Novel mau bahagia denganku? sayang? Izin masuk ya, hallo kembali ke apel cantik!
Ayahnya berinvestasi hingga berhutang sampai 10 milliar, karena tak sanggup membayar pria itu malah menjual Aluna ke anak buah penagih hutang. Malam harinya pintu tanpa diketok, masuk nyelonong begitu saja, seorang pria melemparkan koper didepan meja yang berisi uang 10 milliar.
Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.
1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.
Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Kali ini agak tenang ya guys
hallo! jangan stress dulu y guys🤣🤣
HAPPY READING🥐
Tik—tok—tik—tok.
Suara jam menghitung setiap penderitaan Aluna di setiap detiknya. Arkan tetap fokus pada layar MacBook-nya, mengabaikan Aluna yang lebih memilih duduk di lantai, menyembunyikan dirinya sendiri di dalam pelukan kakinya layaknya kura-kura.
'Sampai kapan aku harus terkurung di sini?' ratap Aluna.
Seolah mampu membaca pikirannya, Arkan menjawab tanpa mengalihkan pandangan, "Mau keluar? Ingat, kau hanya boleh keluar bersama saya." Suara dinginnya kembali diikuti oleh jari-jemarinya yang mengetik cepat.
Aluna semakin depresi—ia menenggelamkan wajahnya di antara lutut, mencoba untuk tidur, namun rasanya sangat sulit untuknya.
Dalam pikiran, memori tentang teman-temannya di kafe tempatnya bekerja dulu mendadak muncul. Ia rindu disibukkan oleh pesanan pelanggan, rindu pula dengan teguran seniornya yang sedikit galak.
Rindu rasa lelah sampai menjalar ke ujung jempol kaki—bukan lelah yang menghancurkan jiwa seperti ini.
Setetes air mata jatuh ke marmer dingin, Aluna cepat-cepat segera menghapusnya.
Arkan menangkap isak tangisnya itu. Merasa fokusnya terganggu, Arkan menghantam meja kerjanya dengan telapak tangannya keras-keras.
BRAK!!
"BISA DIAM TIDAK?! KAU TAHU KERJAAN SAYA JADI SEMAKIN LAMA KALAU KAU TERUS BERISIK?!" bentak Arkan murka.
Aluna mengangguk kecil dengan bahu bergetar, mencoba sekuat tenaga menelan tangisnya meski dadanya terasa sesak luar biasa. Arkan berdiri, melangkah mendekat dan mencoba menarik tangan Aluna agar pindah ke sofa. Namun, Aluna memberontak lemah.
"Lepaskan, Mas... Di lantai lebih enak, " lirih Aluna, sebuah alasan yang jelas-jelas sedang berbohong.
Arkan berdecak kesal. Ia menyusupkan lengannya di bawah tubuh Aluna dan mengangkat wanita itu dalam satu sentakan kuat.
"Ma—Mas?!" seru Aluna kaget.
"Lama!" Arkan membawa tubuh ringkih itu dan menjatuhkannya di atas sofa empuk tepat di samping meja kerjanya.
"Duduk di sini! Jangan bersuara!"
Aluna terdiam, merasakan keempukan sofa yang lebih hangat daripada dilantai barusan. Untuk sesaat, ia terpaku melihat kemewahan ruang kerja Arkan yang luas—sesuatu yang baru ia sadari setelah sedihnya sedikit menghilang.
Arkan kembali ke kursinya, melanjutkan laporan yang menumpuk.
Saat sebuah kertas terjatuh ke dekat sofa, Aluna secara refleks mengambilnya.
Ia mencoba membaca isi laporan itu dengan dahi mengernyit, mencoba memahami apa yang dikerjakan suaminya.
Namun, Arkan yang tidak suka miliknya disentuh segera menyambar kertas itu kasar.
Gerakan sikunya yang tidak sengaja menghantam dada Aluna dengan keras membuatnya kaget, hingga wanita itu terjungkal ke samping.
Aluna terkesiap, rasa nyeri saat ini telah menusuk dadanya. Ia menggigit bibir bawahnya sekuat mungkin, menahan jeritan tangis. Dengan tangan gemetar memegangi dadanya, Aluna mencoba bangkit berdiri perlahan.
Arkan hanya melirik dari sudut matanya, melihat Aluna yang kesakitan tanpa sedikit pun rasa bersalah di wajahnya. "Begitu saja bisa jatuh. Cobalah jadi wanita yang sedikit lebih kuat," sindirnya ketus.
Arkan tidak tahu bahwa hantaman sikunya tepat mengenai area sensitif di dada Aluna, membuat pusat pernapasan wanita itu terasa terhimpit. Aluna memejamkan mata, mencoba menarik napas panjang, namun setiap tarikan udara terasa sesak. Ia merasa susah bernapas.
