Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.
Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.
Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.
Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.
Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zizi Tidak Lagi Menoleh
Malam semakin larut ketika akhirnya meja makan dirapikan. Pelayan rumah keluar masuk dengan langkah ringan, sementara percakapan di meja telah berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar makan malam keluarga.
Zizi berdiri di balkon kamarnya. Kota di kejauhan menyala, lampu-lampu menyerupai gugusan bintang yang jatuh ke bumi. Angin malam menyapu rambutnya, membawa aroma hujan yang belum turun.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasa terkurung.
Namun kebebasan selalu datang berdampingan dengan ketakutan.
Di benaknya, wajah Anggun yang dingin muncul. Tatapan menilai. Kalimat yang terasa seperti serpihan es: “Kalau kamu sudah jadi istri, tempatmu di dapur. Jangan banyak tingkah.”
Lalu terbayang Arman, duduk di sofa, sibuk dengan ponsel, seolah rumah itu hanya hotel singgah.
“Besok…” Zizi bergumam pada dirinya sendiri, “aku akan mulai semuanya.”
Shinta mengetuk pelan pintu kamar, lalu masuk tanpa suara. Ia berdiri di samping putrinya, memandang hamparan lampu kota yang sama. “Kamu tidak harus kuat setiap saat, Zi,” ucapnya tenang. “Tapi kamu berhak memilih hidupmu sendiri.”
Zizi menoleh. “Mama marah?”
Shinta tersenyum tipis. “Dulu, iya. Karena orang tua selalu takut anaknya salah pilih. Tapi hari ini… Mama lebih takut kalau kamu memaksa dirimu tinggal di tempat yang membuatmu mati pelan-pelan.”
Zizi memeluk ibunya erat. Tidak ada kata-kata lain. Hanya isak kecil yang akhirnya ia biarkan keluar.
Di ruang kerja di lantai bawah, Rama masih duduk menatap layar laptop yang sudah ia tutup. Bukan laporan perusahaan yang memenuhi kepalanya, melainkan kalimat putrinya, “Aku ingin berdiri.”
Ia tahu, mulai besok, dunia tidak akan lagi melihat Zizi sebagai gadis lembut yang selalu patuh. Dunia akan melihatnya sebagai lawan di ruang rapat, di meja negosiasi, bahkan di ruang sidang.
Dan jauh di sudut hatinya, Rama siap menjadi dinding pertama yang berdiri ketika badai datang.
.
Di tempat lain, di rumah kecilnya, Arman menatap ponsel yang layarnya gelap. Pesan yang belum terkirim menggantung,
“Kamu di mana?”
Ia menghapusnya. Bukan karena tidak ingin bertanya, tetapi karena gengsi selalu menang lebih dulu. Namun malam itu ia sadar sesuatu yang selama ini ia abaikan, rumahnya terasa benar-benar kosong tanpa suara langkah Zizi.
Bukan karena ia kehilangan seseorang yang mengurus semuanya. Tetapi karena ia kehilangan seseorang yang seharusnya ia jaga.
Dan untuk pertama kalinya, sedikit rasa takut merayap ke dadanya, takut bahwa kali ini Zizi benar-benar tidak akan kembali.
Arman duduk di ruang tamu rumah ibunya. Televisi menyala, tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar ia lihat. Anggun mondar-mandir dengan wajah masam, sementara Anggi hanya memeluk bantal, diam namun matanya penuh api.
“Dia pikir bisa hidup tanpa kita?” Anggun bersuara tajam. “Perempuan itu pasti sekarang pontang-panting. Rumah kontrakan mana yang dia tinggali? Makan apa dia sekarang?”
Arman mengepalkan tangan. Bayangan Zizi dengan koper kecil, keluar dari rumah mereka, berputar-putar di kepalanya. Dalam pikirannya, Zizi sedang tinggal di kamar kos murah, mungkin bekerja serabutan, mungkin menangis tiap malam. Ia tidak pernah membayangkan bahwa Zizi pulang ke rumah besar, diterima hangat, atau bahkan sedang menyiapkan dirinya masuk ke dunia bisnis.
“Aku yakin dia bakal balik,” kata Anggun lagi. “Perempuan seperti itu, kalau sudah tidak punya apa-apa, pasti datang minta maaf.”
Anggi menimpali ketus, “Mas juga sih. Diemin aja. Mana mungkin dia kuat hidup sendirian.”
Kata-kata itu menampar sesuatu dalam diri Arman yang paling dalam, bukan karena peduli, tapi karena gengsi. Ia merasa ditinggalkan. Ia merasa Zizi seharusnya kembali dan meminta maaf. Ia tidak pernah menanyakan satu hal sederhana, apakah Zizi sebenarnya baik-baik saja.
“Biarin saja dulu,” ucap Arman akhirnya, suaranya rendah. “Kalau dia susah, dia bakal cari aku.”
Ia benar-benar percaya itu.
Di kepalanya, Zizi adalah perempuan biasa, tanpa siapa-siapa, tanpa harta, harus berjuang sendirian setelah pergi darinya. Ia tidak pernah tahu bahwa Zizi justru sedang duduk di meja makan panjang bersama kedua orang tuanya, membicarakan jabatan CEO, saham perusahaan, dan masa depan yang sama sekali tak melibatkan dirinya.
