NovelToon NovelToon
Conquer Me

Conquer Me

Status: tamat
Genre:Teen Angst / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Romansa / Bad Boy / Tamat
Popularitas:550.2k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.

Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.

Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?

Conquer me ~》Taklukan aku....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18🩷 Kepercayaan itu mahal

Dea menenteng kresek berisi nasi goreng dan martabak.

"Bawa apa De?" mas Elok, ia duduk menaikan kakinya ke atas sofa dan menyerbu bawaan Dea yang praktis Dea dekap, "ngga sopan. Orang yang punya nya belum gelar juga."

"Pelit." Cibir lelaki itu.

Dea menggelar martabak di atas meja, sementara...kresek nasi goreng ia bawa ke belakang untuk dialasi piring.

"Jangan bagian tengahnya! Ambil potongan pinggir-pinggirnya dulu!" pesannya pada Elok yang tak peduli dan mencomot bagian pertengahan.

"Orang sakit udah mamayu lagi." (nafsu makan setelah sakit)

Dea manyun dan menghentak kakinya melihat jika bagian tengah potongan martabak ompong 2 potong, "ini mas Elok, susah banget dibilangin. Jangan dimakan bagian tengahnya!!!" Dea bergegas menaruh piring nasi goreng dimeja demi menutup kotak martabak.

"Muntahin ngga? Muntahin!" pintanya memijit-mijit tengkuk setengah memukul punggung kakanya itu sampai membuat ia mengadu dan tertawa dalam sekali waktu, membuat mama tertawa melihat kelakuan kedua anaknya itu, "udah...udah ngga usah ribut di depan makanan. Itu masih ada bagian tengahnya."

"Tapi mas Elok makan bagian gongnya, ma!"

"Gong-gong. Ini martabak De, bukan gamelan. Itu masih ada ahh, pelit banget dicicip sedikit juga."

"Kok bawa nasi goreng juga?" tanya mama.

"Ini---" Dea menatap mama, "dikasih Rifal."

Elok langsung melirik memegang bahu sang adik demi mengintip wajah Dea, "cieeee! Punya pacar!" godanya mencolek hidung sang adik, membuat Dea menggetoknya dengan punggung sendok, "bukan!"

Mama kembali terkekeh, meski kemudian kedatangan papa dengan wajah kusutnya membuat mama langsung beranjak.

"Pap..."

Wajah kusut itu berubah saat Dea dan Elok menyambutnya, "malem terus pulangnya, besok mau ke Ciwidey kan?"

"Lah iya.." Dea baru sadar jika yang punya hajatnya justru belum ada disini.

"Mas Hudanya?"

Mama lantas melirik jam dinding, "Elok yang nanti jemput."

"Jemput? Malem banget, ini aja udah jam 8."

"Mas Huda landing dari Pangkal Pinang di Soetta jam 8 langsung ke Bandung naik travel, paling nyampe jam 10an."

Elok bahkan sudah beranjak dari duduknya, "pake mobil apa motor nih, lagian aku kan nunggu mobil papa buat jemput mas Huda..."

Dea memandang langit-langit kamarnya, keadaan yang kontras dan berbanding terbalik sepertinya dengan Rifal. Tadi, sebelum benar-benar memutuskan untuk masuk kamar, ia menyambut kedatangan mas Huda yang memeluknya erat, sebagai bungsu dan anak perempuan satu-satunya tentu saja semua kasih sayang tumplek untuknya.

Dea menghela nafas, membayangkan kejadian tadi. Apakah Rifal anak tunggal? Seharusnya.....

.

.

Dea, sepagi ini mama sudah membangunkannya untuk bersiap. Dan percayalah, kupluk hitam pemberian Rifal itu berguna sekali untuknya yang memang harus selalu terjaga dari cuaca.

Mas Huda dengan kemeja biru langit slim fitnya, nampak siap bertemu dengan Fani dan keluarga, setelah semalam baru saja landing lalu melanjutkan perjalanan kesini, dan hari ini demi acaranya ia harus kembali berkendara ke Ciwidey.

"Kemaren mas belum sempet buka koper. Ini buat Dea." Mas Huda menyerahkan sebuah gantungan kunci dengan miniatur kota Pangkal Pinang.

"Lucu."

Namun keromantisannya dan Kaka pertama itu harus diganggu oleh mas Elok, "mas...nih bocil udah punya pacar. Semalem dibeliin nasi goreng sama pacarnya."

"Apa, ngaco!" sembur Dea membuat mas Huda tersenyum tipis, "Siapa, Gibran?" tuduh mas Huda semakin saja.