'Sakit... Dadaku sakit... engh—'
...****************...
Waktu telah menunjukkan pukul 20.00
Suasana di ruang kerja yang luas itu diisi oleh suara detak jam dinding.
Arkan, yang sejak tadi terpaku pada layar MacBook-nya, akhirnya merasakan perutnya melilit kelaparan.
Ia baru sadar bahwa sejak keributan di gerbang tadi, ia belum memasukkan apa pun ke dalam perutnya.
Pria itu meraih ponsel di atas meja, menelepon pelayan bagian dapur untuk membawakan menu makan malam untuk dua orang. Setelah dia menutup telepon, matanya tak sengaja melirik ke arah sofa.
Di sana, Aluna sudah tertidur lelap dalam posisi meringkuk.
Rambut panjangnya sedikit berantakan menutupi sebagian wajahnya yang pucat.
Entah dorongan apa yang merasuki Arkan, ia bangkit dari kursi lalu melangkah mendekati sofa. Ia berdiri membisu, menatap wajah Aluna yang tampak begitu damai saat tidur.
Jauh dari kata "jalang" yang selalu ia sematkan, Aluna terlihat seperti seorang gadis yang hancur. Tangan Arkan terangkat perlahan, jemarinya bergerak ragu sebelum akhirnya menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah istrinya itu.
Tepat saat itu, Aluna mengerang kecil. Matanya terbuka perlahan, dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah Arkan yang berada hanya beberapa inci dari wajahnya.
"Mas?!" seru Aluna kaget, tubuhnya tersentak mundur hingga kepalanya terantuk sandaran sofa.
"Akh! —"
"Makanya hati-hati! Ck, " decak Arkan.
Arkan segera menegakkan tubuh, berdehem keras. Ia menarik tangannya lalu dimasukkan ke dalam kedua saku. "Ada kotoran cicak di wajahmu," ucap Arkan ketus, membuat alasan tak masuk akal.
Aluna panik, jemarinya segera meraba-raba pipi dan dahinya. "Di—di mana? Apa sudah hilang?"
"Sudah saya buang," jawab Arkan singkat sambil memalingkan wajah, kembali menuju kursinya.
Aluna tertegun, sebuah cicitan pelan keluar dari bibirnya yang sedikit kering. "Te—terima kasih."
Arkan tidak menjawab. Ia pura-pura sibuk dengan ponselnya.
Sepuluh menit kemudian, ketukan pintu terdengar. Seorang pelayan masuk membawakan nampan besar berisi dua piring Beef Wellington dengan saus truffle yang aromanya sangat menggoda, ditemani dua gelas jus jeruk segar.
Arkan mengambil nampan itu dan menaruhnya di meja kaca depan sofa. Ia duduk di sana, mulai memotong dagingnya, namun Aluna tetap tak bergeming dari sofa sama sekali, bahkan lebih memilih untuk memalingkan wajah ke arah jendela.
"Kenapa tetap di sana?" tanya Arkan dingin. "Ayo makan."
Aluna tidak menjawab. Nafsu makannya sudah hilang. Arkan berdecak kesal. Ia mengambil satu piring dan menghampiri Aluna, menyodorkannya tepat di depan wajah wanita itu.
"Aluna?" panggilnya. Tapi tetap tak ada respon.
"ALUNA!"
"ALUNA INATURA KALEO! KALAU DITAWARI ITU DIMAKAN!" gertak Arkan kasar.
Lengan Aluna ditarik kencang, dipaksa menerima piring sedikit hangat itu. Aluna terkejut, tangannya gemetar memegang pinggiran piring agar tidak jatuh.
Arkan menyisir rambutnya ke belakang frustrasi, mendesah berat, lalu kembali ke sofanya sendiri untuk makan.
Bau harum mentega dan daging yang juicy akhirnya meruntuhkan ego Aluna untuk tidak makan.
Dengan gerakan pelan, ia mulai menyuap makanan itu.
Rasanya luar biasa enak.
'Enak... ini enak... Enak sekali... '
Waktu merambat cepat menuju pukul 23.00.
Pekerjaan Arkan hampir selesai, Aluna sudah kembali terlelap. Kali ini, ia tidak di sofa. Mungkin karena merasa tidak pantas duduk di sana, Aluna memilih merosot dan tidur di lantai marmer, memeluk kedua sikunya erat-erat.
Tubuhnya gemetar kecil karena suhu AC yang dingin.
Arkan meliriknya dari balik layar laptop. Ia meraih remote AC, menaikkan suhunya agar ruangan terasa lebih hangat.
