Haruskah cinta dan pernikahan yang diberikan sahabatnya, ia kembalikan?
Ini gila!
cinta dan pernikahan yang Elea jaga untuk Radjendra dan demi amanah yang diberikan sahabatnya, Erika. justru malah dihancurkan oleh Erika sendiri.
Apa yang harus Elea lakukan?
Haruskah ia kembalikan cinta dan pernikahan itu?
Atau ia harus mempertahankannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji.
Elea bersiap diri, selesai mandi ia mengenakan pakaian yang cantik untuk menemui sahabatnya. Meski dalam pikiran yang kacau, ia tak bisa semudah itu meresponnya dengan kemarahan. Ia harus tahu sejauh mana perselingkuhan mereka sekarang.
Usai menerima pernyataan Erika yang tengah sakit, Elea berjanji akan menemuinya hari ini. Mungkin ia akan tahu, apakah benar sahabatnya itu sedang berbadan dua?
Jika benar, artinya itu adalah anak dari suaminya. Ia pun tak ingin percaya, namun jika mengingat kejadian dikantor siang itu rasanya itu mungkin. Bayangan saat Rajendra dan Erika saling berpagut mesra, membuatnya diambang ketidakpercayaan.
Dress putih dengan model v-neck ia pakai, dengan kain bergambar bunga kecil dan berwarna putih. Ia juga tak banyak pakai aksesoris, hanya kalung dan anting kecil yang menempel ditubuhnya. Parfum ia semprotkan pada area leher dan nadi tangannya, selanjutnya ia mengenakan tas kecil dengan tali panjang.
Selesai itu, ia berangkat dengan supir pribadinya. Elea mengira perjalanan mereka cukup panjang, namun setelah Erika memberikan lokasi rumahnya Elea terkejut. Peta itu menjelaskan jarak mereka sangat dekat.
"Ini kan, satu komplek," kaget Elea kala melihat alamat tersebut.
Elea sendiri tak tahu tentang semua tetangganya, karena hubungan antar tetangga tidak terlalu dekat lain jika dikampung, disini mereka tak begitu dekat dengan tetangga lain karena privasi ketat dan mereka semua adalah orang yang sibuk.
Tak butuh lama, setelah memberitahu supir mereka sudah sampai ke alamat yang Erika berikan.
Rumah mewah yang Erika huni memang tak semewah rumah Rajendra, namun tetap saja ini kawasan perumahan sultan yang artinya rumah disini semuanya rumah orang kaya.
Elea masuk setelah dipersilahkan oleh Erika, ia berjalan melihat setiap sudut rumah tersebut. Sementara Erika hanya melihatnya saja sembari tersenyum penuh dengan rencana.
"Rumah kamu bagus juga, tapi ... Emangnya tak apa tinggal berdua dengan asisten rumah tangga?" puji Elea yang kemudian bertanya, cukup bahaya seorang wanita hanya tinggal berdua, keamanan itu cukup penting.
"Sebenarnya, pacarku yang membeli rumah ini untukku," jawab Erika dengan sudut bibir tertarik keatas.
Elea yang tengah melihat dekorasi rumah pun mendadak berhenti, "Jadi rumah ini pemberian mas Rendra," benaknya berucap.
Tangannya mengepal, ia tak menduga sebesar itu perasaan suaminya pada cinta pertamanya ini. Elea menghela nafas, ia menahan sesak yang mendadak muncul kembali. Ia memaksakan diri untuk tersenyum, juga akan berusaha baik-baik saja dengan berpura-pura sangat bahagia.
Kembali Elea melihat-lihat rumah sahabatnya tersebut, rumah yang sangat mewah itu sungguh indah dengan ukiran unik setiap sudut yang pastinya punya cerita sendiri. Apalagi didinding dihadapannya itu ada huruf besar yang diukir cantik, berinisial R dan E.
"Begitu ya, pasti pacarmu sangat mencintaimu. Seperti mas Rendra yang sangat mencintaiku," aku Elea berusaha membalas.
"Syukurlah, kupikir Jendra masih mencintaiku. Aku takut tak nyaman, jika kami bertemu nanti. Dia tidak akan berpikir aku masih menyukainya kan, El? Aku takut kamu salah paham," ucap Erika dengan sepolos mungkin dan masih berbohong bahwa ia belum bertemu dengan Rajendra.
