NovelToon NovelToon
TAWANAN CINTA TUAN SAGA

TAWANAN CINTA TUAN SAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Barat / CEO / Penyesalan Suami / Cinta setelah menikah / Dark Romance / Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: An_cin

Real cerita asli
No Jiplak!!!!
Yang jiplak gue gaplak

Ivana, wanita berusia 26 tahun harus merasakan pahit yang lebih dalam setelah kakaknya meninggal. Ia di haruskan menggantikan sang kakak untuk menikahi Saga, calon kakak iparnya setelah Olivia meninggal. Namun rupanya, Saga pun tak melepaskan Ivana, karena tahu bahwa jantung yang ada di dalam dirinya adalah milik Olivia.

"Tolong, izinkan aku pergi!" Rintihan itu terus Ivana ucapkan dari balik pintu kamar berinterior mewah.

Di depan kamar itu, terdapat beberapa orang yang mengawasinya.

"Kau mau kemana Ivana? Kau harus tetap di sini, Olivia tidak akan pernah membangkang padaku. Kau harus menurut, atau aku akan mengambil jantungmu dan memberikannya pada wanita lain sebagai Olivia" ucap Saga dari balik pintu kamar Ivana.

"Kau sudah gila Saga, lepaskan aku! Aku tidak ingin di sini! Aku ingin pergi! "

Ivana, apakah kamu benar-benar akan bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

"Puas kau tertawa seperti itu, hah?" tanya Martin saat melihat Rei.

Melihat Martin yang tampak marah membuat Rei kembali menunduk, ia tak berani menatap wajah Martin, dan kini Martin pun kembali duduk dengan benar. Merangkul Rei dan mencoba memainkan rambut gadis itu.

Danuel kini mencoba melakukan hal yang sama dengan Martin, yaitu mencoba merangkul Jane. Namun gadis itu enggan dan terus menyingkir dari Danuel.

"Aku tak menyangka kau akan menghindar dariku setelah terpesona kemarin."

Jane menatap tajam ke arah Danuel, "Aku bukannya terpesona, tapi aku lebih ke kagum dan jujur saja kau memang tampan, namun aku siapa dirimu. Kau adalah seorang penjahat." Danuel membalas tatapan Jane itu dengan tatapan sama tajamnya. Tatapan yang intens dan terasa begitu mengancam bagi Jane.

"Tahu dari mana aku seorang penjahat gadis kecil, kau bahkan baru bertemu denganku beberapa kali."

"Siapa tadi, namamu, Anuel? Danul? Atau siapa aku lupa?"

"Danuel, itu namaku."

"O ya, Danuel," Jane mengatakan itu sebari mencibirnya. Namun itu pria itu tak marah, ia justru semakin mendekati Jane.

"Kau mau apa?"

"Kau masih bertanya soal ini?" Danuel menarik pinggang Jane, membuat gadis itu semakin mendekatinya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.

"Sudah aku duga sejak awal kalau dirimu memanglah pria yang brengsek." Jane tak mau kalah, ia tak ingin di buat mati gaya oleh pria itu.

Ia mengalungkan tangannya pada Danuel, Jane menatap wajah pria itu. Mencoba mencari di mana letak buruknya wajah dari seorang Danuel Hanston.

"Apa yang sedang kau lakukan?." Danuel merasa tak aman jika Jane terus menatapnya seperti itu.

Sedangkan Martin dan Rei, mereka seperti seorang penonton dan nyamuk di ruangan itu. "Apakah temanmu memang seperti itu jika melihat pria tampan?" Pertanyaan Martin itu membuat Rei langsung menoleh ke wajahnya.

"Entahlah, aku baru kenal dengan gadis itu. Ternyata tingkahnya jauh lebih aneh dari pada gadis normal."

"Jadi kau gadis normal?" Martin tersenyum menyeringai menatap Jane. Hal itu membuat Jane juga langsung menatap Martin.

"Hem, aku normal."

Martin mengikuti Jane, ia menarik pinggang Rei agar duduk di pangkuannya. Tangan gadis itu yang masih di borgol ia tarik. Menaruh tangan, di lehernya.

"Apa yang kau lakukan?." Tanya Rei yang begitu terkejut, gadis itu tak main-main. Ia benar-benar membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.

"Bagaimana rupaku, aku juga tampan kan?"

Rei hanya diam, ia takut salah berbicara. "Jawablah,"

"Kau ingin aku jujur?"

Martin mengangguk, Rei pun menghembuskan napasnya kasar. "Kau seperti pencopet"

"Hah, apa?" Mendengar hal itu keluar dari mulut Rei membuat Danuel dan Jane tertawa.

