NovelToon NovelToon
Sandi Hati Sang Alpha

Sandi Hati Sang Alpha

Status: tamat
Genre:Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Satu kontrak, dua keluarga, dan ribuan rahasia. Bagi Bhanu Vandana, Selena Arunika adalah aset yang ia beli. Bagi Selena, Bhanu adalah tirani yang harus ia taklukkan. Di aula yang beraroma cendana, mereka tidak memulai sebuah pernikahan, melainkan sebuah peperangan. Saat fajar bertemu dengan matahari yang beku, siapa yang akan bertahan ketika topeng-topeng kekuasaan mulai retak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cermin retak sang rembulan

Vila itu tidak pernah benar-benar sunyi. Di balik dinding-dinding betonnya, selalu ada suara mesin yang menderu halus—sistem pengawasan yang bekerja dua puluh empat jam. Namun bagi Selena, suara yang paling mengganggu adalah langkah kaki Alka Dahayu Indurasmi. Langkahnya tidak pernah terdengar seperti pijakan manusia; ia lebih seperti gesekan sutra di atas marmer, halus namun meninggalkan jejak dingin.

Pagi itu, tepat pukul lima, Dahayu sudah berdiri di depan pintu kamar Selena. Ia mengenakan setelan blazer berwarna abu-abu baja yang kaku. Jika Bhanu adalah personifikasi dari matahari yang membakar dengan amarah, maka Dahayu adalah rembulan yang membeku dalam sunyi. Mereka adalah si kembar Alka, dua kutub yang diciptakan untuk menjaga kekuasaan Vandana agar tetap seimbang.

Bhanu lahir lima menit lebih awal, mewarisi tangan besi dan ambisi yang meledak-ledak. Namun, Dahayu-lah yang mewarisi kecerdikan yang paling mematikan. Di kalangan elit, Bhanu dikenal sebagai "Pedang", sementara Dahayu adalah "Racun". Bhanu menghancurkan lawan di depan mata, sementara Dahayu melumpuhkan mereka dari balik bayangan tanpa pernah mengotori tangannya.

"Bangun, Selena. Di keluarga Vandana, matahari tidak menunggu fajar untuk terbit," ucap Dahayu sambil menyentak tirai besar di kamar itu, membiarkan cahaya abu-abu dari laut masuk dengan kasar.

Selena duduk di tepi tempat tidur, matanya masih memerah karena kurang tidur. "Kalian benar-benar tidak punya kehidupan selain mengatur orang lain, ya?"

Dahayu berbalik, menatap Selena dengan wajah tanpa ekspresi yang sangat mirip dengan Bhanu, namun matanya lebih jernih—dan lebih menakutkan. "Mengatur adalah cara kami memastikan tidak ada variabel yang rusak. Dan saat ini, kamu adalah variabel yang paling tidak stabil."

Dahayu mendekat, lalu duduk di kursi di hadapan Selena. Ia mengeluarkan sebuah tablet tipis dan mulai menggeser data-data. "Aku ingin kamu tahu siapa yang sedang kamu hadapi. Bhanu mungkin terlihat seperti pria yang kejam, tapi dia transparan. Jika dia membencimu, dia akan mengatakannya. Tapi aku? Aku tidak punya kebencian. Aku hanya punya efisiensi. Jika kamu membuktikan dirimu berguna bagi rencana besar kami, aku akan menjadi sekutu terbaikmu. Tapi jika kamu mencoba bermain api seperti semalam di ruang kerja Bhanu..."

Dahayu berhenti sejenak, menatap leher Selena. "Aku yang akan memastikan kamu menghilang sebelum Bhanu sempat menyadarinya. Kami kembar, Selena. Kami berbagi satu detak jantung untuk satu tujuan: Vandana."

Di meja makan lantai bawah, Alka Bhanu Vandana duduk dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Ia sedang menatap tumpukan dokumen saat Selena turun, diikuti oleh Dahayu. Bhanu tidak mendongak, namun suaranya langsung memotong udara.