Ia melihat Aluna berhenti gemetar dan sebuah senyum tipis, sangat tipis hingga hampir tak terlihat—terukir di bibirnya yang masih menyisakan bercak darah kering.
"Jangan tidur di sini. Sana pindah," gumam Arkan pelan. Namun Aluna tidak mendengar, ia sudah terlalu jauh tenggelam dalam alam mimpinya.
Ia bangkit, menyelipkan tangannya di bawah tubuh Aluna dan mengangkatnya kembali ke atas sofa yang lebih empuk.
Saat ia meletakkan tangan Aluna, matanya terpaku pada pergelangan tangan kecilnya.
Membiru. Lebam keunguan bekas cengkeraman yang ia lakukan tadi terlihat sangat buruk di kulit Aluna yang putih pucat.
Arkan terdiam. Ia berdiri mengambil kotak P3K dari lemari ruang kerjanya. Dengan gerakan sangat hati-hati—seolah takut wanita itu terbangun—ia mulai mengolesi lebam itu dengan salep.
Ia membalutnya dengan perban kain tipis agar tidak terkena gesekan. Tak berhenti di sana, ia mengobati luka di pipi Aluna dan mengoleskan kembali salep pada bibirnya yang robek.
Setelah selesai, Arkan merapikan sisa makan malam mereka, menyingkirkan nampan ke meja sudut agar ruangan kembali rapi. Ia mengambil selimut bulu putih dari lemari, lalu menyelimuti tubuh Aluna hingga sebatas leher.
Dalam keheningan malam, Arkan berlutut di samping sofa. Tanpa ia sadari, tangannya terulur mengelus pipi Aluna yang kini tertutup hansaplast. Matanya melembut sesaat, menatap wajah yang kadang suka membuatnya marah-marah.
"Anjing! Apa yang saya lakukan?" Arkan tersentak, segera menarik tangannya kembali.
Ia berdiri dengan wajah merah padam, merutuki dirinya sendiri.
"Ck, tahan dirimu, Arkan. Ini hanya tanggung jawabku karena saya yang membuatnya terluka. Jangan menaruh perasaan pada jalang ini. Jalang tetaplah jalang."
Ia kembali ke meja kerjanya, mencoba membuang segala pikiran aneh-aneh. Matanya kemudian tertuju pada dokumen ijazah yang tadi ia sita. Arkan mengambilnya, mengangkat lembaran ijazah itu ke arah lampu meja.
Di sana, tertera foto kelulusan Aluna. Wanita itu memakai toga dengan rambut yang tertata rapi. Ia tersenyum sangat lebar ke arah kamera—senyum yang sangat tulus, ceria, dan penuh harapan akan masa depan.
Sangat berbeda dengan Aluna yang ada di hadapannya sekarang—Aluna yang tatapannya kosong dan sudah mati rasa.
"Senyummu terlalu menyebalkan Aluna," gumam Arkan pelan, entah mengapa matanya tak bisa berpaling dari foto itu.
Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi, membiarkan ijazah itu tetap di tangannya. Di luar, hujan mulai turun, membasahi jendela kaca ruang kerjanya.
Arkan menoleh ke arah Aluna yang terlelap di sofa, lalu kembali menatap foto di ijazah itu.
Bersambung...
SPECIAL FOR CHAPTER 10!
Setelah author menghilang, Aluna bangun dia meregangkan lehernya yang kaku. "Kerja bagus, " puji Arkan, dia menawarkan kopi panas. Aluna tersenyum pelan, dia menerima kopi yang ada ditangan Arkan, memuji pria itu yang juga bisa membuat kopi.
"Ini enak sekali... Kamu juga bisa buat apa aja? "
"Oh banyak dong, " sombongnya, memanjangkan hidungnya ke depan. Aluna tertawa, dia berdiri membuka pintu ruang kerja yang sebenarnya kunci ruangan ini dia yang bawa.
Arkan segera menyusul dibelakang, "tahun baru ini kamu mau pergi kemana Lun? "
"Aku sih rencana mau liburan sama keluarga... "
Keldo datang, dia memberikan beberapa permen pada wanita itu. "Terimakasih ayah. "
Keldo senyum tak jelas, "iya sama-sama, putriku nyariin kamu nih... "
Datang gadis kecil berlari kecil ke Aluna dan memeluknya. "Kakak Aluna tahun baru ayo datang ke rumah kami... "
Aluna mendongak memastikan jawaban Arkan, pria itu angguk kepala. "Tentu saja, ayo Aluna. "
Aluna tersenyum pelan, ingin menggendong Arkan tapi tubuhnya lebih berat.
YANG ALUNA MAU:
KELAKUAN MEREKA DILUAR:
YANG ARKAN MAU :