NovelToon NovelToon
Pesona Kakak Posesif Season 2

Pesona Kakak Posesif Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Keluarga / Cintamanis
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Dwi Asti A

Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.

Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.

Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.

Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Putri Istimewa

Daniyal pengertian dan perhatian, dia juga memahami kebutuhan perempuan. Setelah memilihkan gaun untuk Hanin, pemuda itu pun membawa Hanin ke salon. Awalnya Hanin menolak, tapi Daniyal terus saja membujuknya.

••

Di tempat acara hampir semua tamu sudah hadir. Mereka adalah para karyawan dari perusahaan. Aariz Zayan Malik salah satu pemegang saham terbesar menyebarkan undangan yang begitu mendadak. Membuat semua orang bertanya-tanya.

Hari sebelumnya Aariz sudah membuat kehebohan dengan membawa gadis muda ke kantornya, dan hari itu kembali semua karyawan dibuat penasaran dengan acara yang begitu mendadak.

Hampir di sudut ruang semua orang memperbincangkannya.

“Kalian tahu tidak untuk apa Pak Aariz mengadakan acara ini?” tanya seorang wanita dari tiga orang yang tengah berkumpul.

“Tidak tahu, aku rasa ini ada hubungannya dengan gadis muda yang Pak Aariz bawa kemarin.”

“Benar juga, menurutmu dia benar kekasih mudanya, Pak Aariz?”

“Aku rasa begitu. Gadis ini usianya lebih dewasa dari Nona Luna.”

“Anak gadis jaman sekarang yang penting dapat uang mana mungkin menolak pria kaya seperti Pak Aariz. Pak Aariz itu sudah kepala empat, tapi masih bisa menggaet gadis muda.”

“Hai bicara apa kalian, kalau tidak tahu jangan berbicara apa pun. Kalau ada orang kepercayaan Pak Aariz mendengar perkataan kalian dan hanya sebuah fitnah kalian bisa celaka,” ujar seorang pria mengingatkan.

“Ah kau ini laki-laki mana tahu perasaan wanita. Kami yakin gadis itu simpanannya Pak Aariz.”

“Kalian sudah aku ingatkan, kalau ada apa-apa jangan menangis.”

“Memang terjadi apaan, kau saja pengecut. Kita ini karyawan senior dan andalan mana mungkin dipecat tanpa alasan. Lagi pula Pak Aariz mana tahu, dia kan berada di ruangannya.”

Di ruangannya, Aariz masih menunggu kabar kedatangan Hanin dan Daniyal yang masih belum kembali. Sudah dua jam mereka pergi, tapi masih belum ada kabar.

Aariz kemudian memanggil sekretarisnya. Laki-laki yang tengah berada di luar ruangannya itu, begitu mendapat panggilan dari Aariz langsung masuk ruangan.

“Ada apa, Pak?” tanya Eshan.

“Bagaimana Daniyal dan Hanin, mereka masih belum kembali?”

Laki-laki yang dipanggil Eshan menggeleng pelan.

“Sudah kau hubungi Daniyal?”

“Sudah, beberapa menit yang lalu dalam perjalanan. Daniyal bilang dia juga membawa Nona Hanin ke salon jadi agak lama.”

“Ya sudah, kalau mereka sudah tiba langsung ke tempat acara.”

“Baik, Pak.”

Beberapa menit kemudian, Hanin telah tiba, saat di lobi, Daniyal meminta Hanin untuk menunggu sebentar dia pergi ke toilet. Namun, Hanin memilih pergi ke ruang acara sendirian, berpikir Daniyal pasti juga pergi ke sana.

Hanin bertanya di bagian resepsionis tempat acaranya.

“Mbak di mana acara hari ini berlangsung?” tanya Hanin.

Sebelum menjawab, petugas resepsionis itu memperhatikan penampilan Hanin. Setahu resepsionis acara hari itu bukan pesta, hanya undangan pertemuan penting seluruh karyawan dan dengan pakaian yang formal. Hanya saja diadakan di ruangan khusus tempat biasa diadakan pertemuan besar dengan para pejabat dan keluarga, bukan di ruang rapat.

“Di lantai 2,” jawab resepsionis dengan jawaban dingin.

“Terima kasih.”

