Rembulan Senja adalah anak yatim-piatu di sebuah panti di kota pesisir pantai. Hidupnya selalu diliputi kemalangan. Suatu hari, dirinya melihat mobil mewah terbalik dan mengeluarkan api, milik orang kaya dari kota.
Dibalik kaca, dia mengintip, tiga orang terjebak di dalamnya. Tanpa keraguan, tangan mungilnya membuka pintu yang tak bisa dibuka dari dalam. Akhirnya terbuka, salah satunya merangkak keluar dan menolong yang lainnya. Kedua orang kaya itu ternyata pemilik panti dimana dia tinggal. Lantas, dirinya dibawa ke kota, diadopsi dan disematkan nama marga keluarga angkat. Tumbuh bersama anggota keluarga, jatuh cinta dan menikah dengan salah satu pewaris. Malangnya, ada yang tak menyukai kehadirannya dan berusaha melenyapkannya!
Tiga tahun menghilang, kemudian muncul dan menuntut balas atas 'kematiannya'. Bangkit dan berjaya. Harus memilih antara cinta dan cita. Yang manakah pemenangnya!? Siapa jodoh yang diberikan Tuhan padanya? Akankah dia menjemput kebahagiaannya!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Kultivasi.
"Pink! Violet!"
"Mengapa kalian menatapku tajam. Apa ... ada sesuatu di wajahku!!? Jangan bilang kalian balik nge-prank aku!" tanya Rembulan deg-degan sambil meraba pipinya.
"Ohh ehhh master. Tidak nge-prank! Mana berani. Ehh nganu ... perawakan anda tampak berubah!" ucap salah satunya.
"Hahhh, berubah bagaimana!?" ucap Rembulan cemas tanpa menghentikan rabaan di wajahnya.
"Waduh! Apa wajahku berubah menjadi badut!?" seru Rembulan panik.
"Cihhh! Mana, kaca? Mana, kacaaa!?" kepanikannya semakin menjadi-jadi.
Yap! Wajahnya tidak boleh rusak sebab saat ini, dirinya ada dalam misi balas dendam. Apa kata dunia, bila penampilannya berantakan. Bisa-bisa, mereka yang meremehkannya, semakin menghina.
Tidak boleh terjadi!
"Koin boleh emas, masak tak ada cermin emas!?" gerutu Rembulan sambil kepalanya celingak-celinguk mencari benda berbentuk cermin atau sejenisnya yang dapat memantulkan bayangan. Namun tak menemukan.
Keduanya bisa membaca pikiran sang master dan saling pandang. Lalu tiba-tiba ...
Greppp!
"Tidaakkk!!!"
Tringgg!
Kedua kakak-adik itu kembali mengudara di atas permukaan air dan segera menjatuhkan tubuh gadis itu. Rupanya, ketiganya berteleportasi ke luar ruangan, ke tengah kolam yang sangat luas. Di sisi kiri terdapat batu pualam.
Rembulan terhenyak kaget begitu keduanya menghempaskan dirinya dari ketinggian. Dia menjerit histeris, teringat beberapa waktu lalu, dirinya melayang di udara, kemudian tubuhnya menukik tajam ke dasar jurang. Walaupun saat ini, luka di sekujur tubuhnya sudah menghilang namun sensasi sakitnya ketika tubuh itu menghujam ke bumi, masih terasa dan sulit di lupakan.
Byurrrr!!!
Dirinya tercebur ke dasar air dan megap-megap dirasa tenggelam. Sesaat disadari, kakinya menemukan dasar kolam secepat itu.
"Loh! Cuma semeter kedalamannya!" ucapnya kaget begitu berdiri dan mendapati air setinggi perutnya.
"Sial! Gue dikadalin! Dasar abang-adek semprul. Kampret! Ternyata kolamnya dangkal. Tidak kira-kira menceburkan orang seenaknya. Dasar jin tomang!" umpatnya bersungut-sungut.
Keduanya cekikikan di atas air karena berhasil mengerjai tuannya yang super bawel. Rembulan meraup air dan coba menciprat keduanya dengan air ke arah langit dimana kedua makhluk astral jahil berada tapi kalah gesit. Karena kadung kesal, dia menenggelamkan dirinya ke dalam air. Begitu muncul ke permukaan, dirinya terkejut. Dia dapat melihat sosoknya di atas cermin air di di bawah kakinya. Kolamnya sangat luas, seperti danau maka kita namakan Danau. Kedalamannya itu dangkal dan airnya sangatlah super jernih hingga bisa memantulkan obyek di permukaan seperti cermin.
Sumber mata air berasal dari air terjun dimana airnya keluar dari sela awan, sangat tinggi dan luas. Menurut Pink, di dunia dimensi hanya ada satu musim yaitu musim hangat (nah loh pada bingung, namanya juga fiksi he he). Betapa indahnya keagungan Tuhan atas penciptaanNya. Ternyata benar dikatakan mereka berdua.
Dirinya berubah!
"Masya Allah! Ini akuuuhhh!" teriaknya histeris sambil menolehkan pipi kanan-kiri.
Seingatnya dulu, wajahnya tirus dan cekung, muka penuh jerawat dan meradang, kering serta bersisik, bodi tinggal tulang berbalut kulit dan sedikit bungkuk. Rambutnya kering dan pecah-pecah di ujung. Begitu pun dengan bibirnya. Dengan tinggi 171 cm, bobotnya hanya 45 kilogram.
