Dunia terlalu kejam untuk dia yang hanya terus menangis.
Bumi ini sangat jahat untuk wanita yang hanya mengandalkan dirinya sendiri, berbekalkan keberanian dan tekad untuk bisa bertahan hidup di tengah tengah gempuran kesulitan.
Haeyla Seraphine layak mendapatkan kemenangan atas hidup nya, cinta dan ketulusan layak untuk dia menangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pupybear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 31.
Aku masih diam. Belum memberikan jawaban apapun mengenai pertanyaan Bumi barusan. Tapi tiba tiba aku terpikir oleh sesuatu hal.
" Bumi. Gimana kalau kamu aja yang nyamperin Arbian " Itu adalah hal yang terpikir oleh ku. Mungkin Arbian akan lebih terbuka jika berbucara dengan sesama lelaki.
" Kamu gak mau ikut? "
" Kayanya lebih baik kamu aja. Soalnya takutnya Arbian malu kalau ceritanta di dengar oleh wanita " Aku ini hanya asal saja berbicara. Padahal bahkan aku sudah tau masalah Arbian.
" Kamu tunggu di mobil Haeyla. Aku gak lama " Bumi turun dari mobil untuk mendatangi Arbian.
Langkah Bumi sangat cepat. Sehingga dalam sekejap dia sudah sampai di hadapan Arbian. Aku hanya melihat mereka dari kejauhan. Berharap Arbian akan cerita dengan Bumi dan menemukan solusi.
" Kenapa lo? Galau? " Bumi duduk di samping Arbian.
" Ngapain lo disini? " Arbian kaget melihat Bumi yang tiba tiba ada disampingnya.
" Santai. Tempat umum. Lo baca tulisan itu kan? " Arbian diam. Membiarkan Bumi.
" Lagi ada masalah? Share. Gue aman kalau soal jaga rahasia " Tawar Bumi. Namun Arbian masih diam. Tidak merespon omongan Bumi barusan.
" Kalau lo punya masalah. Dan masalah lo itu berat. Lo harus mikir luas. Di dunia ini bukan lo satu satu nya yang punya masalah. Banyak orang di luar sana yang masih bisa beraktifitas bahkan tertawa. Padahal masalah mereka jauh lebih besar dari masalah lo "
" Lo gak ngerti apa apa "
" Justru karena gue gak ngerti. Coba lo buka mata lo. Lo suka sama Haeyla kan? Lo lihat dia. Pernah dia menunjukkan kalau dia sedang ada masalah? Gak kan? Karena apa? Karena dia tau, kalaupun dia punya banyak masalah. Hidup harus terus berjalan bro. Hadapi masalah itu dengan hidup lo yang harus terus berjalan "
" Tau gue. Tapi mungkin masalah kita beda "
" Yang namanya masalah itu sama. Membuat hidup seseorang jadi kacau. Gue juga punya masalah. Orang tua gue hidup bersama. Namun hati keduanya sudah di orang yang berbeda. Tapi gue coba jalani itu semua dengan tenang. Gue harap lo juga bisa. Gue cabut dulu " Bumi pergi meninggalkan Arbian setelah mencoba menenangkan nya.
Haeyla yang melihat mereka dari kejauhan merasa sedikit gelisah. Gerak gerik dua lelaki itu tampak santai tanpa reaksi.
" Haii. Lama ya? " Bumi masuk ke dalam mobil dengan wajah yang biasa saja.
" Engga kok. Gimana? " Aku penasaran.
" Dia gak mau cerita. Cuma ya tetap aku kasih wejangan aja. Hahaha " Wejangan? Sangat lucu.
" Kamu tuh ya. Serius. Dia oke? "
" Tadi aku lihat sih engga. Tapi aku jamin. Sebentar lagi dia oke " Bumi menyalakan mobil nya dan kami pun pergi dari sana. Hanya keheningan lagi yang saat ini hadir diantara aku dan Bumi.
" Kenapa kamu gak kelola Fourtune sendiri Bumi? " Aku sangat penasaran akan hal itu.
" Simpel. Karena aku masih sekolah. Jadi aku gak mau ribet sama urusan bisnis seperti itu " Dia menjawab santai tanpa ekspresi.
