Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegilaan
Mereka semua akhirnya duduk bersama.
Siswa yang baru saja tersadar itu menatap mereka satu per satu sebelum memperkenalkan diri. “Nama ku Liam Turma. Tahun pertama dari kelas C.” Suaranya pelan, tapi jelas.
Ada bekas ketakutan yang belum sempat hilang dari ekspresinya. Liam memang terbiasa dirundung, bukan hanya oleh murid Naraya—bahkan sekolah lain pun ikut menjadikannya sasaran. Ia selalu melawan, tapi tubuhnya tidak pernah cukup cepat untuk menyusul keberaniannya.
“Liam, apa kau ingin bergabung dengan klub Koran?” tanya Riko,
senyumnya seperti seseorang yang baru menemukan saudara hilang.
“Kita akan menjadi teman.”
Kata teman seolah benda terang yang digantung di udara. Liam mengulanginya pelan. “Teman? Kalau aku bergabung… aku akan punya teman?”
Rio mengangguk mantap. “Tentu saja. Kami semua.” Berbeda dari mereka.
Kris hanya menengok sedikit dan tetap fokus pada laptopnya, sibuk menebar topik hangat di platform online sekolah—sebuah bakat yang menyeramkan.
Naraya memang punya platform khusus tempat murid saling berbicara, bergosip, dan menyalakan drama. Kris adalah penguasa tak bermahkota di sana. “Dia memang gila,” gumam Rio dan Riko hampir bersamaan. Kris hanya menatap mereka sebentar, lalu kembali menenggelamkan diri ke dalam layar dan jiwanya menjadi bagian dari laptopnya.
“Jadi bagaimana, Ketua? Kau akan menerimanya?” tanya Rio kepada Arya.
Arya terdiam cukup lama sampai suasana menegang. Udara ruangan memadat, seolah ada sesuatu yang tidak enak akan diumumkan.
“Tidak,” katanya datar.
Riko langsung merosot seperti tanaman kekurangan air. “Jadi… dia tidak bergabung?” Suaranya patah.
Rio mencondongkan tubuh. “Bisakah ketua memberikan alasannya?”
Arya menatap mereka lama, lalu… tersenyum. Senyum itu sedikit terlalu lebar untuk dianggap sehat. “Tidak menolak… hahaha! Aku bercanda.” Riko menghela napas panjang dan Rio memegangi dahinya.
Kris mengembuskan napas lelah sambil mengetik. “Bahkan ketua ikut-ikutan gila. Sepertinya hanya aku yang normal di klub ini.”
Liam mengangkat kepala perlahan. “Apa kalian sungguh… mau jadi temanku?” Keraguannya terdengar sangat nyata—seolah ia masih menunggu jebakan lain yang akan menutup di sekelilingnya.
Rio mengernyit. “Memangnya ada yang salah?”
Liam menggigit bibir, lalu membuka semuanya. “Orang tuaku kaya. Aku juara Taekwondo se-Kota Kencana. Tapi setiap aku ketahuan bertarung, orang tuaku menangis karna kecewa dengan ku.” Suaranya merendah.
“Orang-orang yang ingin berteman denganku hanya memanfaatkan kekayaan keluargaku. Kalau aku melawan, mereka mengadu ke orang tuaku. Karena itu… aku tak bisa melawan mereka.”
Ruangan langsung senyap. Riko yang tadi ribut kini menunduk, Kris berhenti mengetik, dan Arya bahkan tidak bercanda. Ada hening kecil yang menggantung seperti debu yang turun perlahan.
Rio berdiri. Ia mendekati Liam dan mengulurkan tangan. “Kalau begitu, kau tidak perlu percaya, kau hanya perlu mencobanya."
Senyum Rio muncul bukan senyum pahlawan, bukan pula senyum penghibur ,tapi senyum seseorang yang benar-benar berniat tinggal di sisi orang lain.
Dan untuk pertama kalinya, keraguan Liam sedikit longgar. Seperti pintu lama yang akhirnya bergerak walau macet berdecit pelan."Baiklah aku akan mencobanya."
Dan lalu..
Bel pulang berbunyi dan suasana sekolah langsung mengendur. Riko dan Rio berjalan pulang bersama seperti biasa, kini dengan nomor telepon semua anggota klub tersimpan di ponsel mereka. Di pertengahan jalan mereka berpisah, dan Rio menatap langit sambil menarik napas. “Akhirnya aku punya beberapa teman,” gumamnya pelan. kalimat yang terasa ringan tapi penting.
Saat berjalan, Rio sempat berbicara pada kedua orang tuanya di dalam hati. “Ibu, Ayah… aku sudah punya teman.” Kenangan itu masih menusuk, tapi tidak lagi mematahkan langkahnya.
"Aku benar-benar merindukan mereka."
Dia merindukan mereka, itu tidak berubah, namun setidaknya kini ada hal kecil yang membuat harinya terasa lebih penuh.
Begitu membuka pintu rumah, Rio melihat Rani makan dengan cepat sekali.. “Cepat sekali makanya.. pasti dia lapar banget kayaknya,” pikir Rio sambil menutup pintu. Tapi kegembiraan kecil itu disusul pikiran lain. uang peninggalan orang tua mereka makin menipis. Dia belum tahu harus bagaimana nanti.
Setelah berganti pakaian, Rio duduk makan bersama adiknya. Namun ada sesuatu yang tidak biasanya.
Rani tampak lebih pendiam, seperti sedang menyembunyikan sesuatu. “Kamu kenapa, Rani?” tanya Rio tanpa tekanan, hanya rasa ingin tahu dan sedikit cemas.
“Aku baik-baik saja, Kak,” jawab Rani sambil tersenyum.
Senyum itu terlihat meyakinkan, dan Rio memilih mempercayainya untuk sementara. Suasana makan malam tetap hangat, tapi ada sedikit rasa tidak nyaman yang tertinggal di benaknya.
Hm, baiklah.” Rio akhirnya memilih percaya pada Rani. Adiknya mengangguk pelan lalu kembali ke kamar, langkahnya ringan… tapi terlalu rapi untuk disebut biasa. Ada sesuatu di balik pintu itu, sesuatu yang belum terucap."Aku malah jadi lebih mencurigainya sekarang."
Rio duduk kembali dan merasakan pikirannya,dia berpikir keras.,Ada yang aneh. Pertanyaan pertama yang mampir di kepalanya adalah "Apakah dia dirundung? ."
Tapi logika Rio, yang aneh,langsung membantah sendiri. “Mana mungkin… dia cantik.”
"Sudah lah tidak ada gunanya memikirkannya sekarang." Lalu dia berdiam sebentar memikirkan,logika nya ."Hmm aku juga tampan Tetapi aku tetap di rundung." lalu Ia tertawa sendiri seperti seseorang yang baru kabur dari ruang observasi psikologi.
Namun tawa itu hanya menutupi kekhawatiran yang tidak bisa ia sebutkan. Rio akhirnya menghabiskan makanannya, membersihkan meja, lalu masuk ke kamar. Lampu dimatikan, dan kesunyian memanjang seperti halaman kosong menunggu tinta.
Begitu tubuhnya menyentuh kasur, pikiran terakhirnya berputar"Jika ada yang menyakiti Rani… besok aku tahu siapa yang harus didatangi."
Dan dengan itu, Rio pun tertidur.