Citra tak pernah menduga akan terjerat asmara dengan mantan kakak iparnya, Bima. Bima adalah kakak tiri Bayu, mantan suami Citra.
Rumah tangga Citra dan Bayu hanya bertahan selama dua tahun. Campur tangan Arini, ibu kandung Bayu membuat keharmonisan rumah tangga mereka kandas di tengah jalan.
Akankah Citra menerima Bima dan kembali masuk dalam lingkungan keluarga mantan suaminya dulu? Bagaimana juga reaksi Bayu juga Arini ketika mengetahui Bima menjalin asmara dengan Citra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Alasan Membatalkan Pertemuan
Jumat, pukul 17.05 menit
Citra memarkirkan motornya di depan rumah Vera dan Fian, sahabatnya semasa sekolah yang kini menjadi sudah menjadi pasangan suami istri.
Sama seperti Bima dan Kevin, Vera dan Fian adalah teman sekaligus tempat Citra curhat dan bertukar pikiran termasuk ketika rumah tangganya diguncang prahara.
Sebelumnya ia sudah memberi kabar pada sahabatnya itu akan mampir ke rumah Vera sepulang dari kantor. Dia butuh teman curhat yang bisa serius mendengarkannya, bukan asyik meledeknya.
"Assalamualaikum ..." Citra mengetuk pintu rumah Vera, menunggu Vera atau ART-nya membukakan pintu untuknya.
"Waalaikumsalam ..." Bersamaan dengan sahutan dari dalam, pintu rumah Vera pun terbuka. "Eh, Mbak Citra? Silakan masuk, Mbak." ART di rumah Vera sudah kenal dekat dengan Citra, karena tahu jika Citra adalah sahabat dari majikannya.
"Vera ada 'kan, Bi?" tanya Citra seraya melenggang masuk ke dalam rumah Vera.
"Ada, Mbak. Baru mandiin Bilkis," jawab Bi Sumi, "Masuk saja, Mbak. Ada di kamarnya Bilkis," sahutnya kemudian.
"Oke, Bi. Makasih." Citra langsung melangkah menuju kamar Bilkis, anak Vera dan Fian yang baru berusia empat tahun.
"Wah, anak cantik sudah mandi, ya?" Setelah sampai di depan ruangan tidur Bilkis, Citra melongok ke dalam kamar Bilkis.
"Eh, Tante Citra udah datang?" Vera menoleh ke arah pintu. "Bawa apa, tuh?" tanyanya kemudian, melihat Citra menjinjing box donut di tangannya.
"Bawa donut kesukaan Bilkis." Citra melangkah dan menyodorkan donut yang ia bawa pada anak dari sahabatnya itu.
"Asyik, aku dapat donut!" Bilkis bersorak, bersuka hati mendapat makanan favoritnya itu. Dia segera meraih box donut dari Citra.
"Awas jatuh, Dek! Minta tolong bibi suruh ambilkan sana!" Vera menyuruh Bilkis untuk membawa donut itu ke dapur.
"Iya, Ma." Bilkis bergegas mencari Bi Sumi di dapur dan meninggalkan kamarnya.
"Kita ngobrol di teras samping, yuk!" Vera mengajak Citra berbincang di teras samping rumahnya. Mereka sering mengobrol santai di sana jika Citra bertandang ke rumah Vera.
"Oke." Citra setuju, dia juga tidak nyaman berbincang di kamar, meskipun itu kamar anak-anak.
"Ada apa, Cit?" Setelah mereka sampai di teras dan duduk di kursi santai, Vera langsung bertanya. Sebelumnya Citra memang mengatakan ingin curhat padanya, tapi Citra belum menjelaskan masalah apa yang sedang dihadapi.
"Aku bingung, Ver. Aku ketemu sama kakak tiri Bayu dan dia ternyata relasi bisnis kantorku." Citra sedikit mengungkap masalah yang ia hadapi.
"Kakak tiri Bayu?" Vera tidak terlalu ingat, karena Citra juga jarang bercerita tentang mantan kakak iparnya itu.
