Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.
Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.
Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.
Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desa Kabut Darah
Perjalanan menuju perbatasan wilayah sekte memakan waktu dua hari penuh. Sepanjang jalan, dinamika tim mulai terlihat jelas.
Ye Qingyu memimpin di depan dengan kecepatan konstan, jarang berbicara kecuali memberi perintah. Bao, si raksasa dari Puncak Guntur, ternyata sangat cerewet dan suka membagi camilan daging kering. Sedangkan Chen... dia tidak melewatkan satu kesempatan pun untuk menyindir Li Tian.
"Hei, Junior," panggil Chen saat mereka beristirahat di tepi sungai. "Apa pedangmu itu pajangan? Aku lihat kau bahkan tidak membawanya di pinggang, tapi menyampirkannya di punggung seperti kayu bakar. Teknik pedang macam apa yang kau pelajari di Puncak Pedang Patah? Teknik Memotong Kayu?"
Li Tian sedang mengasah Pedang Angin Biru-nya dengan batu asah khusus. Dia tidak menoleh.
"Sesuatu seperti itu," jawab Li Tian santai. "Sangat efektif untuk memotong benalu."
Wajah Chen memerah. "Kau menyebutku benalu?!"
"Cukup," suara Ye Qingyu memotong tajam. Dia berdiri, menatap ke arah lembah di depan mereka. "Kita sudah sampai. Lihat ke depan."
Semua orang menoleh.
Di kejauhan, sebuah lembah yang seharusnya hijau subur kini tertutup oleh kabut tebal berwarna kemerahan. Bau amis darah yang samar terbawa angin, membuat bulu kuduk merinding.
"Desa Kabut Darah," gumam Bao, wajah ramahnya berubah serius. Dia menurunkan perisai besarnya dari punggung. "Baunya tidak enak. Ini bukan sekadar bandit biasa."
"Formasi tempur," perintah Ye Qingyu. "Bao di depan. Chen di tengah untuk serangan jarak jauh. Aku di sayap kiri. Li Tian... kau jaga belakang. Jangan mati."
"Siap, Kapten," jawab Li Tian.
Mereka bergerak masuk ke dalam kabut. Jarak pandang menurun drastis menjadi kurang dari sepuluh meter. Suara burung dan serangga menghilang, digantikan oleh kesunyian yang menekan telinga.
Rumah-rumah penduduk mulai terlihat. Pintu-pintu kayu terbuka lebar, engselnya rusak. Gerobak dagang terbalik di tengah jalan. Jemuran pakaian masih menggantung, tapi pemiliknya tidak terlihat.
"Kosong," bisik Chen, suaranya sedikit bergetar. Dia membuka kipas besinya yang ujungnya tajam. "Ke mana semua orang?"
Li Tian berjongkok, menyentuh tanah yang lengket.
"Darah," kata Li Tian. "Tanah ini basah oleh darah, tapi tidak ada mayat."
"Guru, kau merasakan sesuatu?" tanya Li Tian dalam hati.
"Ada banyak 'nyawa' di sini," jawab Zu-Long, nadanya waspada. "Tapi nyawa mereka... terdistorsi. Hati-hati, Bocah. Mereka ada di sekeliling kita. Di dalam rumah, di balik sumur, di atap..."
Krak.
Suara genting pecah terdengar dari atas.
"Awas!" teriak Li Tian.
Dari atap rumah di samping mereka, tiga sosok manusia melompat turun menerjang ke arah Chen.
"Aaah!" Chen panik. Dia mengibaskan kipasnya, menembakkan bilah angin.
Sret! Sret!
Bilah angin itu memotong lengan salah satu penyerang hingga putus. Tapi penyerang itu tidak berteriak. Dia tidak berhenti.
Sosok itu mendarat dan mengangkat wajahnya.
Itu adalah seorang petani tua. Kulitnya pucat pasi, matanya merah menyala tanpa pupil, dan mulutnya dipenuhi taring yang tidak wajar.
Mayat Darah.
"Monster!" teriak Chen mundur.
Dua Mayat Darah lainnya menerjang Bao.
DANG!
Bao menahan serangan cakar mereka dengan perisainya. "Kuat sekali! Tenaga mereka setara Tempa Tubuh Tingkat 9! Ini bukan mayat biasa!"
