"Ibu mau kemana? " suara Rara kecil nyaris tak terdengar.
Ibu menoleh sekilas. Mata mereka bertemu sejenak, lalu ibu buru-buru membuang pandangan. Ia mendekat, memeluk Rara sekilas. cepat sekali, seperti orang yang terburu-buru ingin pergi dari mimpi buruk.
"Kamu di sini dulu ya sama ayah. Kalau ada rezeki, kamu dan Alisya ibu jemput," bisiknya pelan, sebelum berbalik.
Rara tak mengerti. Tapi hatinya nyeri, seperti ada yang hilang sebelum sempat digenggam. Ketika mobil itu perlahan menjauh, ia masih berdiri mematung. Air matanya jatuh, tapi tak ia sadari.
"Rara Alina Putri" Namanya terpanggil di podium.
Ia berhasil wisuda dengan peringkat cumlaude, matanya berkaca. kepada siapakah ini pantas di hadiahkan?
Jika hari ini ia berdiri sendiri di sini. Air bening mengalir tanpa terasa, Langkah Kecil Rara sudah sejauh ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Di Pinggir Embung
Rara mengamati sekeliling ruangan. Rumah ini lebih kecil dari yang sebelumnya, tapi udara lebih bebas di sini. Hampir setiap ruangan ada jendela. Di belakang, hutan rindang menyambut dengan jalan setapak menuju persawahan warga. Sebelah kiri kebun karet yang sangat luas. Samping kanan, bersebelahan dengan dam embung.
Hal itu membuat Rara tidak begitu sedih pindah, ia tidak lagi jauh mandi.
Di depan rumah jalan beraspal menyambut, bergandengan dengan persawahan yang lebih luas.
"Kakak lagi apa?" Alisya mengucek matanya. Ia baru saja bangun tidur.
"Ini kakak masak nasi," Rara tampak sibuk menghidupkan api di tungku. Debunya berterbangan, ia terbatuk-batuk. Ranting yang digunakannya memasak memang sedikit basah, sebab semalam hari hujan. Suara kicau burung-burung kecil membuat suasana pedesaan makin terasa.
"Ayah mana kak?" lanjut Alisya berjongkok di sebelah tungku perebus nasi.
"Ayah ke sawah dek, ada ibu-ibu yang minta tolong tadi," adiknya mengangguk kecil.
"Rumah kita yang sekarang, agak seram ya kak. Banyak hutannya!" ucap Alisya mendongakkan kepalanya ke bagian belakang rumah. Ia menginjak rumput-rumput basah, Rara tak menghiraukan. Ia masih sibuk dengan api yang tidak juga menyala. Dari embung suara kodok yang bernyanyi riang terdengar besahutan.
Rara terus berusaha menghidupkan api tungku, setelah sekian lama akhirnya hidup juga. Alisya terkekeh melihat muka kakanya yang penuh abu tungku.
"Muka kakak!" tunjuk Alisya sembari tertawa.
Rara mengamit ujung bajunya lalu menyeka muka.
"Tinggal di sini ya, Nak?" seorang ibu-ibu yang mengenakan baju berlumpur lewat dari samping rumah. Ia memakai topi jerami dan menggendong tas kain di punggungnya. Sepertinya ibu-ibu yang akan ke sawah belakang.
Alisya hanya tersenyum menatap. Rara keluar dari dapur, menatap ke arah si ibu.
"Iya buk, baru pindah semalam." Jawab Rara menjelaskan.
Si ibu tersenyum, melanjutkan langkahnya ke jalan setapak di belakang.
"Kalau orang nanya dijawab dek," tegur Rara ke adiknya,
Alisya hanya menatapnya, tak bereaksi apapun.
Setelah memastikan nasi masak dengan baik, Rara mengajak adiknya mengambil air bersih untuk memasak air minum.
Mereka berjalan menyeberang jalan. Tak jauh dari sana, sebuah sumur kecil di lereng persawahan menampakkan air yang jernih dan dangkal. Cukup menggunakan gayung untuk menimbanya.
Rara mengisi galon hingga penuh, lalu menentengnya kembali ke rumah, adiknya hanya mengekor dari belakang.
Ia berniat memasak air minum, lagi-lagi harus menghadapi kayu yang basah, sehingga api benar-benar susah untuk hidup.
"Kak, hari sudah panas. Kita jemur aja kayunya di luar?"
Rara menoleh adiknya, saran Alisya masuk akal. Ia bergegas membawa ranting-ranting basah itu halaman depan. Menjejerinya satu per satu.
Matahari memang mulai menyengat, panasnya terasa membakar kulit. Ibu-ibu yang lewat di sebelah rumah mereka semakin ramai.
Rara melangkahkan kaki ke dalam rumah, ketika suara yang tak lagi asing memanggilnya.
"Rara!!" Suara Arini mengagetkannya.
Rara menoleh, ia menyunggingkan senyum ke Arini.
"Sini masuk, Arin?"
Arini menghampiri Rara. Alisya mengintip dari dalam, ia berlari mendekati Arini.
"Kak Arini kok tahu kami di sini?" Alisya menyelidik.
"Kan kakak nanya sama pemilik rumah kamu yang lama."
"Kak nanti sore kita berenang ya?" Alisya merengek.
"Nanti digigit lintah nangis lagi," tegas Rara. Alisya memberengut.
"Kalau nggak gini aja Ra, di sebelah rumahmu kan ada pohon jambu biji. Kita ambil yuk?" Arini mengerling Rara.
"Ide yang bagus," ucap Rara tertawa riang. Alisya juga ikut berlari mengikuti kakaknya.
Mereka bertiga berjalan mendekati pohon jambu biji yang berada di antara rumah Rara dan embung.
Alisya melompat kecil, tangannya berusaha meraih buah yang paling dekat. Ranting pohon berderak ringan saat disentuh, menimbulkan bunyi kering yang berpadu suara kodok dari embung.
Rara dan Arini memanjat batang jambu yang tak terlalu tinggi. Kemudian bernyanyi riang sambil memakan buahnya dari atas pohon.