NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keributan

"Arga, ingat kan kita mau ke rumah Ayah? Nanti kita telat lho," kata Anya sambil mencoba melewati Arga, berusaha mengalihkan topik pembicaraan. "Ayo, cepat!"

Arga terdiam sejenak, lalu secara tiba-tiba memeluk Anya dari belakang. "Kalau Anya tidak suka dipeluk, Arga janji tidak akan memeluk Anya lagi," bisiknya dengan nada lirih di telinga Anya, membuat jantungnya berdegup kencang.

Bisikan Arga di telinganya membuat Anya merinding dan merasa gugup. "Arga, bukan begitu... tadi itu aku cuma kaget karena kamu tiba-tiba memelukku," jelasnya dengan suara yang sedikit gemetar.

Arga yang berada di belakang Anya tersenyum lebar mendengar penjelasan itu. "Benarkah begitu, Anya?" tanyanya dengan nada polos dan penuh harap.

Anya mengangguk dengan cepat, berharap tidak ada kesalahpahaman lagi. "Iya, Arga, sudah ya? Jangan peluk terus, nanti kita sampai di rumah Ayah terlalu malam," ucapnya sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Arga.

Dengan senang hati, Arga melepaskan pelukannya dari Anya, lalu menggandeng lengannya dengan erat saat mereka berjalan keluar dari kamar menuju lantai bawah untuk segera berangkat ke rumah orang tuanya.

Kegelisahan mencengkeram Anya selama perjalanan. Ia tidak bisa menghilangkan bayangan tentang apa yang akan terjadi di rumah Pramudya nanti. Apakah Pramudya akan berpihak padanya atau justru lebih percaya pada setiap perkataan Galen?

Di kursi belakang mobil, keduanya duduk dalam keheningan yang terasa berat. Arga dengan senyum polosnya tampak menikmati pemandangan jalan raya yang berlalu di luar jendela, sementara Anya dilanda kecemasan yang mendalam, memikirkan segala konsekuensi yang mungkin terjadi setibanya mereka di sana.

Mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan gerbang rumah mewah milik Pramudya. Sebelum keluar, Anya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri dan bersiap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Arga mengikutinya dari belakang, menggenggam tangannya erat seolah mencari perlindungan.

Pramudya menyambut kedatangan mereka di depan pintu dengan senyum ramah. "Ayah!" seru Arga dengan riang sambil berlari kecil untuk memeluk ayahnya.

Pramudya menyambut pelukan putranya dengan hangat. "Dasar anak manja," ujarnya sambil membalas pelukan Arga dengan penuh kasih sayang.

Setelah melepas pelukannya, Arga menatap ayahnya dengan tatapan polos. "Ayah tahu kalau Arga mau datang ke sini?" tanyanya dengan nada polos.

Pramudya tersenyum lembut. "Tentu saja tahu. Istrimu yang cantik ini sudah menghubungi Ayah tadi," jawabnya sambil melirik Anya yang sudah berdiri di samping Arga dengan senyum tipis.

"Sebaiknya kita masuk ke dalam. Udara di luar semakin dingin, tidak baik untuk kesehatan," ajak Pramudya sambil mempersilakan keduanya masuk ke dalam rumah yang megah itu.

Anya mengamati sekeliling rumah. Suasana terasa sangat sepi dan sunyi, tidak ada tanda-tanda kehadiran dua orang yang sangat ia benci. Atau mungkin saja, mereka akan muncul secara tiba-tiba seperti hantu, datang tanpa diundang.

Pramudya mengajak keduanya menuju ruang utama yang mewah untuk berbincang-bincang. "Anya, Arga, kalian mau makan sesuatu? Biar bibi siapkan," tawar Pramudya dengan ramah.

Arga duduk di samping ayahnya sambil bersikap manja, layaknya seorang anak kecil yang merindukan ayahnya.

Anya menggelengkan kepalanya dengan sopan. "Terima kasih, Ayah, tapi kami berdua sudah makan sebelum berangkat ke sini."

Suasana hening sejenak memenuhi ruang utama. "Ayah, ada hal penting yang ingin Anya sampaikan," ucap Anya dengan nada serius, berusaha mengumpulkan keberanian.

Pramudya mengangguk pelan sambil mengusap kepala putranya dengan lembut, memberikan kenyamanan. Arga tampak menikmati sentuhan kasih sayang itu sambil memejamkan matanya dengan tenang.

"Ini tentang masalah yang sangat serius dan menyangkut Anya, Galen, dan juga Arga," lanjut Anya dengan nada yang semakin serius.

Pramudya mengerutkan keningnya, menunjukkan rasa penasaran dan khawatir. "Apa yang sebenarnya terjadi antara Galen dan kalian berdua?" tanyanya dengan nada ingin tahu.

"Apakah Galen sedang berada di rumah?" tanya Anya, mengabaikan pertanyaan Pramudya dan langsung menuju inti permasalahan.

