Su Ran terbangun ketika mendengar suara melengking keras dan tangan kasar yang mengguncangnya..
Heh~ Apakah ini layanan Apartemennya, kenapa begitu kasar pijatannya?
Lalu, kenapa kedap suaranya sangat jelek?
Begitu sadar, ia ternyata masuk kesebuah era dinasti Ping yang tidak tercatat dibuku sejarah manapun.
Hee.. ingin menantangku soal bertani? dan menjual barang?
Jangan panggil aku Su 'si marketer andalan' jika tidak bisa mendapat untung apapun!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubun ntib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. mulai berjualan & tes restoran terkenal
“ Bibi, 1 kati gandum ini 250 rupiah saja, jika bibi membelinya hari ini lebih dari 10 kati aku akan memberikan diskon sebesar 20 rupiah,”
“ BEGITU MAHAL...?” seru sang bibi dengan raut wajah sedikit enggan. Su Ran sama sekali tidak marah, memang harga gandumnya lebih mahal daripada yang dijual ditoko lainnya.
Tapi, bagaimana bisa tanaman yang disiram dengan air ajaibnya bisa dibandingkan dengan tanaman biasa? Ia sangat menentang keras sikap meremehkan ini! ( sebenarnya tidak ada yang meremehkan produkmu, Ran. Memang sedikit lebih mahal saja _-)
“ Bibi, bibi bisa mencoba membandingkan dengan gandum lainnya. Bibi punya gandum lain dirumah? Bibi pasti akan mengetahui apa perbedaannya. Aku berani jamin jika gandumku pasti lebih unggul. Jika tidak, besok bibi bisa mengembalikan sisanya dan aku akan mengembalikan uang bibi dengan utuh,” percaya diri juga dengan menggebu, begitulah Su Ran memasarkan produknya.
Bukan sombong dan sesumbar, tetapi ia sangat yakin dengan tanaman yang ia hasilkan.
“ Lihatlah anak ini, aku hanya mengkritik arena mahal tetapi kamu langsung membalas kata – kata bibi. Baiklah – baiklah. Bibi akan percaya, bibi akan membeli 20 kati langsung,” tanggap bibi tersebut sambil menggelengkan kepala.
Dalam hati ia sudah tahu jika gandum anak ini lebih manis dan lebih gemuk. Ia tidak akan menyesali keputusannya untuk membeli banyak. Lagipula toko mantou miliknya sedang kekurangan bahan dasar.
Senyuman Su Ran sangat lebar bak musang sedang menikmati hasil buruan. Ia segera menimbang 20 kati gandum, menambahkan masing – masing setengah kati lobak dan kubis juga menghitung total harganya.
“ Bibi, ini dia gandummu. Aku juga menambahkan kubis dan lobak sebagai bonus, jangan anggap ini remeh. Juga total semua seharusnya 5000, tetapi memotongnya 40 sen dan membulatkannya menjadi 4.950 rupiah,” Su Ran membantu sang bibi untuk mengemas belanjaannya ke dalam keranjang bambu miliknya, Su Ran bahkan sempat menoel pipi gemuk putri kecil bibi, membuatnya merona karena malu.
“ Manis sekali mulutmu. Baik – baik, bibi akan menerima dengan senang hati. Jika benar gandumnya bagus, bahkan bibi akan membantu untuk mempromosikannya kepada tetangga bibi,” bibi tersebut memberikan uang dan bersiap membawa putrinya untuk pulang.
“ Baiklah bibi, ingat untuk mengunjungiku jika ‘ada apa – apa’,” ucap Su Ran dengan nakal. Bibi tersebut memelototinya dengan manja dan pergi.
Percakapan tadi tentu saja terdengar oleh beberapa pembeli yang penasaran dengan barang dagangan milik Su Ran. Su Ran pura – pura tidak tahu dan sibuk dengan barang dagangannya. Beres – beres, seka sana sini seka sampai licin!
“ Adik, benarkah gandum ini 250 perkati? Bukankah itu sangat mahal?” akhirnya ada orang yang bertanya. Su Ran mendongak dan tersenyum lalu kembali menjelaskan. Kali ini ia tidak memberikan potongan harga.
“ Baiklah, aku akan coba 5 kati dulu,”
“ Aku juga, berikan aku 8 kati,”
“ aku, hitung juga 6 kati untukku,”
Dalam waktu kurang dari satu jam, gandum yang Siu Ran bawa habis 3 karung yang masing – masing memiliki berat 50 kati.
Lobak dan Kubis juga tidak kalah laris, Su Ran menjualnya dengan harga 150 per kati yang jauh lebih mahal 20 sen dari harga biasa.
