NovelToon NovelToon
Taktik Cantik Sang Tunangan

Taktik Cantik Sang Tunangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Pelakor jahat / CEO / Romantis / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:156
Nilai: 5
Nama Author: Nur Sabrina Rasmah

Fiora Gabriela adalah definisi nyata dari kesempurnaan. Sebagai putri tunggal dari dinasti bisnis raksasa, kecantikan dan kekuasaannya adalah mutlak. Namun, ada satu hal yang belum bisa ia taklukkan: hati Galang Dirgantara, pria dingin yang menjadi tunangannya demi aliansi bisnis keluarga mereka.
Bagi Galang, Fiora hanyalah wanita arogan yang terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang. Ia menutup hati rapat-rapat, sampai akhirnya ia bertemu dengan Mira—seorang gadis dari kalangan bawah dengan hidup penuh kemalangan. Sosok Mira yang rapuh membangkitkan sisi protektif Galang yang belum pernah terlihat sebelumnya. Galang mulai berpaling, membiarkan rasa iba itu tumbuh menjadi cinta yang mengancam status Fiora.
Namun, Galang lupa satu hal. Fiora Gabriela bukanlah wanita yang akan menyerah begitu saja dan menangis dalam diam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Tamatnya Sandiwara Sang Ratu Drama"

"Pa-pamannn... ada apa?" Fiora membuka matanya perlahan, berusaha memasang wajah selugu mungkin meskipun jantungnya sudah seperti tabuhan genderang perang.

Galang duduk di tepi ranjang. "Saya kira kamu lupa, Fiora," bisik Galang.

Glekkk...

Fiora menelan ludahnya dalam-dalam. "Ma-maksud Paman apa?" Fiora segera bangun dari posisi berbaringnya dan duduk tegak, mencoba menciptakan jarak aman.

Galang tersenyum. "Bukankah kamu sendiri yang bilang ingin berada di dekat Paman terus? Dan bukankah Paman sudah bilang... kamu harus melayani Paman hari ini?"

Ketakutan Fiora sepertinya terbaca jelas di matanya.

"Kamu mikirin apa, Fiora?" Galang mendekatkan wajahnya. "Saya tahu kamu... mau kabur, kan?"

"Eeeee... Pa-paman... mau di-pijitin ya? Iya kan? Paman capek habis kerja tadi!" jawab Fiora dengan nada bicara yang sedikit meninggi karena panik.

Galang terkekeh rendah. "Pijit? Boleh saja. Tapi Paman mau pijatan yang jauh lebih 'istimewa' dari yang tadi di kantor, Fiora. Kamu siap?"

Fiora merasa dunianya seolah berputar. Ia menyadari satu hal: malam ini, di Presidential Suite ini, tidak ada lagi tempat bagi Fiora untuk bersembunyi di balik sandiwara amnesianya. Galang benar-benar berniat membongkar semuanya.

"Maksudnya Paman mau dipijat pakai apa?" tanya Fiora dengan suara yang sudah gemetar hebat.

"Pakai kamu," jawab Galang singkat dengan nada bariton yang terdengar sangat dalam dan posesif.

‘Omaygoat! Omaygoat! Ini beneran gawat! Gue bakal habis malam ini juga!’ batin Fiora berteriak histeris. Seluruh tubuhnya merinding, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Melihat Fiora yang sudah tersudut, Galang menyeringai puas. Tangan Galang perlahan bergerak menuju pinggangnya, mulai menarik ujung tali bathrobe putih yang ia kenakan. Gerakannya sengaja dibuat lambat untuk menyiksa mental Fiora.

"Pamannnnn! Jangannnnn!" teriak Fiora spontan sambil menutup matanya rapat-rapat dengan kedua tangan.

Keheningan sesaat terjadi. Nafas Galang terasa hangat di depan wajah Fiora. Karena sudah tidak kuat lagi menahan tekanan mental dan ketakutan yang luar biasa, akhirnya pertahanan Fiora runtuh total.

"Oke! Fine! Kamu menang, Galang! Aku ngaku! Aku cuma pura-pura amnesia! Puas?!" teriak Fiora dengan napas terengah-engah.

Seketika gerakan tangan Galang berhenti. Ruangan penthouse itu mendadak sunyi senyap pada Rabu malam, 7 Januari 2026 ini.

Fiora perlahan membuka matanya dan melihat Galang yang kini sedang menatapnya dengan tatapan datar—namun ada kilat kemenangan yang sangat nyata di matanya. Galang tidak melanjutkan melepas tali jubahnya, ia justru menyandarkan punggungnya di kepala ranjang sambil melipat tangan di dada.

‘Ya elah, kenapa dibongkar segala sih! Fio bloon! Harusnya lo bertahan dikit lagi!’ batin Fiora merutuki kebodohannya sendiri. Ia merasa sangat malu karena harga dirinya sebagai ratu drama baru saja hancur berkeping-keping.

"Akhirnya... kamu mengaku juga, Fiora Gabriela," ucap Galang dengan nada suara yang kembali dingin namun terdengar puas. "Jadi, sejak kapan kamu menganggap saya sebodoh itu sampai bisa kamu tipu dengan akting murahan seperti ini, hm?"

Fiora hanya bisa menunduk dalam, wajahnya sudah merah padam sampai ke leher. Ia menyadari bahwa malam ini bukan lagi tentang "melayani" Galang, tapi tentang bagaimana ia harus mempertanggungjawabkan semua kebohongannya di depan pria yang ternyata jauh lebih cerdik darinya.

