NovelToon NovelToon
Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Penyelamat
Popularitas:138
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.

Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.

Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.

Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.

Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Palu Dewa dan Tebing Patah Hati

Bab 10: Palu Dewa dan Tebing Patah Hati

Di balik air terjun Curug Sewu, terdapat sebuah lorong sempit yang tidak diketahui oleh peta perguruan manapun. Lorong itu lembap, berlumut, dan dipenuhi oleh kelelawar. Namun, jika seseorang cukup gila untuk menyelam ke dasar kolam air terjun dan berenang melawan arus di bawah permukaan, mereka akan menemukan sebuah gua kering yang luas.

Ini adalah Bengkel Pandai Besi Langit. Tempat persembunyian Ki Awan.

Udara di dalam gua ini panas dan kering, berbau belerang dan logam cair. Di tengah gua, terdapat sebuah tungku peleburan (Forge) kuno yang terbuat dari batu andesit hitam, diukir dengan relief raksasa bermata satu—lambang Batara Kala.

Bara berdiri telanjang dada di depan tungku. Keringat mengalir deras membasahi punggungnya yang penuh otot. Di tangan kanannya, ia memegang palu godam raksasa. Di tangan kirinya, ia menjepit Kujang Si Sulung dengan tang besi.

"Batu itu keras kepala, hah?" suara serak Ki Awan terdengar dari sudut gua. Orang tua itu duduk santai sambil mengunyah tebu, seolah tidak terganggu oleh panas yang mencapai ratusan derajat.

"Ini bukan batu biasa, Ki," jawab Bara, napasnya memburu. "Ini Wesi Winge. Inti bintang. Api arang kayu biasa tidak bisa melelehkannya."

Bara sudah memukul batu meteorit pemberian Anjani itu selama tiga jam. Batu itu hanya memerah sedikit, tapi belum mau menyatu dengan bilah Kujang.

"Tentu saja tidak bisa, Bodoh!" Ki Awan meludah ampas tebu ke lantai. "Kau punya tungku alami di dadamu. Kenapa kau masih pakai arang? Kau menghina leluhurmu!"

Bara terdiam. Menggunakan Api Garuda untuk menempa? Itu berisiko. Jika dia kehilangan kendali, ledakannya bisa meruntuhkan gua ini dan mengubur mereka hidup-hidup.

"Lakukan saja, Mitra," hasut Garuda. "Aku bosan melihatmu memukul-mukul seperti tukang pandai besi desa. Berikan aku kendali atas tangan kananmu."

Bara memejamkan mata. Ia menarik napas dalam-dalam, memusatkan konsentrasi ke Tantra Pusat.

"Mantra: Agni Tapa - Pelebur Sukma."

Seketika, tato di dada Bara menyala terang. Hawa panas yang mengerikan meledak dari tubuhnya. Rambut Bara melayang seolah ditiup angin vertikal. Matanya terbuka, iris emasnya menyala garang.

Tangan kanan Bara—yang memegang palu—diselimuti oleh api keemasan yang padat. Palu godam besi biasa itu langsung memerah dan hampir meleleh, tapi lapisan Prana Bara menjaganya tetap utuh.

"Bagus! Itu baru semangat!" sorak Ki Awan girang.

DANG!

Bara menghantamkan palu itu ke Wesi Winge yang diletakkan di atas bilah Kujang.

Suaranya bukan seperti logam beradu, melainkan seperti ledakan guntur. Percikan api emas dan hitam berhamburan.

DANG! DANG! DANG!

Setiap pukulan mengirimkan getaran ke seluruh gua. Bara masuk ke dalam trance (kondisi meditasi dalam gerak). Dia tidak lagi melihat batu atau besi. Dia melihat struktur atom logam itu. Dia memaksa partikel meteorit asing itu untuk membuka diri, menerima, dan bersatu dengan struktur kuno Kujang.

Proses Manunggal dimulai.

Kujang Si Sulung menjerit. Suara lengkingan tinggi logam yang dipaksa berubah bentuk.

"Terima dia!" perintah Bara dalam batinnya kepada roh senjata itu. "Makan bintang ini, dan kau akan menjadi raja langit!"

Meteorit hitam itu mulai mencair seperti lilin, meresap ke dalam pori-pori Kujang. Warna bilah Kujang yang tadinya berkarat kusam, kini berubah. Karat itu rontok, digantikan oleh warna hitam legam yang matte (tidak mengkilap), namun memiliki urat-urat emas halus yang berdenyut seirama dengan detak jantung Bara.

Satu pukulan terakhir.

"JADI!" teriak Bara.

BOOM!

Gelombang kejut menyapu gua, memadamkan api di tungku dan melemparkan Ki Awan dari kursinya.

