NovelToon NovelToon
Obsesi Teman Papa

Obsesi Teman Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Beda Usia / Duda / Cintapertama
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Zhahra Putri

Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Pria Licik

"Kamu suka sekali bengong saat melihat saya" Bastian menyentuh ujung hidung Keisya, sampai membuat gadis itu memundurkan kepalanya sambil berkedip berkali-kali.

Keisya menyentuh hidunya sendiri, dengan mata yang masih tertuju pada Bastian.

Bagaimana dia tidak bengong, jika semua yang berhubungan dengan Bastian selalu membuatnya terkaget-kaget, dalam hal apapun itu.

Apalagi dengan tingkahnya.

Seperti barusan contohnya. Sudahlah kaget, ditambah lagi merinding karena hembusan napas yang mengenai kulit telinganya.

"Om belum jawab pertanyaan aku"

"Kenapa saya ada disini?"

Keisya mengangguk.

"Kenapa? Tidak boleh saya disini?"

Ekspresi Keisya langsung datar. Kenapa tidak langsung menjawab saja sih? Kenapa harus berputar putar seperti ini?

Dia pikir Bastian tidak bodoh untuk memahami maksud dari pertanyaannya.

Jika saja di depannya sekarang adalah Sisi, sudah ia debat tanpa ampun. Sayangnya ini adalah Bastian, orang yang jauh lebih tua darinya, dan teman Papanya pula.

"Om lagi anter anak main juga yah?" tanya Keisya mengabaikan pertanyaan tersebut

"Anak saya ada dua. David anak terakhir. Satu lagi lebih tua dua tahun dari kamu" jelas Bastian.

Keisya baru tahu tentang hal itu. Sekalipun katanya Bastian sangat dekat dengan Papa-nya, mereka tidak pernah membicarakan kehidupan Bastian.

Bahkan tentang statusnya saja, jika bukan dari Sisi, dia sama sekali tidak akan tahu.

"Om Bastian!" suara nyaring dari arah depan mengalihkan keduanya.

Keyla dan Kaivan berlari mendekat. Mereka tampak sangat berkeringat, dan napasnya yang terenggah. Namun itu tidak melunturkan semangat di wajah keduanya. Sepertinya kedua kakak beradik itu sangat menikmati permainannya.

"Kenapa Om ada disini?" Keyla kembali bertanya. Pertanyaan serupa yang Keisya ajukan sebelumnya.

Dia penasaran, jawaban apa yang akan pria ini berikan. Tidak mungkin jawaban seperti tadi kan?

"Om mau membelikan kalian bertiga makanan"

Keisya menyipitkan matanya. Jawaban macam apa itu? Tidak masuk akal sekali jika hanya itu alasannya. Orang sesibuk dan sepenting Bastian sengaja datang hanya untuk mentraktir makan?

Dan juga, darimana pria itu tahu tentang keberadaan mereka sekarang?

Keyla tentu saja bersemangat. Dia bahkan dengan tidak sabaran menarik tangan Bastian untuk segera pergi. Meninggalkan Keisya dan Kaivan yang masih duduk diam melihat punggung dua orang tersebut.

"Kakak yang minta Om Bastian datang?" suara Kaivan terdengar, membuat Keisya langsung menoleh ke arah adiknya.

"Bukan. Om Bastian tiba-tiba datang"

Setelahnya mereka berdua tampak berpikir. sebelum Kaivan kembali berbicara, "Atau tahu dari Papa yah kak?"

Benar juga.

Kenapa tidak terpikirkan itu sebelumnya yah? Keisya malah sempat berpikir yang aneh aneh dengan kemunculan Bastian.

Mereka berdua akhirnya beranjak dan mengikuti kepergian Bastian dan Keyla.

Bastian menengok ke belakang, melihat Keisya dan Kaivan yang sedang berbincang sambil bergandengan tangan. Lalu pandangannya turun pada tangannya sendiri dimana tangan kecil Kayla yang menggenggam jari telunjuknya.

Sebuah ide muncul.

Dia melambatkan langkahnya, lalu sedikit menunduk untuk berbisik pada Kayla. "Kamu pegang juga tangan kakak kamu. Lihat, mereka pegangan tangan"

Keyla berhenti melangkah, lalu melihat ke arah kedua kakaknya. Dia mengerutkan alisnya tidak suka. Dia juga ingin berpegangan tangan dengan kakaknya. Tapi dengan Om Bastian juga dia mau.

"Pakai tangan kamu yang satu lagi. Jadi kita berpegangan tangan bersama sama" Bastian kembali menambahkan kalimatnya, seolah paham apa yang ada di dalam kepala kecil bocah tersebut.

Ekspresi Keyla langsung ceria, dia segera kembali menarik Bastian berbalik menghampiri kedua kakaknya.

"Kakak, ayo"

Keisya dan Kaivan berhenti berbicara, memfokuskan pandangan mereka pada Keyla yang langsung memegang tangan Kaivan tanpa melepaskan tangan Bastian.

"Kakak ayo. Aku sudah lapar" Kaivan tertarik, begitupun dengan Keisya.

"Pelan pelan Key. Nanti kaki kak Kei sakit lagi" peringat Kaivan.

Keyla berhenti menarik, dia menatap sesal pada kakaknya. "Maaf, Kay lupa"

"Kakak baik-baik aja. Jangan khawatir. Ayo, kakak juga sudah lapar" Keisya menghibur.

Perubahan suasana hati yang gampang berubah, terkadang memang selalu memudahkan. Seperti sekarang. Awalnya sempat murung karena mendaptkan teguran dari Kaivan. Namun sekarang sudah kembali ceria seperti sebelumnya.

