Ketika ada yang telah mengisi hati Amara, datanglah seseorang yang membuatnya kembali ke kisah masa lalu yang ingin di lupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Arafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema
Malam ini aku duduk seorang diri.. Da sebuah bangku taman di belakang rumah?, aku mulai memikirkan kejadian saat aku bertemu Arsaka di kafe... Hal ini sedikit mengganggu pikiranku. Seandainya waktu dulu dia nggak dateng cuma karena papanya yang tiba tiba sakit tentu aku akan memaafkan dengan mudah. Tapi taka taruhan yang di bicarakan tan tannya sungguh sangat menyakitkan. Rasanya ingin aku menanyakan semuanya pada Arsaka. Menuntut jawaban atas semuanya. Semua yang membuatku merasakan sakit hati selama bertahun-tahun. Tapi ada rasa enggan juga. Takut jika nanti kembali merasakan sakit ketika mendengar dia mengatakan semuanya. huft... kok jadi gini... padahal aku udah memulai menjalani hubungan baru sama Adit....
Tring..
Tiba tiba ponsel berbunyi tanda ada pesan yang masuk.
(malam Amara.....) ternyata Adit
( malam juga Dit... lagi merenungi nasib nih... hehe)
(nasib mama yang kamu renungkan? nasibmu yang kenal sama aku? atau nasibmu yang harus suka sama aku? hehe)
( Idih.. kepedean.. ini tentang nasibku yang kamu ganggu saat lagi merenung lagi menatap masa depan)
( jadi aku ganggu nih? sedihnya....)
( cup.. cup jangan nangis.... ntar tambah jelek lho.,. hehe)
( lah... orang lagi sedih malah ngeledek..)
( hahaha.....)
Selalu seperti ini. Saat berbalas pesan pun selalu membuatku tersenyum. Meskipun membahas hal receh nggak penting tapi itu justru yang di tunggu tunggu.
Malam semakin larut, Pun tetap membuatku ku enggan untuk mengakhiri berbalas pesan ini. Tapi karena hawa dingin mulai merasuki tubuh, akhirnya aku masuk ke dalam rumah dan mengakhiri kebersamaan semu dengan Adit. Saat melewati ruang tengah ku lihat suasana rumah sudah sepi mungkin semua sudah istirahat. Jadi aku lanjut masuk kamar dan istirahat.
Tepat saat aku mulai merebahkan diri di kasur, ada pesan masuk lagi. Kiran dari Adit mengucapkan selamat tidur.. eh ternyata...
(Malam Ra... selamat istirahat... semoga esok aku masih punya waktu untuk menjelaskan semua. Dan semoga kamu mau mendengarkan aku walau mungkin terlambat. .. semoga mimpi indah dan ceria selalu.)
Dia lagi... apa mungkin kita harus ketemu ya... biar semua jelas dan nggak jadi beban pikiran lagi? karena jujur aku capek terus menutupi semua ini... sebenarnya males sih... tapi kayaknya emang harus. Biar nanti kalau pun harus terkubur dalam tak lagi berdarah...
( malam... kamu emang harus jelaskan semua... harus jawab semua pertanyaan ku sela ini. mungkin kita harus ketemu) Akhirnya ku balas juga deh pesan dari Arsaka setelah selama ini ku cuekin.
(Alhamdulillah)
(Akhirnya kamu balas Ra. ok.. kapan kita bisa ketemu? aku terserah kamu)
( mungkin lusa sepulang aku kerja.)
( ok aku siap kapanpun itu)
Semoga dengan begini semua jadi terang......
\*\*\*\*\*
Esok harinya, seperti biasa aku bersiap untuk berangkat kerja seperti biasanya. Setelah sarapan aku langsung berangkat bareng ayah .
"Ra... " panggil ayah saat lk berdua sudah duduk si jok depan mobil ayah" kamu mau beli motor baru nggak? "
Aku menoleh ke arah ayah" Mau lah yah.... biar ayah nggak repot repot nganterin tiap pagi. Biar gampang kemana mana juga. Tapi ntar dulu deh... uangnya belum cukup... "
"Ya nggak papa ntar kurangnya biar ayah yang tambahin"
"Beneran yah? " ucapku nggak percaya" aku mau kalo gitu" senangnya dapat motor baru
" maunya..... "
"heheh ayah tau aja"
"Ayah kan emang selalu tau yang kamu mau"
"Iya percaya deh yah.. \*
Kamipun tertawa bersama meramaikan suasana.
" Terus belinya kapan yah?" tanyaku kemudian
" Tadi katanya ntar dulu"
"Ya... kalo ayah mau nambahin kurangnya ya harus secepatnya"
"Pinter emang anak ayah".ayah menggeleng gelengkan kepalanya.