"Sekolah dulu yang bener, kuliah, kerja. Puas-puasin dulu masa muda buat menuhin kebutuhan sendiri." Tambah mas Huda.

Dea hanya mendengar tanpa mau meladeni, "dia nih yang suruh kerja nanti." tuduhnya, "jangan asik minta uang terus!"

Mama begitu sibuk mengunci semua pintu, begitupun papa yang kemudian meminta tolong Elok untuk mengecek kembali entah itu selang gas dan listrik.

Lantas Dea sudah masuk ke dalam mobil, dengan posisinya yang diapit mas Huda dan mama. Sementara papa duduk di samping mas Elok yang memegang kemudi.

Mobil keluar dari carport meninggalkan pagar rumah yang kemudian dikunci papa, melewati rumah Gibran yang masih terlihat sepi dan beberapa rumah kemudian ada rumah Willy yang mulai terlihat hangat, juga Inggrid, yang hanya ia lewati saja bloknya.

Ia semakin mengeratkan kupluk yang Rifal berikan itu, sedikit mencium aroma Rifal, bagasi motor dan bau toko. Benar, pemuda itu jujur....kupluknya masih bau toko, tanda ia baru memakainya sekali-dua kali, bahkan belum dicuci.

Dea menatap layar ponselnya, menarik nafas panjang sekali dan mematikannya. Ia tak mau mendengar apapun yang akan membuatnya ikut pusing. Tindakannya sudah benar, untuk tidak ikut campur, untuk bicara, tentang kepercayaan yang mahal harganya...tak apa, jika mereka enggan percaya.

Dea menaruh ponsel di dalam tas sling dan memeluk Minion erat dengan kacamata yang bertengger di pangkal hidung.

Rifal

Ia pulang ke rumah setelah mengantarkan Dea, kondisi rumahnya mendadak sepi dengan papa yang menenggak wine di ruang tengah. Sementara, ibu tirinya? Rifal tak peduli.

Ia benar-benar tak peduli lagi dengan semuanya. Yang ingin ia lakukan adalah tidur saja sekarang. Memandang foto mama, dan....Hana, namun bedanya, tak ada yang ingin ia sampaikan atau ucapkan pada memori Hana seperti biasanya sekarang.

Ma, Rifal kuat. Mama tenang aja...

Ia tidur bersama luka lebam yang tidak sempat ia kompres seperti kata Dea. Dan paginya, ia berangkat sekolah seperti biasa, hampir terlambat...karena lagi-lagi ia bangun kesiangan.

Benar, ia melihat mobil Willy terparkir di parkiran, namun tak menemukan Dea lagi hari ini. Semalam Dea memang mengatakan jika hari ini ia masih cuti sekolah.

Sial juga Rifal tak sempat bertanya nomor telepon Dea, masalah itu ia akan kembali bertanya pada Nara nanti.

Dilihatnya, kondisi kelas sudah riuh, semua sudah hadir termasuk dirinya yang terlambat.

Puk!

Wajahnya tak sengaja terkena lemparan kertas yang dire mas dari Rio.

"Eh, sorry Fal!"

Hahahaha!

Rifal hanya mengernyit kecil dan kembali memasang tampang datarnya menuju bangku dan duduk menaikan kakinya ke meja.

Masih ribut sampai akhirnya guru masuk membuat suasana sunyi.

"Jadi ngga malem pasang roller?" tanya Vian diangguki Rifal, "jadi."

Ia tak pernah bertanya meski penasaran, luka lebam yang ada di wajah Rifal sebab Vian tau, jika bukan karena berkelahi di jalan maka lebam itu ia dapatkan dari papanya.

/

Di pergantian jam mata pelajaran kedua, semua berjalan masih lancar. Tentang apa yang Dea khawatirkan tidak terjadi, bahkan sampai jam istirahat tiba, suasana masih ramai, seru selayaknya kondisi MIPA 3, dimana Rama dan kawan-kawan melakukan hal random.

Ia turut bergabung dan merebut makroni pedas di tangan Rio, yang---mereka tak pernah keberatan satu untuk semua begini.

Muti bergabung, bersama Tasya yang bercanda bar-bar ala Tasya dan Tian.

Ada tawa yang meledak renyah, hingga akhirnya ia ingat dengan ucapan Dea.

"Gue ketemu Dea kemaren." ucapnya seketika membuat riuh berkepanjangan, baru 4 kata yang ia keluarkan, namun semua makhluk MIPA 3 mendadak jadi owa Jawa.

"Sebenernya gue kurang sreg om Fal sama Dea, bisa ngga yang lain aja om...jangan nenek sihir cosplay K-Pop gitu lah. Diantara anak anak girl band masa nyangkutnya sama Dea." Pendapat mereka yang memang sepeduli itu.

