NovelToon NovelToon
Hasrat Majikan

Hasrat Majikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Selingkuh / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.

Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang Sang Ayah

Kemenangan di ruang rapat dewan direksi seharusnya membawa ketenangan, namun bagi Alexander Eduardo, kemenangan itu terasa seperti jeda singkat di tengah badai yang lebih besar. Penthouse mewah itu kini tidak lagi terasa seperti medan perang, melainkan sebuah benteng pertahanan yang rapuh. Di ruang kerjanya yang luas, Alex duduk diam di kursi rodanya, menatap lurus ke arah bingkai foto kecil di atas meja: foto Richard Eduardo, ayahnya, pria yang menjadi awal dari segala kemelut ini.

Pintu terbuka pelan. Almira masuk membawa secangkir teh kamomil hangat. Langkahnya kini lebih tenang, meskipun perutnya yang semakin membesar mulai membatasi geraknya. Ia meletakkan cangkir itu di meja dan berdiri di belakang Alex, memijat bahu pria itu dengan lembut.

"Kau terlalu banyak berpikir, Alex. Dokter bilang kau tidak boleh stres agar sarafmu tidak menegang lagi," bisik Almira.

Alex memegang tangan Almira, membawanya ke depan bibirnya dan menciumnya lembut. "Aku hanya sedang berpikir tentang Ayah. Bagaimana dia bisa mencintai ibumu begitu dalam di tengah dunia yang begitu kejam ini? Dia mempertaruhkan segalanya, dan akhirnya... dia mati sendirian."

"Dia mati dalam kecelakaan, Alex. Itu suratan takdir," hibur Almira, meskipun hatinya sendiri selalu merasa ada yang janggal dengan cerita lama itu.

Ketukan di pintu depan memecah suasana haru tersebut. Rendy masuk dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak kayu tua yang tampak lapuk dan berdebu.

"Tuan, paket ini dikirimkan pagi ini. Tidak ada nama pengirim, hanya ada inisial 'R.E.' di atasnya," ucap Rendy hati-hati.

Alex mengerutkan kening. "Inisial Ayah?"

Ia memberi isyarat agar Rendy meletakkan kotak itu di depannya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Alex membuka tutup kotak tersebut. Bau apak kertas tua dan aroma tembakau yang samar menyeruak. Di dalamnya terdapat tumpukan surat, beberapa kliping koran lama yang sudah menguning, dan sebuah buku harian kecil bersampul kulit hitam.

Almira ikut mendekat, rasa penasaran mulai mengalahkan rasa takutnya. Alex mengambil salah satu kliping koran. Itu adalah berita tentang kecelakaan mobil yang merenggut nyawa Richard Eduardo tiga puluh tahun yang lalu. Namun, di bawah foto mobil yang hancur itu, ada coretan tinta merah yang tebal: INI BUKAN KECELAKAN.

"Apa maksudnya ini?" suara Almira bergetar.

Alex membuka buku harian hitam itu. Halaman-halamannya berisi tulisan tangan Richard yang rapi namun penuh dengan kegelisahan. Ia membaca paragraf terakhir yang ditulis satu hari sebelum ayahnya tewas.

"Mereka tidak akan membiarkanku pergi bersama Nadin. Keluarga Eduardo lebih menghargai nama baik daripada nyawa manusia. Kakakku, William, telah mengancam akan melakukan 'pembersihan' jika aku tidak segera memutuskan hubungan ini. Jika sesuatu terjadi padaku, aku harap Alex bisa menemukan kebenaran ini suatu saat nanti."

Alex merasakan darahnya mendidih. William Eduardo. Pamannya sendiri. Pria yang selama ini ia anggap sebagai mentor dan orang yang membantunya membangun kembali Eduardo Group setelah kematian ayahnya.

"Alex... apakah itu berarti pamanmu yang melakukannya?" tanya Almira, wajahnya pucat pasi. Ia menyadari bahwa jika ini benar, maka penderitaan ibunya, Nadin, bukan hanya karena pengusiran, melainkan karena sebuah konspirasi pembunuhan yang disengaja.

Alex tidak menjawab. Ia terus membalik halaman buku harian itu hingga ia menemukan sebuah foto tua yang terselip di bagian paling belakang. Foto itu menunjukkan Richard, Nadin yang masih muda, dan seorang bayi laki-laki di pelukan Nadin.

"Ini... ini aku?" bisik Almira, menyentuh foto bayi itu.

"Bukan," suara Alex berubah menjadi sangat dingin, hampir seperti es. "Lihat tanggal di belakang foto ini, Almira."

Almira membalik foto tersebut. Tanggalnya menunjukkan satu tahun sebelum ia lahir.

"Ini bukan kau, Almira. Richard dan Nadin memiliki anak pertama sebelum kau lahir. Seorang anak laki-laki," ucap Alex.