Elea tersenyum dengan paksa, ia menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Sungguh drama yang hebat, kupikir setelah ujian sakit kamu akan berubah. Nyatanya kamu makin buruk, Er," hati Elea berkata.
"Mencintaimu, kau pasti mimpi Elea. Kau pikir aku tak tahu tentang rumah tanggamu yang penuh pura-pura itu. Lihat saja, aku akan menjadi nyonya Rajendra sebentar lagi, sedangkan kau hanya sampah yang dibuang jauh seperti ayahmu yang membuang ibumu," ujar Erika dalam hati.
Mata mereka beradu pandang, dua wanita itu larut dalam pikiran masing-masing. Saling membenci dalam hati namun saling memuji lewat mulut, penuh dengan kemunafikan persahabatan mereka itu.
"Nona makanannya sudah siap," suara asisten rumah tangga datang untuk memberitahukan, dengan lembut dan sopan ia menyela dua wanita itu.
"Mari kita makan! Aku sengaja mengundangmu untuk makan bersama," ajak Erika sok ramah.
Elea mengangguk dan masih dengan senyuman yang menghiasinya wajahnya.
^
Dimeja makan dua wanita bersahabat itu menikmati makanannya dengan tenang, tak ada yang Elea suka dari makanan yang terhidang yang semuanya adalah makanan kesukaan Rajendra.
Walaupun menggugah selera tapi kalau seperti ini jadinya ia seakan dipermalukan. Erika seolah dengan terang-terangan masih memiliki perasaan pada Rajendra. Atau memang, ia dengan sengaja ingin menggurui Elea dan bercerita tentang kebucinan Rajendra padanya.
"Ini adalah yang paling Jendra sukai, jika aku yang menyuapinya ia pasti akan memberiku hadiah. Biasanya perhiasan atau aksesoris rambut," ungkap Erika dengan terbuka bercerita tentang makanan kesukaan Rajendra yang ternyata ikan goreng.
Ada banyak dimeja ini yang dia masak, ikan goreng, cumi pedas, sayur kuah dan juga lainnya. Sampai Elea saja enggan berkomentar, ia hanya secukupnya saja memakannya.
"Kalau ini memang Rajendra suka, tapi kalau terlalu pedas ia tak suka. Namun demi aku ia tetap memakannya sampai kepedasan," sambung Erika dengan senyum semringah menunjuk pada cumi pedas dengan beberapa cabai rawit didalamnya.
"Romantis sekali, masakanku saja tak pernah ia makan," gumam Elea dalam hati yang kesal mendengar cerita temannya itu.
Elea hanya tersenyum saja mendengarkannya, ia ogah untuk menyela. Ia lebih memilih diam dan menikmati makanan dipiringnya, namun karena Erika terus-menerus bercerita, ia jadi punya ide.
Elea berpura-pura merasa mual dan muntah dengan mendadak, ia mengambil segelas air putih dan segera meneguknya hingga habis.
Kening Erika mulai berkerut, wajahnya memancarkan rasa cemas kala Elea kembali berpura-pura mual. Istri Rajendra itu menyentuh perutnya lalu memijat pelipisnya, ia juga menghentikan makannya yang masih banyak dan menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Kamu tak apa, El?" tanya Erika pura-pura memberikan perhatian.
"Aku gak apa-apa," jawab Elea sambil menggeleng pelan.
"Sebenarnya, aku sudah telat mentruasi selama dua bulan ini. Aku yakin bahwa aku tengah hamil lagi," ungkap Elea berbohong.
"A–apa?!" kaget Erika dengan begitu jelas, ia melepaskan sendok dan garpunya dengan mata yang membelalak.
"Tidak mungkin, Rajendra bilang ia tak akan menyentuh Elea lagi. Bagaimana mungkin ia bisa hamil?" ucap Erika dalam hati, makanan yang ia rasa nikmat sekarang terasa hambar mendengar cerita sahabatnya itu.
Elea menyunggingkan senyum, "Bukankah ini yang ingin kau rencanakan. Aku mencurinya tepat waktu, aku tak tahu kamu beneran hamil atau hanya pura-pura," ucapnya dalam hati.