" Gitu. Jadi kamu suruh kak Ardhana? " Entahlah. Tapi aku sangat ingin tahu kali ini.
" Iya Haeyla. Karena dia temen dekat aku juga. Jadi gak ada salahnya kan? "
" Bener. Lebih bagus malah. Kamu bisa bantu dia juga " Bumi menatap ku dengan tatapan yang aneh kali ini.
" Tumben kamu banyak tanya ya. Gemes banget " Apanya? Aku hanya bertanya dan dia bilang aku gemes? Tidak Bumi.
" Aku cuma penasaran aja sih. Maaf kalau banyak tanya ya " Aku langsung menghentikan pertanyaan ku. Takut kalau kalau Bumi jadi merasa risih.
" Kenapa minta maaf? Aku malah senang kalau kamu banyak tanya gitu " Lagi lagi ekspresi nya sulit di artikan.
Kediaman Cila pukul 17:00.
Hari ini Cila ada jadwal untuk melihat ruko yang akan dia jadikan kantor sementara. Cila akan segera memulai bisnis kecil kecilan miliknya.
" Cila. Kamu hari ini jadi kan lihat ruko?"
" Jadi kok Mam. Aku udah telpon yang punya juga "
" Bagus. Kamu harus cepat belajar. Jadi kamu bisa segera menjalankan bisnis kamu "
' Haduh. Sebenernya sih aku malas ya. Aku pengen santai santai aja. Lagian masih sekolah juga. Bisnis juga bisa nanti nanti. Seharusnya aku itu sekarang happy happy menikmati masa remaja yang akan beranjak dewasa ini mami ' Batin Cila setelah obrolan mereka barusan.
Tok tok tok.
Pintu rumah Cila di ketuk.
Pintu terbuka.
" Rakha? Ada apa? Bukannya hari ini kita ga ada jadwal privat ya? " Cila kaget melihat Rakha yang tiba tiba ada di depan rumah nya.
" Iya. Saya cuma pengen nemenin kamu aja. Kamu mau lihat ruko kan? " Ya. Tentu saja Cila sangat senang mendengar itu. Rasanya ingin berteriak saat itu juga.
" Iya iya. Ini aku baru aja mau pergi "
" Yaudah. Ayo bareng "
' Aduhhh. Mimpi apa ini gue semalam? Tiba tiba ada cowo ganteng di depan rumah. Mau nemenin gue lihat ruko lagi. Gak aman ini hati gue ' Batin Cila sambil menahan rasa senang.
Mereka pun pergi dengan menggunakan mobil milik Rakha. Cila yang begitu mengagumi Rakha. Sedikitpun Cila tidak teringat lagi akan perasaan nya yang masih ada untuk Divo. Kali ini berbeda. Cila lebih banyak tersenyum berada di dekat Rakha.
" Tumben banget lo mau ikut liat liat ruko " Cila memulai pembicaraan memecahkan keheningan.
" Gapapa. Lagian hari ini saya free " Rakha menjawab sambil menatap Cila dan tersenyum.
" Btw. Kenapa gak main sama cewe lo " Ya. Sudah sampai disini. Itu sebenarnya hanya alibi Cila untuk mengetahui apakah Rakha mempunyai seorang pacar.
" Im singel " 2 kata. Hanya 2 kata namun berhasil membuat hati Cila bersorak gembira. Bagaimana tidak. Ternyata pria yang dia incar masih sendiri.
" Ohh oke. Aku kirain " Alasanya.
" No " Rakha tipekal pria yang tidak banyak bicara namun banyak aksi. Dia selalu diam memperhatikan lalu bergerak membuktikan.
Kembali dengan Haeyla dan Bumi.
Mereka berada di salah satu cafe saat ini. Bumi menghentikan mobil nya di sebuah cafe. Katanya. Dia ingin mengganjal perut sebentar.
" Aku belum pernah datang ke cafe ini " Ucapku sambil melihat lihat sekeliling cafe.
" Jadi ini first time kamu kesini? " Bumi menjawab sembari kembali duduk setelah memesan beberapa menu.