Ketika ada yang protes, Su Ran dengan tegas mematahkan lobaknya menjadi beberapa bagian dan meminta orang untuk mencobanya dan membungkam argumen orang tersebut.
Kini masih tersisa beberapa kati kubis dan Lobak. Su Ran mengemasi barang – barangnya dan mulai mendorong gerobaknya menjauh. Ia kembali mencari gang kecil dan mengeluarkan keledainya lalu memasang gerobaknya.
Su Ran membuka kerudungnya. Lalu mengubah dandanannya menjadi pemuda petani biasa dan mulai mencari restoran terdekat.
Sebelum pergi kekota, ia sempat bertanya – tanya kepada bibi kepala desa tentang restoran yang terkenal.
Menurut bibi, ada dua restoran yang cukup terkenal. Satu adalah restoran ‘ Sedap Makan’ dan juga restoran ‘ Sedap Sekali’.
Saat mendengar nama kedua restoran ini, Su Ran tertegun sejenak. Keduanya tidak saingan secara terang – terangan bukan?
Dan benar saja, restoran Sedap Sekali baru dibuka sekitar setahun yang lalu. Bukan hanya lokasi yang berada di depan restoran ‘ Sedap Makan’, tetapi juga meniru semua menunya.
Yang paling kejam, restoran Sedap Sekali merebut koki milik restoran Sedap Makan dengan iming – iming gaji yang lebih tinggi.
Kini restoran Sedap Makan terpuruk dan hampir diambang kebangkrutan.
Su Ran menemukan restoran Sedap Makan yang sedang sepi pengunjung. Hanya ada 2 – 3 pengunjung selain dirinya yang sedang makan. Lalu ia melihat ke arah seberang restoran. Sangat ramai dengan pelanggan.
Dalam hati Su Ran sudah memutuskan.
Su Ran memanggil pelayan dan memesan beberapa menu andalan. Pelayan mencatatnya dengan sedikit terkejut karena pemuda ini memesan banyak hidangan. Tetapi dalam hatinya jelas ia sangat bahagia.
Tidak sampai 20 menit menunggu, hidangan yang dipesan oleh Su Ran sampai.
Nasi putih, sup buntut sapi, tumisan sayur hijau, dan juga telur orak arik. Su Ran kembali tertegun, hidangan ini dilihat begitu saja sungguh sangat .... pucat.
Su Ran memberanikan diri untuk meminum sesuap sup. Rasanya cukup lumayan, bumbunya berani dan kaldunya terasa.
Lalu ia mulai mengarahkan sumpitnya ke piring berisi tumisan sayur hijau. Ini sebenarnya adalah tumisan sawi putih yang juga tampak pucat. Irisan bawang putih hanya menjadi satu – satunya ‘pewarna’ yang bahkan tenggelam dalam batang sawi yang juga berwarna putih.
Bagi Pecinta pedas seperti Su Ran, ini jelas – jelas penyiksaan di lidahnya! Tidak bisa, ia sungguh tidak bisa membiarkan semua ini terjadi!
Su Ran kembali berjuang untuk menghabiskan semua pesanan di mejanya. Meskipun sedikit banyak harus berjuang, ia tetap menjunjung semboyan tidak boleh menyia – nyiakan makanan yang sudah terhidang. Apalagi ini semua dibeli dengan uang!
“ Pelayan,” panggil Su Ran setelah ia selesai makan dengan anggun.
Pelayang datang mendekat, Su Ran segera mengungkapkan pemikirannya.
“ Apakah manajer atau orang yang bertanggung jawab di restoran ini ada?” dengan nada datar yang membuat orang salah paham, Su Ran bertanya.
Pelayan bernama A Ming jelas sangat ketakutan. Apakah ia telah melakukan kesalahan? Atau apakah pelanggan ini tidak puas dengan masakan koki?
Ia melirik meja dan melihat semua menu sudah habis dimakan, seharusnya bukan karena itu, bukan? Lalu kenapa pelanggan ini ingin bertemu dengan manajer? A ming berpikir keras, ia berusaha mengingat apakah ia telah melakukan kesalahan.
Su Ran melihat kegundahan pelayan dan mau tidak mau menepuk pelan dahinya. Ia salah bicara!
“ Ahh, maafkan aku karena tidak jelas dalam bertanya. Begini, aku ingin sedikit memberikan masukan dan menawarkan kerjasama kepada manajer mu. Apakah bisa? Oh, sebaiknya panggil orang yang memiliki kuasa tertinggi disini,”