"Sialan! Aku ingin pura-pura hamil, malah Elea hamil beneran. Mas Jendra, beraninya kamu bohongi aku," geram Erika dengan pikiran yang mulai berantakan.
Bisa Elea lihat bagaimana muka temannya yang terlihat mendadak banyak pikiran itu, ia belum puas tapi sepertinya itu cukup. Ia tak ingin Erika drop karena memikirkan masalah ini, ia hanya ingin Erika tahu diri saja.
^^
Selepas Elea pergi, Erika kian tak bisa menahan kemarahannya. Ia hempaskan semua makanan dimeja, hingga tumpah dan berserakan dilantai. Beberapa makanan sudah bercampur dengan beling dari pecahan piring dan separuhnya berceceran mengotori lantai.
Sang pembantu datang mendekatinya, dengan cemas ia melihat keadaan dimeja makan yang sangat berantakan.
"Nona, ada apa? Anda kenapa?" tanya pembantu tersebut.
"Diam kamu!" bentak Erika, membuat asisten berkelamin wanita yang berusia matang itu diam dan ketakutan.
"Andai saja penyakit kanker ini tak muncul, aku yang bahagia bersama Rajendra sekarang. Bukan Elea!" ujar Erika meluapkan kemarahannya.
"Walaupun Rajendra salah paham bahwa aku adalah gadis yang menolongnya itu, setidaknya ia sudah mencintaiku sekarang," ungkap Erika dengan mata berkaca yang kemudian menetes membasahi pipinya.
Mata yang dipenuhi kebencian pada sosok wanita yang bernama Eleanor, sahabatnya yang ia pikir selalu beruntung itu. Ia merasa dunia ini tak adil padanya, penyakit yang merongrong tubuhnya sudah membuatnya hilang akal dan ketakutan.
Ia pikir dirinya akan mati, rasa bersalah karena berbohong pada Rajendra membuatnya nekat menjodohkan mereka. Karena memang Rajendra seharusnya milik Elea bukan untuknya, tapi nyatanya ia sembuh.
Disaat sembuh disaat itulah ia cemburu melihat kehidupan mereka yang bahagia, apalagi setelah anak kembar mereka lahir semuanya jadi terlihat sempurna.
Lalu dirinya, apa harus menjadi penonton?
Rasa iri dan benci itu akhirnya tumbuh, hingga ia memberanikan diri mendekati Rajendra. Erika ingin merebut semuanya kembali terutama Rajendra.
Masa bodoh dengan Elea, dia sudah terlalu beruntung pernah hidup bersama Rajendra. Kini gilirannya yang harus mendapatkan kebahagiaan itu.
"Eleanor, kamu gak pantas bahagia," ujar Erika pelan, tangannya mengepal dengan hati yang dipenuhi api kebencian.
*
Ditempat lain, Rajendra yang tengah sibuk bekerja mendadak menghentikan kesibukannya. Ia mematikan komputernya lalu membuka laci pertama dimeja kerjanya, ada sebuah kotak didalam sana ia pun mengambilnya.
Kotak yang berbahan beludru itu ia buka, disana ada sebuah kalung yang berbandul huruf E unik. Sangat indah hingga membuatnya tersenyum sendiri, bagaikan penawar yang bisa memberinya semangat.
"Panggil saja aku nona E, tentangku kamu cari sendiri," ucap gadis remaja berambut panjang dengan senyuman manis menatapnya.
Saat itu adalah pertemuan pertama mereka, bak dalam novel semuanya begitu indah, sangat indah hingga ia berjanji akan menikahi gadis itu.
Rajendra masih tersenyum, mengingat pertemuan pertamanya dengan sosok gadis cantik berusia remaja yang ingin ia jadikan pasangan hidupnya untuk selamanya.
Namun, wajah Eleanor terlintas begitu saja merusak dan menenggelamkan harapannya.
"Sialan!" umpatnya, ia marah sangat marah karena Elea menjadi penghalang baginya untuk menepati janji itu.
Tok tok tok
Suara pintu mengejutkannya, siapakah yang datang?
Erika kah?