Hanin berjalan pergi meninggalkan lobi menuju lantai dua menggunakan lift. Pada saat di lift, dua orang wanita berdiri di sampingnya semuanya menggunakan pakaian kerja bukan gaun seperti dirinya, jadi Hanin merasa sedikit aneh dengan dirinya yang sendirian dengan pakaian seperti itu.

“Siapa dia, aku baru melihatnya?” tanya salah satu dari dua wanita di samping Hanin.”

“Tidak tahu, mengapa dia berpakaian seperti itu di sini?”

“Jangan-jangan dia mau datang di acaranya Pak Aariz, tapi salah kostum,” kata teman satunya.”

Mereka berdua tertawa cekikikan.

Pintu lift terbuka, Hanin melangkah maju, tapi dua wanita itu menarik ke belakang hingga Hanin membentur dinding.

“Kau ini anak kecil, jangan sembarangan mendahului yang lebih tua, enak saja mau mendahului kami,” ucap salah satu wanita tersebut, setelah itu melenggang keluar dengan tanpa rasa bersalah.

Hanin kecewa dengan sikap dua wanita itu, dia jadi teringat dengan Niken dan teman-temannya yang pernah merundung dirinya. Entah kuliah di mana mereka.

••

Daniyal tiba di ruangan Aariz di mana pria itu sedang berbicara dengan Eshan. Melihat kedatangan Daniyal yang tiba-tiba dengan wajah tegang dan sendirian, Aariz mempertanyakannya.

“Di mana Hani?” tanya Aariz.

“Tadi itu ...,”

Belum selesai dengan ucapannya, Aariz memotong ucapan Daniyal.

“Kau tinggalkan Hani di mana?”

“Ta ..., tadi di lobi, tapi begitu kembali dia sudah tidak ada.”

“Ah kau ini, menjaga satu orang saja tidak bisa. Sekarang di mana dia, dia belum paham tempat ini, bagaimana kalau dia menyasar di tempat lain.”

“Iya, Tuan saya yang salah.”

“Kita coba cek di tempat acara saja, Pak Aariz, mungkin putri Anda sudah di sana.”

Tanpa banyak berpikir, Aariz langsung sependapat dengan Eshan, mereka bergerak menuju tempat acara.

••

Di ruang acara kehadiran Hanin dengan penampilan yang berbeda dari lainnya sangat mengundang perhatian banyak orang. Beberapa menertawakannya karena mengira salah kostum. Ada juga yang langsung mengira dia gadis muda simpanan Pak Aariz.

“Nona mending pulang saja, dari pada di sini jadi bahan tertawaan orang-orang,” kata satu wanita itu mengingatkan.

“Iya, ini bukan pesta ulang tahun, ini juga bukan urusan anak muda sepertimu,” imbuh wanita ke dua.

“Tidak mungkin, ayahku mana mungkin salah informasi. Hari ini memang ...” Hanin berusaha meluruskan kesalahpahaman mereka, tapi mereka terus saja memotong ucapannya.

“Jadi ayahmu yang memintamu berpakaian seperti ini?” tiga wanita itu kembali menertawakan.

“Siapa ayahmu yang begitu bodoh tidak tahu apa yang dia pakai hari ini?”

“Siapa yang mengatakan aku bodoh?” suara lantang itu jelas mereka kenal, serempak ketiga wanita itu menoleh.

Tampak Aariz sedang berjalan ke arah mereka diiringi Eshan dan Daniyal. Dua laki-laki tangguh yang selalu berada di samping Aariz.

“Pak Aariz?” gumam salah satu wanita itu yang terakhir mengatakan bodoh. Wanita itu dan teman-temannya masih tampak kebingungan menatap Hanin dan Aariz silih berganti penuh tanda tanya.

“Dia ayahmu?” tanya wanita itu masih tidak percaya.

“Iya, kenapa?” Daniyal membalas wanita itu.

Aariz menghampiri Hanin dan berdiri di sampingnya. Tiga wanita itu berdiri dengan kaki gemetar dan wajah pucat.

“Mana mungkin dia putri Anda, bukankah putri Anda adalah Nona Luna?” salah satu wanita itu memberikan alasan atas kekeliruannya.

