NovelToon NovelToon
Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Kutukan / Romansa / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.

Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.

Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.

Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjeda Rencana

KLIK.

Suara pintu paviliun yang tertutup dan terkunci dari luar menggema di keheningan, mengirimkan getaran dingin langsung ke tulang punggung Raras. Kepanikan yang membekukan sesaat mencengkeram tenggorokannya. Ia terperangkap. Terjebak di dalam jantung spiritual keluarga Cokrodinoto bersama aroma anyir darah kering yang menguar dari sumbu lilin yang baru padam.

Raras melesat ke pintu, mendorongnya dengan sekuat tenaga. Kayu jati solid itu tak bergeming. Jantungnya berdebar liar, bukan lagi karena rasa penasaran, melainkan teror murni. Siapa pun yang menguncinya, pasti Bayu tahu ia ada di dalam. Ini bukan sekadar sabotase, ini adalah peringatan. Sebuah ancaman tanpa suara.

Raras memaksa dirinya untuk tenang. Berteriak tidak ada gunanya. Hanya akan membuatnya terlihat histeris dan gila. Ia mundur perlahan, menyandarkan punggungnya ke tiang utama paviliun yang dingin, memaksa napasnya untuk kembali teratur.

Matanya memindai kegelapan, otaknya bekerja seratus kali lebih cepat. Bayu tidak akan membunuhnya di sini, itu terlalu bodoh. Ini adalah permainan psikologis. Tujuannya adalah untuk menakutinya, untuk membuatnya merasa kecil dan tak berdaya di rumah ini.

Lima menit yang terasa seperti seabad berlalu. Tepat saat Raras mulai berpikir ia akan terkurung di sana sampai pagi, terdengar langkah kaki ringan di luar, diikuti suara kunci yang diputar kembali.

KLIK.

Pintu berderit terbuka. Sosok Mbok Tumi yang bungkuk berdiri di ambang pintu, wajahnya penuh kebingungan di bawah cahaya lampu taman yang redup.

“Nyonya? Astaghfirullah… sedang apa di dalam sini? Tadi saya lihat pintu ini sedikit terbuka, saya kira angin, jadi saya kunci dari luar supaya aman. Maafkan saya, Nyonya, saya tidak tahu Nyonya ada di dalam.”

Penjelasan itu terdengar begitu polos, begitu masuk akal. Namun, mata Raras yang tajam menangkap getar ketakutan yang sekilas di sudut mata pelayan tua itu. Mbok Tumi berbohong. Entah karena disuruh atau karena takut. Raras memutuskan untuk tidak memaksanya.

“Tidak apa-apa, Mbok,” jawab Raras, suaranya serak. Ia melangkah keluar dari paviliun, membawa serta hawa dingin dan bau amis yang seolah menempel di kulitnya.

“Saya hanya… mencari udara segar.”

Ia tidak menoleh ke belakang. Ia tahu, mulai malam ini, permainannya telah berubah. Ia bukan lagi sekadar istri kontrak yang kesepian. Ia adalah saksi. Dan itu membuatnya menjadi target.

***

Tiga hari kemudian, suasana di meja makan terasa lebih beku dari biasanya. Radya pulang. Bukan karena keinginannya, Raras tahu itu, melainkan karena panggilan Eyang Putra yang tak bisa ditolak. Pria itu duduk di ujung meja, gagah dalam balutan kemeja birunya yang mahal, tetapi auranya sedingin es kutub. Ia tidak menatap Raras. Bahkan tidak meliriknya. Seolah kursi di seberang sana kosong.

Eyang Putra berdeham, memecah keheningan yang hanya diisi oleh denting perak di atas porselen.

“Bagaimana proyek di Kalimantan, Dya? Lancar?”

“Ada sedikit masalah dengan perizinan lahan, tapi sudah terkendali,” jawab Radya singkat, matanya tetap tertuju pada piringnya.

“Baguslah.” Eyang menyesap tehnya perlahan, matanya yang bijak beralih dari cucunya ke Raras, yang sejak tadi hanya diam mengaduk supnya.

“Aku lihat kau semakin kurus, Nduk Raras. Apa kau tidak betah di sini?”

Raras mengangkat kepalanya, sedikit terkejut.

“Saya baik-baik saja, Eyang.”

Radya mendengus pelan, sebuah suara sinis yang nyaris tak terdengar.

“Tentu saja dia baik-baik saja. Makan tiga kali sehari, dilayani, tidak perlu melakukan apa-apa. Siapa yang tidak betah?”

Hinaan itu, meski diucapkan dengan nada rendah, terasa seperti tamparan. Eyang menatap Radya dengan tajam.

