NovelToon NovelToon
Story Of Hazel Lyra Raven

Story Of Hazel Lyra Raven

Status: tamat
Genre:Dosen / Dark Romance / Mafia / Time Travel / Reinkarnasi / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.

Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??

kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!


Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar

Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 33

Magnus berdiri mematung di tengah kerumunan yang kalut, sementara suara Pharma masih bergaung memuakkan dari setiap sudut pengeras suara. Di bawah cahaya lampu ambulans yang berkedip biru kemerahan, reaksi dari para tokoh medis yang hadir di sana mulai menunjukkan retakan yang mendalam.

Ratchet dari Raven Medika menjadi yang paling vokal. Pria senior yang dikenal keras kepala itu menggeram sambil mengepalkan tangan ke arah gedung.

"Pengecut kau, Pharma! Mengunci diri di balik sistem keamanan rumah sakit dengan seorang warga sipil adalah tindakan paling hina yang pernah dilakukan seorang dokter!" teriak Ratchet, meskipun ia tahu suaranya tak akan menembus dinding beton.

Ia kemudian berbalik arah dan menatap Jazz dengan tatapan menuntut.

"Jazz, aku tidak peduli seberapa rumit enkripsi itu! Raven Medika tidak akan membiarkan nama baik medis hancur karena kegilaan satu orang. Bongkar pintu itu sekarang juga!".

Di sudut lain, Kenzo tampak mondar-mandir dengan langkah yang tidak tenang. Dokter muda yang ambisius ini terlihat berkali-kali menyeka keringat di dahinya meskipun udara malam cukup dingin.

"Ini bencana... Ini benar-benar bencana bagi karir kita semua," gumam Kenzo lirih, matanya melirik ke arah wartawan yang mulai berkerumun di garis polisi. Ia seolah lebih mengkhawatirkan reputasi yang ia bangun daripada nyawa yang terancam di dalam sana.

Berbeda dengan Kenzo, Ceptor Rakha justru berdiri diam dengan mata yang menyorot penuh rasa ingin tahu dan kepedihan. Sebagai ilmuwan muda yang usianya hampir sebaya dengan Lyra, ia tampak sedang menganalisis pola perilaku Pharma lewat suaranya. "Magnus," panggil Ceptor dengan suara tenang namun serius,

"Pharma tidak sedang bicara pada kita. Dia sedang melakukan pertunjukan. Dia ingin kita menjadi penonton dari 'operasi' yang ia sebutkan tadi. Kita harus menemukan jalur komunikasi privat yang ia gunakan sebelum ia memutuskan untuk memutus seluruh akses luar.".

Namun, yang paling mencolok adalah Aira Arania. Ilmuwan spesialis riset eksperimental itu berdiri bersandar di sebuah mobil polisi dengan senyum samar yang licik menghiasi wajahnya. Ia tampak sama sekali tidak terkejut dengan sabotase ini.

Saat Magnus menatapnya dengan tajam, Aira hanya menaikkan alisnya. "Bukankah ini puitis, Magnus? Seorang penyembuh yang akhirnya menjadi malaikat maut di kuilnya sendiri," ucap Aira dengan nada suara yang seolah menyimpan rencana rahasia.

Sementara itu, Aidil Revta tampak gemetar hebat. Wajahnya yang tegang menunjukkan ketakutan yang luar biasa, seolah ia mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak ia ketahui tentang apa yang sebenarnya terjadi di bawah tanah Delphi.

Di sisi lain, Velorie Resta tetap menjadi sosok yang paling aktif. Ia mengabaikan semua drama di radio dan terus berlari menangani para korban yang terus berjatuhan, menunjukkan dedikasinya yang tak tergoyahkan sebagai dokter emergensi.

Suasana di pelataran rumah sakit Delphi kini telah berubah menjadi representasi visual dari sebuah api penyucian yang nyata. Angin malam yang kencang membawa serpihan abu dari dokumen-dokumen medis yang terbakar, berterbangan di antara cahaya rotator ambulans yang menyilaukan mata.

Magnus berdiri di tengah pusaran kekacauan tersebut, merasa seolah dunianya sedang runtuh perlahan namun pasti.

Suara Pharma yang baru saja menghilang dari pengeras suara meninggalkan keheningan yang lebih mematikan daripada ledakan sebelumnya, sebuah keheningan yang dipenuhi oleh tatapan-tatapan penuh kecurigaan di antara para tokoh medis yang tersisa di luar.

