Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.
Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.
Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.
Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 – Aturan yang Bergerak
Langit di atas lembah mulai menggelap.
Bukan karena malam, tapi karena perubahan Qi yang tidak wajar. Udara bergetar halus, seolah dunia menahan napas.
Ren Tao segera merasakannya.
Ada yang diubah.
Ia berhenti di balik pohon tua, menutup mata, merasakan aliran Qi alam. Polanya tidak lagi alami ada tekanan dari luar, seperti tangan tak terlihat yang memaksa arus dan jalur energi.
“Penguji…” gumamnya pelan.
Di luar lembah, seorang tetua mengangkat tangan.
“Mulai sekarang,” katanya datar, “aktifkan penyempitan area
Formasi di dasar lembah menyala samar. Jalur aman menyusut, memaksa para peserta bergerak, saling bertabrakan, mengungkap siapa yang lemah atau ceroboh.
“Kalau dia pintar,” ujar tetua berjubah abu-abu, menatap cermin batu yang memantulkan seluruh lembah, “lihat bagaimana dia bereaksi.”
Di dalam lembah, Ren Tao membuka mata dan tersenyum tipis.
Dipaksa bergerak berarti dipaksa menunjukkan diri.
Ia mengubah rute. Tidak menjauh justru mendekat ke pusat penyempitan. Tempat paling berbahaya, tapi penuh peluang. Di sanalah orang-orang kuat berkumpul, dan di sanalah kesalahan paling sering terjadi.
Belum jauh melangkah, sosok menghadang jalannya.
Pengawal Wei Kang. Sendirian. Pedang terhunus, tatapannya dingin, wajah tanpa emosi.
“Tuanku ingin bicara,” katanya pendek.
Ren Tao berhenti tiga langkah darinya, mengangkat tangan perlahan. “Aku nggak punya apa-apa.”
Pengawal itu menyerang tanpa kata. Tebasan lurus, cepat, teknik murid inti jauh di atas murid luar. Ren Tao melangkah mundur, nyaris terpeleset. Tebasan itu menyayat bahunya, darah langsung mengalir deras.
Sengaja.
Pengawal itu menyipitkan mata. Ren Tao membalas lambat, ceroboh. Pedang kayu beradu dengan besi, terpental.
“Sudah selesai,” kata pengawal itu sambil mengangkat pedang lagi. Ia menusuk.
Ren Tao menjatuhkan diri ke tanah, tusukan itu meleset tipis. Saat bangkit setengah berlutut, tangannya menyentuh tanah.
Sekarang.
Qi mengalir bukan besar, tapi tepat. Titik tekanan di tanah mengaktifkan sisa jebakan binatang buas. Tanah di bawah kaki pengawal runtuh.
“—!” Pengawal itu kehilangan keseimbangan sepersekian detik.
Ren Tao melompat masuk jarak dekat. Pisau kecil muncul, satu tusukan ke bawah tulang rusuk. Pengawal itu menggeram, menghantam Ren Tao dengan siku. Tubuh Ren Tao terpental menabrak pohon, darah menetes dari mulutnya.
Namun pengawal itu lebih parah. Napas tersengal, Qi bocor.
“Kau…” matanya melebar. “Sejak kapan…?”
Ren Tao berdiri tertatih, tersenyum tipis. “Sejak aku sadar,” katanya pelan, “aturan dibuat untuk orang yang kelihatan.” Ia melempar pisau kedua. Pengawal itu ambruk.
Ren Tao tidak menunggu. Ia mengambil token dan segera menghilang ke kabut, menutupi jejaknya.
Di luar lembah, tetua terdiam.
“Murid luar… menjatuhkan pengawal inti.”
“Dengan cedera seminimal itu.”
“Bukan. Dia menukar cedera. Lebih gila lagi,” balas tetua berjubah abu-abu.
Cermin batu memperlihatkan Ren Tao berjalan tertatih, darah jelas di bajunya, namun wajahnya tetap tenang.
Di dalam lembah, Wei Kang merasakan sesuatu yang salah. Ia menoleh tajam.
“Cari dia,” katanya dingin. “Aku ingin kepalanya.”
Ren Tao duduk di balik batu besar, membalut lukanya seadanya. Napas berat, mata tetap jernih. Ia menepuk tanah, memeriksa arus Qi yang tersisa, memperhitungkan posisi lawan, jalur, dan jebakan.
Sekarang aku sudah terlihat.
Ia tersenyum pahit. “Berarti,” gumamnya, “aku harus selesai sebelum mereka.”
Langit bergemuruh pelan, kabut semakin menebal.
Ujian memasuki fase akhir.
Dan Ren Tao yang selama ini bersembunyi akhirnya berdiri di garis depan, bukan lagi bayangan, tapi pemain yang harus menang.
semangat terus ya...