"Mereka penduduk desa," kata Ye Qingyu, menebas leher satu mayat dengan pedang gandanya. Kepala mayat itu putus, tapi tubuhnya masih bergerak mencakar-cakar sesaat sebelum ambruk. "Seseorang telah mengubah mereka menjadi boneka pembunuh menggunakan teknik darah!"
Tiba-tiba, dari dalam kabut merah, puluhan pasang mata merah menyala muncul.
"Grrrr..."
Mereka dikepung. Setidaknya ada lima puluh Mayat Darah yang keluar dari persembunyian.
"Formasi Lingkaran!" teriak Ye Qingyu.
Mereka saling memunggungi. Namun Chen, yang berdiri di dekat gang sempit, melakukan kesalahan fatal. Dia melihat celah untuk kabur ke tempat yang lebih tinggi dan memisahkan diri dari formasi.
"Chen! Kembali!" seru Bao.
"Aku butuh jarak tembak!" alasan Chen. Dia melompat ke atas gerobak sapi.
Tapi itu jebakan. Dari bawah gerobak, sebuah tangan pucat menjulur keluar, mencengkeram pergelangan kaki Chen.
"Tolong!" Chen ditarik jatuh. Tiga Mayat Darah langsung menindihnya, siap menggigit lehernya.
Ye Qingyu sedang sibuk menahan lima mayat di depan. Bao juga kewalahan. Tidak ada yang bisa menolong Chen.
Kecuali satu orang.
Li Tian menghela napas. "Merepotkan."
Dia tidak lari. Dia melangkah maju dengan tenang. Tangan kanannya memegang gagang Pedang Angin Biru di punggungnya.
Dia tidak menariknya keluar. Belum.
Dia mengalirkan Qi hitamnya ke dalam sarung pedang dan bilahnya sekaligus.
"Berat... jadilah berat..."
Sarung tangan perunggunya bersinar. Gravitasi di sekitar pedang itu terdistorsi.
Li Tian melompat tinggi ke udara, melampaui kerumunan mayat, menuju posisi Chen yang sedang berteriak histeris.
"Minggir!"
Li Tian mencabut pedangnya di udara.
"Teknik Pedang Kaisar Naga: TEBASAN NAGA JATUH!"
Dia mengayunkan pedang itu ke bawah.
Pedang yang ramping itu tiba-tiba terasa memiliki bobot satu ton. Udara di sekitarnya menjerit karena tekanan.
BOOM!
Li Tian menghantamkan pedangnya ke tanah, tepat di sebelah kepala Chen.
Dampak hantamannya menciptakan gelombang kejut.
Tanah meledak. Tiga Mayat Darah yang menindih Chen hancur berkeping-keping—tulang dan daging mereka meledak menjadi kabut merah akibat tekanan gravitasi yang meremukkan.
Chen, yang berada di pusat ledakan (namun tidak terkena langsung), terpental dua meter karena guncangan tanah. Wajahnya pucat, matanya menatap kawah kecil yang baru saja dibuat Li Tian.
Li Tian berdiri tegak di tengah kawah itu. Pedangnya menancap di tanah. Asap hitam tipis mengepul dari bilahnya.
"Bangun," kata Li Tian dingin pada Chen. "Atau mau kubiarkan mereka memakanmu?"
Chen menelan ludah, menatap Li Tian dengan ketakutan yang baru. Dia mengangguk patah-patah dan segera merangkak kembali ke formasi.
Ye Qingyu, yang melihat serangan itu dari sudut matanya, tertegun sejenak.
"Serangan apa itu? Pedang Angin tidak bisa menghasilkan ledakan seberat itu," batinnya.
"Fokus!" teriak Li Tian, mengangkat pedangnya kembali. "Ini belum selesai. Induknya... ada di sini."
Dari balik kabut merah yang pekat, terdengar tepuk tangan pelan.
"Luar biasa... murid Sekte Pedang Langit memang bibit unggul."
Sesosok pria berjubah merah darah melayang turun dari atap rumah kepala desa. Wajahnya tampan namun pucat, dan dia memegang sebuah seruling tulang.
Seorang Kultivator Jahat Ranah Bangkit Jiwa Tingkat Puncak!
"Darah kalian... pasti manis," kata pria itu sambil menjilat bibirnya.
Pertarungan melawan Mayat Darah hanyalah pembuka. Bos sebenarnya telah muncul.