Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.
Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 SWMU
Ketegangan di ruang kerja itu memuncak saat Yudhistira melangkah maju, memangkas jarak antara dirinya dan Nadia. Bau alkohol dan keringat yang tajam menguar dari tubuhnya, sangat kontras dengan aroma cendana mewah yang biasa dibawa Bramantya.
"Paman Bramantya sudah memindahkanmu ke lokasi lain," ucap Nadia, suaranya bergetar namun ia berusaha tetap tegak. "Bagaimana bisa kau ada di sini?"
Yudhistira tertawa sinis, matanya menyapu tubuh Nadia yang hanya terbungkus robe sutra tipis. "Bramantya terlalu sibuk mencumbumu sampai dia lupa bahwa anak buah yang dia bayar bisa dibeli dengan harga yang lebih tinggi. Sekarang, berikan map itu padaku!"
Nadia mengeratkan pelukannya pada tas kecilnya. "Tidak! Ini milik keluargaku!"
Yudhistira merengsek maju, mencengkeram rahang Nadia dengan kasar. "Keluargamu sudah mati! Dan kau hanya boneka pemuas nafsu bagi adikku yang malang itu. Jika aku tidak bisa mendapatkan hartanya di dermaga, maka aku akan mengambil miliknya yang paling berharga di sini!"
"Lepaskan!" Nadia meronta, namun Yudhistira justru mendorongnya ke atas meja kerja kayu jati yang besar itu. Tumpukan dokumen berhamburan ke lantai.
Tepat saat Yudhistira hendak merobek gaun Nadia, pintu ruang kerja itu ditendang terbuka dengan dentuman yang memekakkan telinga.
"YUDHISTIRA!"
Suara itu menggelegar seperti guntur. Bramantya berdiri di ambang pintu, napasnya memburu, jas biru tuanya sedikit berantakan, dan sebuah pistol hitam mengkilap ada di tangannya. Di belakangnya, beberapa pengawal bersenjata lengkap segera mengepung ruangan.
Yudhistira tersentak dan melepaskan Nadia. "Bram? Bagaimana bisa... seharusnya kau ada di dermaga!"
Bramantya melangkah masuk dengan aura kematian yang kental. "Kau pikir aku sebodoh itu? Aku tahu pengkhianatanmu bahkan sebelum kau sempat melangkah ke rumah ini. Dermaga itu adalah jebakan untuk orang-orangmu, Kak."
Nadia gemetar di atas meja, ia merapikan pakaiannya dengan tangan yang sangat tidak stabil. Bramantya mendekat, namun matanya tidak lepas dari Yudhistira.
"Bawa dia keluar," perintah Bramantya dingin. "Pastikan dia tidak pernah melihat matahari lagi."
"Kau gila, Bram! Aku kakakmu!" teriak Yudhistira saat para pengawal menyeretnya keluar. Suaranya perlahan menghilang di ujung koridor, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam ruang kerja.
Bramantya berbalik menatap Nadia. Matanya yang tadi penuh amarah kini berubah menjadi dingin yang membekukan. Ia melihat tas kecil di tangan Nadia dan map cokelat yang menyembul keluar.
"Kau merencanakan ini, bukan?" tanya Bramantya pelan, suaranya jauh lebih menakutkan daripada teriakan tadi. "Telepon itu... informan bea cukai... itu kau?"
Nadia terdiam. Lidahnya kelu. Kebenaran bahwa Bramantya meracuni ibunya masih membakar otaknya.
"Kenapa, Nadia? Kenapa setelah semua yang kuberikan padamu?" Bramantya mendekat, memojokkan Nadia ke meja kerja. Ia merampas tas itu dan melihat isinya. Saat ia melihat laporan otopsi Larasati, rahangnya mengeras.
"Paman meracuninya," desis Nadia dengan air mata yang mulai mengalir. "Paman membunuh ibuku secara perlahan!"
Bramantya menatap laporan itu, lalu kembali menatap Nadia. Bukannya merasa bersalah, ia justru menunjukkan senyum miring yang gila. "Aku melakukannya agar dia tidak pergi, Nadia. Sama seperti kau. Aku tidak bisa membiarkan hal-hal indah yang kumiliki menghilang. Jika aku harus merusak mereka agar tetap di sisiku, maka akan kulakukan."
Ia mencengkeram pinggang Nadia dan mengangkatnya duduk di atas meja kayu itu. "Dan kau... kau sudah melanggar janjimu pagi tadi."
"Aku membencimu!" teriak Nadia sembari memukul dada Bramantya.
Bramantya menangkap kedua pergelangan tangan Nadia dan menguncinya di atas kepala gadis itu. "Kebencian dan gairah itu bedanya sangat tipis, Nadia. Biar kutunjukkan seberapa besar kau masih membutuhkanku."
Bramantya mencium Nadia dengan kasar, sebuah ciuman yang penuh dengan emosi yang meledak—pengkhianatan, kepemilikan, dan obsesi yang tak sehat. Nadia mencoba melawan, namun aroma tubuh Bramantya dan dominasinya mulai melumpuhkan akal sehatnya sekali lagi. Di tengah amarahnya, tubuh Nadia justru merespons sentuhan pria itu.