Ratchet, dengan wajah yang memerah karena amarah yang meluap-luap, menghampiri Magnus dengan langkah berat yang mengintimidasi.

"Kau polisi, Magnus! Mengapa kau hanya berdiri di sini seperti orang bodoh sementara bajingan itu mempermainkan kita semua lewat radio?!" teriaknya dengan suara parau yang dipenuhi getaran emosi. Tangannya menunjuk ke arah pintu kaca utama yang kini tertutup rapat oleh barikade baja darurat.

Ratchet bukan sekadar marah karena keamanan pribadinya terancam, ia merasa dikhianati oleh Pharma, rekan sejawat yang selama ini ia hormati meskipun mereka sering berselisih paham mengenai etika medis.

Di sisi lain, Kenzo tampak mencoba menjaga jarak dari Magnus, namun kegelisahannya tidak bisa disembunyikan sama sekali. Ia terus memainkan kancing lengan jasnya, sebuah tanda kecemasan psikologis yang sangat jelas terlihat oleh mata terlatih seperti Magnus.

"Ini tidak mungkin terjadi secara kebetulan," gumam Kenzo, namun suaranya cukup keras untuk didengar oleh Aidil Revta yang berdiri di dekatnya.

"Bagaimana bisa sistem isolasi total Delphi aktif begitu cepat? Seolah-olah sistem ini memang diprogram untuk menyandera siapapun di dalam saat ada kejadian yang merugikan pihak rumah sakit.".

Aidil Revta tidak menjawab, wajahnya yang tegang semakin terlihat pucat di bawah sinar lampu halogen.

Ia memegang ponselnya seolah-olah benda itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang sedang mengamuk.

Matanya terus melirik ke arah tim taktis yang sedang menyiapkan peledak untuk mencoba menjebol pintu samping, namun ada sesuatu dalam tatapannya yang mengisyaratkan bahwa ia tahu tindakan itu akan berakhir sia-sia. Ketegangan Aidil terasa begitu kontras dengan ketenangan yang dipamerkan oleh Aira Arania.

Aira berdiri dengan anggun di dekat mobil patroli, senyum samarnya masih tertahan di bibirnya yang kemerahan. Ia mengamati kuku-kukunya sejenak sebelum kembali menatap Magnus dengan sorot mata yang penuh dengan rahasia gelap.

"Magnus, kau terlalu fokus pada pintu," ucap Aira dengan suara yang lembut namun mengandung racun.

"Pharma tidak hanya mengunci pintu, dia sedang mengunci sejarah. Dan jika kau tidak segera menyadari siapa sebenarnya yang berada di pihak siapa, kau hanya akan menyelamatkan mayat di akhir malam ini.".

Ceptor Rakha, ilmuwan muda yang sedari tadi diam sambil mengamati panel kontrol luar, tiba-tiba memotong pembicaraan dengan nada yang sangat mendesak.

"Magnus, lupakan pintu depan! Aku baru saja menyadari sesuatu yang aneh dalam frekuensi suara Pharma tadi!".

Magnus segera mendekati Ceptor, berharap ada secercah cahaya di tengah kegelapan informasi ini. "Apa maksudmu, Ceptor? Bicaralah yang jelas!" desak Magnus. Ceptor menunjukkan layar tablet kecilnya yang sedang menganalisis gelombang audio.

"Suara Pharma... itu bukan siaran langsung dari ruang kendali. Ada gema frekuensi yang menunjukkan bahwa suara itu dipancarkan melalui transmisi jarak jauh yang melompat dari server di luar kota sebelum masuk kembali ke speaker rumah sakit.".

Pernyataan Ceptor menciptakan gelombang kejutan baru di antara mereka.

Jika Pharma tidak berada di ruang kendali, lantas di mana dia sebenarnya? Dan bagaimana ia bisa berbicara secara real-time seolah ia mengawasi Magnus melalui kamera? hal aneh ini mulai menggerogoti logika Magnus. Ia teringat bahwa ia baru saja melihat Pharma di laboratorium bawah tanah bersama Lyra.

Namun, jika transmisi suara itu berasal dari luar kota, mungkinkah sosok yang dilihatnya tadi hanyalah umpan? Ataukah Pharma memiliki kemampuan untuk memanipulasi teknologi sedemikian rupa hingga ia bisa berada di dua tempat sekaligus dalam persepsi digital?

