NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:22
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesepuluh

Malam itu, keduanya tertidur lelap setelah Anya puas mengolok-olok Arga dengan pertanyaan-pertanyaan kejam yang membuatnya menangis hingga kelelahan.

Setelah puas menyiksa Arga, mereka pun tertidur. Anya dengan nyenyak di kasur empuk, sementara Arga terlelap di sofa yang keras.

Anya memang sengaja menyuruh Arga tidur di sofa karena ia tidak sudi berbagi ranjang dengannya.

Pagi itu, Anya terbangun dengan perasaan yang sedikit lebih ringan, mengetahui bahwa hari ini ia akan meninggalkan tempat ini. Namun, kelegaan itu sirna seketika saat ia melihat Arga terduduk dengan wajah yang sangat murung, membuat paginya terasa suram dan menjengkelkan.

"Kenapa aku harus melihat wajah menyebalkan bocah idiot itu di pagi hari?! Benar-benar merusak suasana!" gerutu Anya dalam hati dengan nada kesal.

Melihat Anya sudah bangun, Arga menatapnya dengan tatapan memelas dan suara lirih. "Anya... Arga ingin pulang... Arga rindu Ayah..." rengek Arga sambil perlahan mendekat ke arah tempat tidur Anya.

Anya secara refleks menjauhkan diri, merasa jijik dan tidak nyaman dengan tingkah Arga yang manja dan kekanak-kanakan di pagi hari.

"Berhenti di situ, Arga! Jangan mendekat!" seru Anya dengan nada tegas, memperingatkan Arga untuk tidak mendekat.

Arga menurut dan hanya duduk di tepi tempat tidur dengan tatapan sedih. "Anya, ayo kita pulang sekarang... Arga sudah sangat merindukan Ayah..."

"Lebih baik kau mandi dulu sana! Jangan kebanyakan menangis, nanti Ayahmu mengira aku yang telah melakukan sesuatu yang buruk padamu!" balas Anya dengan nada ketus dan sinis.

Arga menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang ketakutan. "Arga... Arga takut mandi sendirian... Tempat ini asing bagi Arga..." ucapnya dengan suara lirih dan gemetar.

Saat itu juga, Anya merasakan amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun. Ia ingin sekali meraih Arga dan melemparkannya keluar jendela. "Jangan jadi anak penakut! Kalau kau terus seperti ini, hantu-hantu di kamar mandi itu malah akan menyukaimu, Arga!" ucap Anya dengan nada sinis dan kejam, bukannya menenangkan, ia justru semakin menakut-nakuti Arga.

"Huaaaa! Arga takut! Arga tidak mau mandi sendirian! Arga mau Ayah! Huaaaa!" teriak Arga histeris sambil menangis meraung-raung dan memukuli kasur dengan membabi buta.

Melihat Arga yang histeris, Anya merasa seperti mengalami postpartum depression atau baby blues. Menghadapi Arga yang begitu kekanakan dan tidak berdaya benar-benar menguji batas kesabarannya.

"Terserah kamu, Arga! Aku mau mandi sekarang! Kalau kau terus menangis seperti itu, akan kutinggalkan kau di sini sendirian dan tidak akan pernah kembali!" ucap Anya dengan nada membentak, melampiaskan seluruh kekesalannya. Kemudian, ia bergegas bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Arga yang menangis tersedu-sedu di kamarnya.

"Anya jahat! Anya tidak menyayangi Arga! Nanti Arga adukan semua ini pada Ayah!" teriak Arga dengan suara yang bergetar karena tangisnya.

Anya yang sudah berada di dalam kamar mandi masih dapat mendengar teriakan Arga yang memilukan. "Bodo amat! Dasar bocah idiot tukang mengadu!" balas Anya dengan nada sinis dan suara yang sengaja dikeraskan agar Arga dapat mendengarnya dengan jelas.

Anya mencoba mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang sedingin es, berharap dapat membekukan dan mematikan semua emosi yang bergejolak di dalam dirinya. Namun, sia-sia belaka. Semakin keras ia mencoba, semakin jelas pula bayangan wajah Arga yang penuh dengan air mata dan ketakutan menghantuinya.

"Apakah... apakah aku sudah bertindak terlalu kejam padanya?" bisik Anya pada dirinya sendiri dengan nada ragu dan penuh keraguan.

"Tidak! Aku tidak boleh membiarkan diriku merasa kasihan terhadap bocah itu! Memang benar, ia tidak bersalah atas pernikahan sialan ini, tapi tetap saja, kehadirannya sangat mengganggu dan selalu berhasil membuatku merasa kesal dan marah!" bantah Anya dalam hati dengan nada keras dan tegas, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak bersalah.

Anya keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terbalut erat di tubuhnya, berusaha menutupi rasa tidak nyamannya. Ia melihat Arga masih terduduk lemas di tepi tempat tidur dengan mata sembab dan wajah yang menyiratkan kesedihan mendalam.