"Sekarang kamu tahu, kan, betapa cintanya aku sama kamu, Galang?" ucap Fiora, suaranya yang tadi gemetar kini berubah menjadi tajam dan penuh luka. Harga dirinya sebagai ratu drama mungkin runtuh, tapi harga dirinya sebagai wanita kelas atas bangkit kembali.

"Aku sudah melakukan segalanya! Tapi kamu menolakku tanpa alasan yang masuk akal. Bahkan saat kita sudah resmi bertunangan, kamu justru menemukan 'wanita debu jalanan' itu dan memilihnya, kan?" Fiora tertawa sinis, menatap Galang dengan tatapan yang membara.

Fiora memberanikan diri. Ia tidak lagi mundur. Sebaliknya, ia memajukan tubuhnya hingga jarak mereka terkikis habis. Dengan perlahan, ia menempelkan jari telunjuknya di dada bidang Galang yang masih terbalut bathrobe lembap, menekan di sana tepat di mana jantung pria itu berdetak.

"Kau lebih memilih debu daripada emas, Galang. Seleramu sangat rendah," bisik Fiora tepat di depan wajah Galang. "Apa yang dia punya yang tidak aku miliki? Kemelaratan? Ketidakberdayaan? Apa itu yang membuatmu merasa menjadi pahlawan?"

Galang tidak menjauh. Ia justru membiarkan jemari Fiora bermain di dadanya, menatap tunangannya itu dengan sorot mata yang kini sulit dibaca. Suasana di kamar hotel pada malam ini berubah dari tegang menjadi penuh intimidasi emosional.

"Emas yang terlalu menyilaukan kadang membuat mata sakit, Fiora," balas Galang dengan suara rendah, tangan besarnya tiba-tiba menangkap jemari Fiora di dadanya dan menggenggamnya erat. "Tapi aktingmu... itu yang membuatku penasaran sejauh mana kamu akan melangkah."

Fiora menyipitkan mata, menantang tatapan Galang. "Oh, jadi kamu menikmatinya? Menikmati melihatku mempermalukan diri sendiri dengan pura-pura amnesia? Kamu benar-benar pria yang jahat, Paman."

Menghentikan percakapan dengan nada rendah, "Jangan panggil paman. Saya tunanganmu, Fiora," Galang menekankan setiap kata.

Sebelum Fiora sempat menjawab, Galang meraih pinggangnya, mendekatkan tubuh Fiora. Fiora terkejut, Galang menahannya di dekatnya.

"Kamu bilang seleraku rendah karena memilih 'debu'?" bisik Galang. "Lalu kenapa kamu harus bersusah payah berakting bodoh hanya untuk mendapatkan perhatian dari pria berselera rendah seperti saya?"

Galang menatap Fiora dengan intens, tidak ada lagi kepolosan yang biasa terlihat.

Fiora berusaha tetap tenang meskipun jantungnya berdebar. "Itu karena aku tidak suka milikku disentuh oleh orang lain, Galang. Apa yang sudah menjadi milik Fiora Gabriela, harus tetap menjadi milikku sepenuhnya."

Galang tersenyum kecil. "Kalau begitu, tunjukkan padaku... seberapa besar ambisimu untuk mempertahankan ini agar tidak jatuh ke tangan orang lain."

Mereka berdiri sangat dekat. Di dalam kamar penthouse mewah ini, permainan berakhir, digantikan oleh konfrontasi.

"Jangan Fio, jangan!" jerit batin Fiora, memperingatkan logikanya yang mulai terkikis oleh keberadaan Galang yang begitu dominan. Namun, sisi keras kepala dan rasa haus akan pengakuan dari pria ini jauh lebih kuat. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya bukan hanya sekadar wanita manja yang pandai bersandiwara, tapi wanita yang mampu membuat Galang bertekuk lutut.

Dengan jemari yang sangat gemetar hingga terasa dingin, Fiora memberanikan diri menaikkan tangannya. Perlahan, ujung jarinya menyentuh jakun Galang yang menonjol tegas, lalu merambat naik menelusuri garis leher tunangannya itu. Sentuhan itu ringan, namun penuh dengan gejolak emosi yang tertahan selama ini.

Galang tidak menghindar. Ia tetap bergeming, membiarkan jemari Fiora mengeksplorasi kulitnya. Ia hanya menyeringai kecil—sebuah seringai predator yang merasa mangsanya justru sedang balik menyerang dengan cara yang sangat menarik.

"Kenapa tanganmu gemetar, Fio? Mana keberanian yang tadi kamu agung-agungkan?" bisik Galang dengan suara bariton yang dalam, membuat getaran di lehernya terasa langsung di ujung jari Fiora.

Malam itu, di tengah heningnya kamar hotel mewah tersebut, Galang menyadari bahwa Fiora benar-benar sedang mempertaruhkan segalanya. Seringai Galang semakin lebar saat ia mempererat kuncian di pinggang Fiora, seolah berkata bahwa setelah sentuhan ini, tidak ada jalan pulang bagi mereka berdua.

"Kamu ingin menunjukkan siapa dirimu?" tanya Galang lagi, wajahnya kini hanya berjarak satu inci dari wajah Fiora. "Lakukan lebih dari ini, Fiora Gabriela. Buktikan kalau kamu memang jauh lebih berharga daripada siapa pun yang kamu sebut 'debu' itu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!