Sedangkan Martin, dia langsung melepaskan tangan Rei. Ia kini pergi untuk berkaca, menatap wajahnya dari sisi kanan hingga kiri. Namun semua tampak oke.

"Kau serius, wajah seperti ini kau bilang seperti pencopet. Hello nona, apakah kau buta?." Martin memang tampan, namun perilakunya yang seperti itulah mengapa Rei menyebutnya Pencopet.

Kini kembali dengan Jane dan Danuel, mereka benar-benar tampak seperti sepasang kekasih. "Haruskah aku panggil kamu paman, atau kakak."

Jane terus menatap ke arah bibir Danuel, "Mengapa kau terus menatap bibirku?"

"Emmm, entahlah. Aku penasaran bagaimana rasa bibirmu. Kakak Danuel." Jane tersenyum dan tertawa seolah menantang. Ia seolah tak takut pada pria di hadapannya saat ini.

"Kau benar-benar sedang merayuku?" tanya Danuel namun juga di jawab pertanyaan dan bukan jawaban oleh Jane.

"Jika aku bilang ya, bagaimana. Kau akan melepaskan ku dari sini bukan?" Jane mengigit bibir bawahnya sebari mengedipkan satu mata.

"Kau tahu gadis kecil, itu tak akan ada pengaruhnya. Kau tadi bertanya apa? Berapa umurku?." Jane pun mengangguk.

"30 tahun, apa kau puas dengan jawaban itu?" Jane mengangguk.

"Aku suka pria matang, dia lebih menggoda, rawwwwwrrrrrr"

Danuel benar-benar di buat tertawa oleh Jane, hal yang tak pernah ia alami sebelumnya. Ia memang tak pernah dekat dengan wanita dan Jane adalah yang pertama, dan itulah alasan mengapa ia benar-benar sedikit kikuk jika harus berhadapan dengan gadis seperti Jane.

Martin kini berdiri di belakang Rei, ia benar-benar di buat terperangah oleh kelakuan keduanya. Tak hanya Martin, Rei pun juga sama. Ia kini menatap mereka dengan tatapan penuh tanda tanya pada Jane.

"Aku harus melakukan ini, Ivana tak ada di sini. Itu artinya dia ada di ruangan lain. Aku juga tak boleh macam-macam dengan pria itu, jika aku salah langkah. Maka habislah kami bertiga, tampaknya pria ini juga bukan pria jahat. Buktinya aku mengatakan itu, dia bahkan tak menciumku." Ujar Jane dalam hati.

"Jane, apa yang kau lakukan. Kita kehilangan kakak Ivana, namun kau malah asyik bermesraan dengannya. Jane, apa otakmu bahkan kini telah tertinggal di tempat itu. Atau apa, astaga bagaimana ini, jika aku mengatakan ingin pergi pasti pria bernama Martin ini akan mengejarku. Bagaimana jika dia lebih parah dari pria di hadapan Jane sekarang." Ujar Rei dalam hati, mukanya benar-benar penuh ketakutan. Ia bahkan kini menatap Jane dengan tatapan remeh.

"Jangan menatapku seperti itu Rei, aku sedang mencoba menyelamatkan nyawa kita. Kau hanya bisa melihat tanpa membantu, jadi lebih baik kau diam saja di sana!." Ujar Jane sekali lagi, dalam hati.

"Kau mau seperti mereka kan?" Martin menyenderkan kepalanya di leher Rei, dan hal itu membuat Rei merasa merinding.

"Brakkkkkkkkk"

Saga masuk ke dalam ruangan itu, ia kini duduk di kursi kerja miliknya. "Tuan Saga" Rei menutup mulutnya dengan tangan kiri. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.

"Kau mengenalku? O kau pasti Rei, pembantu yang sering bersama Ivana." Saga tersenyum miring menatapnya. Ia kini seperti menatap Rei dengan tatapan remeh.

"Tuan Saga, di mana kak Ivana?"

Saga mengambil anak panah kecil, ia melihat anak panah itu dan kemudian berdiri. Mengarahkannya pada Rei, dan melemparkannya.

Anak panah itu melesat, melukai pipi kiri Rei hingga menyebabkan luka gores. "Ow, sayang sekali itu melesat."

"Apakah kau gila, bagaimana jika Rei terluka parah. Kau benar-benar sudah gila ya?." Jane memaki Saga, namun pria itu malah tertawa menanggapi Jane.

"Hahaha,"

"Danuel, selamat. Kau akhirnya menemukan mainan itu, dasar gadis murahan."

Jane menurunkan tangannya, ia kemudian turun dari atas pangkuan Danuel. Ia kemudian mendekati Saga dan mencoba membalas pria itu.

