NovelToon NovelToon
Selayaknya Cinta

Selayaknya Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Keluarga
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏

Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.

Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.

Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.

Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.

Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Terluka

Fakta baru tentang kalung itu membuat darah Devan mendidih. Ia menatap Putri yang kini terlihat begitu suci di matanya, korban dari kekejaman orang-orang di sekitarnya, termasuk dirinya.

Devan mendekat, mengusap kepala Rian pelan.

"Udah, Yan. Jangan nangis, nanti kakak ikutan sedih," ucap Devan, suaranya berusaha ia lembutkan meski emosinya sedang tinggi. "Kakak kamu kuat. Dia udah janji sama mas Devan buat sembuh."

Devan kemudian beralih menatap pak Brahma yang masih shock.

"Pa," panggil Devan dingin, "setelah Putri stabil, saya akan bawa dia pulang, dan saya pastikan, tidak ada satu orang pun dari rumah Papa, terutama mama Anggun, yang boleh menyentuh istri saya lagi. Termasuk Papa, kalau Papa cuma bisa diem liat anak Papa ditindas."

Pak Brahma tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menerima hukuman dari menantunya.

Malam itu, di ruang rawat yang sempit, Putri dikelilingi oleh tiga laki-laki. Satu yang penuh penyesalan, satu yang penuh kasih sayang murni, dan satu yang mulai belajar untuk melindunginya dengan sungguh-sungguh.

Semangat Putri membara. Ia memegang janji Devan, ia memegang restu ibunya. Ia akan sembuh, dan saat ia bangkit nanti, ia tidak akan menjadi Putri yang bisa diinjak-injak lagi. Namun, janji manis Devan ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang singkat.

Hanya dua minggu setelah momen emosional di ruang ICU itu, Devan perlahan kembali ditarik oleh gravitasi masa lalunya.

Tamara tidak bermain kasar, ia bermain cantik. Gadis itu tidak menyerang Putri secara langsung, melainkan menyerang waktu dan perhatian Devan.

"Van, ban mobilku pecah di tol, aku takut..."

"Van, aku depresi, Reno neror aku lagi..."

"Van, temani aku ke psikiater, aku butuh sandaran..."

Seribu satu alasan diciptakan Tamara untuk menahan Devan, hingga Devan... dengan rasa tanggung jawab semu yang ia rasakan sebagai mantan kekasih, selalu datang. Meninggalkan Putri yang sedang menjalani sesi kemoterapi yang menyakitkan seorang diri.

Siang itu, di ruang kemoterapi, cairan kimia keras itu menetes perlahan masuk ke pembuluh darah Putri, membawa rasa panas dan mual yang hebat. Putri memeluk kantong muntahnya erat-erat. Matanya menatap kursi kosong di samping ranjang.

Kosong lagi, padahal pagi tadi Devan janji akan menemani. Tapi satu telepon dari Tamara yang menangis histeris karena kepalanya sakit, membuat Devan berbalik arah.

"Sakit, Put?"

Sebuah suara bariton yang lembut menyapa, bukan suara Devan.

Putri menoleh susah payah. Di sana, berdiri Arga. Sahabat suaminya itu datang dengan membawa keranjang buah dan beberapa buku novel. Wajahnya teduh, namun matanya menyiratkan kemarahan terpendam saat melihat kursi penunggu yang kosong.

"Kak Arga," sapa Putri lemah, mencoba tersenyum sopan. "Kok Kakak di sini? Mas Devan..."

"Nggak usah cari dia," potong Arga tajam, namun nadanya melembut saat menatap Putri. "Dia lagi sibuk jadi pahlawan kesiangan buat mantannya."

Putri terdiam, menunduk menatap selimut. Hatinya nyeri mendengar kebenaran itu.

Arga menarik kursi itu, duduk di tempat yang seharusnya diisi oleh Devan. Ia mengupas sebuah jeruk dengan telaten.

"Gue muak, Put," ucap Arga tiba-tiba, sambil memisahkan serat-serat jeruk. "Gue muak liat sahabat gue sendiri jadi bodoh. Dan gue lebih muak liat Tamara yang nggak punya harga diri, nempel sama suami orang padahal tau istrinya lagi berjuang antara hidup dan mati."

Arga menyodorkan jeruk itu ke mulut Putri. "Aaa... Buka mulutnya. Lo butuh vitamin."

Putri ragu sejenak, tapi tangan Arga tetap menunggu dengan sabar. Akhirnya, Putri menerima suapan itu.

"Makasih, Kak," ucap Putri sambil mengunyah pelan.

"Mulai sekarang, kalau Devan nggak bisa, telepon gue," tegas Arga, "gue yang bakal anter lo, gue yang bakal temenin lo. Jangan nungguin orang yang nggak tau prioritas."

Sejak hari itu, Arga benar-benar menepati ucapannya.

Arga menjadi pengunjung tetap. Ia yang membacakan buku saat Putri terlalu lelah membuka mata. Ia yang mengelap keringat dingin Putri saat efek obat bereaksi. Ia bahkan berani memarahi perawat jika telat menangani Putri.

Kebaikan Arga bagaikan penawar bagi Putri, ia mulai bisa tertawa lagi. Tawa renyah yang sudah lama hilang dari bibirnya..

***

Sore harinya, Devan datang ke rumah sakit dengan langkah terburu-buru. Di tangannya ada sebungkus martabak manis kesukaan Putri, oleh-oleh rasa bersalah karena seharian ini ia menemani Tamara belanja.