Keheningan yang mematikan menyelimuti ruangan. Jika ada anak laki-laki sebelum Almira, ke mana anak itu sekarang? Mengapa Nadin tidak pernah menceritakannya?

Tanpa membuang waktu, Alex memerintahkan Rendy untuk membawa Nadin ke ruang kerja. Nadin masuk dengan bantuan tongkat, wajahnya yang penuh kerutan tampak semakin layu saat melihat foto tua yang diletakkan Alex di atas meja.

Nadin jatuh terduduk di kursi, air matanya langsung tumpah. "Dari mana... dari mana kalian mendapatkan ini?"

"Ibu, jelaskan pada kami! Apakah aku punya kakak?" Almira bersimpuh di kaki ibunya, menuntut jawaban.

Nadin mengangguk dengan isak tangis yang memilukan. "Namanya Adrian. Dia lahir setahun sebelum Richard meninggal. Saat Richard tewas, William Eduardo datang mencariku. Dia bilang, jika aku ingin Adrian tetap hidup, aku harus menyerahkan bayi itu padanya dan menghilang selamanya. Dia mengancam akan membunuh bayi itu jika aku berani muncul lagi."

"Jadi anak itu masih hidup?" tanya Alex, matanya berkilat tajam.

"Aku tidak tahu, Alex! William membawanya pergi. Setahun kemudian, aku bertemu dengan pria lain, ayah kandung Almira yang sebenarnya, dan mencoba memulai hidup baru untuk melupakan luka itu. Tapi keluarga Eduardo tidak pernah benar-benar membiarkanku tenang," tangis Nadin pecah.

Alex mencengkeram lengan kursi rodanya. Penderitaan batin yang ia rasakan kini bercampur dengan kemarahan yang meluap-luap. Pamannya, William, bukan hanya seorang pembunuh, tapi juga seorang penculik yang telah memisahkan seorang ibu dari anaknya demi kekuasaan.

Tiba-tiba, ponsel satelit Alex berdering. Sebuah nomor yang tidak dikenal. Alex mengangkatnya, dan suara berat yang sangat ia kenali terdengar di seberang sana.

"Kau sudah menerima kotaknya, Alexander?" suara William Eduardo terdengar tenang, hampir seperti sedang menyapa dalam acara makan malam.

"Kau pembunuh, William. Kau membunuh ayahku," desis Alex.

William tertawa, suara tawa yang kering dan tanpa perasaan. "Aku hanya melakukan apa yang perlu dilakukan untuk menjaga kemurnian keluarga Eduardo. Richard lemah. Dia hampir menyerahkan 30% saham kita kepada wanita rendahan itu. Sekarang, kau melakukan kesalahan yang sama dengan anak wanita itu."

"Di mana Adrian?" tanya Alex, mengabaikan hinaan William.

"Adrian? Oh, dia tumbuh menjadi pria yang sangat berguna. Tapi kau tahu, Alex, rahasia memiliki harga. Dan harganya adalah pengunduran dirimu secara total dari Eduardo Group malam ini juga. Jika tidak, aku akan mengirimkan bukti-bukti yang akan membuat istrimu, Almira, menyadari bahwa kau bukanlah penyelamatnya, melainkan bagian dari keluarga yang telah membunuh kakaknya."

Alex tertegun. "Apa maksudmu?"

"Adrian sudah mati, Alex. Sepuluh tahun yang lalu. Di tangan tim keamanan yang kau pimpin saat kau baru pertama kali menjabat. Kau ingat operasi 'pembersihan' di perbatasan yang kau setujui tanpa melihat detail korbannya? Salah satu dari mereka adalah Adrian."

Telepon terputus. Alex menjatuhkan ponselnya ke lantai. Ia menatap tangannya yang bergetar. Sepuluh tahun yang lalu, ia memang melakukan serangkaian operasi pembersihan aset perusahaan yang melibatkan konflik lahan berdarah. Ia melakukannya dengan arogansi seorang pemuda yang haus kekuasaan, tanpa peduli siapa yang menjadi korbannya.

Almira menatap suaminya dengan tatapan yang penuh kengerian. "Alex? Apa yang dia katakan? Siapa yang mati?"

Alex tidak bisa berkata-kata. Penderitaan batinnya kini mencapai titik yang paling menghancurkan. Ia baru saja menyadari bahwa ia mungkin adalah orang yang telah menarik pelatuk yang membunuh kakak tiri istrinya sendiri.

"Almira... aku..." Alex mencoba meraih tangan Almira, namun gadis itu mundur.

Kepercayaan yang baru saja mereka bangun dengan darah dan air mata, kini hancur berkeping-keping oleh sejarah yang lebih berdarah. Elara mungkin telah gagal dengan dokumen palsunya, namun William Eduardo baru saja menjatuhkan bom atom ke tengah-tengah hubungan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!