Dia amanah yang harus dijaga, sekaligus godaan neraka!.
12 tahun yang lalu sebuah insiden kecelakaan yang merenggut nyawa sepasang suami istri , namun sebelum kepergian nya presiden direktur menitipkan putrinya sekaligus semua harta warisan untuk nya pada Hans yang berstatus sebagai asisten pribadi .
Sebagai balas budi Hans menerima tanggungjawab itu mengingat jasa Pak Bobby yang sudah membesarkan dan menyekolahkan nya hingga bisa seperti sekarang.
" Iya Pak, Saya akan menjaga dan Melindungi Ayra seperti bapak menjaga nya " ucap Hans ketika Pak Bobby menggenggam tangan nya dengan nafas tersengal.
" Sa, sayangi , dia , " pesan terakhirnya presiden direktur mengelus kepala putri kecilnya yang sudah menangis sesenggukan memeluk nya sementara sang ibu sudah pergi lebih dulu .
" Papa" teriak Ayra ketika Papa nya juga pergi meninggalkan nya .
" Tenang kamu masih punya Om " ucap Hans memeluk gadis kecil itu.
Tapi bagaimana jika gairah Hans muncul disaat gadis itu menginjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mul_yaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 Berjanji selalu percaya pada Om
" Ayra keluar dari kamar Om " perintah Hans sampai mengusir gadis nakal itu agar tidak berkeinginan untuk menjamah nya .
" Nggak , Aku nggak bakal pergi sebelum Om maafin aku " pernyataan Ayra dengan begitu keras kepala semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Hans .
" Astaga , Ayra lepaskan" ucap Hans bahkan laptop di pangkuan nya sudah jatuh keatas kasur .
" Mmmmh, maafin dulu Om " rengek Ayra benar-benar tidak mau melepaskan pelukan nya.
" Iya, iya , Om maafin kamu " pernyataan Hans yang merasa tidak nyaman dalam posisi seperti ini
" Mmmmh, baiklah terimakasih Om '' senang Ayra dengan mata berbinar ceria menatap Hans .
" Sekarang pergi mandi dan tutup kembali pintu kamar Om " ucap Hans menatap pintu kamarnya yang masih terbuka sementara beberapa bodyguard terus menatap kedalam .
" Baiklah, nanti kalau aku udah selesai mandi kesini lagi , tunggu ya Om " kata Ayra yang sama sekali tidak dijawab Hans .
Setelah kepergian Ayra Hans menoleh kebawah selimut sambil bernafas kasar " godaan neraka" pernyataan Hans menghembuskan nafas nya dengan berat .
" Kapan gadis nakal itu sadar " ucap Hans meremas sprei dengan tangannya sambil memejamkan mata .
" Tidak" Hans bergegas masuk kekamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin dari shower .
" Tidak ,aku tidak bisa membiarkan ini terus terjadi , aku harus menaklukkan Ayra " batin Hans yang perlahan mulai kesulitan menahan hasrat nya .
" Ayra , kamu milikku sayang, tubuhmu milikku " ucap Hans
............
1 jam kemudian.
" Om, Om , aku masuk ya " panggil Ayra setelah mengetuk beberapa saat pintu kamar Hans .
" Apa lagi sudah waktunya tidur " ucap Hans yang berdiri diambang pintu kamar begitu Ayra akan masuk .
" Belum Om masih jam 9, ini aku bawain Om kopi " kata Ayra memberikan segelas kopi yang dibawanya .
Hans menerima segelas kopi yang Ayra bawakan lalu meniup beberapa saat dan meminumnya langsung didepan Ayra .
" Nggak minum didalam aja Om ?" tanya Ayra menatap Hans yang minum kopi tapi masih berdiri diambang pintu .
" Mmmh, tidurlah " ucap Hans akan kembali menutup pintu kamar nya tapi Ayra malah ikutan masuk
" Mengapa masuk?" pertanyaan Hans yang belum jadi menutup pintu kamar nya .
" Wahhh, Om masih kerja ya" kata Ayra melihat banyak berkas dan laptop ada di atas ranjang Hans .
" Ayra keluarlah " ucap Hans menutup pintu kamar dan menatap Ayra yang duduk ditepi ranjang.