"Ck, masih saja menangis seperti anak kecil," decak Anya dalam hati dengan nada kesal, namun jauh di lubuk hatinya, ia merasa bersalah dan kasihan pada Arga.

"Arga, sudahlah, berhenti menangis! Kita harus segera bersiap-siap untuk pulang," ucap Anya dengan nada yang sedikit melembut, namun tetap terdengar dingin dan tidak bersahabat.

Arga mengangkat wajahnya dan menatap Anya dengan tatapan penuh harap. "Anya... Anya janji ya, Anya tidak akan pernah meninggalkan Arga sendirian di sini?" tanya Arga dengan suara lirih dan bergetar.

"Cepat mandi sana! Jangan banyak bertanya! Kalau kau tidak mau mandi sekarang juga, akan kutinggalkan kau di hotel ini sendirian dan kau akan menyesalinya!" ancam Anya dengan nada sinis, yang berhasil membuat Arga bergegas bangkit dan berlari menuju kamar mandi dengan perasaan takut dan cemas.

Anya mulai bersiap-siap untuk pergi dengan memoles wajahnya dengan make-up dan menata rambut hitamnya yang panjang menjadi ikal yang indah. Ia mengenakan gaun merah selutut yang elegan dan menawan.

Namun, belum sempat ia menyelesaikan riasannya, tiba-tiba terdengar teriakan histeris dari dalam kamar mandi yang membuatnya terkejut.

"Anya! Tolong Arga! Anya, tolong!" teriak Arga dengan suara yang bergetar karena ketakutan dari dalam kamar mandi.

Anya sontak menjadi kesal dan jengkel. "Ya Tuhan, apa lagi sih yang terjadi dengan bocah itu?!" seru Anya dengan nada tinggi.

"Tolongin Arga! Tolong Arga, Anya! Arga mohon!" Arga terus menjerit-jerit dengan histeris sambil menangis tersedu-sedu.

Dengan perasaan terpaksa dan sedikit rasa khawatir, Anya akhirnya memberanikan diri untuk membuka pintu kamar mandi.

Pemandangan pertama yang menyambutnya adalah sosok Arga yang berdiri telanjang bulat tanpa mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya.

Anya terkejut dan membeku di tempatnya, tidak dapat berkata apa-apa. Sementara itu, Arga tampak sangat ketakutan dan panik.

"Anya, tolong! Arga takut! Hiks... hiks..." rengek Arga dengan nada memelas, membuat Anya tersadar dari keterkejutannya dan segera menutup kedua matanya dengan rapat.

"Sebenarnya apa yang terjadi di dalam sana, Arga?! Cepat katakan padaku!" seru Anya dengan nada kesal.

"Itu... itu keran airnya rusak! Airnya muncrat ke mana-mana dan Arga nggak bisa matiin!" jawab Arga dengan suara yang bergetar.

Anya membuka sedikit matanya dan melihat ke arah yang ditunjuk Arga. Benar saja, keran air di bathtub itu terlihat rusak dan air menyembur keluar dengan deras, membasahi seluruh kamar mandi.

Anya menghela napas panjang. "Ya Tuhan, Arga... Kenapa kamu nggak bilang dari tadi kalau cuma itu masalahnya?" ucap Anya dengan nada yang frustrasi.

Anya membuka lebar matanya dan berjalan mendekat ke arah Arga. Dengan sigap, ia mencoba mematikan keran air yang rusak itu. Namun, karena tekanan air yang terlalu kuat, Anya kesulitan untuk memutar keran tersebut.

"Arga bantu ya, Anya," ucap Arga sambil mendekat ke arah Anya.

"Nggak usah! Kamu di situ aja! Aku bisa sendiri!" tolak Anya dengan cepat. Ia tidak mau Arga mendekat padanya dalam keadaan seperti itu.

Anya terus berusaha memutar keran air itu dengan sekuat tenaga. Akhirnya, setelah beberapa saat, ia berhasil mematikan keran tersebut.

Anya menghela napas lega. Ia menoleh ke arah Arga dan melihat Arga masih berdiri di tempatnya dengan tatapan yang polos.

"Lain kali kalau ada masalah, bilang aja. Nggak usah teriak-teriak kayak orang kesurupan gitu," ucap Anya dengan nada yang sedikit lebih lembut.

Arga mengangguk. "Iya, Anya. Maaf," ucap Arga dengan nada yang menyesal.

Anya menghela napas lagi. Ia merasa lelah dengan semua ini. "Udah, sana kamu pakai baju. Kita harus segera pergi dari sini," ucap Anya sambil berjalan keluar dari kamar mandi.

Namun, saat Anya hendak keluar dari kamar mandi, ia terpeleset dan hampir terjatuh. Untungnya, Arga dengan sigap menangkap tubuh Anya.

Anya terkejut. Ia menatap Arga dengan tatapan yang bingung. Jantungnya berdegup kencang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!