Tanpa Keisya sadari jika dia pun mudah sekali teralihkan pada suatu hal. Sampai tidak menyadari jika dia sudah masuk ke dalam rencana Bastian.

Posisi mereka sekarang sudah seperti satu keluarga bahagia. Suami, istri dan dua anak yang saling bergandengan.

Selesai makan, mereka memutuskan pulang. Bastian yang mengantarkan. Di pertengahan jalan, Kayla dan Kaivan yang duduk di bangku belakang tampak tertidur. Setelah kelelahan bermain dan kenyang makan, mereka pasti mengantuk. Apalagi suasana di dalam mobil yang cukup nyaman, dengan Bastian yang mengemudikan mobilnya dengan perlahan.

"Kamu masih berhubungan dengan laki-laki waktu itu?" Bastian memulai pembicaraan.

"Kak Vincent?" tanya Keisya memastikan.

Bastian berdecih begitu nama itu terucap. "Sepertinya masih kan?"

"Selain di kampus, itupun kalau ga sengaja ketemu, aku gak pernah komunikasi apapun lagi. Kata Papa jangan terlalu dekat sama dia"

"Papa kamu bilang seperti itu?"

Keisya mengangguk.

Gunawan menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Jadi dia tidak perlu repot-repot mengurusi bocah ingusan itu.

Tapi dia belum bisa sepenuhnya tenang. Masih ada bocah ingusan lainnya yang harus dia urus. Yaitu anaknya sendiri.

Dan sekaranglah waktunya.

Bastian pun memulai aksinya.

"Kita berhenti di depan sebentar. Tidak apa-apa kan?"

"Iya gapapa. Om mau beli sesuatu? Atau mau aku beliin aja?" Dia tidak enak karena menumpang, apalagi kedua adiknya tampak pulas. Jadi dia menawarkan bantuan tersebut sebagai bentuk terimakasih.

"Tidak perlu. Kamu tunggu sebentar, saya tidak lama"

Keisya kembali mengangguk.

Setelahnya mobil benar-benar berhenti, di depan sebuah hotel? Dia pikir akan berhenti di minimarket yang memang tidak jauh dari tempat mereka sekarang.

Keisya memperhatikan kepergian Bastian yang tampak berjalan tergesa ke arah deretan mobil yang terparkir, dan berhenti di depan mobil yang tampaknya cukup familiar.

"itu kan mobil,,"

Bastian menggedor kaca mobil, dan keluarlah pria yang Keisya kenali.

Itu Haikal, dengan mobilnya yang dia gunakan saat mengantarkannya tempo hari.

Ternyata Haikal tidak sendiri, ada seorang perempuan dewasa yang turun dari sisi lainnya. Alis Keisya mengkerut, Bastian sepertinya sedang berdebat dengan Haikal. Bukan hanya dengan Haikal, tapi juga dengan perempuan itu.

Dari gestur yang di tunjukannya, perempuan itu tampak bersikap segan pada Bastian. Seperti seorang bawahan pada atasannya.

Memperdebatkan apa, Keisya tidak tahu. Dia hanya bisa melihat karena posisinya cukup jauh.

Beberapa saat kemudian, Bastian pergi meninggalkan keduanya dan berjalan kembali menuju mobil. Sampai saat itu Keisya tetap memperhatikan semuanya. Begitu pria itu masuk, dia tidak tahan untuk tidak bertanya.

"Tadi itu siapa, Om?" dia bertanya pelan dan hati-hati.

"Anak saya"

Keisya melotot. "Haikal anak Om?" setelahnya Keisya menutup mulutnya karena suaranya terlampau keras. Beruntung kedua adiknya tidak terganggu.

Dia langsung menebak Haikal karena dari segi penampilan yang barusan dia lihat. Perempuan itu mungkin berusia tidak terlalu jauh dengan Bastian. Sangat dewasa.

Bastian menunjukan raut wajah heran, "Kamu kenal anak saya?"

"Kenal dari Sisi"

Akhirnya dia tahu alasan Keisya bisa mengenal putranya itu. Perempuan bernama Sisi itu sungguh sangat merepotkan. Pertama Vincent, dan sekarang Haikal. Kedepannya berapa banyak laki-laki lagi yang akan di kenalkan pada Keisya?

Bastian mengembuskan napasnya. Dia duduk bersandar, lalu mulai bercerita. "Semalam Haikal tidak pulang. Tadi saya lihat dia justru masuk ke hotel dengan sekretaris saya"

"Perempuan tadi sekretaris Om?" Keisya kembali terperangah oleh fakta yang di dengar.

Bastian mengangguk.

"Anak itu semakin liar. Padahal saya bukan orang seperti itu" secara tidak langsung Bastian tengah membangun citra buruk tentang anaknya dan hal baik tentang dirinya sendiri di depan Keisya.

Sungguh sangat licik.

1
D_wiwied
pasti dikasih obat tidur lwt air mineral, ya kan om tebakanku bener kan 🤭
D_wiwied
halaah lumayan kan pak dud, jd bs gendong keisya walo cm sebentar🤭
D_wiwied
kenyamanan ya Vid, calon ibu barumu itu.. baru dikejar ma ayahmu, doakan aja bisa segera jd ibumu beneran 😁
Esti 523
baca part ini jd guling2 sendiri ngebayangin nya
Esti Purwanti Sajidin
ahhhh cerdas jg kamu nak memastikan hati nya dulu ya kai
D_wiwied: hmmm gayung bersambut, tp kei masih malu2 utk mengakuinya
total 1 replies
Fitri Widia
Ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!