"Dahayu, apakah Renggana sudah mengirimkan laporan dari perbatasan utara?"

"Belum. Renggana sedang sibuk mengurus 'sampah' yang ditinggalkan keluarga Arunika di pasar gelap," jawab Dahayu sambil menarik kursi untuk Selena.

Mendengar nama keluarganya disebut sebagai "sampah", darah Selena mendidih. Ia duduk dengan punggung tegak, menolak untuk terlihat lemah di hadapan dua penguasa ini.

"Ayahku bukan orang suci, tapi dia tidak pernah berurusan dengan pasar gelap," protes Selena, suaranya lantang.

Bhanu akhirnya mendongak. Matanya yang tajam menusuk langsung ke mata Selena. "Itu yang kamu tahu, Selena. Ayahmu menjual informasi yang bahkan tidak dia miliki. Dia menjanjikan sandi yang ada di kepalamu kepada faksi lain demi menghapus hutang-hutangnya. Itulah alasan sebenarnya kenapa kamu ada di sini. Kami tidak hanya membelimu; kami mengamankanmu dari orang-orang yang ingin membedah kepalamu hanya untuk mendapatkan kode itu."

Tiba-tiba, suara tawa ringan terdengar dari arah pintu masuk. Renggana Putra masuk dengan gaya kasual yang sangat kontras dengan ketegangan di ruangan itu. Ia melempar sebuah flashdisk ke atas meja, tepat di depan Bhanu.

"Bhanu, Bhanu... pagi-pagi sudah menakuti istrimu sendiri," ucap Renggana sambil melirik Selena dengan senyum miring yang penuh rahasia. "Selamat pagi, Nona Arunika. Atau haruskah kupanggil 'Kunci Semesta'?"

Renggana duduk tanpa diundang, mengambil sepotong roti, dan menatap Dahayu. "Berita buruk, Indurasmi. Ternyata bukan cuma kita yang punya mata-mata di vila ini. Ada seseorang di antara staf pelayanmu yang mengirim sinyal keluar setiap jam tiga pagi."

Bhanu langsung berdiri, aura membunuhnya meledak seketika. "Dahayu, aku sudah bilang bersihkan tempat ini!"

"Sudah kulakukan, Bhanu. Jika ada yang lolos, itu artinya pengkhianatnya ada di lingkaran dalam," balas Dahayu tetap tenang, namun matanya berkilat waspada.

Renggana beralih menatap Selena, suaranya merendah dan penuh provokasi. "Jadi, Selena... menurutmu siapa yang lebih berbahaya? Suamimu yang ingin mengurungmu, kembarannya yang ingin membedah otakmu, atau orang luar yang sedang menuju ke sini untuk menjemputmu dengan paksa?"

Selena terdiam. Ia menatap Bhanu, lalu Dahayu, dan terakhir Renggana. Ia menyadari satu hal: di rumah ini, tidak ada satu pun orang yang bisa dipercaya. Namun, di balik rasa takutnya, sebuah keberanian baru mulai muncul. Jika mereka menganggapnya sebagai "kunci", maka ia akan memastikan bahwa hanya dialah yang bisa menentukan kapan pintu itu terbuka—dan siapa yang akan dihancurkan di baliknya.

"Siapa pun yang datang," Selena berkata dengan suara dingin yang mengejutkan Bhanu dan Dahayu, "pastikan mereka membawa peti mati yang cukup besar. Karena aku tidak berencana pergi tanpa meninggalkan luka pada kalian semua."

Bhanu tertegun sejenak. Ia melihat refleksi dirinya di mata Selena—keras, tajam, dan tak kenal ampun. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa perjodohan ini mungkin bukan sekadar transaksi bisnis, melainkan sebuah pertemuan antara dua badai yang ditakdirkan untuk saling menghancurkan atau justru menyatu menjadi kekuatan yang tak terkalahkan.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Yulianti
bagus bgt kita diajak untuk berimajinasi,ttp aja ketulusan hati mengalahkan segalanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!