“Itulah tujuan Tuan Aariz mengadakan acara ini, dia ingin mengumumkan sesuatu yang penting pada kalian, tapi kalian begitu arogan hingga bersikap tidak pantas pada putrinya.” Daniyal memberikan penjelasan.

“Apa saja yang kalian lakukan pada Nona Hani, ha?” tanya Daniyal pada semua orang yang hadir.

Beberapa tampak diam tak ingin dibawa-bawa dalam kesalahan ketiga wanita itu. Namun, ada juga yang berani mengungkapkannya.

“Mereka tidak hanya salah paham, mereka juga bergosip tentang Anda mengira Nona Hani simpanan Anda.”

“Tidak, aku tak pernah berkata seperti itu,” kata wanita pertama.

“Aku juga, dia yang pertama bergosip tentang Anda, Pak Aariz.” Wanita ke dua melempar kesalahan pada wanita ke tiga.”

“Kenapa jadi aku, kalian berdua yang percaya begitu saja, aku kan tidak berniat menuduh,” dalih wanita ketiga.

“Cukup!” teriak Aariz mendengar tiga wanita itu saling melempar kesalahan. “Aku tidak percaya bisa memiliki karyawan seperti mereka yang berbicara menuduh tanpa tahu kebenarannya. Hari ini juga suruh mereka kemasi barang-barang mereka dan angkat kaki dari perusahaan ini!” perintah Aariz tak mentolerir kesalahan mereka.

“Ayah, tidak perlu seperti itu, mereka berkata demikian karena mereka tidak tahu,” ujar Hanin.

“Justru karena mereka tidak tahu, jadi jangan sok tahu. Ini untuk pelajaran bagi semuanya, jangan pernah sekalipun berkata sembarangan di sini. Aku tidak akan mengampuni kesalahan sekecil apa pun.”

Aariz kemudian memanggil satpam untuk membawa ketiga wanita itu keluar dari ruang acara. Ketiga wanita itu masih berusaha meminta ampun, tapi Aariz tak mendengarkan mereka.”

“Sekarang semuanya dengar baik-baik, hari ini aku ingin mengenalkan putriku yang lain pada kalian semuanya. Gadis di sampingku ini namanya Hanin Dya Pramesti, dia adalah putriku bersama istriku yang pertama, yang selama ini tidak aku tahu keberadaannya.”

“Bukankah aku dengar mereka sudah meninggal? Apa Anda yakin dia benar putrimu atau jangan-jangan hanya mengaku-ngaku saja.” Seorang pria meragukan perkataan Aariz.

“Apa kau kira aku begitu bodoh sampai masalah sebesar ini aku asal bicara, dan aku memberitahu semuanya agar ke depannya tidak ada lagi kesalahpahaman apa pun. Sebagai rasa syukurku hari ini kalian bisa menikmati hidangan yang sudah tersedia.”

Semua membubarkan diri menikmati jamuan.

“Pak Aariz, apa ada kemungkinan dia akan menjadi pewaris Anda nanti?” Alex Hossam dari keluarga Hossam bertanya.

“Aku belum ada gambaran, dia masih terlalu muda dan harus menyelesaikan kuliahnya, sedangkan dia baru pindah ke sini aku juga perlu memikirkan mencarikan universitas terbaik untuknya di sini.”

“Sepertinya dia sangat sepesial, berbeda perlakuan Anda dengan Nona Luna.”

“Jangan berkata seperti itu Alex, kalau ada yang mendengar bisa dikira aku sedang membedakan dua putriku.”

“Tapi dari aura wajah Anda memang terlihat berbeda, lebih bahagia saat bersama gadis itu.”

Meski berusaha mengelak pun tetap saja sikap Aariz terlihat dalam pandangan orang lain. Apa lagi, kali ini dia memperkenalkan Hanin sebagai putrinya secara khusus, sementara pada Luna tidak pernah, kecuali hanya mengadakan pesta ulang tahun.

1
Muhammad Raihan
Sudah sampai seperti itu masih saja tidak mau ngaku suka, Satya breng*** juga
Muhammad Raihan
Semangat Kakak 👍🏻
D Asti
Selamat datang di novel ke dua aku, ayo kakak pembaca yang terkasih beri author dukungannya dengan like, komentar, saran dan ulasannya ya, terima kasih😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!