"Dulu aku pernah cerita kalau Bayu itu punya kakak tiri, kan?" Citra mencoba membuka ingatan Vera, karena dia memang sempat memberitahu Vera jika mantan suaminya itu mempunyai saudara tiri.
"Oh, iya, ya, ya, terus kenapa dengan kakak tirinya itu? Dia relasi bisnis Vista? Apa dia mengusik kamu, Cit?" Vera khawatir mantan ipar Citra mengganggu kerja Citra, karena ia tahu mantan mertua Citra sangat buruk memperlakukan Citra, sehingga ia menganggap semua keluarga Bayu sama saja memusuhi Citra.
"Iya,Ver." Citra menganggukkan kepala dengan pelan.
"Si4lan! Ngapain juga mereka masih ngerecokin kamu!? Apa mereka kurang puas menyingkirkan kamu dari sana?" Vera geram. Sebab, meskipun sudah bukan menjadi anggota keluarga Wiranata, hidup Citra masih diganggu oleh keluarga Bayu.
"Bukan itu maksudnya, Ver! Bukan ngerecokin mengganggu pekerjaan yang aku maksud. Tapi ..." Kalimat Citra tertahan, Dia yakin, Vera akan terkejut kalau dia beritahu hal yang sesungguhnya tentang Bima.
"Tapi apa, Cit?" Kalimat Citra yang terhenti membuat Vera penasaran.
"Kakak tiri Bayu itu sepertinya suka aku, deh, Ver." Citra menggigit bibirnya. Sebenarnya dia tak mau terlalu percaya diri, tapi, dilihat dari sikap Bima dan beberapa penilaian rekan kerjanya serta sang ibu, memang dia tak bisa menampik kalau sikap yang ditunjukkan Bima selayaknya seorang pria yang sedang kasmaran.
"Hahh? Kamu nggak bercanda kan, Cit? Kakak Bayu naksir kamu?" Vera terperanjat mendengar cerita Citra tentang mantan ipar Citra itu.
"Iya, sepertinya begitu, Ver." Citra pun akhirnya menceritakan pertemuannya kembali dengan Bima sampai janji berjumpa esok malam.
"Astaga!" Vera menggelengkan kepala tak percaya. Bisa-bisanya, Citra disukai mantan kakak iparnya sendiri. Bisa ia bayangkan akan runyam hubungan asmara Citra jika Citra kembali menerima keluarga Wiranata sebagai bagian hidupnya.
"Sebaiknya kamu menolak ajakannya itu, Cit! Meladeni dia sama saja kamu masuk ke perangkap mereka lagi." Vera tak setuju Citra berdekatan dengan Bima, karena dia menyanyangi sahabatnya.Vera tak ingin Citra terluka untuk kedua kalinya oleh keluarga yang sama.
"Tapi, Mas Bima nggak seperti Bayu, Ver. Aku juga khawatir kalau aku menolak akan mempengaruhi kerjasama kedua perusahaan." Citra menyebut hal yang menjadi bahan pertimbangannya menerima permintaan Bima. Dia khawatir pekerjaannya terancam kalau dia mengabaikan Bima, karena dirinya memang belum tahu karakter asli pria itu. Sementara di sendiri membutuhkan pekerjaan untuk membiayai ibu dan adiknya.
"Kamu terlalu insecure, Cit! Dia bukan pemilik perusahaan yang bisa mengintimidasi karyawan, apalagi bukan anak buahnya sendiri." Vera menganggap Citra terlalu lemah menghadapi Bima, karena ia sendiri tidak tahu apa yang direncanakan pria itu pada sahabatnya.
"Iya juga, sih. Tapi, Ver ..." Citra bimbang, akan tetap memenuhi janjinya bertemu dengan Bima atau membatalkannya. Tapi, kalau ia membatalkan, dia harus memberi alasan apa? itu yng membuat Citra bingung.
"Cit, mending kamu dengar saranku, deh! Hindari dia! Jangan bermain api dengan pria yang background keluarganya nggak baik! Kamu masih muda dan cantik, aku yakin masih banyak pria yang mau sama kamu, hanya kamu belum ketemu saja." Vera mencoba mempengaruhi Citra agar mengikuti apa yang ia sarankan supaya Citra tak terjerat panah asmara mantan iparnya sendiri.