Rumus berat badan ideal adalah tinggi badan dikurangi 110 kg. Jadi beratnya harusnya 171- 110 jadi 61 kilogram!
Dia yang terlihat saat ini di cermin adalah dirinya dengan berat ideal sehingga antara tinggi dan bobot sangat proposional (seimbang). Wajahnya mulus, seputih pualam dan segar. Kulit badan, dada serta bokong pun kenyal karena berisi. Lengannya berotot dan badannya tegak. Terdapat tonjolan di setiap beberapa area tubuhnya, begitu pas dan serasi.
"Ii ... ini aku!?" tanyanya takjub sambil memutari penampilan barunya di cermin air, seakan tak percaya akan penampilan barunya.
Dia cukup puas dengan perubahan dratis di seputar tubuhnya.
"Ada hikmahnya juga jatuh dari ketinggian. Pada akhirnya bertemu keajaiban. Tapi tetap saja, itu adalah kejahatan. Tak ada toleransi dan kata maaf!" ucapnya geram.
Dirinya begitu takjub karena danau tersebut begitu bening seperti kaca, dasarnya terlihat jelas, hijau muda. Danau tersebut merupakan kolam batu Jade. Dan secara menyeluruh, setiap lantai berwarna-warni hingga ke ujung, sejauh mata memandang!
"Ini adalah Danau Pemulihan. Membuat badan fit dan meningkatkan stamina serta meregenerasi sel sehingga tubuh tidak menua. Semua luka luar dan luka dalam, bisa pulih seutuhnya dengan berendam di sini.
"Membuat awet muda!" ucap Violet.
"Wow, amazing!" ucap Rembulan sambil menangkup air dan menciumnya
"Tercium aroma cuan! Bisalah kalau dibuat komersil. Aku akan menjual skincare. Resepnya ramuannya ada di ruang herbal. Dicampur air danau pasti khasiatnya semakin gaspol!"
Pink dan Violet yang mendengar batin sang master hanya bisa mengelus dada. Ya, nasib. Memiliki master yang mata duitan.
"Dek bro! Siap-siap tenaga ekstra. Sepertinya kita akan kerja keras sepanjang hidup kita!" cetus Pink.
"Iya, mas bro! Yah, sampai maut memisahkan kita dengan sang master itulah hubungan kita!" lenguh Violet.
"Master!"
"Di balik air terjun itu ada goa untuk berkultivasi. Mari kami tunjukan!" ujar mereka sambil menunjuk lokasi goa.
Rembulan naik menuju ubin tangga yang terbuat dari batu jade hijau menuju mulut goa. Dia terkejut saat tiba di tempat kering, tiba-tiba bajunya berganti dengan yang baru. Dirinya memasuki 'perut' goa dan suhu menghangat.
"Wowww!"
"Amazing sekali dalam goa ini. Di tengahnya terdapat aula cukup besar dan pencahayaan berasal dari batu permata yang berkilau yang tidak pernah dia kenal dari buku yang pernah dia baca. Dan batu tersebut merupakan sumber cahaya itu sendiri!"
Dirinya sangat pusing menerima kejutan demi kejutan dari Ruang Dimensi ini. Saking pusingnya, jadi mumet dan terima saja.
"Tak usah banyak bertanya. Daripada mumet sendiri. Kapan lagi bisa seberuntung begini!"
Rembulan pun langsung memulai kultivasi tenaga dalam. Pink dan Violet mengajarkan ilmu beladiri. Saran keduanya, Rembulan harus memiliki ilmu kanuragan agar bisa melindungi dirinya sendiri sebab keduanya merupakan roh halus yang tidak bisa melawan manusia kecuali berubah wujud, namun perubahan tersebut akan memakan energi cukup besar, walhasil, mereka akan mudah lelah. Tetapi mereka bisa mentransfer ilmu dan kekuatan supranatural kepada penguasa dunia dimensi yang berdiam di alam ini.
Menit demi menit, jam demi jam dan hari demi hari berlalu, 36 hari waktu bumi, berarti Rembulan telah berada 36 bulan di dunia dimensi.
Selain telah terisi tenaga dalam, Rembulan menguasai ilmu meringankan tubuh. Dia berlatih giat di bawah bimbingan keduanya.
Keahlian yang dia dapat antara lain kemampuan tangan kosong, mengeluarkan tenaga dalam, memakai senjata tajam, memanah serta menunggang kuda. Keduanya pun kaget mengetahui sang Master mampu menyerap ilmu serta mengimbangi kanuragan mereka dalam waktu singkat.
Umumnya berpuluh-puluh tahun baru menguasai. Beruntung, dirinya bisa cepat menguasai. Mereka pun akhirnya menyadari bahwa cahaya yang pernah menghantam tubuh tuannya dan meledak di dalam tubuh, telah membuka urat meridian sang penguasa sehingga kemampuan berfikir dan beraktivitas, sangat cepat, di atas rata-rata manusia biasa.
Kini, dirinya telah siap baik jiwa maupun raganya. Menjadi orang baru, menjadi pribadi yang kuat.
Tiada rasa galau, tiada rasa takut!
Menyala masterku!