Saat debu mereda, Bara berdiri terengah-engah. Di tangannya, Kujang Si Sulung telah lahir kembali. Bentuknya lebih ramping, lebih ganas. Lengkungan bilahnya kini memiliki gerigi halus mikroskopis yang bisa memotong angin.

Bara mengangkat senjata itu. Beratnya bertambah dua kali lipat, tapi rasanya pas di tangan.

"Coba tes," kata Ki Awan sambil bangun dan menepuk-nepuk pantatnya yang sakit. Dia melempar sebuah batangan baja padat setebal paha orang dewasa ke arah Bara.

Bara tidak menggunakan tenaga dalam. Dia hanya mengayunkan Kujang itu santai.

Sret.

Tidak ada suara benturan. Batangan baja itu terbelah dua dengan mulus seperti memotong keju, potongannya jatuh berdenting ke lantai. Permukaan potongannya halus dan licin seperti cermin.

"Tajam," komentar Bara datar, tapi matanya berbinar puas.

"Itu baru tahap awal," kata Ki Awan mendekat, memeriksa senjata itu dengan takjub. "Sekarang Kujangmu sudah masuk kategori Tingkat Utama Puncak. Jika kau terus memberinya makan darah dan aura siluman... dia bisa berevolusi menjadi Tingkat Swargaloka."

Bara menyarungkan Kujang itu. "Terima kasih, Ki. Tanpa tempat ini, aku tidak bisa melakukannya."

Ki Awan menatap Bara serius. Wajah mabuknya hilang.

"Bara... kau tahu kenapa aku punya tempat ini? Kenapa aku, mantan Jenderal Perang Kekaisaran, berakhir jadi pemabuk di desa terpencil ini?"

Bara menggeleng.

"Karena aku gagal melindungi tuanku," Ki Awan menatap api tungku yang mati. "Ayahmu. Raden Wijaya. Pemilik Kujang itu sebelum dirimu."

Bara tertegun. Ini pertama kalinya Ki Awan menyebut tentang orang tuanya.

"Ayahmu bukan mati karena sakit atau kecelakaan," lanjut Ki Awan, suaranya bergetar menahan emosi. "Dia dikhianati. Oleh Catur Wangsa yang takut akan kekuatannya. Mereka meracuninya saat perjamuan damai."

Tangan Bara mengepal erat hingga kuku menancap ke telapak tangan.

"Dunia ini busuk, Nak," Ki Awan menepuk bahu Bara. "Jika kau ingin mengubahnya... kau tidak bisa hanya menjadi kuat. Kau harus menjadi Mutlak. Menjadi sesuatu yang bahkan Dewa pun takut untuk menyentuhnya."

"Aku akan membakar mereka semua, Ki," bisik Bara dingin.

"Bagus. Tapi sebelum kau membakar dunia..." Ki Awan menyeringai sadis. "Kau harus selamat dulu dari latihan besok pagi."

Langit masih gelap gulita. Kabut dingin menusuk tulang.

Sepuluh murid Kelas Awan berdiri berbaris di kaki tebing curam di belakang perguruan. Tebing ini tingginya 500 meter, tegak lurus, licin, dan dipenuhi lumut. Di bawahnya adalah jurang batu tajam.

Mereka semua mengantuk, menggigil, dan ketakutan.

Kecuali Bara. Dia berdiri paling ujung, matanya segar bugar (efek regenerasi Garuda), membawa beban batu seberat 50 kg di punggungnya.

Ki Awan datang, kali ini tidak membawa arak, tapi membawa cambuk rotan.

"Tebing ini namanya Tebing Patah Hati," teriak Ki Awan. "Konon, siapa yang jatuh dari sini, jasadnya tidak akan ditemukan karena dimakan siluman di dasar jurang."

Kirana menelan ludah. "K-kita harus memanjat ini, Ki Guru?"

"Bukan cuma memanjat!" Ki Awan menjentikkan cambuknya. CTAR! Suaranya memecah keheningan pagi. "Kalian harus memanjat tanpa menggunakan Prana! Hanya otot dan tekad! Dan... tangan kiri kalian harus diikat ke belakang!"

"Gila!" seru Jaka, murid bertubuh gemuk. "Itu bunuh diri!"

"Yang tidak mau, silakan pulang!" bentak Ki Awan. "Kembali jadi sampah! Kembali diinjak-injak oleh Wangsa Agnimara! Silakan!"

Tidak ada yang bergerak. Hinaan "sampah" itu membakar harga diri mereka yang tersisa.

"Bagus. Bara! Kau duluan!"

Bara maju. Dia mengikat tangan kirinya ke belakang pinggang. Dengan beban batu di punggung dan satu tangan, dia mulai memanjat.