" Nanti ayah kabari lagi"
" Hah... lama nggak nih ? "
" InsyaAllah nggak lama. "
" Ya udah deh... tapi makasih banyak ya yah"
Aku peluk erat tubuh ayah sebelum turun karena memang kami sudah sampai depan butik.
"Udah turun sana... ayah juga harus segera berangkat"
Aku menurut. Mencium punggung tangannya kemudian turun dari mobil.
Bertepatan saat aku mU masuk butik, pemiliknya pun datang dengan mobil mewahnya. Aku sengaja menunggunya untuk sekedar menyapa dan mengucapkan selamat pagi.
Setelah dia turun dan berjalan mendekat., aku tersenyum dan menyapa ramah
"Pagi bu Zahira...... Cantik banget hari ini... "
"Pagi juga... saya memang selalu cantik"
Aku hanya tersenyum dan kami memasuki butik bersama. "Kamu juga cantik.. Cantik alami"
"Ah... ibu bisa aja.... saya jadi melayang ini. ".. akupun tertawa garing
" Serius Ra... "
" Makasih bu pujiannya. "
" Saya tidak sedang memuji tapi mengatakan apa adanya". rapatnya cepat
Aku hanya tersipu malu. Lalu aku pergi menuju ruang kerjaku. Ruangan dimana inspirasi harus selalu berjalan .
"Oh iya Ra .. nanti kita ada ketemu sama Sofia di jam makan siang. Kamu ikut ya....! sama si Nayla juga. " ucapnya membuatku kembali menoleh
" Oh... Hari ini bu.... ok deh. siap... "
" Bagus... "
\*\*\*\*\*\*
Istirahat makan siang tiba. Aku dan mbak Nayla di ajak ke restoran untuk menemui mbak Sofia. Tiba di sana ternyata mbak Sofia sudah menunggu kami. Dia memilih duduk di meja pojok sebelah kiri. Tapi yang membuatku kaget bahwa ternyata dia datang sama Arsaka. Memang nggak bisa ajak yang lain apa? . Aku, bu Zahira dan mbak Nayla menghampiri mereka. Mbak Sofia menyambut kami hangat dan menyapa sopan.
" Kalian datang juga akhirnya. Mari silahkan duduk" kami mengikutinya duduk di tempat yang tersedia.
Aku diam diam sedikit melirik ke arah Arsaka. Rapi hanya seperkian detik tak mau dia memergoki ku sedang menatapnya. Dia masih orang yang sa seperti dulu. Wajah tegas dan tampan. Hanya sekarang terlihat lebih dewasa. Aduh mata ini mulai nakal. Hati ini milai goyah... Ya Allah jaga hatiku agar tidak kembali terjatuh. Fix ini.. Aku harus selesaikan urusanku dengan dia secepatnya biar hati ku aman tanpa dia.
Kamipun berbincang tentang dres yang di ingin kan mbak Sofia. Aku dan mak Nayla mencatat yang sekiranya perlu.
Hanya dres untuk tunangan tapi ini mewah...
Setelah selesai makan siang, kamipun berniat kembali ke butik. Tapi bu Zahira tidak langsung kembali. Sia ada urusan katanya. Jadi aku dan mbak Nayla kembali berdua. Saat kami keluar dari resto, seseorang memanggil.
"Ra.... aku anterin ya" ternyata Arsaka
" Nggak usah. Aku bareng mbak Nayla" tolak ku segera
" Kalo ku mau bareng sia nggak papa Ra. Dari pada bareng aku cuma pake motor" mbak Nayla sepertinya sengaja memberi kami ruang.
" Kamu kan bareng mbak Sofia" aku beralasan tak ingin membuat mbak Nayla berpikir lebih jauh lagi.
" Dai bawa mobil sendiri. " Araaka tetep kekeh
" Terus ngapain kamu disini? "
" Ya nemenin dia. cuma tadi aku dari kanto langsung kesini. Jadi kita datang sendiri sendiri.
"Ya udah deh ayo* akhirnya aku terpaksa setuju
Tak mau berlama lama, kamipun segera pergi. Di sepanjang jalan dia mencoba berbicara mencairkan suasana. Tapi aku hanya menanggapi sekenanya saja. Rasanya ingin cepet cepet sampai butik.
" Besok jadi kan Ra? " tanyanya saat aku hendak turun dari mobil
"Iya jadi" jawabku singkat
"Aku jemput kamu besok"
"Aku mengangguk sambil turun dari mobil
Akhirnya sampai juga Rasanya sesak berdua sama dia di dalam satu mobil... Huh....