Lana (17 tahun) hanyalah siswi SMA yang memikirkan ujian dan masa depan. Namun, dunianya runtuh saat ia dijadikan "jaminan" atas hutang nyawa ayahnya kepada keluarga konglomerat Al-Fahri. Ia dipaksa menikah dengan putra mahkota keluarga itu: Kolonel Adrian Al-Fahri.
Adrian adalah pria berusia 29 tahun yang dingin, disiplin militer, dan memiliki kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Baginya, pernikahan ini hanyalah tugas negara untuk melindungi aset. Bagi Lana, ini adalah penjara berlapis emas.
Di sekolah, ia adalah siswi biasa yang sering dirundung. Di rumah, ia adalah nyonya besar di mansion mewah yang dikawal pasukan elit. Namun, apa jadinya saat sang Kolonel mulai terobsesi pada "istri kecilnya"? Dan apa jadinya jika musuh-musuh Adrian mulai mengincar Lana sebagai titik lemah sang mesin perang?
"Tugas saya adalah menjaga kedaulatan negara, tapi tugas utama saya adalah memastikan tidak ada satu pun peluru yang menyentuh kulitmu, Lana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Seragam SMA dan Cincin yang Disembunyikan
Ia harus segera mandi dan mengenakan seragam SMA dan cincin yang disembunyikan di balik kain bajunya agar tidak terlihat oleh orang lain. Lana menatap pantulan dirinya di cermin besar dengan tatapan yang sangat nanar dan penuh dengan beban mental.
Seragam putih abu-abu miliknya kini tampak sangat kontras dengan kemewahan kamar yang dipenuhi furnitur berlapis emas tersebut. Lana meraba sebuah cincin berlian yang tergantung pada kalung tipis di balik kerah seragamnya dengan jemari yang gemetar.
Ia tidak berani melingkarkan benda berharga itu di jari manisnya karena takut akan mengundang kecurigaan teman-teman di sekolah. Baginya, cincin itu bukan simbol cinta melainkan sebuah borgol tak kasat mata yang mengikat kebebasannya sebagai seorang remaja.
"Cepat keluar atau saya akan memerintahkan ajudan untuk mendobrak pintu ini," suara berat Adrian terdengar menggelegar dari balik pintu kayu jati yang tebal.
Lana segera menyambar tas sekolahnya dan membuka pintu dengan gerakan yang sangat terburu-buru serta napas yang memburu. Adrian berdiri tegak di sana dengan pakaian dinas lapangan yang membuatnya tampak sangat perkasa namun juga sangat dingin.
Ia memperhatikan penampilan Lana dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan sorot mata yang sulit untuk diartikan. "Pastikan kalung itu tidak terlihat sedikit pun oleh mata orang lain atau kamu akan menerima hukuman yang berat," perintah Adrian sambil merapikan kerah seragam Lana.
Sentuhan tangan Adrian yang kasar namun hangat membuat bulu kuduk Lana meremang seketika karena rasa cemas yang bercampur aduk. Lana hanya bisa mengangguk pelan sambil menggigit bibir bawahnya untuk menahan gejolak emosi yang ingin meledak saat itu juga.
Ia merasa seperti seorang agen rahasia yang sedang menjalani misi paling berbahaya dalam hidupnya yang masih sangat muda. Mereka berjalan menyusuri lorong mansion yang panjang dan dijaga ketat oleh para prajurit bersenjata lengkap di setiap sudutnya.
Lana merasa sangat asing di rumah sendiri karena atmosfer militer yang terlalu kental menyelimuti setiap jengkal bangunan tersebut. Adrian membawa Lana menuju meja makan panjang yang sudah dipenuhi oleh berbagai macam hidangan mewah untuk mengawali hari.
"Duduk dan habiskan sarapanmu, saya tidak ingin mendengar laporan bahwa kamu pingsan saat jam pelajaran berlangsung," tegas Adrian sambil menarik kursi untuk Lana.
Lana duduk dengan sangat kaku dan mulai menyuap nasi goreng secara perlahan tanpa memiliki nafsu makan sedikit pun. Keheningan di meja makan itu terasa sangat menyesakkan dada hingga hanya suara dentingan sendok dan piring yang terdengar nyaring.
Adrian terus memperhatikan setiap gerak-gerik Lana sambil menikmati kopi hitam pekat tanpa gula kesukaannya dengan sangat tenang. "Apakah Tuan benar-benar akan membiarkan saya kembali ke sekolah tanpa ada pengawasan yang mencolok?" tanya Lana dengan penuh harap.
Adrian meletakkan cangkir kopinya dengan suara dentingan yang cukup keras hingga membuat Lana sedikit terlonjak dari posisi duduknya. Ia menatap Lana dengan pandangan yang sangat dalam seolah sedang menembus masuk ke dalam relung jiwa gadis malang tersebut.
Sebuah senyum tipis yang sarat akan makna tersembunyi muncul di sudut bibir sang kolonel kaya raya itu. "Tentu saja kamu boleh sekolah, namun jangan harap bisa lepas dari bayang-bayang kekuasaan yang saya miliki," jawab Adrian dengan nada yang sangat misterius.
Lana merasakan firasat buruk mulai merayap di dalam pikirannya saat melihat mobil baja yang sudah menunggu di depan teras utama. Ia menyadari bahwa perjalanan menuju sekolah hari ini tidak akan pernah sama lagi dengan hari-hari sebelumnya yang penuh kedamaian.
Rasa takut kembali menyelimuti hatinya saat ia melihat beberapa pria bertubuh kekar mulai masuk ke dalam mobil pengawal di belakangnya. Sarapan canggung dengan tuan kolonel akan menjadi ujian pertama yang harus ia lalui sebelum menghadapi dunia luar yang penuh dengan intrik.