Sementara Nara hanya diam, "tapi sebenernya Dea baik tau, justru----eh Fal. Dea yang ke rumah kamu, ya? Soalnya kemaren Dea nanyain alamat kamu, katanya mau nganterin tas."

Dan kembali pada owa Jawa itu riuh bahkan Gilang sudah melemparinya dengan cangkang kuaci.

"Berisik. Gue bukan mau bikin pengumuman. Tapi tuh cewek ada bilang, katanya ada yang mau jebak Rama pake ekstasi, pas ada razia."

Semua mendadak diam, semua mendadak.

"Ah, bisa-bisanya aja itu mah....bawa pengaruh buruk om, jangan di dengerin."

"Yang ada dia yang jebak kaleee, disini siapa lagi kalo bukan geng-annya dia kan?"

"Ati-ati lah om Fal, jangan terlalu deket lah. Cewek ular dia...jauhin...jauhin, toxic."

Dea panen hujatan disana.

Begitupun Tama, yang tertawa sumbang, "kalo ada razia gue pasti tau duluan, Fal."

"Ya kali aja. Namanya juga jaga-jaga..." gidik Rifal acuh tak acuh. Rama menepuk pundak Rifal, "kalem aja Fal. Aman lah...babeh lah babeh yuk!" ajak Rama pada yang lain membuyarkan gerombolan, termasuk dirinya yang turut ikut.

/

Tama berlari mencari Rama, begitupun Dian.

"Razia!"

Rifal berlari, begitupun Tian, "an jing psp gue!"

Rifal bahkan berlari sekencangnya berusaha menyembunyikan alat vape yang ada di tasnya ke atas ventilasi.

"Kenapa dadakan sih Bang Tam!"

"Gue ngga tau." Rama mendorong kacamatanya bersiap menerima kesiswaan bersama teman-teman dari OSIS.

Yusuf, sama halnya Tian, ia sudah menyembunyikan psp miliknya di dekat tempat sampah.

Dan ketika kesiswaan menggeledah, entah bagaimana caranya, sebuah serbuk putih ditemukan di dalam tas Rama.

"Ini tas siapa? Ramadhan?"

Mereka benar-benar terkejut bukan main termasuk Rifal.

.

.

.

.

1
dheey
gemes banget sumpah sama critanya. beneran abg banget. ekwkwkwkw... kan jadi flash back waktu skolah. wkwkwkw
Poetri
slalu the best
Tiffany_Afnan
menjadi orang lain agar tdk jdi keset ya de.. bertahan hidup versimu kah ??
Siti Nina
Oke ceritanya 👍👍👍
Dewi Susanti
bagus
Tiffany_Afnan
Semoga kelak kau lebih sukses diatas mereka² para pembullymu. dan dberi keberuntungan menyaksikan pembalasan Tuhan terhadap meraka. 💪/Smile/
Tiffany_Afnan
/Panic//Panic//Hammer//Hammer/
Tiffany_Afnan
paling benci sama yg namanya bullying !! klo tau ada yg dibully, auto gerak mulut, tangan, kakiku !! ndak suka aku! /Cleaver//Cleaver/🤸🏻‍♀️🤸🏻‍♀️🤸🏻‍♀️
Susanti
di igeh udah muncul judul baru, kok blom nongol dilapak ini teh
Narto Aja
ooohhh noooo🤣🤣👍
El aisya
oh jadi si Rere
El aisya
kalau Dea tau udah ketahuan pasti malunya sampe ubun ubun🤣🤣
El aisya
di bayar berapa itu si sopir Ama kernetnya 🤣🤣🤣
Shinta Apriyani
setiap kali habis baca rasanya ikut bahagia ikut seneng..berasa jd tokoh utama..bgtu selesai baca kembali kedunia nyata..langsung jungkir balik dunianya..🤭
Rika O Amir
blm ada cerita baru ya 🤭
El aisya
ternyata gitu ya orang yg langgeng hubungannya karna memang saling menerima sifat pasangannya, mau cowok itu emosian atau apalah bahasanya tempramen dia tetep setia, karna cinta 🥰🥰
El aisya
awal baca nama kak manik aku kira cewek 🤣
El aisya
ya ampunnnnnn udah seminggu keknya aku baru baca update nya teteh,, kemarin2 lagi jadi orang sok sibuk gag bisa baca Dea Ama om Ipal,, wes kangen pwolll🥰🥰
Mymy Zizan
the best
Vike Kusumaningrum 💜
Dulu kenyang digombalin Cupid, sekarang makin gencar atau berkurang gombalnya Cup ? 🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!