“Justru itu masalahnya, Radya,” kata Eyang, nadanya tegas.

“Raras ini perempuan cerdas. Punya keahlian. Sayang sekali kalau otaknya dibiarkan tumpul hanya dengan duduk-duduk di rumah sebesar ini.”

Radya akhirnya mengangkat kepalanya, menatap Eyang dengan tidak percaya, lalu melirik Raras dengan tatapan meremehkan.

“Keahlian? Eyang, tolonglah. Tugas dia di sini sudah sangat jelas dan sederhana. Jaga Eyang, buat Eyang senang. Selesai. Jangan ditambah-tambahi dengan hal yang tidak perlu.”

“Dan menurutmu membiarkan potensinya terkubur itu perlu?” balas Eyang, tidak mau kalah.

“Dia bisa menulis. Dia mengerti administrasi. Dia bisa melakukan sesuatu yang berguna.”

“Berguna untuk apa?” sela Radya cepat, nadanya meninggi.

“Untuk mempermalukan keluarga? Apa kata dewan direksi nanti kalau mereka tahu istri, sekalipun hanya istri di atas kertas dari CEO Cokrodinoto Group bekerja jadi kuli ketik di luar sana? Itu aib, Eyang!”

“Kalau begitu, jangan biarkan dia bekerja di luar,” sahut Eyang tenang.

Radya mengerutkan kening.

“Maksud Eyang?”

“Biarkan dia bekerja di perusahaanmu.”

Radya tertawa. Tawa kering tanpa humor.

“Yang benar saja. Menempatkan dia di kantor? Di bawah pengawasanku? Itu lebih buruk lagi. Semua orang akan bertanya siapa dia. Gosip akan menyebar. Tidak. Sama sekali tidak.”

Selama perdebatan itu, Raras hanya diam. Ia membiarkan mereka beradu argumen tentang nasibnya seolah ia adalah sebuah objek yang harus ditempatkan di suatu tempat. Rasa sakit hati yang dulu akan melumpuhkannya kini berubah menjadi bara api yang dingin. Ia sudah muak menjadi pion.

“Saya punya ide,” ucap Raras pelan, namun cukup jelas untuk menghentikan perdebatan sengit itu.

Kedua pria itu menoleh padanya. Radya dengan tatapan jengkel, Eyang dengan sorot mata penuh harap.

“Saya mengerti kekhawatiran Mas Radya tentang nama baik keluarga,” lanjut Raras, menatap lurus ke arah Radya. Ia tidak lagi menunduk.

“Saya juga tidak ingin hanya berdiam diri. Bagaimana kalau saya bekerja… tapi tidak ada yang tahu siapa saya?”

Radya menyipitkan matanya sinis.

“Apa maksudmu?”

“Saya bisa menggunakan nama samaran. Identitas yang berbeda. Saya akan melamar pekerjaan seperti orang biasa, di posisi yang tidak akan menarik perhatian. Tidak ada yang akan menghubungkan saya dengan keluarga ini. Dengan begitu, kehormatan keluarga Cokrodinoto aman, dan saya tidak menjadi parasit di rumah ini.”

Hening sejenak. Ide itu begitu sederhana namun brilian. Eyang Putra tersenyum tipis, penuh persetujuan. Radya tampak terkejut. Ia tidak menyangka perempuan yang dianggapnya bodoh dan oportunis ini bisa memberikan solusi yang logis dan menjaga harga dirinya.

“Di mana kau akan bekerja?” tanya Radya, masih terdengar curiga.

“Di tempat yang paling tidak akan dicurigai orang,” jawab Raras mantap.

“Di Cokrodinoto Group.”

Radya hampir tersedak.

“Kamu gila? Bekerja di perusahaanku sendiri dengan nama samaran? Itu risiko terbesar!”

“Justru itu tempat teraman,” balas Raras tenang.

“Seperti kata pepatah, tempat terbaik untuk bersembunyi adalah di tempat yang paling terang. Siapa yang akan menyangka istri CEO bekerja di sana? Saya akan mengambil posisi paling bawah. Staf administrasi, atau bahkan… office girl. Tidak akan ada yang memperhatikan saya.”

Radya menatapnya lekat-lekat, mencoba mencari celah, mencari niat tersembunyi. Tapi yang ia lihat hanyalah sepasang mata yang jernih dan penuh tekad. Ia terjebak. Menolak ide ini akan membuatnya tampak seperti pria arogan yang tidak masuk akal. Menerimanya terasa seperti menelan pil pahit.

“Baik,” desisnya akhirnya, seolah terpaksa.