"Galen dan ibunya sudah pergi sejak tadi, dan sampai saat ini belum kembali," jawab Pramudya dengan nada bingung.

Raungan mesin mobil memecah keheningan, menandakan kedatangan Galen dan ibunya. Mereka bergegas memasuki rumah dengan membawa berbagai macam barang bawaan di kedua tangan.

"Arga, Anya? Kalian ada di sini juga?" tanya Rini dengan nada terkejut saat melihat kedua orang itu tengah berbincang dengan Pramudya di ruang utama.

Anya hanya membalas sapaan Rini dengan senyum tipis yang dipaksakan.

Galen dan Rini mendekati mereka yang sedang berkumpul di ruang utama. "Ayah, Galen bawakan makanan kesukaan Ayah nih," ucap Galen sambil menyerahkan paper bag berisi makanan kepada Pramudya dengan senyum manis.

Pramudya membalas senyum Galen dengan senyum tipis. "Terima kasih, Galen. Oh iya, sebaiknya kalian berdua tetap di sini. Ada hal penting yang ingin Anya bicarakan," ucap Pramudya dengan nada tegas, seolah tidak memberi ruang untuk penolakan.

Galen dan Rini duduk dengan tenang, namun tatapan mereka penuh dengan tanda tanya. "Sebenarnya apa yang terjadi, Anya? Sepertinya ini masalah serius sampai kita semua harus berkumpul seperti ini?" tanya Rini dengan nada penasaran yang bercampur dengan kecurigaan.

"Aku hanya ingin memastikan satu hal pada Galen," jawab Anya, tatapannya beralih dan menusuk langsung ke arah Galen. Galen yang merasa menjadi pusat perhatian mengerutkan keningnya, merasa tidak nyaman. "Apa maksudmu, Anya? Apa yang terjadi denganku?" tanya Galen dengan nada defensif.

Anya menatap Galen dengan tatapan dingin dan menusuk. "Apa benar, saat di rumah sakit kemarin, kau sengaja memengaruhi Arga dengan ucapan-ucapanmu yang tidak masuk akal itu?" tanya Anya dengan nada menuduh.

"Ucapan apa yang kau maksudkan? Aku tidak pernah mengatakan apapun yang buruk pada Arga, Anya," jawab Galen dengan nada membela diri, berusaha meyakinkan semua orang.

"Anya, apa kau yakin tidak ada kesalahpahaman dalam hal ini?" tanya Rini dengan nada khawatir, berusaha menengahi situasi.

Anya mencibir sinis. "Tidak ada yang salah paham, Tante. Arga sendiri yang sudah mengakuinya padaku," ucap Anya dengan nada tegas, lalu berhenti sejenak.

"Arga bilang, Galen menuduhku menyukai Galen dan berniat meninggalkannya demi Galen. Dan semua itu berasal dari mulut Galen sendiri," lanjutnya dengan nada menuduh.

Galen terlihat panik, kedua tangannya saling meremas dengan erat. Ia berusaha keras untuk menyembunyikan kegugupannya. "Galen, apa benar yang dikatakan Anya? Apa kau benar-benar mengatakan hal itu pada Arga?" tanya Pramudya dengan nada serius, menatap tajam ke arah Galen.

"Ayah, kenapa aku harus mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti itu pada Arga? Apa keuntungannya bagiku?" jawab Galen dengan nada membela diri, berusaha meyakinkan Pramudya bahwa ia tidak bersalah.

"Aku yakin pasti ada kesalahpahaman di sini, Mas Pram," sela Rini dengan nada membela, berusaha melindungi putranya. "Galen tidak mungkin melakukan hal yang seperti itu. Dia sangat menyayangi Arga, sudah seperti saudara sendiri."

Anya membalas tatapan Rini dengan tatapan sinis yang meremehkan. "Menyayangi? Kalau memang benar menyayangi, kenapa dia tega membohongi Arga dan membuatnya membenciku tanpa alasan?" tanya Anya dengan nada sinis.

Pramudya menghela napas panjang, merasa frustrasi dengan situasi yang semakin memanas ini. "Galen, Ayah minta kamu jujur. Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian?" tanyanya dengan nada lembut namun penuh ketegasan.

"Ayah, aku bersumpah tidak pernah mengatakan hal yang aneh-aneh pada Arga. Apa untungnya bagiku melakukan hal itu? Kenapa aku harus merusak kebahagiaan rumah tangga mereka?" jawab Galen dengan raut wajah sedih yang dibuat-buat.

Anya mencibir dengan nada merendahkan. "Kalau kau terlalu pengecut untuk mengakui kebenaran, kenapa tidak tanyakan saja langsung pada Arga!" ucap Anya sambil melirik Arga yang tengah terlelap di pundak ayahnya.

Arga sama sekali tidak terusik oleh keributan yang terjadi di sekitarnya. Ia tampak sangat nyaman dan damai dalam tidurnya di dekat sang ayah.

Dengan perasaan bersalah, Pramudya terpaksa membangunkan putranya yang sedang tertidur dengan nyenyak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!