" Hum. Soalnya ini lumayan jauh juga dari sekolah dan tempat tinggal aku "
" Iya. Kadang main ke tempat yang jauh itu lebih seru Haeyla " Dia tersenyum sambil menjawab perkataanku barusan. Entah apa yang membuat nya tersenyum.
" Kamu sering datang kesini? " Tanyaku sambil terus melihat lihat sekeliling.
" Ya. Salah satu cafe favorit aku. Aku suka tempat nya. Gak terlalu berisik "
Aku terdiam beberapa saat. Namun tiba tiba aku merasakan ada sesuatu yang mengelus jari jariku.
" Masih luka ya? " Tangan nya mengelus jariku. Melihat luka yang masih ada disana. Jujur aku sedikit gugup.
" Ya. Besok mungkin akan sembuh " Aku menarik tanganku darinya. Aku tidak bisa jika berada dalam momen seperti ini.
" Gimana mau sembuh kalau cuma di obati sekali " Dia kembali menarik tanganku. Kali ini kedua tangan nya ikut andil. Dia mengeluarkan krim dari saku jaket nya. Dengan pelan dia mengoleskan nya pada jariku yang terluka.
" Luka kecil kalau di biarkan akan menjadi besar Haeyla " Dia selesai dengan krim nya. Aku hanya menatap nya. Entah kenapa jantungku berdetak lebih cepat kali ini.
" Makasih Bumi " Mataku rasanya tidak bisa beralih menatap wajah nya yang tampan. Jujur saja. Bumi adalah pria yang sangat tampan. Mata dan bibir nya sangat indah.
" Jangan luka lagi Haeyla " Dia membalas menatapku. Dan aku langsung segera mengalihkan pandanganku darinya. Namun di tengah tengah suasana itu. Kami di kejutkan dengan suara seseorang.
" Bumi!!! " Suara itu terdengar melengking di telingaku.
" Lo ngapain sama cewe ini?! " Sialnya. Itu adalah Serin. Dia datang bersama beberapa teman nya ke cafe yang sama dengan kami.
" Buta? Kita lagi makan " Reaksi Bumi tidak berlebihan. Hanya menjawab santai.
" Lo bener bener batu ya! Gue udah peringati lo supaya jauhin Bumi kan? " Bodoh. Wanita ini bicara segalanya di depan Bumi. Sementara aku tidak pernah memberitahu Bumi apa yang dia katakan padaku kala itu.
" Lo nyuruh Haeyla jauhin gue? Lo siapa? Siapa lo bisa ngatur siapa yang berhak dekat dan engga sama gue? " Kali ini berbeda. Reaksi Bumi benar benar di luar dugaan. Sorot mata nya tampak tajam. Bumi sangat marah.
" Bumi. Udah kamu gak perlu ladeni dia" Aku mencoba menenangkan Bumi. Karena banyak orang yang sedang melihat disana.
" Kamu kenapa gak cerita sama aku kalau kamu di ganggu sama cewe ini Haeyla? " Tentu saja. Bumi akan menanyakan nya. Aku sudah menduga.
" Bumi. Dengar aku. Aku gak cerita sama kamu karena aku pikir itu gak penting sama sekali. Apapun yang dia bilang ke aku waktu itu. Aku sama sekali gak terpengaruh oke? " Entahlah. Tapi setidaknya aku benar benar berusaha agar Bumi tenang.
" Alah udah! Dengar ya semua yang ada disini. Ini cewe bahaya! Dia udah ngerebut cowo saya. Kalian hati hati sama ini cewe. Kalian lihat baik baik wajahnya. Jangan sampe cowo kalian diambil sama dia! " Serin berteriak mempermalukan aku disana. Aku tetap diam. Aku tidak mau membalas atau apapun itu. Aku hanya tidak menyangka dia bisa se naif itu hanya karena Bumi bersamaku.
" Wuuuuu. Muka doang cantik. Tapi kelakuan kaya setan "
" Cantik sih cantik. Tapi gak cowo orang juga di embat! " Semua orang yang ada disana menyoraki aku. Seakan akan aku adalah wanita yang jahat. Apa aku pantas menerima semua ini? Kenapa aku selalu di tuduh merusak hubungan orang lain???
Bersambung.