Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.
Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.
Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.
Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.
follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6- kerecehan di kantin
Aluna melangkah dengan dagu terangkat, seolah tidak terpengaruh oleh tatapan tajam Arlan yang sejak tadi tidak lepas darinya. Ia menarik kursi tepat di hadapan Arlan, hanya terpisah jarak dua meter.
"Al, lo serius? Kita beneran duduk di sini?" bisik Belva sanggup membuat Aluna hampir memutar bola matanya.
"Gue laper, Bel. Meja ini kosong, jadi nggak ada alasan buat nggak duduk di sini," sahut Aluna cukup keras agar Arlan mendengarnya.
"Yaudah, terserah lo Al.Gua juga laper sih, " celetuk Belva.
Arlan tidak bergeming. Ia masih fokus pada berkas di tangannya, meski Barra sudah berkali-kali menyenggol lengannya. Arlan hanya melirik sekilas, lalu kembali menandatangani berkasnya dengan pena yang ditekan kuat.
"Ses, itu siomay terakhir punya gue!" seru Darrel tiba-tiba saat melihat garpu Sesya meluncur bebas ke piringnya.
Sesya dengan muka polos tanpa dosa langsung mengunyah siomay itu. "Pelit banget lo, Dar. Gue tadi belum dapet jatah gara-gara antreannya panjang banget. Anggap aja pajak meja!"
"Enggak bisa gitu! Gue udah nungguin siomay itu dari tadi!" Darrel yang biasanya kalem mulai berdiri, mukanya merah padam.
Di sebelah mereka, Barra yang lagi asyik makan mi ayam tiba-tiba tersedak karena Belva tanpa sengaja menyenggol lengannya saat mau ambil sambal. "Woi, Bel! Pelan-pelan napa! Mi gue hampir masuk ke hidung nih!"
"Ya elah, Bar, gitu doang sensi. Nih, minta dikit kerupuk lo," ucap Belva santai sambil main comot kerupuk di mangkuk Barra.
"Eh, enak aja! Ini kerupuk terakhir, Belva! Beli sendiri sana!" Barra menarik mangkuknya menjauh, tapi Belva malah menarik balik.
"Dikit doang, Barra! Pelit amat sih jadi orang, pantesan jomblo!"
"Apa hubungannya sama jomblo?! Lo tuh yang nggak punya urat malu, asal nyamber makanan orang!" bentak Barra, suaranya mulai meninggi.
Aluna yang tadinya cuma mau makan tenang, akhirnya hilang kesabaran melihat teman-temannya ribut soal makanan di depan matanya. Dia membanting sumpitnya ke meja.
BRAK!
"Bisa diem nggak sih?! Berisik tahu nggak, cuma gara-gara siomay sama kerupuk doang ributnya kayak mau perang dunia!" teriak Aluna.
Arlan yang sejak tadi diam, akhirnya menutup map berkasnya dengan kasar. "Aluna, lo bisa nggak kalau ngomong volumenya dikecilin? Ini kantin, bukan lapangan upacara."
Aluna makin panas. Dia berdiri, menumpu kedua tangannya di meja supaya bisa menatap Arlan lebih dekat. "Lo juga, Lan! Kenapa sih muka lo harus ditekuk mulu kayak gitu? Gue liatnya aja udah pengen darah tinggi!"
Arlan mengernyitkan alis, heran. "Muka-muka gue, kenapa lo yang sewot?"
"Ya sewotlah! Aura lo itu ngerusak selera makan gue! Lo duduk di sini sambil pegang berkas, natap orang kayak mau masukin mereka ke penjara. Bikin udara di sini jadi sumpek!" balas Aluna nggak mau kalah.
Barra, Belva, Darrel, dan Sesya yang tadi ribut soal makanan, mendadak berhenti. Mereka nontonin adu mulut dua pilar sekolah ini dengan mata melotot.
"Misi, ini mau nganter makanan non Aluna, Belva, Sesya" ucap seorang wanita setengah paruh baya. Wanita itu adalah mpok Siti pemilik kantin sekolah. Sebelum mereka bertiga duduk, mereka sudah lebih dahulu memesan makanan.
Mpok Siti meletakkan tiga mangkuk bakso dan es jeruk di tengah meja dengan wajah bingung. Atmosfer panas antara Arlan dan Aluna membuat wanita paruh baya itu buru-buru merapikan nampannya.