“Aku setuju. Tapi dengan syarat yang sangat ketat dan ketentuan yang akan aku tentukan dan kau tidak boleh membantah.”

“Saya mendengarkan,” kata Raras.

“Pertama, tidak ada seorang pun, aku ulangi, tidak seorang pun, yang boleh tahu identitas aslimu. Termasuk para pelayan di rumah ini. Kedua, kau urus semuanya sendiri. Lamaran, wawancara. Jangan bawa-bawa nama Eyang. Ketiga, dan ini yang paling penting,” Radya mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapannya menusuk, “kalau sampai rahasia ini bocor dan mempermalukan namaku, detik itu juga, perjanjian kita batal. Aku tidak peduli dengan kutukan weton atau apa pun. Kau keluar dari rumah ini. Mengerti?”

“Sangat mengerti,” jawab Raras tanpa gentar.

Sebuah kesepakatan baru telah tercipta di atas meja makan yang dingin itu. Bagi Radya, ini adalah cara untuk menyingkirkan Raras dari pandangannya. Bagi Raras, ini adalah sebuah pintu. Pintu untuk keluar dari sangkar emasnya, dan pintu untuk masuk ke jantung pertahanan musuh-musuhnya.

***

Seminggu kemudian.

Wanita muda yang berdiri di lobi megah Cokrodinoto Tower sama sekali tidak mirip dengan Nyonya Raras Inten yang pendiam. Ia mengenakan kemeja katun putih sederhana yang sedikit kebesaran, celana bahan hitam, dan sepatu datar tanpa hak. Rambutnya yang panjang diikat ekor kuda dengan rapi, memperlihatkan wajahnya yang bersih tanpa riasan kecuali pulasan tipis pelembap bibir. Ia tampak biasa, nyaris tidak terlihat di antara lalu-lalang karyawan yang berpenampilan necis.

Ia kini berperan sebagai Rara. Seorang gadis biasa yang datang untuk wawancara pekerjaan.

Jantungnya berdebar kencang saat menatap pilar-pilar marmer yang menjulang dan logo ‘CG’ berwarna perak yang berkilauan di dinding. Ini adalah dunia Radya. Sebuah imperium yang dibangun di atas logika, uang, dan kekuasaan. Dan ia akan masuk ke dalamnya sebagai seekor semut.

Ia menarik napas dalam-dalam, menguatkan tekadnya, lalu melangkah menuju meja resepsionis yang dijaga oleh dua orang petugas keamanan berbadan tegap.

“Selamat pagi, Pak. Saya…”

Kalimatnya terputus. Dari sudut matanya, ia melihat pintu lift VIP di seberang lobi terbuka. Sesosok wanita anggun dalam balutan setelan kerja berwarna merah marun melangkah keluar. Rambutnya disanggul modern, tas tangannya bermerek, dan setiap langkahnya memancarkan aura kekuasaan.

Ayunda.

Napas Raras tercekat di tenggorokan. Untuk sesaat, dunia seolah bergerak dalam gerakan lambat. Mata mereka bertemu. Hanya sepersekian detik, namun cukup bagi Raras untuk melihat kilat kebingungan di mata Ayunda.

Sebuah kerutan samar muncul di dahi wanita itu, seolah ia melihat sesuatu yang familier tetapi sangat tidak pada tempatnya. Seperti melihat seekor kucing kampung tersesat di dalam ruang pameran berlian.

Raras segera membuang muka, jantungnya serasa akan melompat dari dadanya. Ia kembali fokus pada petugas keamanan di depannya, berusaha terdengar setenang mungkin.

“Saya Rara, Pak. Ada janji wawancara dengan bagian personalia.”

Petugas itu sedang memeriksa buku tamu, tidak menyadari ketegangan yang baru saja terjadi. Namun, sebelum ia sempat menjawab, sebuah suara dingin yang tajam seperti pecahan kaca terdengar dari belakang Raras, begitu dekat hingga membuat bulu kuduknya meremang.

“Tunggu sebentar.”

Raras membeku. Ia tidak berani menoleh.

“Wajahmu… sepertinya saya pernah melihatmu di suatu tempat.”

1
Vay
♥️♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
💜💜💜💜
Vay
💙💙💙💙
Vay
💜💜💜💜
juwita
iih ko bayu tau sih
juwita
pdhal g ush di tolong Raras biar bangkrut sekalian perusahaan. klo udh kere ap si ayunda mau sm dia
juwita
waah ternyata bayu org jahat. radya sm. eyangnya miara ular
juwita
semoga g berhasil ada yg lindungi raras
juwita
jahat si bayu mgkn musuh dlm selimut dia
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!