"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: KABUT DALAM PIKIRAN
Arunika terbangun dengan sentakan hebat, jantungnya berpacu seolah ia baru saja berlari maraton menembus labirin yang gelap. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Hal pertama yang ia rasakan adalah tekstur sprei sutra yang sangat halus di bawah jemarinya—bukan lantai semen dingin Sektor 7 yang baru saja menghantui pikirannya.
Ia menoleh ke sekeliling dengan napas tersengal. Kamar itu terang benderang. Cahaya matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden, memantul di atas furnitur kayu jati yang dipoles mengkilap. Semuanya tampak normal. Sangat normal hingga terasa menakutkan.
"Kau bermimpi buruk lagi, Sayang?"
Suara itu lembut, begitu tenang hingga membuat Arunika terjingkat. Adrian berdiri di dekat jendela, sedang mengancingkan manset kemeja putihnya. Ia tampak begitu segar, begitu tampan, dan begitu... tidak berbahaya.
Arunika memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. "Sektor 7... Elena... Aku melihatnya, Adrian. Di bawah sana, ada ruangan kaca—"
Adrian berjalan mendekat, duduk di tepi ranjang dengan gerakan yang sangat anggun. Ia meletakkan telapak tangannya yang hangat di dahi Arunika. "Sektor 7? Apa yang kau bicarakan? Kau sudah demam tinggi sejak kemarin sore, Arunika. Kau terus mengigau tentang labirin dan ruangan kaca."
"Tidak," bantah Arunika, suaranya parau. "Kemarin... kemarin adalah hari Selasa. Kita turun ke bawah menggunakan lift barang. Kau memaksaku memakan daging itu. Kau menunjukkanku Elena!"
Adrian menghela napas panjang, tatapannya dipenuhi rasa kasihan yang begitu meyakinkan. Ia mengambil segelas air dari nakas dan menyodorkannya pada Arunika. "Minumlah. Kau mengalami dehidrasi berat. Kemarin bukan hari Selasa, Arunika. Kemarin adalah Senin. Dan kita menghabiskan sepanjang sore di perpustakaan karena kau bilang kau merasa pusing. Sandra bahkan harus memanggil dokter pribadi karena kau jatuh pingsan di lorong."
Arunika menatap gelas air itu dengan ragu. Gaslighting. Kata itu bergema di sudut pikirannya. Apakah Adrian sedang mencoba menghapus ingatannya? Ataukah obat-obatan yang diberikan Adrian benar-benar telah merusak persepsinya tentang kenyataan?
"Panggil Sandra," tuntut Arunika. "Aku ingin bicara dengannya."
"Sandra sedang menyiapkan sarapanmu. Tapi jika itu bisa membuatmu tenang, aku akan memanggilnya," jawab Adrian dengan senyum sabar yang membuat Arunika ingin berteriak.
Beberapa menit kemudian, Sandra masuk. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, persis seperti biasanya. Tidak ada memar, tidak ada tanda-tanda dia baru saja dihukum seperti yang diingat Arunika dalam "mimpinya".
"Nyonya," sapa Sandra sopan.
"Sandra, katakan padaku... apa yang terjadi kemarin sore?" tanya Arunika, matanya menyelidik mencari sedikit saja celah kebohongan.
"Kemarin sore Anda pingsan di koridor lantai dua, Nyonya. Tuan Adrian membawa Anda ke kamar dan Dokter memeriksa Anda. Anda didiagnosis mengalami kelelahan kronis dan stres berat. Anda tertidur hampir empat belas jam," jawab Sandra tanpa keraguan sedikit pun.
Arunika lemas. Dunianya seolah bergeser dari porosnya. Apakah ingatan tentang Sektor 7, Elena, dan daging yang manis itu hanyalah proyeksi dari ketakutannya yang paling dalam? Ataukah Adrian adalah sutradara yang begitu hebat hingga mampu mengatur seluruh isi mansion ini untuk membohonginya?
"Istirahatlah lagi. Aku harus ke kantor, tapi aku akan membatalkan pertemuan malam ini agar bisa menemanimu makan malam," ucap Adrian sambil mengecup kening Arunika. Kecupan itu terasa hangat, namun meninggalkan jejak dingin di hati Arunika.
Setelah Adrian berangkat, Arunika tidak kembali tidur. Ia bangkit dari ranjang, meskipun kakinya masih terasa sedikit goyah. Ia perlu memastikan sesuatu. Jika kemarin ia benar-benar menyelinap ke Sektor Timur dan mengambil cetakan sidik jari Adrian dari lilin, maka bukti itu harusnya masih ada.
Ia meraba ke bawah bantalnya. Kosong.
Ia memeriksa saku jubah mandinya. Kosong.
Ia mencari ke bawah nakas. Tidak ada apa-apa.
"Tidak mungkin..." bisik Arunika.
