NovelToon NovelToon
Dinikahi Duda Perjaka

Dinikahi Duda Perjaka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Cinta setelah menikah / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Amalia

Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Ranjang

Zara menoleh pada Reynan. “Yang tadi anda katakan, gak benar ‘kan?” tanyanya.

Reynan berdehem. “Bisa gak jangan panggil saya dengan kata ‘anda’. Rasanya … gimana ya, gak enak aja gitu dengar,” kata Reynan.

“Jangan mengalihkan. Saya bertanya serius,” ucap zara.

Reynan pun menghela napas. “Iya … sesuai dengan apa yang kamu dengar tadi,” kata Reynan.

Seketika wajah Zara berubah menjadi sendu. matanya memejam, air mata lolos keluar dari persembunyiannya.

Isakan kecil pun, keluar dari mulutnya.

“Nangis aja, gak apa-apa. Jangan ditahan,” kata Reynan.

Seketika Zara pun menangis, tanpa rasa ragu dan malu. Ia menumpahkan semua perasaannya disana.

Reynan pun terus menyetir, tanpa merasa terganggu sedikitpun dengan tangisan Zara.

Tidak berselang lama, mobil pun tiba di rumah sang Ayah.

Bendera kuning sudah berkibar, tenda pun sudah terpasang. Melihat itu, Zara pun kembali menangis. Reynan turut menuntun Zara keluar dari mobil, ia pun merangkul bahunya dan berjalan masuk ke dalam rumah.

Zara disambut oleh Sarah, dan Sarah pun langsung memeluk Zara.

“Tante …”

“Iya, Za. Jenazah Nenek belum datang,” ucapnya.

Sarah mengambil alih peran Reynan. Karena Reynan akan memarkirkan mobil di halamannya, mengingat nanti akan ada mobil ambulans dan orang-orang yang bertakziah.

Sepuluh menit kemudian, mobil ambulans tiba, diikuti tiga mobil di belakangnya.

Sarah dan Zara kembali keluar dari rumah. Tangis keduanya pecah, melihat jenazah sang Nenek keluar dari mobil.

Reynan, Budi, Haris dan Hanung menggotong jenazah Sofa ke dalam rumah.

Jenazah dikeluarkan dari keranda, dan dipindahkan ke atas kasur yang sudah Sarah siapkan.

Suara tangis kembali terdengar. Bukan hanya dari keluarga inti, melainkan dari orang-orang yang bertakziah juga.

Mereka mengenal siapa Sofa. Wanita usia senja yang ketus, tapi begitu baik dan perhatian.

Tinggalnya bersama Hanung, tapi terkadang juga tinggal di rumah Budi.

“Bu Sofa orang baik, insya Allah, surga tempatnya.” Seorang perempuan berusia empat puluh tahun itu bicara pada Lia.

“Aamiin …” sahut Lia.

Sekitar satu jam sudah, kini tiba dimana jenazah akan dimandikan.

Sarah, Lia, dan Zara sudah bersiap untuk memandikan jenazah Sofa.

Namun ada sedikit drama dari Frida dan Lea yang tidak mau memandikan jenazahnya.

Tidak apa-apa, tidak memaksa. Masih ada tetangga yang dengan senang hati membantu memandikan jenazah.

Sedangkan dengan kedua anak Haris dan Sarah, mereka sedang dalam perjalanan ke Tangerang.

***

Tidak terasa, Sofa sudah dikebumikan. Kini di rumah Budi tampak ramai, ada keluarga Harun dan keluarga Hanung.

“Kami pulang dulu. Di rumah gak baik ditinggal lama-lama,” ujar Frida.

“Apa sebaiknya nunggu tahlilan dulu, Mbak?” tanya Lia.

Ya, acara tahlilan untuk malam pertama meninggalnya Sofa akan dilakukan nanti malam ba'da isya.

“Mas Hanung saja di sini sama Rofiq. Biar saya dan Lea pulang,” kata Frida.

Lia tidak kembali bicara. Jika sang ipar sudah mengambil keputusan seperti itu, ya sudah.

Frida pun meminta kunci mobil pada Hanung, setelah itu, mereka pun pergi.

“Mas, apa sebaiknya acara pernikahan Lea di undur?” tanya Budi pada Hanung, setelah perginya Frida dan Lea.

“Maksud kamu?” tanya Hanung.

“Ya … seperti kurang enak aja, baru saja Ibu pergi tapi akan mengadakan pesta,” kata Budi.

Hanung berdecak keras. “Ibu itu meninggal setelah hari pernikahan Lea sudah ditetapkan. Beda lagi ceritanya, jika Ibu meninggal, setelah itu menetapkan acara pernikahan,” ucap Hanung.

Budi menghela napas. “Ya sudah, terserah kamu aja kalo gitu, Mas.”

Meski begitu, Budi menyayangkan tentang keputusan yang diambil.

Disisi lain, Budi pun tahu dan mengerti kalo diundur satu atau dua hari, banyak yang harus dikorbankan.