"Kemari kau dasar brengsek, dasar bajingan. Di mana Ivana? benar-benar bajingan sialan"

Martin dan Danuel yang melihat itu langsung menarik Jane. Namun gadis itu terus memberontak, ia bahkan masih bisa melakukan tendangan kepada Martin.

"AAAAARRRRGGGGHHHH"

Danuel dengan cepat mengambil sebuah jarum suntik di tas miliknya. Ia pun dengan sigap langsung menancapkan jarum itu ke leher Jane dan membuat gadis itu pingsan hanya dengan sekali suntik.

"Apa yang kau lakukan pada Jane." Rei juga mulai bangkit dari kursinya. Ia kini berdiri dan menghampiri Saga.

Namun hal itu di halangi oleh Danuel yang langsung membungkam wajah Rei dengan sapu tangan yang telah di beri obat tidur.

"Saga, kita bawa gadis ini ke mana?" Tanya Danuel sebari menggendong tubuh Jane.

"Taruh mereka di ruangan yang terpisah,”

“Oke, namun Saga. Bagaimana dengan Ivana, apa dia baik-baik saja?,” pertanyaan Danuel ini benar-benar membuat Saga kesal.

“Mengapa kau bertanya tentangnya?, untuk apa kau peduli pada wanita itu?.”

“Saga, aku tidak akan benar-benar peduli jika tidak melihat kondisinya, dia baru saja menjalani operasi. Aku rasa kau harus melihat kondisinya sendiri agar benar-benar paham soal kondisi fisik Ivana.” Saga hanya diam mendengar ucapan dari Danuel, sedangkan pria itu kini menggendong Jane dan pergi dari ruangan itu.

“Saga, aku juga pergi dulu ya.” Ujar Martin, namun langkahnya terhenti saat Saga bertanya padanya.

“Martin, di mana Agres?.”

Benar, sedari tadi tak ada Agres di ruangan itu, pria itu benar-benar tak menampakkan dirinya sejak kembali ke villa.

“Agres sedang pulang, istrinya menelepon marah-marah. Kau tahu sendirilah istrinya bagaimana.” Saga pun mengangguk.

“Benar juga,”

“Sudah ya, kau harus membawa gadis ini ke kamarku.”

Saga membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang ia dengar, “Martin, yang benar saja kau.”

Martin kemudian berbalik badan, “Tidak-tidak, aku hanya bercanda saja.”

Martin pun kini kembali menggotong Jane, ia pun pergi dari ruangan itu meninggalkan Saga.

“Memangnya ada apa dengan wanita itu, namun benar juga. Aku tak boleh terlalu menekan dia atau dia akan cepat mati. Sial, ini benar-benar menyiksaku.”

Saga membuka laci di meja kerjanya, ia mengambil kertas yang sempat di berikan oleh suster rumah sakit padanya, surat terakhir yang ia terima dari Olivia. “Oliv, mengapa aku harus melakukan ini, mengapa kau benar-benar membuatku di posisi yang tak nyaman. Aku bisa gila seperti ini terus.” Saga kemudian menatap ke arah langit dengan sinar bulan purnama di langit malam itu.

Ia kemudian tersenyum, “Oliv, aku tahu maksudmu baik. Namun, kenapa kau selalu seperti ini, sikapmu yang seperti inilah yang membuatmu cepat pergi dari dunia ini.”

*****

Di sisi lain.......

Di kediaman wingston, di kamar milik nyonya Wingston, ia kini sedang tertidur setelah memakan sup yang di berikan oleh Rei.

Matanya kini mulai terbuka, ia mulai terbangun dari tidurnya. "Bagaimana aku bisa tiba-tiba tertidur seperti itu." Emalia kini menatap ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul jam 3 pagi.

Ia kemudian keluar dari ruang kerjanya dan menemukan semua pengawal yang tergeletak di lantai.

"Apa yang terjadi?" Wajah Emalia benar-benar terkejut lantaran melihat banyak sekali penjaga yang tergeletak di setiap sudut rumahnya.

1
Mar lina
aku mampir
Thor
An_cin: Terima kasih kak😍
total 1 replies
Homerun
Alurnya bagus dan terkonsep. Aku suka. Lanjut thor🤗
An_cin
Yang suka akal-akalan barat, ayo sini
Homerun
aw aw, sempat suuzon sama Jane. Tapi ternyata baik juga tu anak 🤭btw semangat cintaku
An_cin: makasih sayangku🤭👍
total 1 replies
christian Defit Karamoy
mantap thor
An_cin: Terima kasih kak, sudah mampir 🤭👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!