"Maaf telat, tadi macet parah di jalanan."

Devan menyiapkan alasan klise di kepalanya saat membuka pintu kamar rawat.

Namun, langkahnya terhenti mendadak, dan martabak di tangannya nyaris jatuh.

Pemandangan di depannya membuat darahnya mendidih seketika.

Putri sedang tertawa, tertawa lepas. Di sampingnya, Arga sedang duduk di tepi ranjang. Ia terlalu dekat menurut Devan, sambil memegang tangan Putri, seolah sedang membaca garis tangan atau sekadar menghibur.

Wajah Putri yang biasanya murung saat bersama Devan, kini terlihat bercahaya di hadapan Arga.

Rasa panas menjalar di dada Devan. Bukan rasa bersalah, melainkan rasa cemburu yang membakar ego kepemilikannya.

"Ehem!" Devan berdehem keras, membanting pintu hingga tertutup.

Tawa Putri dan Arga berhenti seketika, keduanya menoleh.

"Mas Devan..."

Senyum di wajah Putri langsung hilang, berganti dengan ekspresi takut dan waspada. Perubahan ekspresi itu tertangkap jelas oleh Devan, dan itu membuatnya semakin marah.

"Kenapa sama gue dia takut, tapi sama Arga dia ketawa?" batin Devan tidak terima.

"Ngapain lo di sini, Ga?" tanya Devan dingin, berjalan mendekat dan meletakkan martabak dengan kasar di meja. "Ini bukan jam besuk."

Arga berdiri santai, tidak terintimidasi sedikit pun. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, menatap Devan dengan tatapan menantang.

"Gue nemenin istri lo. Sesuatu yang seharusnya lo lakuin, tapi lo malah sibuk sama urusan lain," sindir Arga telak.

"Jaga mulut lo," desis Devan. Ia beralih menatap Putri, matanya tajam menuntut penjelasan. "Dan kamu, Put. Seneng banget kayaknya dipegang-pegang cowok lain? Mentang-mentang aku telat dikit, langsung cari pengganti?"

"Mas! Kak Arga cuma liat kuku aku yang biru," bela Putri.

"Alasan!" bentak Devan.

"Cukup, Van!" Arga maju selangkah, mendorong dada Devan hingga mundur. "Jangan lampiasin rasa bersalah lo ke Putri. Lo marah? Lo cemburu? Ngaca, Devan!" Arga menunjuk wajah Devan dengan geram.

"Lo cemburu liat gue sama Putri, tapi lo sendiri seharian jalan sama Tamara. Lo itu sebenarnya enggak pantas buat Putri, seharusnya lo bisa nepatin janji lo sama dia." Arga menunjuk ke arah Putri.

Wajah Devan memerah padam. "Ini bukan urusan lo!"

"Tamara emang bener-bener perempuan yang enggak tahu malu."

"Lo berani ngatain Tamara kayak gitu?"

"Emang faktanya gitu!" balas Arga lantang. "Dia tau lo udah nikah, dia tau Putri sakit, tapi dia tetep nempel. Dan lo, lo malah nikmatin itu. Asal lo tau, Van. Kalau lo terus-terusan nyia-nyiain Putri kayak gini... jangan salahin gue kalau gue yang bakal ambil alih tanggung jawab lo."

Devan mencengkeram kerah kemeja Arga. "Lo mau ngerebut istri gue, hah?!"

"Gue nggak perlu rebut." Arga menepis tangan Devan kasar, lalu menatapnya dengan sorot mata dingin yang menusuk. "Lo sendiri yang lagi nyerahin dia ke gue pelan-pelan."

Arga merapikan kerahnya, lalu menoleh pada Putri dengan lembut. "Aku balik dulu ya, Put. Besok aku bawain bubur ayam langganan."

Arga melenggang pergi keluar kamar, meninggalkan Devan yang berdiri dengan napas memburu dan ego yang terluka parah.

Devan berbalik menatap Putri. Napasnya masih naik turun.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
ujian menuju kebahagiaan ada aja
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
gak tau malu banget Reno
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
ditunggu pesta pernikahan kalian arga nindi .
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
karena Devan harapan satu satu nya untuk putri agar hidup nya lebih baik
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
iy kenapa mereka terlalu cepat jatuh cinta
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Apa kali ini keputusan yang putri ambil tepat 🤔
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Penyakit hati memang sulit disembuhkan, apalagi kalo ego nya tinggi
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
sifat putri yang tenang membuat dia semakin elegant
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kadang sikap buruk tidak harus dibalas sama sikap buruk jg kan put?
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tamara kena batu nya juga akhir nya /Facepalm/
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tipu daya wanita emang dahsyat /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
lanjutkan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
salah satu sifat manusia yang merugikan adalah sifat pendendam dan ambisius.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
awalnya aku bingung judulnya Rumah sakit, apa kaitannya. Aq baca lgi dari atas mksd judulnya kiranya drama Tamara yg ketauan Reno di rumah sakit.
🥑⃟Rɪᴀᷨɴͤᴀͤ: Iya Va...🤣🤣🤣
total 1 replies
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Reno korban nya dimana mana /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kapok mu kapan Tamm?
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
apa Mc nya bakal mati
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Jangan lemah put !
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Cerita nya bikin emosi.
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Ada ya cowok kayak gitu, parah !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!