Mungkin makanan yang sudah disiapkan akan mubazir dan tentu untuk masalah dekorasi akan menambah modal lagi.

Tetapi jika Hanung memilih untuk mundur hari pun, tidak jadi masalah.

Makanan bisa buat hidangan untuk tahlil dan untuk dekorasi, ia siap untuk membantu membayarnya.

Namun … ya sudah. Hanung sudah memutuskan untuk tetap dilanjut besok.

***

Malam harinya setelah tahlil. Hanung dan Rofiq izin untuk pulang. Begitu juga dengan Yumna dan Naomi, dengan alasan ingin menemani calon pengantin (Lea).

Sedangkan dengan Sarah dan Haris, masih berada di rumah Budi. Mereka akan bermalam disana dan besok pagi baru ke rumah Hanung. Zara dan Reynan pun, ikut bermalam disana.

“Makan dulu, yuk.” Reynan mengajak Zara, yang sedari tadi istrinya itu diam dengan tatapan kosong. Nampak sekali jika Zara begitu sangat terpukul.

“Yuk, makan,” ajak Reynan lagi.

“Kamu aja. Saya gak lapar,” kata Zara.

Mendengar itu, ingin sekali Reynan menggoda Zara karena telah mengganti panggilan dari ‘anda’ menjadi ‘kamu’.

Namun keinginan itu Reynan urungkan, mengingat momennya tidak tepat.

“Ya udah. Kalo gitu, saya pun gak makan,” ucap Reynan.

“Jangan mempersulit diri sendiri,” kata Zara. Karena setelah Reynan bicara tadi, bersamaan dengan suara perutnya yang berbunyi.

Reynan terkekeh kecil. “Ya rasanya gimana gitu. Makan di rumah orang, tapi orangnya gak ikut makan,” kata Reynan.

“Makan tinggal makan. Ada Ayah, Ibu, Om, Tante,” ujar Zara lagi.

“Ya itu masalahnya. Mereka kayak gak ada niatan untuk makan malam gitu. Padahal si Bibi udah masak, ‘kan mubazir kalo gak dimakan,” ucap Reynan. “Setidaknya kita makan, walau sedikit. Hargai apa yang sudah si Bibi kerjakan,” lanjutnya.

Dengan helaan napas yang keluar dari mulut Zara, ia pun beranjak dari duduknya.

“Gitu, dong.” Reynan bicara seraya bertepuk tangan pelan, dengan senyum cukup lebar. “yo, ayo. Yo, ayo, yo, yo, ayo. Yo, ayo, yo, yo, ayo, yo ayo, yo, yo, ayo kita makan kan kan.” Reynan bersenandung lirih seraya berjalan dibelakang Zara.

Zara menoleh dengan tatapan tajamnya.

Lalu dibalas cengiran oleh Reynan.

***

Setelah makan malam selesai, Reynan dan Zara kembali masuk ke kamar.

Rumahnya tampak begitu sepi. Padahal waktu masih menunjukkan pukul sepuluh malam. Atau mungkin, orang tua beserta Om dan Tantenya sudah tidur?! Pikir Zara.

Reynan pun sudah bersiap untuk tidur, ia akan mencharger tubuhnya, supaya besok bangun tubuhnya lebih bugar.

Mengingat jika besok akan melakukan sesuatu, yang mungkin … akan menggemparkan orang-orang disana.

Dengan sofa yang tidak terlalu panjang, tapi Reynan masih bisa tidur dengan begitu nyenyak. Terbukti dengan tidurnya yang mendengkur.

“Nenek …”

Sontak Reynan mengerjap, mendengar teriakan Zara.

“Nenek …” teriak Zara lagi.

Dengan mata yang berat, Reynan pun bangun, lalu beranjak dari sofa.

“Za …” Reynan membangunkan Zara dengan pelan.

“Hiks … Nenek …”

“Za, bangun …” ucap Reynan lagi, seraya menggoyangkan bahu Zara. Namun—

Zara langsung memegang tangan Reynan. “J-jangan tinggalin aku,” ucapnya dengan lirih, matanya terpejam, tapi sudah basah dengan air mata.

Seketika Reynan terdiam.

“Jangan tinggalin aku,” ucap Zara lagi.

“I-iya nggak. Aku gak akan tinggalin kamu,” jawab Reynan. Kali ini panggilannya pun berubah menjadi ‘aku kamu’.

“Temani aku,” kata Zara lagi, seraya memeluk tangan Reynan.

“Temani kamu? Maksud kamu, disini?” Reynan memastikan.

“Temani aku disini.” Zara mengulanginya lagi.

Dengan wajah cengonya, Reynan pun naik ke atas pembaringan dengan perlahan.

Karena cukup susah, Zara terus memeluk tangannya.

Namun, setelah berusaha. Reynan pun bisa berbaring disamping Zara, dengan tangan masih di peluknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!