"Ah... lepaskan..." rintih Nadia di sela ciuman mereka, namun tubuhnya justru melengkung mendekat.
Bramantya melepaskan kancing kemejanya dengan satu tangan sementara tangan lainnya masih mengunci Nadia. Ia menatap wajah Nadia yang basah oleh air mata namun memerah karena gairah. "Katakan kau milikku, Nadia. Katakan meskipun kau membenciku, kau tetap menginginkanku."
Bramantya mulai menciumi leher Nadia, memberikan tanda-tanda baru yang lebih dalam di atas tanda yang lama. Tangannya merayap masuk ke balik sutra tipis itu, membelai kulit Nadia dengan kasar namun menuntut.
"Nngghh... Paman..." desah Nadia, kepalanya tertengadah. Ia membenci dirinya sendiri karena merasakan percikan listrik di setiap sentuhan Bramantya.
"Panggil namaku," perintah Bramantya parau. Ia mengangkat tubuh Nadia dan membawanya menuju sofa kulit besar di pojok ruangan.
Bramantya merebahkan Nadia dan segera menyusul di atasnya. Ruangan itu hanya diterangi cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar, menyinari butiran debu yang menari di udara seiring dengan gerakan mereka.
"Bram... ah..." Nadia mendesah saat bibir pria itu menemukan titik sensitif di dadanya.
"Lagi," bisik Bramantya, tangannya kini membuka sisa penghalang di antara mereka.
Dalam kegelapan niat masing-masing, mereka kembali terjebak dalam labirin fisik yang membingungkan. Bramantya bergerak dengan intensitas yang lebih besar dari sebelumnya, seolah ingin menghukum sekaligus mencintai Nadia dalam satu waktu.
"Ohh... mmm..." Nadia mencengkeram bahu Bramantya, kuku-kukunya meninggalkan bekas kemerahan di punggung pria itu. Rasa perih dari kebenaran tentang ibunya bercampur dengan kenikmatan fisik yang memabukkan, menciptakan sebuah simfoni penderitaan yang aneh.
"Katakan kau tidak akan pergi," gumam Bramantya di telinga Nadia, napasnya memburu. "Katakan kau akan tetap di sini, meskipun ini adalah neraka."
Nadia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya bisa mendesah panjang, "Aahh... Bram... lebih... nngghh..."
Penyatuan mereka kali ini terasa lebih gelap dan penuh beban. Setiap gerakan seolah-olah menjadi rantai baru yang mengikat mereka satu sama lain. Bramantya membenamkan wajahnya di rambut Nadia, menghirup aroma mawarnya dengan putus asa.
"Kau tidak akan pernah bisa lari, Nadia," bisik Bramantya saat mencapai puncaknya, suaranya pecah oleh gairah yang meluap. "Bahkan jika kau menghancurkan duniaku, aku akan menyeretmu ke dalam reruntuhannya bersamaku."
Nadia hanya bisa terengah-engah, tubuhnya bergetar hebat. Di tengah sisa-sisa gairah yang masih berdenyut, air matanya kembali jatuh. Ia telah gagal. Rencananya di dermaga mungkin berantakan, dan sekarang ia kembali terperangkap dalam pelukan monster yang telah membunuh ibunya.
Setelah badai gairah itu mereda, Bramantya bangkit dan merapikan pakaiannya seolah tidak terjadi apa-apa. Ia mengambil map cokelat itu dari lantai dan memasukkannya ke dalam penghancur kertas di sudut ruangan.
Nadia hanya bisa menonton dengan tatapan kosong saat bukti kematian ibunya berubah menjadi serpihan kertas tak berarti.
"Mulai hari ini, kau tidak akan meninggalkan mansion ini, Nadia," ucap Bramantya tanpa menoleh. "Semua ponselmu sudah disita. Semua pintu akan dijaga. Kau ingin berperan sebagai istri yang setia? Maka hiduplah dalam peran itu sampai mati."
Bramantya berjalan menuju pintu, namun ia berhenti sejenak. "Dan mengenai polisi di dermaga... mereka menemukan kontainer kosong. Aku sudah memindahkan isinya sejak semalam. Kau terlalu meremehkan pria yang mencintaimu, Sayang."
Brak.
Pintu tertutup dan terkunci dari luar. Nadia meringkuk di atas sofa kulit itu, memeluk tubuhnya sendiri yang masih menyisakan aroma Bramantya. Ia telah kalah dalam pertempuran ini, namun saat ia meraba saku robe-nya yang tergeletak di lantai, ia merasakan sesuatu yang keras.
Sebuah micro-chip yang sempat ia selipkan dari dalam map sebelum Yudhistira menyerangnya.
Nadia menyeka air matanya. Bramantya mungkin telah menghancurkan kertasnya, tapi dia tidak tahu bahwa Nadia masih memegang kunci digital menuju kehancurannya.
"Ini belum berakhir, Bramantya," bisik Nadia ke dalam keheningan ruangan. "Neraka ini baru saja dimulai."