore bagus untuk pemulihan.”

“Dengan berapa pengawal?” sindir Alana.

“Cukup untuk membuatku tenang,” jawab Luciano jujur.

Alana tertawa kecil, pahit. “Ketenanganmu selalu dibayar dengan kebebasanku.”

Luciano menutup berkasnya dan berdiri. Kali ini, ia menatap Alana tanpa menyembunyikan apa pun.

“Aku tidak akan berbohong,” katanya tegas namun rendah. “Aku posesif. Aku cemburu. Dan aku akan selalu memilihmu bahkan jika itu berarti kau membenciku.”

Alana menelan ludah. “Itu bukan pengakuan yang sehat.”

“Mungkin tidak,” Luciano mendekat satu langkah. “Tapi itu nyata.”

Ia berhenti, memberi jarak. “Aku tidak akan menyentuhmu tanpa izin. Tidak akan mengurung mu lagi di kamar. Tapi aku juga tidak akan melepaskan kamu pada dunia yang ingin memanfaatkan kamu termasuk keluargamu sendiri.”

Nama itu membuat dada Alana mengeras.

“Jangan bawa mereka ke sini,” katanya dingin.

“Aku justru menjauhkan mereka,” jawab Luciano. “Percayalah.”

Alana menatapnya lama. “Aku nggak tahu mana yang harus ku takuti lebih dulu. Mereka… atau caramu mencintaiku.”

Luciano tersenyum kecil, getir. “Aku akan menerima posisi kedua, kalau itu membuatmu tetap di sini.”

Keheningan jatuh di antara mereka bukan hening yang nyaman, tapi hening yang dijaga agar tidak runtuh.

Alana akhirnya melangkah menuju pintu kamar. “Aku ke taman.”

Luciano memberi isyarat kecil. Dua pengawal segera muncul, mereka menjaga jarak, tidak mendekat.

Saat Alana melewati Luciano, ia berhenti sesaat.

“Luciano,” katanya tanpa menoleh. “Kalau suatu hari aku pergi… jangan hancurkan dunia hanya karena aku.”

Luciano menatap punggungnya. Matanya gelap, suaranya tenang namun berbahaya.

“Aku tidak akan menghancurkan dunia,” ucapnya. “Aku hanya akan mengambilmu kembali.”

Alana mengepalkan tangan, lalu melangkah pergi.

Di kejauhan, matahari mulai turun. Dan tanpa mereka sadari, di luar pagar tinggi itu jebakan sedang disiapkan. Bukan untuk menyerang tubuh. Tapi untuk menguji satu hal paling rapuh yang mereka miliki, kepercayaan.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!