Rasa frustrasi mulai menguasainya. Ia merasa seperti sedang tenggelam dalam kabut yang sengaja diciptakan Adrian. Jika semua bukti fisik itu hilang, maka ia benar-benar mulai meragukan kewarasannya sendiri. Inilah yang diinginkan Adrian; membuat Arunika tidak percaya pada indranya sendiri, sehingga satu-satunya kebenaran yang ia miliki hanyalah kata-kata Adrian.
Arunika berjalan menuju lemari pakaian. Ia bermaksud mencari sesuatu yang nyata, sesuatu yang bukan berasal dari pikiran paranoidnya. Saat itulah, ia teringat bagian dari Outline Fase 2: Jejak Elena.
Ia tidak boleh mencari di laboratorium yang mungkin saja hanya halusinasi. Ia harus mencari di tempat yang pernah ditempati Elena sebagai "istri".
Ia mulai menggeledah bagian paling belakang lemari pakaian raksasa itu. Adrian telah membuang hampir semua barang Elena, namun sebuah mansion sebesar ini pasti memiliki sudut yang terlewatkan.
Tangannya meraba bagian atas rak sepatu yang sangat tinggi. Jarinya menyentuh sesuatu yang berdebu. Sebuah kotak kayu kecil yang terselip jauh di sudut, tertutup oleh tumpukan tas desainer yang tidak pernah dipakai.
Arunika mengambil kotak itu dan membawanya ke tempat tidur. Dengan tangan gemetar, ia membukanya.
Di dalamnya tidak ada perhiasan mewah. Hanya ada sebuah jepit rambut perak berbentuk kupu-kupu yang sayapnya sedikit patah, dan selembar tiket pertunjukan teater yang sudah usang bertanggal lima tahun yang lalu.
Namun, yang menarik perhatiannya adalah sebuah lipatan kertas kecil yang terjepit di bagian dalam kain beludru kotak itu. Arunika membukanya perlahan.
Itu adalah sobekan halaman dari sebuah majalah mode, tapi di bagian pinggirnya terdapat tulisan tangan yang sangat halus, hampir tidak terbaca:
"Dia menyukai melati, tapi dia benci baunya di pagi hari. Dia bilang melati mengingatkannya pada kematian. Jika kau membaca ini, periksa di balik lukisan di ruang musik. Keindahan hanyalah tirai bagi kebusukan."
Arunika membeku. Tulisan ini... gaya tulisannya berbeda dengan catatan observasi Adrian. Ini terasa lebih emosional, lebih manusiawi.
"Elena," desisnya.
Ini bukan halusinasi. Ini adalah jejak nyata. Elena pernah ada di sini, dan dia meninggalkan pesan. Adrian mungkin bisa memanipulasi Sandra, dia mungkin bisa memberinya obat yang mengacaukan memori jangka pendeknya, tapi dia tidak bisa menghapus jejak kaki yang ditinggalkan Elena di masa lalu.
Arunika menggenggam jepit rambut perak itu kuat-kuat hingga ujungnya menusuk telapak tangannya. Rasa sakit itu terasa nyata. Rasa sakit itu adalah jangkarnya pada kenyataan.
"Aku tidak gila, Adrian," ucap Arunika pada ruangan yang sunyi, menatap langsung ke arah kamera tersembunyi di balik hiasan dinding. "Kau mungkin bisa membuatku meragukan kemarin, tapi kau tidak bisa menghapus hari ini."
Arunika menyembunyikan jepit rambut dan sobekan kertas itu di dalam lipatan kain di bawah kasur, tempat yang ia yakini belum diperiksa oleh para pelayan pagi ini. Ia harus mulai belajar. Jika Adrian menggunakan gaslighting sebagai senjatanya, maka Arunika akan menggunakan "kepatuhan" sebagai perisainya.
Ia akan berpura-pura percaya bahwa Sektor 7 adalah mimpi. Ia akan berpura-pura percaya bahwa ia sedang sakit. Ia akan menjadi istri yang rapuh dan bergantung pada suaminya, sampai Adrian menurunkan kewaspadaannya.
Di luar kamar, ia mendengar suara langkah kaki Sandra yang mendekat. Arunika segera kembali berbaring, menarik selimutnya, dan memejamkan mata. Saat pintu terbuka, ia menampilkan wajah yang tenang, seolah ia adalah air telaga yang tidak beriak.
"Nyonya, sudah waktunya minum vitamin Anda," suara Sandra terdengar.
"Terima kasih, Sandra," jawab Arunika lembut, membuka matanya dan memberikan senyum yang paling tulus yang bisa ia palsukan. "Kau benar. Aku merasa jauh lebih baik sekarang. Mungkin aku memang hanya butuh istirahat."
Sandra terdiam sejenak, menatap Arunika dengan tatapan yang sulit diartikan, sebelum akhirnya mengangguk dan meletakkan vitamin itu di meja.
Permainan baru saja dimulai. Dan kali ini, Arunika tidak akan bermain dengan aturan Adrian. Ia akan mencari tahu apa yang ada di balik lukisan di ruang musik, setapak demi setapak, mengikuti jejak wanita yang pernah dihancurkan oleh pria yang kini memeluknya setiap malam.