Ia tidak tahu bahwa perempuan yang ia anggap “tidak akan bisa hidup tanpanya” sedang belajar berdiri tegak, tanpa menoleh ke belakang.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya Arman merasa menang tanpa sadar bahwa sesungguhnya dialah orang yang tertinggal paling jauh.
.
.
.
Sudah berbulan-bulan berlalu sejak mediasi dinyatakan gagal. Musim hujan datang dan pergi, daun-daun berganti warna, dan perasaan yang dulu panas kini membeku menjadi keputusan yang tak bisa ditawar.
Tak banyak yang tersisa untuk dibicarakan di antara mereka.
Hari itu gedung pengadilan kembali terasa dingin. Bukan dingin dari pendingin ruangan, melainkan dingin dari jarak yang sudah terlalu lama dibiarkan melebar.
Orang-orang berlalu-lalang, suara sepatu beradu dengan lantai granit, tetapi bagi Zizi semuanya terdengar jauh, seperti gema dari dunia lain.
Ia duduk tenang di bangku panjang, map cokelat di pangkuan, napasnya teratur.
Wajahnya berubah, lebih dewasa, lebih tegas, dan ada ketenangan yang tidak dimilikinya dulu. Bukan karena tidak sakit lagi, melainkan karena ia sudah selesai berperang.
Di seberang ruangan, Arman datang sedikit terlambat.
Bajunya masih sama seperti dulu—rapi, sederhana—tapi sorot matanya berbeda. Ada sesuatu yang terlambat ia sadari, namun tak punya tempat lagi untuk kembali. Ia menatap Zizi lama-lama, seperti melihat seseorang yang dikenalnya tapi tidak lagi bisa dijangkau.
Zizi hanya menunduk sedikit sebagai sapaan. Tidak ada senyum. Tidak ada marah. Hanya garis tipis penerimaan.
Anggun duduk di sebelah Arman, rahangnya menegang. Ia tidak pernah benar-benar menyukai Zizi, tetapi hari itu, entah kenapa, ada sedikit rasa kalah yang menyesakkan. Anggi terdiam, menggigit bibir. Dia tak berani berkata apa pun—karena untuk pertama kalinya, ia melihat kakaknya benar-benar takut kehilangan.
Petugas memanggil nama mereka.
Ruang sidang terasa lebih luas daripada yang seharusnya. Hakim membaca berkas, suara resminya memotong udara: singkat, jelas, tanpa drama. Semua yang pernah mereka pertengkarkan kini dipadatkan menjadi kalimat-kalimat hukum—dingin, rapi, dan final.
Arman berkali-kali mencuri pandang. Dalam hatinya, ia masih percaya bahwa setelah berpisah Zizi akan kesulitan, akan kembali suatu hari meminta bantuan, akan butuh dirinya. Ia tidak tahu apa pun tentang kehidupan baru Zizi—tentang keluarga kaya, tentang perusahaan, tentang langkah-langkah besar yang tengah Zizi bangun dengan tenang.
Baginya, Zizi hanyalah perempuan yang pergi dengan koper kecil, meninggalkan rumah tanpa banyak kata. Ia mengira hidup Zizi sekarang berat.
Zizi berdiri ketika diminta memberikan jawaban.
Suaranya tenang, datar, tanpa getar berlebihan. “Saya tetap pada permohonan saya, Yang Mulia.”
Tidak ada tudingan. Tidak ada tangis. Hanya keteguhan yang membuat Arman merasa lebih kalah daripada jika Zizi marah-marah.
Hakim mengetuk meja.
Keputusan belum diucapkan, tetapi arah cerita sudah sangat jelas. Pernikahan yang dulu diikat dengan janji kini tinggal tanda tangan dan berita acara.
Di kepala Zizi, tidak ada kilas balik romantis. Yang ada hanya bayangan dirinya dulu, menunggu di ruang makan yang dingin, mencuci piring sendirian, dianggap tidak cukup, diperlakukan seperti orang asing di rumah sendiri.
Ia tidak lagi membenci siapa pun. Bahkan tidak membenci Arman.
Yang ia lakukan hanyalah melepaskan.
Ketika sidang diskors sejenak, Zizi melangkah keluar ruangan. Langkahnya ringan, bukan karena tidak sedih, melainkan karena ia sudah memilih masa depannya.
Arman tetap duduk.
Untuk pertama kalinya ia menyadari satu hal yang paling sederhana, Zizi tidak lagi menoleh. Anggun berdiri di sisi Arman, wajahnya tegang. Anggi menyilangkan tangan di dada, tidak lagi seceria dulu. Mereka tidak mengatakan apa-apa, tetapi rasa bersalah dan gengsi bercampur jadi satu.
.
Ketika palu sidang akhirnya mengetuk meja, suara kayunya terdengar seperti merobek sesuatu yang tidak kasatmata, janji, mimpi, masa lalu. Semua selesai tanpa teriakan, tanpa drama besar. Hanya selesai.
Zizi menutup mata sejenak. Bukan karena lega. Tetapi karena ia baru saja benar-benar melepaskan hidup yang pernah ia perjuangkan habis-habisan.
Arman menoleh, hendak memanggilnya, sekadar menyebut nama. Namun Zizi sudah berdiri, membungkuk sopan pada majelis, lalu melangkah pergi dengan kepala tegak.
Tidak ada kata perpisahan. Tidak ada amarah yang dilempar. Tidak ada penjelasan.
Yang tersisa hanya kenyataan, mereka pernah saling memiliki, dan kini tidak lagi.