" Om kok ngusir aku sih " suara kecil Ayra padahal dia ingin main sekaligus belajar pada Hans .
" Katanya Om udah maafin aku " ucap Ayra memegang sebelah tangan Hans yang berdiri dihadapan nya .
" Om udah maafin kamu, sekarang kamu bisa tidur dengan tenang " ucap Hans yang tau kalau Ayra tidak akan bisa tidur dengan tenang sebelum Hans memaafkan nya .
" Katanya Om udah maafin aku tapi masih cuek gitu " pernyataan Ayra menatap Hans yang sepertinya baru selesai mandi .
" Kalau Om terlalu cuek , kamu bisa cari dan menemukan orang yang lebih hangat dari Om , kamu udah dewasa kan jadi Om putuskan untuk mengembalikan se," Ayra langsung menutup mulut Hans .
" Om kok bilang gitu sih ?" pertanyaan Ayra dengan sedih .
" Bukankah kamu sudah meragukan Om, jika memang kamu merasa perjodohan yang dibilang pria itu ada dan Om berbohong kenapa tidak sekalian saja kamu ambil semua harta warisan kamu nanti Om ambil semua lagi" ucap Hans dengan sengaja berkata begitu .
" Aku percaya sama Om dan tidak pernah meragukan Om soal apapun , aku tadi hanya bertanya soal pria itu tapi Om saja yang langsung tersinggung" ucap Ayra menatap Hans yang kini duduk disampingnya.
" Ya gimana nggak tersinggung, kamu menanyakan itu seolah-olah Om berbohong bahkan hanya dengan beberapa kata saja kamu semudah itu terpengaruh " kata Hans yang benar-benar berusaha untuk membuat Ayra percaya sepenuhnya.
" Om cuma kecewa aja sama Ayra yang sedari kecil Om gendong bahkan Om besarkan bisa meragukan Om dalam beberapa saat , bisa jadi aja besok-besok kalau ada orang yang mengatakan hal buruk soal Om kamu akan percaya dengan mudah " sambung Hans .
" Enggak, enggak, aku nggak bakalan begitu Om " kata Ayra yang sangat percaya Hans sejak kecil bahkan menganggap Hans adalah sosok paling sempurna.
" Aku percaya sama Om " pernyataan Ayra tanpa pikir panjang .
" Yaudah mulai hari ini berjanji pada Om bahwa kamu tidak akan percaya dengan mudah pada orang lain dan terpengaruh " kata Hans mengangkat kelingking nya meminta Ayra berjanji .
" Iya, aku janji bakalan patuh dan percaya pada Om , enggak bakal percaya sama orang-orang yang berniat jahat memisahkan kita " kata Ayra yang setelah dewasa baru sadar ternyata banyak pihak memang tidak menyukai mereka bersama .
" Aku cuma bakalan percaya pada Om " Ayra menautkan kelingking mereka dan memeluk Hans .
" Itu bagus " ucap Hans membalas pelukan Ayra dan diam-diam mengecup pucuk kepala Ayra dengan senyum lebar nya .
" Aku tau bahwa salah membohongi nya dan membuat dia terlalu percaya padaku , tapi bagaimanapun itu Ayra adalah milikku " batin Hans yang akan melakukan apapun demi memiliki Ayra .
" Hanya milikku saja " Hans mengelus-elus kepala Ayra dan menatapnya dengan tatapan teduh , Obsesi membuat Hans merasa kalau Ayra adalah milik nya yang tidak akan pernah bisa disentuh orang lain .
" Om habis mandi juga ya?" tanya Ayra melonggarkan pelukannya dan melihat rambut Hans yang masih basah .
" Iya , tolong keringkan rambut Om cepat " perintah Hans yang dengan cepat Ayra berlari keruang ganti mengambil hair dryer.
" Suatu hari nanti kamu juga akan mengeringkan rambut ku setelah mandi seusai percintaan kita Ayra " senyum tipis Hans yang duduk ditepi ranjang membayangkan hal itu .
yg dijodohkan dgn Ayra dah nongol, gmn tuh tindakan Hans selanjutnya ya
Ayra gak sengaja dengerin gak ya saat Hans ngomong mencintainya, mungkin dengerin dan sikapnya berubah 🤔