Ketidakpastian ini semakin diperparah dengan perilaku Velorie Resta yang tetap fokus pada medis namun sesekali memberikan kode aneh pada Aidil Revta saat mereka berpapasan di antara tandu.

Velorie yang biasanya dikenal energik dan ramah, kini tampak memiliki sisi dingin yang hanya muncul saat ia melihat ke arah gedung yang terbakar itu.

Magnus mulai bertanya-tanya, apakah semua orang di sini benar-benar terjebak dalam tragedi, ataukah mereka semua adalah bagian dari orkestra yang sedang dimainkan oleh Pharma atau bahkan Tarn dari kejauhan?

Magnus kemudian menarik napas dalam, mencoba menenangkan jiwanya yang nyaris pecah. Ia berjalan menuju Jazz yang masih bergelut dengan laptopnya.

"Jazz, cari tahu asal sinyal audio Pharma. Jika Ceptor benar bahwa ada transmisi luar, maka kita sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar dokter gila yang menyandera sandera," perintah Magnus.

Jazz mengangguk tanpa melepaskan pandangannya dari layar yang terus menampilkan barisan kode berwarna merah. "Aku sedang mencobanya, Magnus. Tapi firewall ini... ini bukan buatan Pharma. Ini memiliki tanda tangan enkripsi yang sangat mirip dengan protokol militer kelas tinggi.".

Tepat saat itu, sebuah pesan masuk ke dalam radio panggil Magnus, namun bukan suara Pharma, melainkan sebuah transmisi yang dipenuhi suara statis yang sangat berat. Dari balik suara bising itu, Magnus bisa mendengar suara napas yang terengah-engah dan bisikan samar yang menyebutkan sebuah koordinat rahasia di bawah pondasi rumah sakit.

Suara itu terdengar seperti suara Loen, namun terdengar jauh lebih muda, seolah suara itu berasal dari rekaman masa lalu yang baru saja diputar kembali.

Magnus menatap gedung Delphi dengan perasaan ngeri. Jika Pharma menggunakan teknologi untuk memanipulasi waktu atau persepsi, maka setiap langkah yang mereka ambil di luar sini mungkin sudah dihitung oleh Tarn dan Vos dari gedung tinggi di seberang sana.

Ia menyadari bahwa di dalam gedung itu, bukan hanya nyawa Lyra yang sedang dipertaruhkan, melainkan kebenaran tentang eksperimen DJD yang selama ini terkubur dalam-dalam di bawah etika medis palsu Delphi Hospital.

Saat malam semakin larut, api di lantai atas Delphi tiba-tiba berubah warna menjadi biru kehijauan, sebuah reaksi kimia yang tidak wajar yang membuat para pemadam kebakaran mundur dalam ketakutan.

Magnus menyadari bahwa waktu dua hari yang dijanjikan Tarn dalam bayangan mungkin adalah sebuah kemurahan hati yang palsu, karena kehancuran yang sebenarnya sudah mulai memakan dirinya sendiri dari dalam.

"Magnus! Lihat!" teriak Rodi sambil menunjuk ke arah salah satu jendela lantai tiga. Di balik kaca yang beruap, tampak bayangan seseorang yang sedang menempelkan tangannya ke kaca, memohon pertolongan.

Namun, sebelum Magnus bisa memberikan instruksi, jendela itu meledak dari dalam, bukan oleh api, melainkan oleh tekanan udara yang sangat tinggi yang menyedot segala sesuatu di sekitarnya masuk ke dalam kegelapan gedung.

Di tengah kekacauan itu, ponsel Magnus bergetar. Sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal muncul di layar:

"Jangan selamatkan dia, Magnus. Jika kau membukakan pintu itu, kau tidak hanya membebaskan Lyra, tapi kau membebaskan sesuatu yang akan mengakhiri kota ini." Magnus terpaku, menatap pintu baja yang mulai berderit terbuka perlahan, bukan karena retasan Jazz, melainkan karena seseorang dari dalam telah mengizinkan mereka masuk. Siapakah yang membuka pintu itu?

1
A.R
banyak kata2 yg terulang Thor,
AEERA♤: ee maap, lagi blunder
total 1 replies
AEERA♤
bacaa woee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!