Sebagai seorang sahabat dekat, sudah pasti Vera menasehati Citra agar Citra tidak salah salam mengambil tindakan.
***
Citra berjalan bolak-balik di dalam kamarnya. Sementara tangannya menggenggam ponsel. Gestur-nya tampak gusar. Dia sedang mempertimbangkan saran Vera untuk membatalkan janji bertemu dengan Bima besok malam.
"Aku masih alasan apa, ya?" Citra berpikir keras mencari alasan yang ia rasa masuk akal dan Bima tidak curiga.
Ddrrtt ddrrtt
Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Citra menoleh ponselnya dan mengintip siapa yang mengirimkan pesan kepadanya.
"Assalamualaikum, Ateu. Debay-nya udah lahir, nih!"
Sebuah pesan dari Sekar, saudara sepupunya yang tinggal di Bogor memberi kabar kelahirannya sambil mengirim foto bayi laki-laki mungil.
"Alhamdulillah ..." ucap Citra mengetahui sepupunya sudah melalui masa persalinan dengan selamat.
Dia lalu melakukan panggilan video untuk berbincang dengan Sekar.
"Halo, Cit?" Wajah Eka, suami Sekar yang tampak di layar ponsel Citra.
"Mbak Sekar udah lahiran ya, Mas? Mana debay-nya?" Citra tak sabar ingin melihat keponakannya itu.
"Ini lagi dikasih ASI." Kamera ponsel Eka arahkan pada Sekar dan bayinya.
"Mbak, selamat ya, atas debay-nya. Lahiran jam berapa, Mbak?" tanya Citra setelah memberi ucapan selamat.
"Tadi sebelum Maghrib, Cit," sahut Sekar, "Cinih Ateu, tengokin dedek!" Sekar berbicara seperti anak-anak meminta Citra menjenguk bayinya.
"Insya Allah nanti aku sama ibu ke sana, Mbak," jawab Citra, "Rasanya plong ya, Mbak?" Citra merasakan kebahagiaan Sekar, karena Sekar juga baru mempunyai anak di usia pernikahannya jelang lima tahun bersama Eka.
"Iya, Cit, Alhamdulillah ..." balas Sekar, "Kamu buruan nikah lagi, Cit! Biar cepat punya anak juga." Sekar mendorong agar adik sepupunya itu untuk segera memutuskan berumah tangga kembali dan tidak terlalu lama menyendiri.
"Nantilah, Mbak. Aku masih fokus biayai Ambar kuliah." Citra beralasan.
"Ya sudah, tapi jangan lama-lama, lho! Kamu juga butuh membahagiakan diri kamu sendiri." Sekar mengingatkan, karena sekarang ini Citra seolah tak punya waktu untuk memikirkan kebahagiaannya sendiri.
"Iya, Mbak. Ya sudah, aku tutup dulu video call-nya, Mbak. Barangkali Mbak mau istirahat, pasti capek banget abis melahirkan. Assalamualaikum ..." Citra tak ingin berlama-lama jika diajak bicara soal pernikahan dengan saudara-saudaranya. Dia juga melihat wajah letih Sekar, sehingga ia mengakhiri percakapannya.
"Oke, Cit. Salam buat Tante Nurul," sahut Sekar sebelum sambungan video call mereka berakhir.
Tiba-tiba saja Citra mendapatkan ide yang bisa ia jadikan alasan untuk membatalkan pertemuan dengan Bima.
Citra lalu mencari kontak Bima dan segera mengirimkan pesan pada pria itu.
"Malam, Mas. Maaf, besok saya kayak-nya nggak bisa bertemu, karena saya mau antar ibu ke Bogor🙏."
♥️♥️♥️
woooooy kamu itu udah mantaaan yaah
mantan buang pada tempatnya
tempat nya tong sampah
semoga bima sama citra tdk terpengaruh...
sepicik itu pikiran Arini terhadap Citra?
Ayo Bima lindungi Citra dari niat jahat Arini
kamu emang the best