Jari-jari Bara mencengkeram celah batu sekecil apapun. Otot punggungnya berkontraksi maksimal. Dia tidak memanjat dengan cepat, tapi dengan irama yang stabil.

Murid-murid lain melihat itu. Mereka melihat punggung Bara yang penuh luka cambuk (latihan masa lalu) dan luka bakar baru dari Ki Rangga. Punggung itu... kokoh.

"Kalau Mas Bara bisa... aku juga harus bisa!" Kirana mengikat tangannya, menggigit bibir, dan mulai memanjat.

Satu per satu, murid-murid Kelas Awan mulai merayap di dinding tebing seperti cicak.

Setengah jam berlalu. Mereka baru sampai ketinggian 50 meter. Jari-jari mereka berdarah. Otot lengan menjerit kesakitan.

"Jangan melihat ke bawah!" teriak Bara dari atas. Suaranya bergema. "Lihat batu di depan hidungmu! Fokus pada satu pegangan!"

Tiba-tiba, Jaka tergelincir.

"AAAA!"

Batu pijakannya runtuh. Tubuh gemuknya meluncur ke bawah.

Kirana menjerit.

Namun, sebelum Jaka jatuh bebas, sebuah tangan menangkap kerah bajunya.

Bara.

Entah bagaimana caranya, Bara melompat turun dari posisinya yang lebih tinggi, mengayun dengan satu tangan, dan menangkap Jaka. Otot lengan kanan Bara menegang ekstrem menahan berat dua orang plus batu di punggungnya.

"Jangan mati dulu, Gendut," geram Bara, wajahnya memerah menahan beban. "Kau belum bayar hutang makan siangku kemarin."

Bara mengayunkan Jaka ke celah batu yang aman.

"Terima... terima kasih, Bara..." Jaka menangis gemetar.

Di bawah, Ki Awan tersenyum tipis melihat kejadian itu.

"Solidaritas," gumam Ki Awan. "Itulah senjata yang tidak dimiliki Catur Wangsa. Mereka saling sikut, tapi anak-anak ini... mereka akan saling gendong."

Sementara itu, di asrama elit Kelas Surya.

Rara Anjani sedang duduk di kelas yang mewah, mendengarkan ceramah teori tentang "Sejarah Keagungan Catur Wangsa".

Membosankan.

Dia menatap ke luar jendela, ke arah tebing jauh di belakang perguruan. Dia bisa melihat titik-titik kecil sedang merayap di sana.

"Mereka sedang apa?" tanya Anjani pelan.

"Oh, itu Kelas Awan," jawab Arya Agnimara yang duduk di sebelahnya. Arya sudah sadar, tapi tubuhnya diperban penuh dan Prana-nya lemah sekali. Wajahnya penuh dendam. "Si pemabuk gila itu menyiksa mereka. Biarkan saja. Paling sebentar lagi ada yang mati jatuh."

Anjani menatap Arya dengan jijik. "Kau tahu, Arya? Kadang aku berpikir, mungkin mereka yang sedang belajar menjadi pendekar sejati, sedangkan kita di sini hanya belajar menjadi badut istana."

"Apa maksudmu?!" Arya tersinggung.

Anjani berdiri, membereskan bukunya.

"Aku sakit perut. Aku mau keluar," kata Anjani pada guru, lalu berjalan keluar tanpa menunggu izin.

Dia berjalan menuju tebing belakang. Dia ingin melihat. Dia ingin melihat bagaimana Bara menempa pasukannya.

Karena jauh di lubuk hatinya, Anjani mulai sadar. Perang di masa depan bukan antara Agnimara dan Tirtamaya.

Perang itu adalah antara Langit (Bangsawan) dan Bumi (Rakyat Jelata). Dan Bara sedang mempersiapkan gempa buminya.

Glosarium & Catatan Kaki Bab 10

Batara Kala: Dewa penguasa waktu dan kehancuran dalam mitologi Jawa, sering digambarkan sebagai raksasa menyeramkan. Dalam konteks pandai besi, dia adalah pelindung api yang memakan logam.

Tantra Pusat (Dantian): Pusat energi spiritual yang terletak tiga jari di bawah pusar. Tempat penyimpanan utama Prana.

Manunggal: Konsep filosofi Jawa "Manunggaling Kawula Gusti" (Penyatuan Hamba dan Tuhan), di sini diadaptasi menjadi penyatuan jiwa pendekar dengan roh senjatanya.

Tingkat Utama Puncak: Level senjata yang sudah sangat tinggi, satu langkah lagi menuju senjata legendaris (Surga). Mampu memotong baja biasa tanpa hambatan.

1
Panda
jejak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!