"Ini ya pesanannya, Neng Aluna. Duh, makan yang kenyang ya, biar nggak darah tinggi terus," celetuk Mpok Siti sambil nyengir, lalu segera ngacir sebelum kena semprot kemarahan Aluna.
Aluna baru saja mau membuka mulut untuk membalas Mpok Siti, tapi fokusnya teralihkan saat melihat Belva dengan santainya malah mencelupkan kerupuk hasil jarahannya tadi ke mangkuk bakso yang baru saja ditaruh.
"Duh, baksonya wangii banget! Emang paling bener dimakan pake kerupuk orang pelit," celetuk Belva sambil mengunyah keras-keras tepat di depan muka Barra.
Barra hampir saja meledak. "Heh, Belva! Itu kerupuk gue yang lo celupin ke kuah bakso lo! Sekarang kerupuk gue bau tetelan, tahu nggak?!"
"Lah, bukannya malah enak? Jadi ada rasa kaldunya. Sini, Rel, mau coba nggak? Kerupuk rasa emosi Barra," tawar Belva ke arah Darrel yang masih meratapi es jeruknya.
Darrel menggeleng frustrasi. "Gue cuma mau siomay gue balik, Sesya! Itu siomay favorite gua, bukan siomay biasa yang lo bisa beli seribuan di luar!"
Sesya yang baru saja menelan gigitan terakhirnya hanya menjilat bibirnya dengan santai. "Telat, Dar. Udah nyampe lambung. Lagian, lo kelamaan mandangin doang sih, ya gue pikir lo lagi nungguin siomay itu buat dikasih ke gue sebagai bentuk permintaan maaf karena udah duduk di depan kita."
"Minta maaf buat apa?! Kita yang duduk duluan di sini!" bentak Darrel, suaranya naik satu oktav.
"Tapi aura kalian itu bikin bakso gue berasa kayak makan batu tahu nggak!" sahut Sesya sambil memukul meja dengan sendoknya.
"Woi, Dar! Sikat aja es jeruknya dia! Impas!" Barra memberi kompor yang langsung membuat Darrel tergiur.
"Eh, jangan berani-berani ya!" Sesya langsung memeluk gelas es jeruknya erat-erat seperti memeluk harta karun. "Satu tetes tumpah, gue laporin lo ke kepsek atas tuduhan perampasan hak asasi minuman!"
Pertengkaran itu menarik perhatian siswa dan siswi lain yang berada di lingkungan kantin, mata mereka tidak lepas dari gravitasi yang membuat kerecehan. Termasuk Lyra yang saat ini sedang memantau mereka.
Aluna merasa frustasi, dia pun bangkit dari duduknya dan beranjak pergi dari kantin.
"Eh..., Al lo mau kemana, tungguin? " kata Belva dan Sesya bersamaan.
Namun saat Aluna melangkah ingin keluar dari kantin,karena cemburu dan kesal kaki Lyra sengaja menghalangi jalan dan membuat Aluna hampir terjatuh ke lantai. Melihat itu Arlan reflek bangkit dari duduknya dan menahan Aluna agar tidak terjatuh ke lantai, hingga tanpa sengaja mata mereka saling bertemu satu sama lain.
Hening.
Riuh rendah kantin yang tadi penuh suara rebutan siomay dan kerupuk mendadak senyap. Semua pasang mata tertuju pada satu titik tangan Arlan yang mencengkeram erat lengan Aluna, dan wajah mereka yang jaraknya hanya beberapa sentimeter.
Aluna bisa merasakan deru napas Arlan yang sedikit memburu. Wangi parfum maskulin Arlan yang bercampur aroma kopi samar karena dia memang sering menghabiskan waktu di cafe, menusuk indra penciuman Aluna. Untuk pertama kalinya, Aluna melihat mata elang itu tidak sedingin biasanya. Ada sedikit gurat khawatir yang Arlan coba sembunyikan rapat-rapat.
"S-sorry Al, tadi kaki gua pegel" kata Lyra berbohong.
Aluna tersentak. Kesadarannya kembali seperti disambar petir. Ia segera menarik tangannya kasar dan berdiri tegak, merapikan seragamnya yang sedikit kusut.
"Iya kak, ga kenapa-napa kok" ucap Aluna mencoba tersenyum.
"Sekali lagi gua minta maaf ya Al"
"Santai aja, Kak," jawab Aluna singkat. Ia berusaha menormalkan detak jantungnya yang berpacu dua kali lipat lebih cepat. Ia tidak sudi mengakui kalau sentuhan singkat Arlan tadi sukses membuat sarafnya korslet.